Gang Kurupuk, jejak Dalem Bogor yang hilang di Empang, dan Legenda Masadiyem


Bupati XIV Sukapura 1913 (1908-1937) Rd Tumenggung Wiratanuningrat


Kerupuk adalah salah satu teman makan khas Indonesia. Ada banyak jenis kerupuk dan juga aneka bentuk. Jenis Kerupuk yang paling populer dan hampir diberbagai daerah di nusantara ada ialah jenis kerupuk bulat yang banyak tersedia di warung-warung makan, khususnya warteg. 

Kerupuk bulat di Indonesia popularitasnya semakin melejit, setelah dipakai untuk kegiatan lomba agustusan, "balap lomba makan kerupuk" dalam rangka memperingati dirgahayu kemerdekaan Indonesia setiap bulan Agustus. 

Barack Hussein Obama, saat masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, disela kunjungannya ke Indonesia pernah menyebut kerupuk dalam pidatonya di Universitas Indonesia. Bagi Obama, makan kerupuk mengingatkannya kembali pada masa kecilnya semasih tinggal di Indonesia. 

Geef mij maar nasi goreng, judul lagu keroncong yang dinyanyikan oleh Wieteke Van Dort, orang Belanda yang lahir di Surabaya. Konon lagu ini bercerita tentang kerinduannya pada makanan-makanan nusantara, salah satunya adalah kerupuk. Ini menunjukan, kerupuk juga disukai oleh orang-orang Belanda.

Dahulu di Indonesia, para pedagang kerupuk bulat tidak seperti sekarang, membawa kerupuk dagangannya lebih praktis dengan menggunakan box yang dirakit di kendaraan bermotor. Pada masa lalu, hingga era tahun 80an, para pedagang kerupuk memikul kerupuk dagangannya menggunakan jemblung. Wadah besar berbahan seng yang ukurannya dua kali lebih besar dimaternya dari gentong. Tentu saja akan jadi masalah apabila jemblung ketemu jemblung jika berpapasan dalam gang yang sempit.

Di Empang hingga tahun 80-an, masih terdapat usaha pembuatan kerupuk. Usaha pembuatan krupuk ini biasanya dikelola oleh para pendatang asal Ciamis, Jawa Barat. Lokasi pembuatannya adalah yang sekarang kita kenal dengan nama "Gang Kurupuk", berada dipinggir aliran cibalok, kanal kecil bekas parit benteng keraton Pakuan Pajajaran yang membentang dari Lolongok sampai ke Cipakancilan.

Cibalok bekas kanal kecil benteng Pakuan menjadi Landmark Gang Kurupuk. Ada legenda yang merakyat tentang Masadiyem yang diyakini oleh warganya sering muncul di malam hari membawa lampu cempor minyak tanah, berjalan menyusuri sepanjang aliran kanal hingga menghilang di tengah kegelapan malam.

Legenda itu teruji ampuh menakuti bocah di masa lalu untuk tidak keluyuran di malam hari. Kini cerita masadiyem yang penuh dengan takhayul itu menghilang dan tidak lagi diingat oleh warga Gang Kurupuk.

Dahulu Gang Kurupuk jalannya tertata rapih dengan kontruksi jalan berbeton di tengah-tengah yang diapit oleh balai berbatu, khas jalan setapak dalam gang pada masa kolonial Belanda.

Gang kurupuk menyimpan banyak cerita dan sejarah masa lalu, tidak hanya pabrik kurupuk dan legenda masadiyem.Dahulu di gang kurupuk ada rumah bekas tempat pengasingan Bupati XI Soekapoera, sekarang dinamakan Tasikmalaya. Raden Adipati Tumenggung Wiraadegdana diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Buitenzorg (Bogor) karena dianggap menentang pemberlakuan terhadap kebijakan pajak tanah oleh pejabat komisaris Jenderal Hindia Belanda yang memimpin tujuh bupati periangan P.K.T. Otto van Rees.

Raden Adipati Tumenggung Wiraadegdana yang dilantik menjadi Bupati Soekapoera pada 11 September 1855, diberhentikan dengan hormat dari jabatannya oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1875. Selama dalam pengasingannya di Empang, Ia mendapatkan pensiun f.300 dari pemerintah kolonial.

Tahun 1908, Bupati Soekapoera yang memiliki keterikatan kuat dengan kerajaan Islam Mataram ini diperkenankan kembali ke Manonjaya, hingga beliau wafat di tahun 1912. Jenazahnya dimakamkan di Tanju dan dinisannya tertulis "Dalem Bogor".

Lokasi rumah bekas pengasingan Dalem Bogor di Gang Kurupuk, konon adalah rumah yang pada tahun 80an masih berbentuk panggung dihuni oleh keluarga almarhum Ibu Tjitjih. Sekarang menjadi kediaman keluarga Al Abdat. Ayah angkat Ibu Tjitjih disebut-sebut sebagai anak Dalem Bogor, lahir dari seorang Njai (selir) yang dinikahinya dipengasingan.Wanita itu belakangan lebih dikenal dengan panggilan Ibu Uwen, saudara sekandung Ibu Ukit, pemilik lahan bekas pabrik kerupuk.

Al-Alim Al-Maghfirlahu Alwie bin Muhammad bin Ahmad Al haddad

Gang Kurupuk memang banyak menyimpan jejak para pelaku sejarah, termasuk jejak seorang ulama besar Al-Alim Al-Maghfirlahu Alwie bin Muhammmad bin Ahmad Al haddad. 

Beliau dilahirkan di kota Qeidun, Hadramaut, pada tahun 1299 H. Sebagai seorang ulama, pengaruhnya cukup luas dan disegani, termasuk oleh  Presiden RI pertama Ir.Sukarno. Ia dikenal sebagai ulama yang selalu menjaga jarak dengan penguasa.

Ulama yang dikenal sebagai ahli Hadits dan bersahabat erat dengan ulama-ulama Al-Irsyad ini, wafat di kota Bogor tahun 1373 H. Dimakamkan berdekatan dengan gurunya di Qubah Al Attas, yang berada dalam komplek Masjid An Noer Empang.

Jejak tokoh lainnya di gang krupuk adalah bekas rumah Almarhum Drs. Anis Thalib, mantan Ketua Parmusi dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan di Kota Bogor. Sempat pula menjadi anggota Dewan dan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor dari FPPP. Sebagai seorang aktivis, Ia juga pernah menduduki jabatan Ketua cabang Al-Irsyad Al-Islamiyyah kota Bogor dalam beberapa periode.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)