Raffi Ahmad, Cucu Tokoh Ahmadiyah dan ketidak dispilinan sebagai Duta Vaksin pilihan Istana

 

Sumber foto; Merdeka.com

Raffi Ahmad namanya belakangan ini mendadak menjadi trending topic di sejumlah media, setelah artis yang disebut-sebut tajir mlintir dan sering memamerkan koleksi barang-barang mewahnya itu, polahnya terdedah karena telah melanggar protokol kesehatan covid-19 lantaran berkerumun tanpa masker dalam sebuah pesta yang juga dihadiri oleh Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama (BTP alias Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta yang tersandung hukum akibat perbuatannya dalam kasus penistaan Agama.

Pesta yang berlangsung di tengah pandemi itu, merupakan pesta perayaan ulang tahun bos KFC, Ricardo Gelael di kawasan Mampang, Jakarta Selatan pada Rabu (13/1/2021) malam.

Ironinya, meski telah ada pernyataan maaf dari Rafii Ahmad yang kini banyak meraup sejumlah penghasilan dari YouTube dan memiliki 11.9 Juta subscribers ini, pelanggaran prokesnya tersebut dilakukannya usai dirinya divaksin sebagai ikon dari generasi milenial yang dipilih oleh Istana. 

Bak kata pepatah; Lain teringat lain disebut; bertukar angguk dengan ilallah, apa yang terlontar dari mulut Raffi Ahmad dalam selorohannya setelah divaksin. Sebagai seorang publik figur, ucapannya tidak lagi dapat dipegang, Ia sudah melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang telah diucapakannya.

Banyak pihak yang mengaitkan kerumunan pesta yang dihadiri oleh Raffi Ahmad dan Ahok ini, dengan tindakan hukum yang kini sedang dijalani oleh ustadz Muhammad Riziq Syihab. Dalam kasus yang sama, semestinya sanksi hukum juga diberlakukan kepada mereka yang semuanya terlibat dalam pesta, termasuk pemerikaaan kepada Ahok dan Raffi Ahmad sebagai Duta Vaksin. Meski vaksinasi  tersebut masih menjadi polemik, bahkan menuai protes dari sejumlah kalangan karena penggunaannya yang berdampak pada keselamatan jiwa manusia.

Raffi Ahmad, artis yang tergolong sukses mencuri perhatian netizen ini, dikenal sebagai artis yang paling rajin membagikan momen dirinya di media sosial. Termasuk foto-foto unggahannya selama berada di luar negeri, hingga memamerkan mobil mewah lamborghini miliknya. Karena itu, tak heran jika kini dirinya disebut sebagai salah satu dari deretan artis kaya raya di Tanah Air.

Siapa sangka, dibalik popularitasnya sebagai seorang artis, Raffi Ahmad yang memiliki darah Pakistan dari pihak ayahnya ini, kakeknya Malik Aziz Ahmad Khan merupakan pendatang asal Pakistan yang datang ke Indonesia sebagai "Duta Ahmadiyah", dan tokoh yang telah turut berperan penting dalam penyebaran dan pengembangan ajaran Ahmadiyah Qadiyani di Tanah Air.

Dalam sebuah laman resmi Ahmadiyah disebutkan, tahun 1937, seorang Muballigh Ahmadiyah ditugaskan di Surabaya, beliau bernama Maulana Malik Aziz Ahmad Khan. Kedatangannya disambut gembira oleh tiga orang Ahmadi yang telah lebih dulu sudah berada di kota itu sejak 1926, salah satunya adalah Abdul Ghofur, pendatang dari India yang cukup sukses membuka klinik pengobatan (tabib) di Surabaya.

Sejak kedatangan Maulana Malik Aziz Ahmad Khan di Surabaya, untuk sementara waktu Ia tinggal di kediaman sejawatnya Abdul Ghofur, tapi tidak lama kemudian pindah dan bertempat tinggal di Kampung Kedung Anyar yang akhirnya menetap di Kampung Kedondong Kidul, bersebelahan dengan Tuan Ibrahim yang kelak menjadi seorang Ahmadi.

Selama di Kota Surabaya, Maulana Malik Aziz Ahmad Khan yang tampil menjadi "Duta Ahmadiyah", secara rutin mengisi kegiatan kajian di perkumpulan "Tambah Pengetahuan" yang berada di kampung Gundhih dengan topik bahasan antaranya; ‘Islam Sejati’, Wafat Nabi Isa as’, ‘Masih Mau’ud As’. Dari pertemuan yang diadakan seminggu sekali dalam perkumpulan itupun kelak, kemudian terbentuk untuk pertama kalinya pada tahun 1938 "Andjoeman Ahmadiyah Qodian Departement Indonesia Gemeente Surabaya".

Maulana Malik Aziz Khan bersama jamaah Ahmadi Purwokerto

Di tahun sesudahnya, pada 1939 atas gagasan Maulana Malik Aziz Ahmad Khan, di Kampung Gundhih didirikan sebuah Masjid yang terbilang sederhana tapi berhasil menjadi sarana kegiatan untuk shalat dan berbagai kegiatan lainnya bagi anggota Ahmadiyah yang jumlahnya sudah semakin banyak.

Konstruksi Masjid yang didirikan saat itu masih berupa dinding papan dan bambu, dan di desain beratap rendah. Di dinding Masjid dibagian depan dipancangkan papan nama ‘Andjoeman Ahmadiyyah Qadian Indonesia Gemeente Surabaya’. Selesainya Masjid itu disambut sukacita oleh para Ahmadi dan segera sesudahnya tempat itu digunakan untuk shalat Jum’at secara teratur dan pengajian-pengajian serta rapat rutin pengurus dan anggota Ahmadiyah. Walau terkadang pengajian juga dilakukan di kediaman Bapak Harun, seorang pegawai ‘Marine Ujung’ di jalan Benteng, Surabaya.

Pada tahun 1942 Maulana Malik Aziz Ahmad Khan melakukan lawatannya ke Tasikmalaya untuk meresmikan Masjid cabang Ahmadiyah di kota itu. Dalam perjalanannya di bumi priangan itulah sang "Duta Ahmadiyah" ini kemudian menemukan jodohnya dengan mempersunting wanita Sunda Tatan Khasanah yang salah satu anaknya (Munawar Ahmad) kelak menjadi menantu Brigjen Polisi R.Ahmad Suriahaminata, Ketua dan/atau Wakil Ketua PB Jemaat Ahmadiyah sampai tahun 1980.

Masjid Al-Mubarak sebagai pusat kegiatan ibadah warga Ahmadiyah di Jawa Barat, yang kini masih tetap eksis di Jalan Pahlawan Bandung, pembangunannya berkat kontribusi keluarga Bapak R.Ahmad Suriahaminata, sebagai salah satu pendonor pendirian masjid Ahmadiyah tersebut.

Dari pernikahan Munawar Ahmad, anak pasangan Maulana Malik Aziz Khan dan Tatan Khasanah dengan puteri R.Ahmad Suriahaminata itulah kelak kemudian lahir seorang Raffi Ahmad yang pada rabu kemarin terpilih menjadi Duta Vaksin di Istana. Tapi sayang, Ia telah gagal menjadi ikon milenial yang tidak patut untuk ditiru.

Penulis; Abdullah Abubakar Batarfie

Posting Komentar untuk "Raffi Ahmad, Cucu Tokoh Ahmadiyah dan ketidak dispilinan sebagai Duta Vaksin pilihan Istana"