Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

Hampir sebagian besar anak-anak di Jakarta kini tidak lagi fasih berpantun dalam bentuk permainan, dan bukan hanya di Jakarta saja,  hampir semua daerah bentuk-bentuk permainan tradisional tidak lagi populer di mata anak Indonesia.

Dulu menjelang siang di kampung Petamburan dan juga  hampir di semua sudut kampung di Betawi, anak-anak bergembira riang dalam ragam bentuk permainan yang diiringi oleh pantun-pantun jenaka, salah satunya adalah permainan hompimpah. Rekaman permainan anak-anak kampung Betawi itu direka ulang kembali dalam bentuk sajak oleh Zeffry J. Alkatiri dalam bukunya “Dari Batavia sampai Jakarta 1616 – 1999”.   diantara baitnya adalah sebagai berikut ;


Sekitar 10.35 – 12.20

Di sebuah kampung

Pada pelataran rindang

Para bocah main hompimpah

Mereka bersiteru

dan mengejek anak yang kalah


Nasi uduk ketan urap

Orang buduk ditendang Arab

Nasi uduk ketan urap

Orang buduk sering kalap



Sementara itu dalam kenangan penulis, nyai, jideh, enyak, umi, encang, encing, ameh, hale, dan anak-anak perempuan betawi lainnya yang berkerudung asal naro di kepale duduk besile di bale-bale selepas ashar. Merekapun ikut berbaur bersama anak-anak dan berpantun dalam bentuk permainan punggung tengkurep  sambil melantunkan pantun yang bunyinya ;


Pong-pong balong

Biji merak biji sampi

Pece telor sebiji


Ci-ci Puteri

Tembako Lime Kati

Mak None, mak none kepengen ape

Jauh sebelum lagu ayat-ayat cinta yang kesohor lewat sinetron religi yang dibintangi oleh Zaskia Mecca, lagu-lagu bernuansa religi sempat ngetren di kalangan warga betawi, diantaranya adalah lagu yang berjudul siksa kubur, lagu ini pernah dipopulerkan kembali ketika kasidahan sempat ngetop di era tahun 80-an yang dilantunkan oleh penyanyi kasidah terkenal kala itu, Rofiqoh Dharto Wahab, selepas acara mimbar agama Islam di TVRI.



Indung-indung kepala lindung

Ujan di udik di sini mendung

Anak siape pake kerudung

Mata ngelirik kaki kesandung



Ayun-ayun siti aise

Mandi di kali rambutnye base

Tidak sembayang tidak puase

Di dalem kubur ade nyang sekse



Untuk melengakapi khazanah budaya betawi tempo doeloe, ada baiknya bila kita kutip pantun lama dari buku Bang Ridwan Saidi. Menurutnya pantun tersebut berisi pencerdasan akal yang dimainkan dalam bentuk tebak-tebakan oleh bocah laki-laki melalui intonasi irama melayu ;



Pak-pung pak mustape

Pak Dule di rumenye

Ade tepung ade kelape

Ade gule di tengenye



Jalanan besar pager miana

Burung pipit di rume cina

Jangan gusar saya bertanya

Anak cakep  sape yang punya*


Itulah contoh macem  pantun betawi yang disusun dengan bahasa jenaka, tapi ada juga yang sarat dengan nasihat, dibawakan dalam irama khas melalui bentuk-bentuk permainan. Anak-anak Betawi, terutama anak-anak di Petamburan dulu membawakannya saat bubar maen di sekolaan, dan sore menjelang beduk megerib. Mereka bermain di pekarangan rume atawa sekolaan, juga di bawah rimbunan pu’un  jati, memang dulunya banyak pohon jati di daerah Petamburan. Waktu itu kagak ada anak-anak yang berani maen sampe kelewat megerib, lantaran takut kesambet.

Yang laki-laki sholat di langgar, dan mengaji sampai menjelang sholat isya’. Sedangkan yang perempuan mereka sholat di rumah dan duduk besile di bale-bale buat dengerin dan ngikutin nyai atawa jide baca Al-Qur’an, biar bener tajuid dan mahrojnye.

Masyarakat betawi memang religius, insya Allah mereka patuh dan taat jalanin igame seikhlasnye. Mereka bangun di pagi buta dan buat yang laki-laki sholat berjamaah di langgar dipimpin oleh orang alim dan taat igame.  Bagi mereka, hanya kepada Allah berserah diri dan jalanin idup sesuai igame. Mereka orang betawi belon tau masalah khilafiyah dan perkare mana yang dapat dianggap bid’ah, karenanya keikhlasan mereka beribadah pun jangan sembarang lantas langsung diteplok stempel naar. Walaupun ukuran ikhlas tidak terbatas, tapi sulit terukur dalam nalar otak manusia. Bagi orang Betawi apapun bisa dilakonin asal tetap berpegang teguh pada ajaran agama, hal ini bisa kita simak dari pantun yang pernah populer di Betawi seperti yang dimuat dalam buku Profil Orang Betawi, H. Ridwan Saidi ;


Haji Mu’min sudager delime

Orang nyang murni betuker name

Jangan herau kesana kemari

Asal idup kite di jalan igame


Kesederahanaan ajaran agama masyarakat betawi, tercermin pula dalam pantun yang kemungkinan menurut Bang Ridwan diciptakan oleh orang alim keluaran Muallim Mujtaba dari kampung mester ;


Ya Allah ya Rabbi

Nyari untung biar lebi

Biar bisa pegi haji

Jiarah kuburan Nabi



Pantun dan permainan betawi kini tinggal kenangan, hompimpah, petak umpet, gale asin, ciputeri, wak-wak gung, Tam-tambuku, Kelima-lima kasim dan sebagainya, semuanya menghilang ditelan zaman. Termasuk hilangnya nama Petamburan yang sekarang berubah menjadi jalan KS.Tubun. Walaupun nama jalan sudah berubah, tapi para sudager dari Afrika yang sekarang bejibun dan berseliweran di kawasan itu, tetep kerasan nginep di salah satu hotel yang namanya masih nama kawasan lama yaitu hotel Petamburan milik sudager  arab dari Tenabang. Saking  banyaknya orang Afrika di kawasan tersebut, kini banyak dibuka restoran-restoran milik warga Afrika yang berasal dari berbagai negara seperti Sudan, Tanzania, dll.

Tentang asal usul kenapa daerah itu dinamakan jatipetamburan,  konon dulunya banyak tumbuh pohon-pohon jati, suatu ketika di kawasan itu ada yang meninggal seorang penabuh tambur, si almarhum tadi di kubur persis di bawah pohon jati, sehingga jadilah nama kampung Jatipetamburan.

Menurut Alwi Shahab, kampung Petamburan yang letaknya berbatasan antara Jakarta Pusat dan Barat, pada masa kumpeni masih berkuasa dulu merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh warga Prancis, sehingga ada kawasan yang dinamakan De Franse Buurt, disamping Risjwijk (Jl.Veteran) dan Noordwijk (Jl.Juanda). Banyak pula orang Prancis yang tinggal dikawasan Petamburan dan salah satu peninggalannya adalah rumah yang sekarang dijadikan museum tekstil dan pernah menjadi kediaman Konsul Turki di Hindia Belanda, Abdul Azis Al-Mussawi Al-Katiri.

Abdul Azis Al-Mussawi Al-Katiri adalah utusan Pemerintahan Khalifah Usmani di Turki yang datang ke Batavia pada tahun 1898 bersama Galib Beik untuk menyelediki keadaan kaum muslimin di Indonesia. Disebutkan pula kedua utusan dari Turki ini mendapatkan tekanan serta intimidasi dari Pemerintah Hindia Belanda karena pemerintahan Usmaniyah di Turki memberikan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Sejak kedatangan dua orang utusan (konsul) Usmaniyah Turki ke Indonesia, di kalangan masyarakat arab hadrami itu kemudian timbul harapan besar kebebasan bergerak yang sebelumnya ditekan oleh Pemerintah kolonial Belanda. Dua orang Konsul Turki itu bahkan berjanji tidak akan pernah beristirahat sebelum orang arab di hindia memperoleh hak secara hukum dapat disamakan dengan masyarakat Eropa.

Bangsawan Turki yang kemudian  menetap di Indonesia itu kawin dengan puteri Sultan Bangkulu yang juga adik kandung pahlawan nasional Sentot Alibasya, salah seorang keturunannya dipersunting oleh Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Attas yang terkenal tajir dan juga dermawan hingga mendapat julukan Sudager Baghdad dari Betawi. Menurut Alwi Shahab, ibunda mantan menlu Ali Alattas merupakan ipar almarhum dan puteri Konjen Turki yang menikah dengan  Sayyid Abdullah bin Salim Al-Attas.

Sayyid Abdullah bin Salim Al-Attas adalah salah seorang Alumnus madrasah Al-Irsyad di Petamburan, dan pernah ditunjuk sebagai kepala madrasah saat Al-Irsyad membuka cabangnya yang pertama kali di kota Tegal. Juga sempat menjadi kepala Madrasah Al-Irsyad di kota Surbaya.

Kedermawanan Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Attas selalu mendapatkan pujian dari Surkati, bahkan setiap kali namanya disebut Surkati selalu memanjatkan do’a untuknya. Pengusaha tajir kelahiran Pekojan 1844 ini menyumbang sebesar 50 ribu Gulden dari koceknya sendiri ketika organisasi Al-Irsyad ini pertama kali didirikan. Beliau pula yang mendatangkan para pejabat voolskraad untuk hadir dalam rapat umum anggota Al-Irsyad yang diprakarsai oleh Syech Umar Manggusy ketika Al-Irsyad terancam bubar pada tanggal 15 Februari 1920.

Bagi Al-Irsyad, kampung Petamburan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah lahirnya Al-Irsyad. Karena untuk pertama kalinya pada tanggal 6 September 1914 Al-Irsyad Al-Islamiyyah didirikan dikawasan ini, dan di kawasan ini pula Surkati menetap setelah meninggalkan rumah dinasnya di Pekojan atas ajakan dan jasa baik Syech Umar bin Yusuf Manggusy.
Petamburan menjadi tonggak sejarah masyarakat hadrami di almahjar untuk bangkit dan berjuang guna memperoleh persamaan derajat dan keadilan. Dari Petamburan inilah Surkati memulai sebuah perubahan melalui ide, gagasan dan pemikiranya untuk membentuk manusia berkualitas lewat proses pendidikan. Dari petamburan ini pula Surkati memulai babak baru sebuah pembaharuan yang mengusung ajakan untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, member spirit kepada para pemuka Islam Indonesia untuk bangkit dan mendorong mereka agar tegar melangkah guna menyerukan pembaharuan dan pemurnian Islam lewat pergerakan. Sprit inilah yang mendorong KH Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan Muhammadiyah dan Hadji Zam Zam mendirikan Persatoean Islam (PERSIS).

Menurut Prof. DR Deliar Noer dalam bukunya “The Modernist Muslim Movement In Indonesia 1900-1942”, Ahmad Surkati memainkan peranan penting sebagai mufti dikalangan tokoh pergerakan Islam modern dan tokoh pergerakan nasional Indonesia.
Kini ratusan nama jalan peninggalan masa lalu di Jakarta telah hilang, termasuk nama Petamburan yang sekarang menjadi jalan KS.Tubun. Juga dengan permainan hompimpah yang kini tinggal kenangan.

Bila kita ingin bernostalgia kembali untuk mengenang jatipetamburan tempo doeloe ada baiknya bila kita bertandang ke rumah almarhum dr. Azis Ahmad Masy’abi sekedar duduk di beranda rumahnya yang jadul, maka akan terbayang ketika Bang Jeni dengan kumis melintang dan batu akik badar merah sebesar pinang melingkar di jari tangannya duduk di kursi beralaskan jok rotan tempat bangsat beranak pinak disuguhi sahi di atas meja marmer segi delapan.

