Lawang Salapan dan Monumen Madame Raffles: Ketika Simbol Kolonial Menjadi Wajah Kota Bogor
Ada sebuah cerita lama yang menarik dari Buitenzorg, nama Bogor pada zaman kolonial. Cerita itu bukan tentang istana, kebun raya, atau kehidupan para pejabat Belanda, melainkan tentang sebuah bangunan kecil berkubah yang selama bertahun-tahun menimbulkan salah pengertian. Orang menganggapnya sebagai makam Madame Raffles, istri Thomas Stamford Raffles, penguasa Inggris di Hindia Belanda pada awal abad ke-19.
Berikut terjemahan bebas dari hasil rekonstruksi teks asli dan ejaaannya pada potongan dalam surat kabar berbahasa Belanda "De Indische Courant", Rabu, 20 Juni 1934, yang dialih bahasakan ke dalam Bahasa Indonesia
„De Indische Navorscher”Dalam edisi ketiga yang baru saja terbit dari majalah baru ini, disinggung mengenai sebuah kesalahpahaman yang telah berkembang luas sehubungan dengan pertanyaan apakah makam Nyonya Raffles benar-benar berada di Buitenzorg (Bogor) atau tidak.Sesungguhnya, perempuan tersebut dimakamkan di Batavia, tepatnya di pemakaman Tanah Abang. Letaknya kurang lebih di tengah-tengah makam para serdadu Inggris yang gugur dalam Pertempuran Meester Cornelis, yang juga dimakamkan di sana, dan sedikit di belakang makam Kapten Jas yang terkenal dan melegenda.Prajurit yang hingga kini masih sangat dihormati tersebut memiliki tempat peristirahatan terakhir yang bagi masyarakat Hindia Belanda kurang lebih mempunyai arti yang sama seperti makam Napoleon bagi bangsa Prancis. Rupanya, makam Kapten Jas begitu menyita perhatian sehingga orang-orang bahkan tidak sempat melayangkan pandangan ke makam Nyonya Raffles, yang sebenarnya cukup mencolok dari segi bentuknya.Makam tersebut berbentuk sebuah teras segi delapan. Untuk menaikinya, terdapat tangga dengan tiga anak tangga pada setiap sisinya. Dr. F. de Haan dalam bukunya Oud-Batavia berpendapat bahwa anak-anak tangga tersebut berasal dari gereja Belanda lama yang dibongkar pada masa pemerintahan Daendels, sebagaimana dikatakan oleh penulis yang sama, di tengah-tengah sikap ketidakpedulian umum yang begitu kasar.Di atas pelataran batu tersebut terdapat bangunan makam yang sesungguhnya, dengan bagian atas ditutup oleh sebuah batu bertuliskan prasasti. Dahulu, makam ini pasti sangat menyerupai bangunan kecil berkubah yang berada di Buitenzorg. Sebab, hingga sekarang masih tersisa pilar-pilar yang bagian atasnya telah dipotong, yang dahulu menjadi penyangga atap kubah tersebut. Atap itu kemungkinan dibongkar karena kondisinya sudah rapuh dan tidak layak lagi.Bahwa monumen kecil di Buitenzorg dianggap sebagai sebuah makam, sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab penampilannya memang memberikan kesan seperti sebuah makam. Majalah De Indische Navorscher menyoroti kekeliruan yang terus berulang ini karena beberapa hari sebelumnya, penerbitan resmi dari Kantor Pariwisata (Officieel Toeristen Bureau) kembali melakukan kesalahan yang sama.Hal ini tentu patut disayangkan, sebab makam di Tanah Abang, dengan lingkungan sekitarnya yang juga dipenuhi begitu banyak makam orang Inggris lainnya, seharusnya menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap wisatawan Inggris yang mengetahui sedikit banyak tentang sejarah kolonial bangsanya sendiri.
Dalam pemberitaan surat kabar De Indische Courant, Rabu, 20 Juni 1934, persoalan ini kembali disinggung. Tulisan tersebut mengingatkan bahwa makam sesungguhnya Madame Raffles bukan berada di Buitenzorg, melainkan di pemakaman Tanah Abang, Batavia. Di sana ia dimakamkan bersama sejumlah orang Inggris yang gugur dalam pertempuran Meester Cornelis.
Sementara itu, bangunan kecil berkubah di Buitenzorg hanyalah sebuah monumen yang bentuknya menyerupai makam. Bahkan, tulisan tersebut menjelaskan bahwa bangunan itu dahulu memiliki atap kubah yang ditopang oleh sejumlah pilar. Pilar-pilar tersebut masih tersisa ketika tulisan itu diterbitkan. Atapnya diperkirakan telah dibongkar karena kondisinya yang mulai rapuh.
Menariknya, bentuk monumen di Buitenzorg itu memang memiliki kemiripan dengan makam Madame Raffles di Tanah Abang. Makam yang sesungguhnya berdiri di atas sebuah pelataran batu berbentuk segi delapan, dilengkapi tangga pada setiap sisinya. Di atasnya terdapat bangunan makam dengan batu prasasti.
