Jantung Moegeni seperti Buaian Api, Batavia, malam Tjap Gomeh, 1936.

 

Sejak petang, Glodok telah berubah menjadi lautan manusia. Lampion merah bergelantungan di sepanjang jalan, suara tambur dan petasan bersahutan, sementara bau hio, makanan, dan keringat manusia bercampur menjadi satu. Orang-orang datang dari berbagai penjuru kota. Ada yang memang hendak bersembahyang, ada yang ingin melihat keramaian, dan tidak sedikit yang sekadar ingin mencari hiburan.

Di tengah kerumunan itulah Moegeni berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Barangkali malam itu nasib sedang mempermainkannya.

Di tengah keramaian Glodok, matanya tiba-tiba menangkap seorang perempuan. Namanya Sarifa.

Moegeni belum pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Justru karena itulah, mungkin, matanya sulit berpaling. Sarifa bukan perempuan Batavia yang setiap hari ditemuinya. Ia datang dari Tangerang, membawa kegembiraan seorang gadis kampung yang untuk satu malam ingin melepaskan diri dari rutinitas hidup.

"Malam itu ia ingin bersenang-senang."

Dan Batavia menyediakan segala macam kesenangan bagi orang yang datang dengan niat demikian.

Moegeni segera mendekat. Percakapan pun terjadi. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Hanya dua orang yang kebetulan bertemu di tengah keramaian sebuah malam perayaan.

Tetapi bagi Moegeni, pertemuan itu segera berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Ia mengira Sarifa menyukainya.

Ia bahkan mengira perempuan itu jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama.

Padahal Sarifa hanya ingin menikmati malam.

Ia ingin berjalan-jalan, melihat keramaian, tertawa, makan, dan melupakan sejenak kehidupan sehari-harinya di Tangerang. Moegeni kebetulan hadir sebagai teman yang menyenangkan. Maka ia pun membiarkan lelaki itu menemaninya.

Mereka berjalan menyusuri keramaian Batavia. Malam semakin larut. Lampion masih menyala. Suara musik dan percakapan manusia belum juga reda.

Bagi Sarifa, malam itu adalah sebuah perjalanan singkat sebelum kembali kepada kehidupan biasa.

Bagi Moegeni, malam itu adalah awal dari sebuah cinta.

Menjelang dini hari, mereka akhirnya beristirahat di sebuah hotel kecil.

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di sana selain mereka berdua.

Tetapi ketika pagi menjelang, jalan hidup mereka kembali berpisah.

Sarifa segera mencari kendaraan menuju Tangerang. Ia pulang untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari, seperti orang yang baru saja bangun dari sebuah mimpi.

Dan begitu ia naik bus, Moegeni pun tertinggal sebagai bagian dari malam yang telah selesai.

Sarifa melupakannya.

Tetapi Moegeni tidak.

Sejak pagi itu, nama Sarifa terus berputar-putar di kepalanya.

Ketika bangun tidur, ia mengingat Sarifa.

Ketika makan, ia mengingat Sarifa.

Ketika malam datang dan ia hendak memejamkan mata, wajah Sarifa kembali muncul.

Akhirnya ia pergi ke Tangerang untuk mencarinya.

Ia bertanya kepada orang-orang.

“Di mana Sarifa?”

Ia bertanya ke sana dan ke sini. Tetapi perempuan yang dicarinya seakan-akan ditelan kota.

Sampai akhirnya ia mendapatkan sebuah kabar.

Sarifa telah mempunyai seorang lelaki lain.

Seorang Arab yang hidup berkecukupan.

Seorang lelaki yang, menurut ukuran Moegeni, memiliki masa depan jauh lebih baik daripadanya.

Kabar itu menghantamnya lebih keras daripada yang dapat ia bayangkan.

Malam yang bagi Sarifa hanya sebuah hiburan singkat, bagi Moegeni telah berubah menjadi perkara besar.

Ia merasa cintanya dipermainkan.

Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi miliknya.

Dan sejak saat itu, pikirannya tidak lagi tenang.

Sampai suatu hari ia mendatangi sebuah percetakan.

Ia mencetak selebaran.

Bukan satu atau dua lembar.

Dua ratus eksemplar.

Belum puas, ia mendatangi percetakan lain dan mencetak dua ratus lagi.

Empat ratus selebaran.

Isinya adalah kemarahan seorang lelaki yang merasa dikhianati oleh perempuan yang baru dikenalnya satu malam.

Nama Sarifa dicantumkan.

Ia dituduh sebagai perempuan jahat yang telah merampas ketenangan hati Moegeni, mempermainkan cintanya, dan kini hendak menikah dengan seorang Arab kaya.

