Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia
Raden Mas Tirto Adhi Soerjo 

Kampung Arab Empang di Bogor, menjadi tempat bersejarah bagian dari awal Kebangkitan Nasional Indonesia

Selepas Hadji Samanhoedi mendirikan Sjarekat Dagang Islam di Laweyan Solo pada 1905, perkumpulan serupa dengan semangat sama yang bersifat independent dan tidak memiliki hubungan struktural telah didirikan di sejumlah daerah termasuk di Buitenzorg (Bogor). Perkumpulan ini dinamakan Sjarekat Dagang Islamijjah yang didirikan oleh para saudagar Arab bersama-sama dengan tokoh bumiputera lainnya pada tahun 1910. 

Salah satu tokoh utama pendirinya adalah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Ia adalah seorang jurnalis yang bekerjasama dengan saudagar-saudagar Arab dalam mewujudkan ambisinya. Kelak oleh sastrawan terkemuka Indonesia Pramudya Ananta Toer, sosoknya dilukiskan dalam buku sastra non-fiksi karyanya sebagai "Sang Pemula". 

Pramoedya seolah ingin menyeru sekaligus menunjukkan kepada bangsa ini bahwa titik tolak kebangkitan intelektual Indonesia pertama untuk sebuah kebangkitan nasional dalam rangka melepas diri dari penjajahan kolonialisme menuju Indonesia Merdeka telah dimulai dari Sjarekat Dagang Islamijjah. Berbeda dengan pergerakan Boedi Otomo yang ide pendiriannya lahir dari kalangan priyayi jawa, bahkan yang mengejutkan, konon Budi Utomo menolak pelaksanaan cita-cita Persatuan Indonesia. Hal ini dapat dianggap wajar karena bila ditelusuri awal pendiriannya, konon katanya pergerakan ini menurut sejumlah kalangan sejaharawan di inisiasi oleh pemerintah kolonial Belanda dan Bupati Serang Banten yang merupakan kepanjangan tangan Belanda.

Karena itu dapat dipandang keliru jika ada yang menyebutkan bahwa pendirian Sjarekat Dagang Islamijjah di Buitenzorg justru nerupakan organisasi tandingan yang dibuat oleh Belanda sebagai reaksi atas lahirnya Sjarekat Islam di Solo. Selain inisiatornya RM Tirto Adhi Surjo sebagai seorang jurnalis yang di anggap berbahaya oleh Belanda, Ia sebelum mendirikan perkumpulan tersebut sempat bertemu dan menyamakan persepsinya terlebih dahulu dengan Hadji Samanhoedi di Laweyan dan secara bersamaan pula, Sjarekat Dagang Islamijjah ikut meleburkan diri menjadi Sjarekat Islam (SI) setelah perubahan nama terjadi dari SDI pimpinan Hadji Samanhoedi menjadi SI di kota Surabaya yang di pelopori oleh HOS Tjokroaminoto yang di gelari sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Sebagai seorang yang dianggap berbahaya oleh Belanda, Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. 

Sebagai seorang jurnalis, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo pernah menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) serta Putri Hindia (1908). Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh proses produksi dan penerbitannya ditangani pribumi Indonesia asli. Karena itulah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo digelari sebagai Bapak Pers Indonesia.

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia
Bekas Hotel Passer Baru Buitenzorg 
di Pecinan 

Dalam kurun waktu yang cukup lama selama dalam proses pendirian perkumpulan Sjarekat Dagang Islamijjah tersebut, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo selama di Buitenzorg menetap di Hotel Passer Baru yang berada di dekat kawasan pecinan yang kini masih menampakan wajah aslinya. Karena itu tidak berlebihan jika ada upaya dari pemerintah kota Bogor untuk memperhatikan bangunan milik warga cina di Bogor tersebut dilestarikan, dipugar dan dijadikan sebagai situs bersejarah.

