Posts

Muludan, Haul dan Ngarak "habib" di Empang

Image
Masjid An Noer Al Attas  foto tahun 1910
Alunan sholawat nabi mengalun syahdu dari suara serak parau kaum syadah diiringi dengan pukulan rebana. Beberapa lelaki tua satu demi satu keluar dari pintu rumah tua, beberapa lelaki tua duduk dikursi tua bergamis dan bersurban hijau tua, ditandu oleh sejumlah pengiring mengikuti langkah demi langkah kaki yang berjalan perlahan menuju sebuah qubah tua. Sepanjang jalan ribuan muhibbien menyambut rombongan habib di arak, demikian orang-orang menyebutnya. 
Prosesi ngarak "habib" tersebut merupakan penanda berakhirnya serangkaian peringatan muludan atau maulid Nabi Muhammad Salallahu'alaihi wassalam yang disebut dengan Haul yang berlangsung di "keramat" empang.
Haul di Empang yang diadakan pada setiap bulan mulud adalah prosesi ziarah kepada seorang ulama yang disebut sebagai wali qutub. Makamnya berada dalam sebuah bangunan berkubah hijau dan berada persis di dalam komplek masjid An Nur, karena itulah area pemakamannya di…
Image
Miss Rijan dan Ibu Negri di Empang (revisi)
Kejayaan Film India dan para pendatang asal Hindustan yang menetap di Bogor
Sebelum pemisahan India dan Pakistan tahun 1947, kedua negara ini masih disebut sebagai negeri Hindustan. Karena itu sejak dulu nama Hindustan sudah lebih dikenal di nusantara. Orang-orang india sendiri menamai dirinya sebagai Hindustani. Kisah-kisah klasik tentang Hindustan sering dikisahkan oleh seniman oral atau tukang cerita di Betawi seperti Mat Djait yang terkenal dan juga penerusnya Sofyan Djait. Gambar To'ong demikian orang Bogor dahulu menyebutnya merupakan jenis hiburan anak-anak zaman dulu yang salah satu alur cerita dalam gambar-gambar yang "di to'ong' (dilihat) adalah kisah-kisah epik dari negeri Hindustan.
Nama Hindustan sempat di populerkan pada sebuah lirik lagu "Mera Joota Hai Japani" yang dibintangi oleh Raj kapoor dan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun lima puluhan. Di Bogor antaranya adalah Bioscoop Capit…
Image
KISAH MARTA, SILABAN DAN SUKARNO

Putera laki-laki Faradj bin Awad Marta, Ali adalah penerus usahanya Marba yang terkenal dan memiliki kedekatan dengan Bung Karno. Ali beristrikan Seha Badar Tebe, cucu Ghalib bin Said Tebe, salah seorang tokoh Al Irsyad yang dihormati dan pernah memimpin (hoofdbestur) Al-Irsyad disituasi genting pada tahun 1920-1921, saat dimana al-irsyad dilanda kisruh internalnya. Ghalib bin Said Tebe ini juga seorang bekas kapten arab di Batavia (Jakarta) dan Bogor yang ikut mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah (SDI) bersama Raden Mas Tirto Adhisuryo. 
Faradj ayah Ali kelahiran Hadramaut yang juga dikenal dekat dengan Bung Karno. Ia adalah saudagar Arab yang dikenal banyak memiliki properti dan diantaranya sudah menjadi bagian dari warisan cagar budaya Indonesia seperti Hotel Garuda yang terkenal di Yogyakarta serta gedung Marba di kota lama Semarang. Faradj kian dikenal dan sosoknya menjadi seorang nasionalis Indonesia sejati setelah menghibahkan rumah miliknya k…

SOK TAHU

Image
Ketika membaca sebuah judul "Sok Tahu", biasanya yang terlintas dalam benak kita adalah film komedi yang akan mengundang gelak tawa para penontonya, bahkan bisa dibuat terpingkal-pingkal karena kebolehan pemainnya yang kocak, konyol dan menunjukan kebodohannya. Film dengan judul serupa "Ateng Sok Tahu" pernah tayang di bioskop-bioskop ibu kota pada tahun 1972 yang dibintangi oleh Ateng, Iskak dan S Bagio. Film komedi ini mendapatkan penghargaan Piala Citra untuk kategori Pengarah Sinematografi Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1977.
Selain judul film komedi, Lirik lagu "Sok Tahu" sempat populer sebagai lagu anak yang dinyanyikan oleh Bondan Prakoso. Lagu ini menceritakan tentang penggunaan bahasa Inggris yang tidak baik ketika bertemu dengan turis bule di Bali.
"Sok Tahu", kata ini sering terlontar dari mulut anak-anak bocah seumuran saat bergerombol dalam sebuah tempat nongkrong di sudut-sudut gang di pelosok kampung. Tak jarang kata itu m…

Dunggulah Di Sudan, dan Donggala di Sulawesi

Image
Gambar sebagai ilustrasi
Gempa Bumi dan Tsunami di kota Palu dan Donggala telah menyita banyak perhatian masyarakat Indonesia dan bahkan dunia Internasional. Jumlah korban sudah tidak terhitung lagi jumlahnya hingga ribuan orang yang mati. Aksi tanggap bencana, bantuan dari berbagai elemen dan negara asing bergerak cepat datang ke kota Palu dan Donggala memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, silih berganti berdatangan dari arah laut dan udara.

Tak terkecuali pula organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah dari berbagai unsur di dalamnya, bereaksi cepat dan tanggap ikut membantu korban bencana. Bahkan bantuan yang diberikan dalam koordinasi Laznas Al-Irsyad terbilang paling menyentuh pada pokok yang dibutuhkan para korban, menyediakan sarana air bersih
karena sulitnya ketersediaan air untuk minum di lokasi bencana.

Misi bantuan dari berbagai cabang Al-Irsyad juga berdatangan, diantaranya mobil ambulan Al-Irsyad kota Bogor sebagai misi pertama yang diberangkatkan yang bertolak dari pelabuhan…

Photo Tua Al-Irsyad Surabaya dan Pembakaran Bendera Tauhid di Garut

Image
Kali kedua setelah isu pembubaran HTI dan kini sejak pembakaran Bendera Tauhid di kota Garut oleh ormas BANSER yang pembakarannya mereka klaim sebagai bendera HTI, muncul di jejaring sosial baik di facebook maupun dalam grup-grup WhatsApp, sebuah foto tua yang memuat keterangan seolah "bendera tauhid" tersebut sudah ada dan dikibarkan oleh Al-Irsyad Surabaya sejak tahun 1935. 
Terlepas dari perilaku gegabah dan kurang ajarnya oknum BANSER yang mengundang amarah umat Islam Indonesia hingga menuai banyak kecaman dalam berbagai bentuk, termasuk pernyataan sikap PB Pemuda Al-Irsyad sebagaimana yang di rilis oleh berbagai media online. Jelas, photo Al-Irsyad Surabaya tersebut tidak berhubungan dengan "bendera tauhid" yang kini sedang ramai dibicarakan oleh nitizen.Terlebih lagi ada kaitan dengan bendera HTI yang kemunculannya di Indonesia baru ada pada era tahun 80an.
Bendera yang disebut-sebut sebagai "panji tauhid" dalam photo Al-Irsyad Surabaya tersebut ad…