Di salah satu bagian selebaran itu, Moegeni bahkan memberinya sebutan yang kasar: “gladak”.

Selebaran-selebaran itu kemudian beredar di tengah masyarakat.

Dan akhirnya perkara tersebut sampai ke hadapan Landrechter.

Di ruang pengadilan, Moegeni berdiri sebagai terdakwa.

Hakim masih mengingatnya.

Pada pemeriksaan sebelumnya, Moegeni memang pernah dianggap menunjukkan keadaan yang tidak sepenuhnya normal. Karena itu ia telah diperiksa oleh seorang psikiater.

Tetapi hasil pemeriksaan tidak menemukan kegilaan.

Yang ditemukan hanyalah tanda-tanda pernah menderita beri-beri dan kegugupan tertentu.

Moegeni tetap dianggap mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Di hadapan hakim, ia kembali bercerita tentang Sarifa.

Tentang pertemuan mereka di malam Tjap Gomeh.

Tentang cintanya.

Tentang lelaki Arab yang kemudian diketahuinya menjadi kekasih Sarifa.

Dan ketika sampai pada bagian tentang hatinya, Moegeni tiba-tiba menggerakkan tangannya.

“Jantung saya begini,” kira-kira demikian maksud gerakannya.

Naik.

Turun.

Naik lagi.

Sedemikian hebatnya hingga hakim mungkin merasa bahwa jantung lelaki itu bukan jantung manusia biasa, melainkan sebuah blaasbalg—alat pengembus yang terus mengembang dan mengempis.

Barangkali Moegeni memang sedang mabuk cinta.

Atau mungkin ia sedang mabuk oleh bayangan cintanya sendiri.

Sebab Sarifa, perempuan yang telah membuat jantungnya berdebar seperti pengembus api, mungkin sejak lama sudah melupakan namanya.

Sementara Moegeni masih hidup bersama kenangan sebuah malam.

Teman-temannya datang memberikan kesaksian yang meringankan. Mereka mengatakan bahwa Moegeni memang telah terbawa suasana. Malam Tjap Gomeh, hotel kecil, pertemuan dengan seorang perempuan, dan kemudian kabar bahwa perempuan itu memilih lelaki lain—semuanya dianggap telah membuat pikirannya kacau.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian hakim.

Moegeni sendiri mengaku bahwa setelah selebaran terakhir selesai disebarkan, ketenangan jiwanya segera kembali.

Barangkali karena semua yang ingin dikatakannya telah ia katakan.

Barangkali karena amarah yang selama ini menyesakkan dada telah menemukan jalan keluar melalui empat ratus lembar kertas.

Atau mungkin karena ia akhirnya sadar bahwa Sarifa memang tidak pernah menjadi miliknya.

Hakim kemudian menjatuhkan hukuman denda sepuluh gulden.

Perkara selesai.

Batavia kembali kepada kehidupannya.

Glodok kembali ramai. Tangerang kembali seperti biasa. Lampion-lampion Tjap Gomeh pada akhirnya padam, dan orang-orang kembali kepada kesibukan mereka.

Sarifa pun mungkin telah kembali menjalani hari-harinya.

Entah ia akhirnya menikah dengan lelaki Arab yang disebut Moegeni dalam selebarannya, atau tidak, sejarah tidak mencatatnya.

Tetapi Moegeni meninggalkan satu cerita kecil dalam lembaran koran Batavia.

Sebuah cerita tentang cinta yang mungkin hanya hidup dalam satu hati.

Tentang sebuah malam yang bagi seorang perempuan hanyalah hiburan, tetapi bagi seorang lelaki berubah menjadi perkara pengadilan.

Dan tentang sebuah hati yang, menurut pengakuannya sendiri, bergerak naik turun seperti sebuah blaasbalg.

Barangkali begitulah Batavia bercerita.

Di kota yang dihuni begitu banyak manusia, orang bisa bertemu hanya untuk beberapa jam, lalu berpisah untuk selamanya.

Tetapi bagi seseorang, pertemuan beberapa jam itu bisa menjadi kenangan sepanjang hidup.

Dan kadang-kadang, bahkan bisa menjadi perkara sepuluh gulden.

Sumber: Batavia Handelsblad, 27 Agustus 1936, dengan judul “En een hart als een blaasbalg”. Kisah ini merupakan pengolahan sastra/fiksi sejarah berdasarkan berita tersebut; dialog, suasana batin, dan sejumlah detail naratif dikembangkan untuk menghidupkan kembali suasana Batavia pada masa itu.

Posting Komentar untuk "Jantung Moegeni seperti Buaian Api, Batavia, malam Tjap Gomeh, 1936."