Ketika Surkati Hendak Diasingkan

 

Ilustrasi
Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat De Sumatra Post 31 Maret 1932. Surat kabar yang terbit di Deli pada masa Hindia Belanda ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.   

Rekonstruksi teks Belanda

Externeering gevraagd.

Reeds enkele malen hebben wij verteld dat moeilijkheden zijn ontstaan met de Arabieren onderling. In verband daarmede wordt thans aan de Bintang Timoer gemeld, dat een der groepen van Arabieren een request aan de Regeering zou hebben gericht, waarin de externeering wordt verzocht van Sech Achmad Soerhatie.

Sumber: De Sumatra Post, donderdag 31 maart 1932, vierde blad.

Terjemahan

Diminta Pengasingan.

Beberapa kali sebelumnya telah kami beritakan bahwa telah timbul berbagai persoalan di antara orang-orang Arab sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, kini Bintang Timoer menerima laporan bahwa salah satu kelompok orang Arab dikabarkan telah mengajukan sebuah permohonan kepada Pemerintah, yang di dalamnya meminta agar Sech Achmad Soerhatie dikenai externeering, atau diasingkan.

Batavia, awal 1932. Dunia masyarakat Arab di Hindia Belanda sedang tidak sepi dari perbedaan pendapat. Perselisihan yang sebelumnya mungkin hanya terdengar di ruang-ruang perkumpulan dan lingkungan komunitas, mulai masuk ke halaman surat kabar. 

Nama Syaikh Ahmad Surkati ikut terseret ke dalam suasana itu. Pada 31 Maret 1932, De Sumatra Post memberitakan bahwa salah satu kelompok Arab disebut telah mengirim request kepada pemerintah kolonial, meminta agar Surkati dikenai externeering. Istilah ini bukan sekadar teguran biasa. Dalam sistem kolonial, externeering merupakan bentuk tindakan pengasingan atau pembuangan yang dapat digunakan pemerintah terhadap seseorang yang dianggap keberadaannya menimbulkan persoalan atau mengganggu ketertiban.

Yang menarik, berita pendek ini justru memperlihatkan betapa tajamnya perbedaan di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Surkati bukan orang yang baru dikenal. Ia telah lama berdiri di tengah gerakan pembaruan Islam melalui Al-Irsyad, pendidikan, dan pemikirannya tentang persamaan di antara kaum Muslim. 

Perdebatan mengenai dirinya pun tidak bisa dilepaskan dari pertarungan gagasan yang lebih besar di kalangan masyarakat Arab Hindia: antara kelompok-kelompok yang berbeda pandangan mengenai nasab, kedudukan sosial, pendidikan, keagamaan, dan arah pembaruan Islam.

Kalau kita membaca berita koran lama seperti ini, kadang justru kalimat yang pendek yang membuat kita berhenti. “Externeering gevraagd” — pengasingan diminta. Hanya beberapa kata, tetapi di belakangnya ada cerita panjang tentang hubungan Surkati dengan masyarakat Arab, Al-Irsyad, kelompok-kelompok yang berseberangan dengannya, dan sikap pemerintah kolonial terhadap perselisihan internal masyarakat Muslim. 

Tahun 1932 itu Surkati telah memasuki usia lanjut, tetapi namanya masih cukup kuat untuk membuat perselisihan di antara kelompok-kelompok Arab sampai terdengar di kantor pemerintah dan halaman surat kabar. 

Dari potongan kecil arsip inilah kita dapat melihat bahwa sejarah Al-Irsyad dan Syaikh Ahmad Surkati bukan hanya cerita tentang sekolah dan dakwah, melainkan juga tentang perdebatan, ketegangan, dan pergulatan sosial yang mewarnai kehidupan masyarakat Arab di Hindia Belanda.

Sumber: De Sumatra Post, Kamis, 31 Maret 1932, lembar keempat.

Pemberitaan pers Belanda pada masa itu masih memperlihatkan kuatnya cara pandang kolonial dalam mengelompokkan masyarakat berdasarkan rasiale indeling (penggolongan rasial). Al-Irsyad dan tokoh-tokohnya, termasuk Syaikh Ahmad Surkati, kerap disebut dalam pers sebagai bagian dari “Arabieren” atau “orang-orang Arab”, seolah identitas ke-Araban menjadi penanda utama, sementara peran mereka sebagai ulama, pendidik, tokoh pembaru Islam, dan bagian dari masyarakat Hindia belum selalu ditempatkan sebagai identitas yang berdiri sendiri. Penyebutan semacam ini bukan sekadar pilihan istilah jurnalistik, melainkan mencerminkan cara administrasi dan pers kolonial membaca masyarakat Hindia melalui kategori Europeanen, Vreemde Oosterlingen, dan Inlanders, sehingga dinamika internal Al-Irsyad pun sering diberitakan terlebih dahulu sebagai persoalan “orang Arab”, sebelum dilihat sebagai bagian dari perkembangan pemikiran dan gerakan Islam di Hindia.

Posting Komentar untuk "Ketika Surkati Hendak Diasingkan"