Habib Nasionalis dari Kampung Petek di Semarang


Sudah lebih dari dua puluh tahun banjir ROB menggenangi pemukiman di kampung geni di jalan Petek Semarang Utara. Tidak sedikit rumah-rumah penduduk yang amblas dan ditinggalkan penghuninya. Sebagian yang tetap bertahan terpaksa harus menyesuaikan dengan perubahan fisik lingkungan pemukiman.

Rumah-rumah yang dahulu berdinding tinggi, pintu dan daun jendela klasik yang menyisakan kejayaan keemasaan rumah-rumah penduduk di pesisir pantai hanya separuhnya saja yang masih bisa kita saksikan, lebih dari dua meter tinggi dindingnya terpaksa ditenggelamkan dengan timbunan puing2 agar terhindar dari banjir dan juga menyesuaikan dengan permukaan sepanjang jalan yang ditinggikan. Masjid Menara, masjid lama di Jalan Layur yang dibangun oleh saudager dan ulama asal Hadramaut lebih dari dua abad yang lampau juga terkena dampak yang sama. Bangunan masjid yang saat di bangun berbentuk panggung dengan dua belas anak tangga, kini tangga kayunya sudah tenggelam dan kolong panggung yang dahulu digunakan sebagai tempat wudhu sekarang sudah hilang, lantai masjidnya sudah rata dengan permukaan jalan. Gedung sekolah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jalan Petek yang pada masanya dikenal megah dengan bangunan 4 lantai, saat ini hanya menyisakan 3 lantai saja, ruang-ruang kelas dilantai pertama sudah tidak dapat lagi difungsikan. 

H.Mutahar pencipta Hymne Pramuka

Banyak pihak bersilang pendapat untuk mencari dalang yang bertanggung jawab akibat penyebab abrasi laut di dekat kawasan yang sudah sejak masa silam berjaya menjadi pelabuhan terpenting di jawa, tempat berlabuhnya armada Laksamana Cheng Ho seorang beragama Islam yang tiba di kota  Semarang dari negeri Tiongkok pada tahun 1435 H. Tidak sedikit dari pengamat lingkungan hidup yang menuding reklamasilah sebagai akibat dari dampak yang ditimbulkan. Mungkin alasan serupa itulah yang kemudian penentangan terhadap rencana proyek reklamasi "Ahok" di pantai utara Jakarta agar tidak mengalami nasib serupa seperti yang terjadi sekarang di semarang utara.

Jalan layur dan Petek di kota Semarang sudah sejak lama dikenal sebagai kawasan pemukiman warga keturunan arab, hal ini terkait erat dengan kebijakan pemerintah kolonial belanda tentang kependudukan dan pemukiman yang diberlakukan bagi setiap etnis dengan membentuk koloni-koloni disejumlah kota. koloni yang sudah ditetapkan penjajah ini kemudian dikenal dengan sebutan kampung arab yang dikepalai oleh seseorang yang berpangkat Kapitein der Arabieren atau Kapten Arab. Berbeda dengan di daerah lain, jumlah warga koloni arab di Semarang tidak sebanyak seperti di Batavia, Surabaya dll, karena itu kapten yang mengepalai warga arab di semarang ini juga merangkap sebagai kepala masyarakat india yang dahulu disebut Benggali oleh Belanda. Hal tersebut karena pengelompokan etnis dari bangsa Timur Asing yang beragama Islam dengan sebutan bangsa "Moor". 

Untuk pertama kalinya Sayyid Muhdar Bin Abdullah Al-Habsyi diangkat sebagai Kapten Arab dan Benggali kota Semarang yang dilantik oleh pemerintah kolonial Belanda pada 15 April 1899, digantikan kemudian oleh penerusnya Sayyid Edrus Bin Muhammad Bin Ali Al- Djufri pada 1 Desember 1927.

 Masjid Menara di Jl. Layur

Kebijakan pemerintah kolonial Belanda khusus untuk koloni arab lebih diperketat dibandingkan koloni etnis-etnis lainnya, pemerintah berusaha memisahkan etnis arab dengan Bumiputera karena pengaruh orang-orang Arab yang dianggap berbahaya bagi kelanggengan politik kekuasaan belanda. Sejumlah pemberontakan di tanah air disebut-sebut pemicunya adalah bangsa Arab. Demikian pula lahirnya sejumlah organisasi-organisasi yang dianggap berbahaya seperti Jamiatul Kher, Syarekat Islam dan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. 

Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang didirikan pada 6 September 1914 di Jakarta oleh Syech Ahmad Surkati, membuka cabangnya di Semarang pada tahun 1934. Cabang kota Semarang pertama kali diketuai oleh Awod bin Mas'ud Albakri. Sedangkan sekretarisnya adalah Bastomi al Mausul. Bastomi adalah alumni madrasah Al-Irsyad di Jakarta, yang mendapatkan didikan langsung Syach Ahmad Surkati. Bendaharanya adalah Ali Bin Salim Bin Bisyir, dan Muhammad Ahmad Baasyir duduk sebagai Penasihat.

