Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia
Raden Mas Tirto Adhi Soerjo 

Selepas Hadji Samanhoedi mendirikan Sjarekat Dagang Islam di Laweyan Solo pada 16 Oktober 1905, sebuah perkumpulan serupa dengan semangat yang sama bersifat independent dan tidak memiliki hubungan struktural antar keduanya juga didirikan di Buitenzorg (Bogor) pada 5 April 1909.

Perkumpulan yang namanya hampir mirip itu adalah Sjarekat Dagang Islam-ijjah disingkat SDI yang pendiriannya diinisiasi oleh seorang jurnalis terkemuka Raden Mas Tirto Adhi Soerjo bersama para saudagar Arab dari Kampung Arab "Empang" di Bogor dan tokoh golongan Boemipoetra lainnya.

Selama masa proses pendirian SDI di Bogor dan dalam masa pengembangannya, sebuah bangunan tua di kawasan Pecinan yang berada dekat dengan klenteng Hok Tek Bio menjadi saksi bisu Raden Mas Tirto Adhi Soerjo menghabiskan hari-harinya selama berada di kota Bogor. Bangunan tua itu adalah bekas Hotel Passer Baru tempat ia menginap yang sekarang kondisinya sangat memprihatinkan dan hanya tinggal menunggu waktu rata dengan tanah.

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo  sebagai seorang tokoh jurnalis itu telah bekerjasama dengan saudagar-saudagar Arab di Empang dalam mewujudkan ambisinya. Kelak oleh sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, sosoknya dilukiskan dalam buku sastra non-fiksi karyanya sebagai "Sang Pemoela". 

Pramoedya yang dikenal berpandangan "kiri" dan pernah menjadi tokoh "LEKRA" sebagai onderbouw Partai Komunis Indonesia, seolah ingin menyeru sekaligus menunjukkan kepada bangsa ini bahwa, titik tolak kebangkitan intelektual Indonesia pertama untuk sebuah kebangkitan nasional dalam rangka melepaskan diri dari belenggu penjajahan menuju Indonesia Merdeka, telah dimulai oleh Tirto melalui media yang dirintisnya "Medan Prijaji" sebagai alat kritik terhadap kebijakan penguasa yang merugikan rakyat, salah satunya yang menimpa seorang buruh perkebunan di Deli-Sumatra Timur pada tahun 1909.

Disinggung pula dalam buku "Sang Pemoela", Tirto tampil menjadi aktor intelektual dibalik lahirnya Sjarekat Dagang Islam-ijjah di Bogor pada tahun yang sama 1909, kala Ia kerap melontarkan kritik pedasnya pada sang penguasa.

Berbeda dengan pergerakan Boedi Oetomo yang ide pendiriannya lahir dari kalangan priyayi jawa bahkan yang mengejutkan lagi, konon Boedi Oetomo pada awalnya sempat menolak pelaksanaan cita-cita Persatuan Indonesia dengan tidak mengizinkan orang yang bukan dari golongan priyayi untuk masuk sebagai anggotanya. Hal itu dianggap wajar karena bila ditelusuri lebih mendalam berdasarkan sejumlah sumber bahwa pembentukan Perkumpulan ini diinisiasi oleh Pemerintah penjajah Belanda melalui Bupati Serang Banten yang dianggap sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Hindia Belanda.

Karena itu dapat dipandang keliru jika ada yang berpandangan pembentukan Sjarekat Dagang Islam-ijjah di Buitenzorg sebagai organisai tandingan yang dibuat oleh Belanda sebagai reaksi atas lahirnya Sjarekat Dagang Islam di Solo. Selain inisiatornya adalah Raden Mas Tirto Adhi Surjo sebagai seorang jurnalis yang di anggap berbahaya oleh Pemerintah Belanda. Disebutkan pula tujuan utama Sjarekat Dagang Islam-ijjah adalah "Mendjaga kepentingan kaoem Moeslimin di Hindia". (tirto.id).

Diperkuat lagi dengan adanya motivasi Tirto dalam mendirikan Sjarekat Dagang Islam-ijjah merupakan cara dia menjaga jarak dari lingkaran keningratan yang selama ini selalu menyertainya. Bagi Tirto salah satu cara untuk dapat memajukan kaum "terprentah" atau seperempat manusia" janganlah memiliki keterikatan atau ketergantungan kepada bangsawan maupun pejabat pemerintah. Akan tetapi harus bergerak bersama dengan individu yang mandiri dan bebas bergerak, salah satunya dengan golongan saudagar atau pengusaha swasta.