Untuk pertama kalinya Sjarekat Dagang Islamijjah terbentuk dengan susunan sebagai berikut:

Presiden : Sjech Achmad bin Abdoerachman Badjenet (saudagar)

Wakil Presiden : Mohamad Dagrim (dokter)

Komisaris : Sjech Achmad Said Badjenet (tuan tanah)

Sjech Galib bin Said bin Tebe (tuan tanah)

Sjech Mohamad bin Said Badjenet (tuan tanah)

Mas Ralioes (tuan tanah)

Hadji Mohamad Arsyad (saudagar)

Kasir : Sjech Said bin Abdoerachman Badjenet

Sekretaris Advisor : R. M. Tirto Adhi Soerjo

Kantor pusatnya berada di gedung sewaan di daerah Tanjakan Empang. Diduga lokasinya yang kini menjadi SDN Empang dan berada dekat dengan Bogor Trade Mall di Jalan Raden Saleh Sjarif Bustaman. Sebagai sebuah perkumpulan yang dianggap berbahaya oleh Pemerintah Belanda, secara administratif Perkumpulan Sjarekat Dagang Islamijjah hanya mengantongi izinnya dari Kepala Negeri Bogor dan belum mendapat pengesahan resmi dari Gubernemen. Namun begitu kegiatan perkumpulan itu tetap berjalan dan bahkan mengangkat C.J. Feith pejabat Asisten Residen di Buitenzorg sebagai Pelindungnya.

Sjech Galib bin Said Tebe merupakan tokoh dari kalangan saudagar Arab yang paling berpengaruh dan memiliki andil cukup penting dalam kelahirannya. Perannya dalam pergerakan kebangsaan terus di ikutinya hingga ia menjadi tokoh dalam pergerakan Sjarekat Islam di Batavia (Jakarta) dan di Buitenzorg. Ia juga merupakan tokoh utama pada periode awal sejak kelahiran Al-Irsyad tahun 1914 di Batavia dan ikut terlibat dalam pembukaan cabangnya di kota Bogor tahun 1928. Bahkan beberapa anaknya kelak menjadi tokoh-tokoh penting di Al-Irsyad, diantaranya adalah Ustadz Sulthon Tebe yang pernah menjadi Guru dan Kepala Sekolah pertama di Perguruan Al-Irsyad cabang Banyuwangi.

Sjech Galib bin Said Tebe adalah seorang Arab totok (wulaiti) kelahiran Hadramaut yang pernah diangkat sebagai Hoofd der atau Kapitein der Arabieren (Kapten Arab) di Batavia dan Buitenzorg. Koleganya di perkumpulan Sjarekat Dagang Islamijjah yang bernama Sjech Achmad Said Badjenet pernah meneruskan jabatannya sebagai Kapten Arab di Bogor.

Keluarga Badjenet yang semuanya menduduki jabatan inti dalam perkumpulan ini merupakan penyokong utama lahirnya Sjarekat Dagang Islamijjah. Salah seorang menantu dari keluarga tersebut adalah Sjech Ahmad bin Said Al-Wahdi yang merupakan pemerakarsa berdirinya sebuah lembaga pendidikan Student Hadharimah di Mesir, dimana salah seorang bekas pengajarnya Ali Ahmad Bakatsir menjadi tokoh spirit dan propagandis kemerdekaan Indonesia melalui karya sastranya yang terkenal Audatul Firadus yang kini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Nabil A.Karim Hayaze dengan judul Kembalinya Surga Yang Hilang.

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia
Kediaman keluarga Bajened di Empang
Dibangun tahun 1924

Sedangkan nama Hadji Mohammad Arsyad yang juga disebut dalam susunan awalnya, kuat di duga oleh penulis merupakan Gusti Hadji Mohammad Arsyad, tokoh buangan Belanda  yang menetap di Empang. Gusti Hadji Mohammad Arsyad adalah penerus perjuangan Pangeran Antasari yang memberontak dan melawan kepada penjajah Belanda yang berhasil ditangkap dan diasingkan bersama istrinya Ratu Zaleha ke Buitenzorg.

Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia
Sjech Ahmad bin Said Al-Wahdi tahun 1920 dalam sebuah acara di kediamannya (sekarang berdiri sebuah rumah sakit di Empang

Bogor, 26 Juli 2019, Abdullah Abubakar Batarfie

Berlangganan artikel terbaru via email. GRATIS! :

1 Komentar untuk "Bajened dan Lahirnya spirit Kebangkitan Nasional Indonesia"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel