Dunggulah Di Sudan, dan Donggala di Sulawesi

Gambar sebagai ilustrasi

Gempa Bumi dan Tsunami di kota Palu dan Donggala telah menyita banyak perhatian masyarakat Indonesia dan bahkan dunia Internasional. Jumlah korban sudah tidak terhitung lagi jumlahnya hingga ribuan orang yang mati. Aksi tanggap bencana, bantuan dari berbagai elemen dan negara asing bergerak cepat datang ke kota Palu dan Donggala memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, silih berganti berdatangan dari arah laut dan udara.

Tak terkecuali pula organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah dari berbagai unsur di dalamnya, bereaksi cepat dan tanggap ikut membantu korban bencana. Bahkan bantuan yang diberikan dalam koordinasi Laznas Al-Irsyad terbilang paling menyentuh pada pokok yang dibutuhkan para korban, menyediakan sarana air bersih karena sulitnya ketersediaan air untuk minum di lokasi bencana.

Misi bantuan dari berbagai cabang Al-Irsyad juga berdatangan, diantaranya mobil ambulan Al-Irsyad kota Bogor sebagai misi pertama yang diberangkatkan yang bertolak dari pelabuhan tanjung priuk sejak 10 Oktober 2018. Disusul tim relawan dari cabang Jakarta Timur dan Barat yang berada dibawah komando PW DKI. Dan posko-posko serta penggalangan dana yang didirikan dan digerakan oleh cabang-cabang Al-Irsyad lainnya dihampir semua wilayah.

Nama Donggala mengingatkan Al-Irsyad pada tempat kelahiran pendirinya, Syekh Ahmad Surkati (1875-1943). Namun, terdapat sedikit perbedaan penulisan antara "Dunggulah" dan "Donggala". Dalam peta dunia, nama ini ditulis sebagai "Dongola", atau dalam penulisan Arab "Dunqulā", juga dieja sebagai "Dunqulah", yang merupakan ibukota negara bagian Utara di Sudan. Kota Dongola modern berbeda dengan Dongola Kuno yang terletak sekitar 80 km ke arah hulu. Penduduk kota kuno tersebut pindah ke kota modern ini pada abad ke-19.

Menurut literatur dalam diktat yang mencatat profil ulama Sudan yang menetap di Indonesia, Dunggulah dikenal sebagai penghasil kayu terbaik untuk pembuatan kapal. Orang-orang Dunggulah juga terkenal karena keahlian dalam pembuatan kapal besar yang digunakan untuk berlayar melintasi samudera membawa barang dagangan, dan mereka sering berlabuh di pelabuhan-pelabuhan yang ramai termasuk di Nusantara. Orang Dunggulah ada di antara mereka yang menjadi juru mudi kapal dan pekerja di kapal milik saudagar, dan mereka biasa disebut sebagai "Dunggali". Istilah "Dunggali" juga lazim digunakan untuk menyebut orang-orang dari Dunggulah, seperti halnya "Benggali" untuk orang-orang asal Benggala, "Gujrati" untuk orang-orang Gujarat, "Arobi" bagi orang Arab, dan "Hadrami" untuk orang-orang yang berasal dari Hadramaut.

Donggala, sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah, kini menjadi puing-puing akibat gempa bumi, dan dikenal sebagai kota dengan masyarakat yang heterogen. Sejak dulu, kota ini merupakan pelabuhan ramai yang sering dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negara, termasuk Yaman di Arab Selatan dan juga dari Afrika seperti Zanzibar dan Madagaskar. Masyarakat Donggala telah lama terbiasa berinteraksi dengan dunia luar, dengan kapal-kapal asing yang sering berlabuh di sana. Keberadaan Pelabuhan Donggala telah menginspirasi setidaknya dua penulis besar dalam karyanya, seperti dalam buku "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" karya Buya Hamka dan "Tetralogi Pulau Buru" karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yang merujuk pada Donggala sebagai tempat singgah para pelaut nusantara dan mancanegara.

Asal-usul nama "Donggala" sulit ditelusuri, bahkan situs resmi Pemerintah Donggala tidak memberikan informasi mengenai muasal penamaannya. Sumber-sumber sejarah yang mencoba menjelaskan asal-usul nama Donggala juga jarang ditemukan. Salah satunya adalah dalam buku "Satu Kota Empat Zaman: Donggala Pada Masa Tradisional Hingga Terbentuknya Kabupaten", yang berusaha merekonstruksi sejarah Donggala dari awal perkembangannya hingga pembentukan kabupaten. Menurut buku tersebut, sebutan "Donggala" berasal dari "Don 'Nggolo" yang kemudian berubah menjadi "Donggala" sesuai dengan dialek setempat, dan sejak itu kata "Donggala" mulai diperkenalkan. Dibuku itu pula disebutkan dalam literatur Perancis, kata Donggala disebut dengan kata Dunggally. Pemuatan kata Dunggally tersebut dapat dilihat dalam peta tua Pulau Sulawesi yang dibuat oleh Lodocus Hondius pada 1611.

Berdasarkan asumsi bahwa nama "Don 'Nggolo" diambil dari seorang kapten kapal yang menambatkan kapalnya pada pohon "Nggolo", yang berasal dari bahasa setempat, pengucapan "Don 'Nggolo" menjadi "Donggala" mungkin terjadi karena terpeleset dalam pengucapan bahasa daerah itu sendiri.

Penulis juga menghipotesiskan bahwa nama "dunggulah" mungkin berasal dari sebuah kapal besar yang pernah berlabuh di masa Kerajaan Banawa, dan nama itu kemudian menggantikan nama sebelumnya. Pada masa tersebut, pantai tersebut disebut sebagai Pantai Langga Lopi dan daerah sekitarnya dikenal sebagai Banawa, merujuk pada nama kerajaan yang telah berdiri sejak 1485. Terdapat literatur Prancis yang menyebutnya sebagai "Dunggally", yang mengartikan orang-orang dari Dunggulah.


Dok identitas Khadijah Batarfie

Lokasi pemakaman Khadijah Batarfie
Kiriman sdr Fadhli kepada
 Ibu Rachmah Ahmad Batarfie


Penulis, meskipun secara tidak langsung, memiliki keterikatan batin yang sangat kuat dengan kota Donggala. Hal ini karena di kota tersebut, seorang Batarfie dari kota Dou'an di Hadramaut pernah tinggal dan memiliki seorang anak perempuan bernama Khadijah Batarfie. Bibi penulis (ammati-Arab), Rachmah Ahmad Batarfie, bahkan sempat bertemu dengan Khadijah saat mengunjungi kota itu. Dengan demikian, hubungan ini menambahkan dimensi emosional pada upaya untuk memahami asal-usul nama "Donggala" dan menggambarkan betapa kaya dan kompleksnya warisan sejarah serta keterikatan personal yang terkait dengan nama tersebut.

Abdullah Abubakar Batarfie


Posting Komentar untuk "Dunggulah Di Sudan, dan Donggala di Sulawesi"