Photo Tua Al-Irsyad Surabaya dan Pembakaran Bendera Tauhid di Garut


Kali kedua setelah isu pembubaran HTI dan kini sejak pembakaran Bendera Tauhid di kota Garut oleh ormas BANSER yang pembakarannya mereka klaim sebagai bendera HTI, muncul di jejaring sosial baik di facebook maupun dalam grup-grup WhatsApp, sebuah foto tua yang memuat keterangan seolah "bendera tauhid" tersebut sudah ada dan dikibarkan oleh Al-Irsyad Surabaya sejak tahun 1935. 

Terlepas dari perilaku gegabah dan kurang ajarnya oknum BANSER yang mengundang amarah umat Islam Indonesia hingga menuai banyak kecaman dalam berbagai bentuk, termasuk pernyataan sikap PB Pemuda Al-Irsyad sebagaimana yang di rilis oleh berbagai media online. Jelas, photo Al-Irsyad Surabaya tersebut tidak berhubungan dengan "bendera tauhid" yang kini sedang ramai dibicarakan oleh nitizen.Terlebih lagi ada kaitan dengan bendera HTI yang kemunculannya di Indonesia baru ada pada era tahun 80an.

Bendera yang disebut-sebut sebagai "panji tauhid" dalam photo Al-Irsyad Surabaya tersebut adalah the flag of the Saudi Arabian Empire. Bendara kerajaan Arab Saudi yang sengaja dibentangkan dalam pose photo bersama para pemuka dan Pemuda Al-Irsyad Surabaya sebagai bentuk dukungannya terhadap berdirinya pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia dibawah kepemimpinan King Abdul Azis Al Saud.Tidak hanya di cabang Al-Irsyad Surabaya,aksi dan bendera serupa secara serentak di tahun yang sama juga ada di berbagai cabang Al-Irsyad di Indonesia, yang saat itu lebih banyak terdapat di pulau jawa. Dalam posenya, bukan saja bendera kerajaan saudi yang dikibarkan, juga dikenakan pakaian khas saudi lengkap dengan iqal sebagai penutup kepala. Bahkan di Bogor, photo besar al malik abdul Aziz Ibn Saud diikut sertakan dalam aksi photo bersama. Dukungan dan bantuan finansial kepada pemerintahan kerajaan Saudi Arabia dari warga Al-Irsyad yang aksinya di galang diberbagai cabang, juga telah dilaporan oleh Pemerintah Hindia Belanda dalam siaran resminya.


Syech Ahmad Surkati sebagai pendiri Al-Irsyad dan penganut paham abduh, selain memiliki kesamaan pandangan terhadap gerakan dakwah untuk pemurnian ajaran Islam yang diusung bersamaan dengan berdirinya kerajaan Saudi Arabia.Ia dengan pendiri kerajaan Al-Imam Ibn Saud atau yang bernama lengkap Raja Abdul Azis bin Faisal Al-Saud memiliki hubungan sangat erat dan spesial. Keduanya adalah teman satu perguruan pada lembaga pendidikan di al-Harom, keduanya pernah belajar hingga larut malam dengan menggunakan lampu minyak wijen sebagai alat penerangan. Hingga Surkati mencapai puncak karirnya sebagai salah seorang Mufti di Mekkah. Keduanya mencapai prestasi yang gemilang pada jalur yang berbeda. Sedangkan Ibn Saud sebagai keturunan raja-raja di Hejaz berhasil memulihkan kembali kekuasaannya untuk mengusai Mekkah dan Madinah ketampuknya, setelah berpuluh-puluh tahun lamanya berada dalam genggaman kekuasaan Al-Imam Yahya.

Sejak kepindahan Surkati ke Jawa dan menjadi tenaga pengajar di Jamiatul Kher, yang undangannya mengajar berkat rekomendasinya Sayyid Rasyid Ridho murid dan penerus gerakan REFORMASI Sjech Muhammad Abduh. Surkati terus berhubungan erat lewat korespondensinya dengan Pendiri Kerajaan Saudi Arabia Raja Abdul Azis Ibn Saud. Dalam majalah al kharaabiil yang diterbitkan di Saudi Arabia, surat-surat antara Surkati dengan Ibn Saud pernah dimuat. Dalam bagian surat itu disebutkan keinginan Ibn Saud untuk mengangkat Surkati sebagai wakil resmi kerajaan di Hindia Belanda yang ditolaknya dengan halus. Surkati lebih mengutamakan untuk menjaga persatuan umat Islam di Indonesia, terutama menjaga hubungan baiknya dengan pendiri Nahdatul Ulama KH Hasyim Asy'ari. NU lahir di Indonesia sebagai bentuk demonstratifnya kepada Ibnu Saud, Raja Najed yang dianggap beraliran Wahabi karena menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah). 