Terungkap pula bahwa Sjarekat Dagang Islam di Surakarta yang dipimpin oleh Hadji Samanhoedi pernah dibantu dalam pengurusan aspek legalnya oleh Tirto yang berkat bantuannya, perkumpulan Rekso Roemekso di Solo sebagai sayap Sjarekat Dagang Islam tetap terjaga eksistensinya dari ancaman pembubaran oleh pemerintah kolonial. Bahkan disebutkan pula Tirto ikut membantu membuatkan rancangan Anggaran Dasar Sjarekat Dagang Islam bersamaan dengan pengukuhan statusnya sebagai badan hukum. Hal itu terjadi pada 9 November 1911.

Dari dua hal diatas, yang pertama motivasi Titro dalam melahirkan gagasan terbentuknya Sjarekat Dagang Islam-ijjah di Buitenzorg (1909), dan kedua adanya interaksi kongkrit Tirto yang justru  telah membantu menjaga eksistensi Sjarekat Dagang Islam yang justru atas permintaan sendiri dari pemimpinnya Hadji Samanhoedi pada tahun 1911, merupakan argumentasi  yang cukup kuat serta beralasan untuk membantah bahwa Tirto bukanlah kaki tangan Belanda dengan mendirikan SDI di Bogor pada 1909 sebagai tandingan SDI yang didirikan di Surakarta 1905.

Menjadi terang benderang bahwa pada tahun 1911 itu, Tirto bukanlah menyerah kalah dengan membubarkan SDI-1909 bentukannya karena tidak sanggup bersaing dengan SDI di Solo seperti anggapan sejumlah ahli sejarah, akan tetapi justru di tahun itu Ia telah memainkan peranan pentingnya bagi kelangsungan perkumpulan yang dipandangnya memiliki semangat yang sama selama ini dengan keinginannya. Adapun masa periode SDI di Bogor mengalami kemerosotan itu terjadi justru sesudah akhir tahun 1912 akibat Tirto dibuang ke Maluku oleh pemerintah Belanda, setelah sebelumnya sekitar awal tahun 1910 sempat mendekam dalam penjara selama 2 bulan karena di dakwa telah menghina pemerintah Belanda melalui surat kabar yang dipimpinnya.

Tidak ada bukti valid yang dapat dipertangung jawabkan SDI-1909 di Bogor membubarkan diri pada tahun 1911.  Pun tidak ada peristiwa yang mencatat adanya deklarasi peleburan kedalam SDI pimpinan Hadji Samanhoedi. Tapi secara personal sejak di tahun 1912 tokoh-tokoh SDI di Bogor telah terlihat terlibat aktiv dalam Syarekat Islam setelah nama ini mulai muncul menggantikan nama lamanya dari SI menjadi SDI yang terjadi sejak berlangsungnya kongres Syarekat Islam  di kota Surabaya yang dipelopori oleh seorang tokoh pergerakan Nasionalis Islam Indonesia Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto yang digelari sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Sebagai seorang yang dianggap berbahaya oleh Belanda, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar berbahasa Melayu yang dipakai sebagai alat propaganda dalam membentuk pendapat umum. Dia telah berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap kebijakan dan perangai pemerintahan kolonial Belanda dalam surat kabar yang dipimpinnya. Lagi-lagi ini dapat membantah salah satu argumentasi yang menyebutkan pembentukan SDI "tandingan" buatan Belanda di Bogor, jika konpensasinya adalah media Tirto telah dibiayai pengelolaannya atas bantuan Ratu Belanda.

Sekembalinya dari tempat pengasingan yang menjadi "penjaranya tanpa jeruji" di bumi Maluku, kondisi kejiwaan Tirto jatuh terpuruk. Ia selalu dalam pengawasan yang ketat oleh pemerintah kolonial hingga mentalnya semakin terlemahkan dan kesehatan fisiknya semakin memburuk, bahkan disebutkan Tirto mengalami goncangan kejiwaan yang sangat dahsyat. Pada tanggal 7 Desember 1918, tirto wafat bersama kesunyian hidupnya tanpa kawan dan lawannya di kawasan Mangga Doea Batavia (Jakarta) dalam usia 38 tahun. Jasadnya terkubur dalam sebuah pemakaman umum di kota Bogor.

Sebagai seorang jurnalis, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo pernah menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) serta Putri Hindia (1908). Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh proses produksi dan penerbitannya ditangani oleh orang-orang pribumi Indonesia asli yang karena itulah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo telah digelari oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Bapak Pers Indonesia.