Nah, cerita lama ini menjadi menarik ketika kita melihat apa yang sekarang terjadi di Bogor.
Di kawasan Lawang Salapan, dekat Tugu Kujang, tepatnya di persimpangan Jalan Raya Pajajaran dan Jalan Otto Iskandar Dinata, pemerintah kota menghadirkan replika monumen berkubah yang dikenal sebagai Monumen Madame Raffles. Bangunan yang menyerupai monumen di Kebun Raya Bogor itu kemudian menjadi bagian dari wajah pintu masuk kota.
Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya hendak kita abadikan melalui sebuah monumen di pintu masuk kota?
Bogor tentu tidak kekurangan tokoh dan peristiwa sejarah yang layak dikenang. Kota ini punya perjalanan panjang, mulai dari masa Kerajaan Pajajaran, Buitenzorg pada zaman kolonial, hingga menjadi bagian dari Republik Indonesia yang merdeka. Ada begitu banyak kisah tentang masyarakatnya, para pejuang, ulama, tokoh pendidikan, dan orang-orang biasa yang ikut membentuk perjalanan kota ini.
Lantas, mengapa justru replika monumen yang dikaitkan dengan istri seorang penguasa kolonial dijadikan salah satu simbol di gerbang masuk kota?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap peninggalan kolonial harus disingkirkan. Bukan begitu. Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, bangunan-bangunan tua, hingga berbagai peninggalan masa Buitenzorg adalah bagian dari perjalanan sejarah yang patut dipelihara. Kita boleh menghormati sumbangsih seseorang dalam sejarah, tetapi menghormati sejarah tidak berarti harus mengabadikan semua simbol kekuasaan kolonial sebagai identitas kota.
Apalagi, Raffles bukan sekadar seorang pejabat yang pernah memerintah di tanah Hindia. Ia adalah penguasa kolonial Inggris. Masa pemerintahannya juga meninggalkan persoalan besar terkait pengambilan dan pemindahan berbagai benda bersejarah Nusantara ke luar negeri. Ribuan artefak dan naskah kuno dari berbagai wilayah Nusantara menjadi bagian dari sejarah perpindahan koleksi pada masa kolonial, termasuk yang berkaitan dengan ekspedisi dan pengumpulan benda-benda bersejarah pada masa Raffles.
Kita tentu tidak boleh melupakan bahwa di balik kisah romantis tentang kecintaan Raffles kepada istrinya, ada sejarah kekuasaan kolonial yang jauh lebih besar. Sebuah monumen mungkin bisa bercerita tentang cinta seorang suami kepada istrinya, tetapi ketika monumen itu dihadirkan sebagai ikon pintu masuk sebuah kota, persoalannya menjadi lain. Ia bukan lagi sekadar ornamen atau bangunan penghias jalan, melainkan simbol yang ikut membentuk ingatan dan identitas masyarakat.
Di sinilah pemerintah kota perlu lebih cermat. Jangan sampai kita begitu bersemangat mempercantik wajah kota, tetapi kurang memperhatikan pesan sejarah yang disampaikan oleh bangunan-bangunan yang kita dirikan.
Bogor adalah kota yang telah melewati masa penjajahan dan menjadi bagian dari bangsa yang merdeka. Rasanya kurang elok apabila pintu masuk kotanya justru dihiasi simbol yang mengingatkan orang pada keluarga penguasa kolonial. Apalagi, replika tersebut tidak sedang memperingati perjuangan rakyat Bogor, tidak pula mengenang tokoh yang berjasa bagi kemerdekaan bangsa ini.
Kalau memang ingin mengenang Raffles, Kebun Raya Bogor dan berbagai catatan sejarah Buitenzorg sudah menyediakan ruang untuk memahami jejak kehadirannya. Di sana kita bisa belajar tentang sejarah, termasuk sisi baik, sisi buruk, dan berbagai kontroversi yang menyertainya. Tetapi menjadikan replika monumen yang berkaitan dengan makam istrinya sebagai lambang gerbang kota adalah perkara berbeda.
Sebab, kota bukan sekadar kumpulan jalan, gedung, taman, dan tugu. Kota juga punya ingatan. Dan ingatan itu seharusnya dibangun dengan kesadaran tentang siapa kita, dari mana kita berasal, serta nilai-nilai apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jangan sampai kita lebih rajin merawat simbol masa penjajahan daripada mengenalkan sejarah masyarakat sendiri.
Bogor punya sejarah yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi kota kenangan bagi para penguasa kolonial. Sudah waktunya pemerintah kota bertanya kembali: simbol siapa yang sebenarnya ingin kita tempatkan di muka pintu kota yang telah merdeka ini?
Catatan sumber: De Indische Courant, Rabu, 20 Juni 1934. Tulisan sejarah mengenai makam Madame Raffles dan monumen di Buitenzorg.
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.




Posting Komentar untuk "Lawang Salapan dan Monumen Madame Raffles: Ketika Simbol Kolonial Menjadi Wajah Kota Bogor"
Posting Komentar