Syech Ahmad Surkati dan Ibn Saud pernah bertemu kembali dan merupakan perjumpaannya yang terkahir. Surkati sempat berkunjung ke Saudi Arabia untuk memenuhi undangan sahabatnya yang telah menjadi penguasa Mekkah dan Madinah. Selain sebagai tamu resmi kerajaan, Surkati yang kedatangannya ditemani oleh salah seorang muridnya Abdul Halim putera H.Abdul Hamid dari Lampung, juga menyempatkan diri untuk menunaikan rukun Ibadah Haji.

Diberitakan dalam majalah Al-Misbah edisi nomor 2, Tahun 1929, Surkati mendapatkan kehormatan dalam jamuan khusus di Istana Kerajaan Ibn Saud. Surkati juga menyampaikan ceramahnya dihadapan Baginda Raja Ibn Saud beserta ulama serta anggota kerajaan lainnya. Salah satu pertanyaan penting yang diajukan kepada Surkati oleh Raja Ibn Saud seperti yang dikutip dalam majalah Al-Misbah adalah;

 "Kami telah menyaksikan beberapa negara dan beberapa bangsa di dunia ini yang telah maju dalam ilmu pengetahuannya, tetapi keadaan rakyat mereka masih kosong dari pengaruh pengetahuan-pengetahuan tersebut.Gerangan apakah yang menyebabkan itu?

"Wahai Baginda Raja, sesungguhnya ilmu itu laksana senjata, tidak akan turun sendiri dalam medan pertempuran, atau laksana pedang yang tak bisa menggadang terkecuali bila ada ditangan orang yang kuat" Maksudnya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu tidak akan berguna bagi seseorang, bila tidak disertai dengan tarbiyah. (Syekh Ahmad Surkati)

Surkati dalam lawatannya ke Saudi Arabia, juga mengunjungi asal negaranya Sudan untuk menemui anggota keluarga dan karib kerabatnya. Dan menyempatkan diri datang ke Mesir, menemui ulama-ulama Al-Azhar yang disambut dengan penuh penghormatan.

Di Sudan Abdul Halim berhasil menjumpai bekas salah seorang bekas gurunya di Al-Irsyad yang telah kembali ke Sudan. Ia adalah Ustadz Ahmad Al'Aqib dan sengaja pada kesempatan itu mengajak bicara Abdul Hamid dengan mempergunakan bahasa Melayu.

Surkati kembali ke Indonesia pada tanggal 24 November 1928, kembalinya Surkati mengajak serta kemenakannya Siddiq Surkati dan dua orang Guru Besar lulusan Al Azhar yaitu Syaikh Ibrahim Harran dan Syaikh Muhammad Al-Amin.

Kepulangan kembali Surkati ke tanah air disambut secara besar-besaran dan penuh dengan suka cita oleh murid-muridnya. Acara khusus penyambutan kedatangannya disiapkan di Pelabuhan Tanjung Periuk. Surkati tiba pada jam 7 pagi menggunakan kapal P.C.Hooft. Disebutkan dalam majalah "Poestaka Pandji", "sejak poekoel setengah 7 pagi, ditepi pelaboehan N.S.M. soedah banjak pemoeda-pemoeda terpeladjar bangsa 'Arab, antaranja anak-anak pandoe dari Al-Irsjad school,menoenggoe kedatangan beliau. Dari pihak Pemerintah kelihatan hadir djoega p.t.t.Dr.Pijper dan Van der Plas dari kantor Inlandsche Zaken ; lain dari pada itoe beberapa perkoempoelan Islampoen ada jang mengirimkan wakilnja jaitoe misalnja H.B.P.S.I., P.S.I Betawi, Idharoel Haq dan Noeroel Islam".

Tidak hanya disambut di Pelabuhan Tanjung Periuk, acara penyambutan dan syukuran juga diselenggarakan di sekolah Al-Irsyad di Mangga Besar. Peristiwa kedatangan dan penyambutannya itu resmi diberitakan oleh Poestaka Panji dalam majalahnya.

Oleh: Abdullah Batarfie



Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)