Sekolah Al-Irsyad di Jalan Jatibaru No.12 Petamburan ditutup akhir Pebruari 1917. Meskipun jejaknya  sudah sulit untuk dilacak tapi masih ada jejaknya yang bisa kita telusuri diantaranya adalah Museum Tekstil yang sampai sekarang masih berdiri dengan megah dan RS PELNI Jl. Aipda KS Tubun 92-94. Juga ada Masjid An-Nur yang lokasinya persis di lampu merah Jalan KS.Tubun, dahulu masyarakat di Jatipetamburan mengenalnya dengan nama Masjid waqaf bin Abdat, pewaqifnya adalah Saleh bin Obeid bin Abdat, salah seorang pendiri Al-Irsyad, dan Adviseur pertama pada awal kelahiran Al-Irsyad.

Di sudut jalan jati baru yang kumuh, di tengah himpitan rumah-rumah penduduk dan kali ciliwung, ada sepenggal kisah dari jejak peninggalan Al-Irsyad di Jakarta, gedung sekolah taman kanak-kanak yang dikelola oleh Wanita Al-Irsyad sejak tahun 80-an. Gedung dua lantai itu seringkali juga digunakan untuk posko dan tempat pengungsian penduduk, jika kali ciliwung meluap dan merendam kampung di sekitarnya.

Jejak Surkati di Petamburan  yang paling monumental adalah lahirnya Jum’iyyahdan Madrasah Al-Irsyad pada tanggal 6 September 1914. Semuanya tercatat dalam tinta emas dalam lembaran sejarah pergerakan umat Islam Indonesia sebagai mata rantai perjuangan bangsa Indonesia hingga menperoleh kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.



Dahulu Rumah sakit ini dinamakan Koninklijke Paketvaart Maatshappj “Dajti Baroe” yang diperuntukan bagi pegawai perusahan KPM dan buruh kapal. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan pada pertengahan tahun 1914 diatas tanah seluas 30.000 M2. 28.650 M2 diantaranya diperoleh dari Syech Umar Yusuf Manggusy yang dia hibahkan sejak 18 Januari 1913.

Syech Umar Yusuf manggusy adalah seorang kaya raya yang dikenal sebagai raja properti di Betawi. Ia juga dikenal sebagai juru lelang paling terkenal dan memiliki maskapai pemilik kapal kargo “Billion” di Pelabuhan Tanjung Priok yang dididirikannya pada 1884. Jabatan pentingnya lainnya adalah sebagai Kapitein der Arabieren te Batavia atau KAPTEN ARAB sejak 28 Desember 1902.



Syech Umar Yusuf Manggusy memiliki peranan yang amat penting dan berpengaruh bagi Al-Irsyad, beliau merupakan tokoh utama yang berjasa dan menjadi motor penggerak kelahiran Al-Irsyad, pembela Al-Irsyad nomor wahid  ini pribase kate kepale jadi kaki, kaki jadi kepale, Al-Irsyad die nyang belain, bisa dikatakan bahwa sejatinya ia adalah Bapak Pendiri Al-Irsyad.






Sketsa bekas rumah peninggalan Abdullah bin alwi alatas (sekarang menjadi museum textile)


Rumah peninggalan bergaya prancis yang kini menjadi Museum Tekstil di Jl. KS Tubun No. 4. Jakarta Pusat dahulunya adalah kediaman Abdullah bin Alwie Al Attas. Rumah ini dibelinya dari Abdul Azis Al-Mussawi yang pernah menjabat sebagai konsul jenderal Turki di Batavia.

Ilustrasi kapal cargo billion milik Syech Umar Yusuf Manggusy tahun 1884








Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

  1. MasyaAllah, trus berkarya bang! Ana selalu ngefans ama tulisan nte��
    Rindu, klo tulisan nte gk update.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)