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia
Bekas Hotel Passer Baru di Buitenzorg 

Satu-satunya sumber yang ter-buku-kan tentang susunan pengurus awal Sjarekat Dagang Islam-ijjah di Bogor ada pada buku sastra-non fiksi yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang diberinya judul Sang Pemoela, adalah sebagai berikut;

Presiden: Sjech Achmad bin Abdoerachman Badjenet (saudagar), Wakil Presiden: Mohamad Dagrim (dokter), Komisaris-Komisaris: Sjech Achmad bin Said Badjenet (tuan tanah), Sjech Galib bin Said bin Tebe (tuan tanah), Sjech Mohamad bin Said Badjenet (tuan tanah), Mas Ralioes (tuan tanah) dan Hadji Mohamad Arsyad (saudagar). 

Kasir: Sjech Said bin Abdoerachman Badjenet dan Sekretaris Advisor: Raden Mas Tirto Adhi Soerjo

Disebutkan kantor pusatnya berada di gedung sewaan yang berada di Jalan Tanjakan Empang. Diduga kuat lokasinya yang kini menjadi SDN Empang dekat dengan Bogor Trade Mall di Jalan Raden Saleh Sjarif Boestaman.

Sebagai sebuah perkumpulan yang inisiatornya dianggap berbahaya oleh pemerintah Belanda, secara administratif perkumpulan Sjarekat Dagang Islam-ijjah mengantongi izin hanya dari kepala kantor Pengadilan Negeri Bogor dan belum mendapatkan pengesahan resmi dari Gubernemen. Namun demikian hal izin diabaikan dan kegiatan perkumpulan itu tetap berjalan yang bahkan mengangkat C.J. Feith, pejabat Asisten Residen di Buitenzorg sebagai Pelindungnya.

Sjech Galib bin Said Tebe merupakan tokoh dari kalangan saudagar Arab yang paling berpengaruh dan memiliki andil cukup penting dalam kelahirannya. Perannya dalam pergerakan kebangsaan terus di ikutinya hingga ia menjadi tokoh dalam pergerakan Sjarekat Islam di Batavia (Jakarta) dan di Buitenzorg. Ia juga merupakan tokoh penting pada periode awal kelahiran organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang dipelopori oleh Syaikh Ahmad Soorkatty tahun 1914 di Batavia, dan ikut terlibat dalam pembukaan cabangnya di kota Bogor pada tahun 1928. Para penerusnya (anak) kelak menjadi tokoh-tokoh penting di Al-Irsyad cabang Bogor antaranya adalah Ustadz Ahmad Tebe dan Ustadz Sulthon Tebe. Ustadz Sulthon pernah menjadi Guru dan Kepala Sekolah pertama di Perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyyah cabang Banyuwangi dan sempat mengajar dibeberapa sekolah Al-Irsyad di cabang-cabang lain dan Perguruan-perguruan Islam lainnya, termasuk ikut mendirikan sekolah Pendidikan Guru Agama (P.G.A) di kota Bogor.

Sjaich Ghalib bin Said Tebe
 bersama anggota keluarganya (anak), koleganya (Ahmad bin Said Bajened & Awab Al-Garwie) dan seorang kusir delman miliknya di kediamannya di Bogor

Sjech Ghalib bin Said Tebe adalah seorang Arab totok (wulaiti) kelahiran Hadramaut yang pernah diangkat sebagai Hoofd der  Arabieren atau Luitenant der Arabieren (Letnan Arab) di Buitenzorg. Koleganya di Perkumpulan Sjarekat Dagang Islam-ijjah Sjech Achmad bin Said Badjenet pernah meneruskan jabatannya sebagai Letnan Arab di Bogor.

Cucu perempuan Sjaich Ghalib bin Said Tebe, Seha binti Badar Tebe atau anak dari puterinya yang menikah dengan Sjaich Badar Tebe merupakan istri dari Ali Faradj Martak yang dikenal dekat dengan Bung Karno. Sedangkan ayahnya Faradj Martak merupakan saudagar kaya yang berjasa besar atas rumah bersejarah  yang kelak menjadi milik negara, yaitu bekas kediaman Bung Karno dan tempat berlangsungnya pembacaan teks naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No.56. Sekarang dikenal sebagai Monumen Tugu Proklamasi di Jalan Proklamasi No.56 Jakarta. Dan disebutkan gedung-gedung bersejarah lainnya di sekitar jalan Pegangsaan dan hotel Garuda di Yogyakarta.