Demikian pula lahirnya gagasan dan kesadaran Peranakan Arab akan tanah air Indonesia berlangsung di kota Semarang. Pada 4 Oktober 1934 para Pemuda peranakan Arab dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di kota Semarang untuk bersepakat dan bersumpah mengakui Indonesia sebagai tanah air mereka. Di kota semarang ini pula, di kampung arab jalan petek Husein Bin Salim Bin Ahmad Al Muthahar dilahirkan pada 5 Agustus 1916. Kelak ia menjadi seorang pemuda peranakan arab yang teramat penting diperhitungkan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan lebih dikenal sebagai komponis musik Indonesia, terutama dalam menciptakan lagu-lagu kebangsaan Indonesia atau lagu wajib dengan nama H.Mutahar.

SD-SLTP AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH, di Jl. Petek
Boleh jadi bila bukan karena peran H.Mutahar, bendera pusaka Merah Putih tidak akan pernah berkibar kembali dan dikibarkan dalam setiap peringatan hari kemerdekaan  sejak 17 Agustus 1946. Kelak setelah kondisinya semakin rapuh karena usia, bendera pusaka itu menjadi pengiring pasukan pengibar bendera dalam setiap acara peringatan HUT RI di Istana Negara sampai sekarang. Ia adalah tokoh penyelamat bendera pusaka yang di jahit oleh Ibu Fatmawati dan dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.Di pundaknyalah, tugas terberat untuk menjaga keselamatan bendera pusaka dipikul. Dan dengan seluruh jerih payahnya, akhirnya bendera pusaka selamat dari tangan kotor para penjajah, hingga generasi kita masih dapat menjumpainya yang kini disimpan dalam ruang khusus di Istana Negara Kepresidenan RI Jakarta.

Sebagai salah seorang ajudan Presiden, H.Mutahar mendapatkan tugas menyiapkan dan menyusun upacara pengibaran bendera ketika Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun pertama kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1946 di Istana. Pada tahun 1967. Tugas untuk menyusun tata cara upacara hari kemerdekaan terus diembannya hingga di masa pemerintahan Presiden Soeharto. H.Mutahar adalah Bapak Paskibraka Indonesia. H.Mutahar juga dipandang sebagai salah seorang tokoh yang membidani lahirnya PRAMUKA Indonesia. 

Sebagai tokoh yang mengusasi enam bahasa asing secara aktif, puncak karir H.Mutahar setelah sebelumnya menduduki berbagai jabatan penting di hampir banyak departemen adalah sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Vatikan (1969-1973). Jabatan terakhirnya adalah Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri tahun 1974.

Rumah tua milik warga keturunan arab yang terkena dampak rob banjir

Rumahnya yang berlokasi di jalan petek, kampung arab di kota semarang itu kini masih dapat kita jumpai, kondisinya memprihatinkan dan menjadi salah satu dari ribuan rumah yang terkena dampak banjir ROB. Rumah kuno berdinding kayu dan tidak pernah berubah sejak H. Mutahar dilahirkan ini, sebagian bangunannya sudah tertimbun tanah urukan.Tinggi dindingnya dari permukaan lantai kini nyaris hanya sehasta diatas kepala penghuninya dengan atap plafon kayu. Lemari-lemari kayu jati "antik" yang salah satu diantaranya dulu pernah dipakai H.Mutahar untuk lemari pakaiannya, terpaksa harus dipotong pada bagian bawahnya untuk menyesuaikan dengan tingginya dinding. 

Penghuni yang sekarang mendiami rumah kelahiran H.Mutahar adalah adik kandungnya sendiri yaitu Abdullah Bin Salim Bin Ahmad Al Muthahar. Usianya sekarang diatas 90 tahun. Nama yang akrab disapa "ami wah" ini oleh warga kampung arab di jalan petek diberinya gelar "Habib Nasionalis". Ia adalah sosok dari sekian banyak pemuda peranakan Arab di zamannya seperti kakaknya H.Mutahar yang berintegrasi secara total menjadi bangsa Indonesia. Dimasa mudanya Ia selalu menggunakan blangkon jawa mengikuti gaya tokoh idolanya salah satu pendiri dan motor penggerak PAI yaitu Abdurrahman (AR) Baswedan. 

Ami Wah memegang prinsip-prinsip ukhuwah Islamiyyah yang sangat ia pegang erat, persaudaraan dan kemuliaan seseorang baginya adalah persaudaraan satu aqidah sebagai sesama muslim dan tolok ukur kemuliaan itu karena ilmu dan adab, bukan karena nasab atau derajat yang disandarkan kepada keturunan. Ami Wah fasih berbahasa Arab, juga bahasa Belanda. Masih banyak yang belum digali dari Ami Wah dan insya Allah perjalanan saya ke kota gudangnya sejarah bangsa ini akan menjadi kerinduan tersendiri untuk mengunjunginya kembali, khususnya menemui al walid Ami Wah bersama aktivis semarang Naiv Hassan dan seniorku pakar sejarah arab syech Nabil Nabiel Hayaze.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)