Faradj Martak adalah saudagar kaya di Indonesia yang menjadi Presiden Direktur N.V Alegemeene Import-Export en Handel Marba, sebuah perusahaan dagang dan ekspedisi yang telah dirintisnya sejak zaman Hindia Belanda bersama keluarga Badjened, karena itu nama MARBA merupakan gabungan dari Martak-Badjened. Gedung bekas kejayaan MARBA  di masa lalu kini masih dapat kita lihat di kawasan wisata heritage kota lama Semarang dan di kota tua Jakarta yang sekarang menjadi gedung JASINDO yang berada persis di seberang museum Fatahilah Jakarta.

Keluarga Badjened yang semuanya menduduki jabatan inti dalam perkumpulan ini merupakan penyokong utama lahirnya Sjarekat Dagang Islam-ijjah. Salah seorang menantu dari keluarga tersebut adalah Sjech Ahmad bin Said Bajened yang merupakan pemerakarsa berdirinya sebuah lembaga pendidikan Student Hadharimah di Mesir, dimana salah seorang bekas pengajarnya Ali Ahmad Bakatsir menjadi tokoh spirit dan propagandis kemerdekaan Indonesia melalui karya sastranya yang terkenal Audatul Firadus yang kini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Nabil A.Karim Hayaze dengan judul Kembalinya Surga Yang Hilang.

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia
Kediaman keluarga Bajened di Empang
Dibangun tahun 1924

Sedangkan nama Hadji Mohammad Arsjad diduga kuat oleh penulis adalah Goesti Hadji Mohammad Arsjad, seorang tokoh buangan Belanda  yang ditempatkan di Empang bersama dengan istrinya Ratoe Zaleha bersama anggota keluarga pagustian asal Kesultanan Banjarmasin lainnya. Gusti Hadji Mohammad Arsyad adalah menantu sekaligus penerus perjuangan Pangeran Antasari yang memberontak dan melawan kepada penjajah Belanda yang berhasil ditangkap dan diasingkan bersama istrinya ke Buitenzorg di Kampung Arab Empang yang sekarang kita kenal kawasan bekas rumah pembuangannya tersebut dengan nama Gang Banjar. 

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia

Photo di atas adalah Sjech Ahmad bin Said Bajened dalam sebuah acara di kediamannya pada tahun 1920 di Empang. Berdiri diujung kiri yang berada di belakang dua anak laki-laki Ahamd bin Said Al-Wahdi paling terdepan adalah kakek penulis yaitu, Sjaich Abdullah bin Salim Batarfie. Beliau merupakan kerabat dekat satu kampung dengan Kabilah Badjened di tempat kelahirannya di Hadramaut dan sama-sama satu rumpun dari Bani Kindah dan salah seorang yang dipercaya oleh Sjaich Ahmad bin Said Bajened sebagai kuasa sepeninggalnya untuk mengatur urusan keuangan dan pusaka peninggalan-peninggalanya baik yang ada di Indonesia maupun di Mesir.

Sjaich Abdullah bin Salim Batarfie adalah bendahara pertama (aminusunduk) kala untuk pertama kalinya Al-Irsyad Al-Islamiyyah cabang Bogor dibuka tahun 1928, dimana duduk pula dalam kepengurusan pertamanya itu Sjaich Ghalib bin Said Tebe. Beliau ikut pula terlibat dalam pembukaan sekolah fillial Al-Irsyad School Buitenzorg yang pernah ada di Kebon Jahe Bogor pada tahun 1941 yang pembukaannya atas sokongan dari Sjaich Oesman Bawahab atau paman kandung (khal) dari Ahmad bin Said Bajened. Ia (Sjaich Ahmad bin Said Bajened) adalah pemilik tanah dan bekas sekolah Al-Falah Al-Wahidiyah dan Jamiatul Kher di Empang yang kelak diwakafakan untuk Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah cabang Bogor yang telah dipergunakannya sejak 1929, satu tahun setelah pindah dari rumah sewanya di Jalan Pulo tahun 1928.

Adapun Sjaich Oesman Bawahab paman kandung (khal) Sjaich Ahmad bin Said Bajened merupakan ayah dari Sjaich Oemar bin Oesman Bawahab tokoh Al-Irsyad Bogor dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang telah menghibahkan gedung miliknya sebagai Museum Perdjoangan, yang sekarang berada di Jalan Merdeka Bogor.

Bogor, 26 Juli 2019, Abdullah Abubakar Batarfie. tulisan ini diperbaharui kembali  oleh penulis pada 2 Syawal 1441 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 25 Mei 2020.

1 Komentar untuk "Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel