Dari Hotel Montagne ke Sekolah Al-Irsyad: Kisah Lawang dan Anak-Anak Saudagar Kretek

ilustrasi

Malang

Zooals wij een tijd geleden meldden, hield het hotel Montagne op te bestaan. Het gebouw wordt thans bestemd voor een Al Irsjad-school met internaat. De promotor van deze school is de bekende philantroop, groothandelaar in kains te Soerabaia, de heer Roboja Bin Talib.

Malang

Sebagaimana telah kami beritakan beberapa waktu yang lalu, Hotel Montagne telah berhenti beroperasi. Bangunan tersebut kini diperuntukkan bagi sebuah sekolah Al-Irsjad yang dilengkapi dengan asrama (internaat). Penggagas dan pendukung utama sekolah ini adalah seorang filantropis yang cukup dikenal, sekaligus pedagang besar kain di Surabaya, yaitu Roboja bin Talib.


Kalau kita berkunjung ke Lawang pada zaman Hindia Belanda, suasananya tentu berbeda dengan sekarang. Kota kecil di antara Surabaya dan Malang ini terkenal dengan udaranya yang sejuk. Orang-orang Eropa senang datang ke sana untuk beristirahat, menjauh sejenak dari panasnya kota-kota di pesisir. Rumah-rumah besar, vila, dan hotel bermunculan, sebagian dibangun dengan gaya Eropa yang megah, lengkap dengan beranda luas dan halaman yang asri.

Salah satu tempat yang ikut mewarnai kehidupan Lawang pada masa itu ialah Hotel Montagne. Pada zamannya, hotel ini menjadi bagian dari dunia peristirahatan kaum berada yang datang menikmati kesejukan kota. Lawang memang memiliki beberapa hotel yang melayani pengunjung dari kalangan atas. Di antara suasana santai para pelancong Eropa itulah, Hotel Montagne pernah berdiri sebagai salah satu penanda kejayaan Lawang pada awal abad ke-20.

Europeanen naast Hotel Montagne
 te Lawang bij Malang, 1930

Bekas Hotel Montegno - Al-Irsyad (17/10/26

Namun, sebagaimana lazimnya perjalanan sebuah kota, bangunan pun bisa berganti nasib. Ada yang tetap menjadi hotel, ada yang berubah menjadi rumah tinggal, dan ada pula yang menemukan kehidupan baru untuk keperluan yang sama sekali berbeda.

Pada 1929, bekas Hotel Montagne mendapat peran baru. Sebuah berita dalam Soerabaijasch Handelsblad, terbitan 18 Februari tahun itu, mengabarkan bahwa bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi sekolah berasrama Al-Irsyad. Sebuah hotel yang dahulu melayani orang-orang yang datang untuk beristirahat kini menjadi tempat anak-anak muda belajar dan menyiapkan masa depan.

Perubahan itu menarik. Kalau hotel dahulu menjadi tempat orang singgah, sekolah justru menjadi tempat orang memulai perjalanan hidupnya.


Al-Irsjad School van Lawang

Lokasi dalam foto ini (foto di atas) dahulu merupakan bagian dari paviliun Hotel Montegno. Meski bangunannya kini telah mengalami perubahan bentuk, bagian dalamnya, termasuk ruang-ruang kelas, masih mempertahankan bentuk aslinya. Di balik perubahan yang tampak dari luar, tempat ini seolah menyimpan jejak masa lalu yang tetap bertahan, menjadi saksi perjalanan sejarah yang tak sepenuhnya hilang ditelan zaman.
 

Sekolah Al-Irsyad di Lawang bukan sekolah biasa. Lembaga yang dirintis dan dipimpin langsung oleh Syaikh Ahmad Surkati ini tergolong sekolah berasrama yang menarik minat keluarga-keluarga berada. Tidak sedikit orang tua yang rela mengirim anaknya jauh dari rumah demi memperoleh pendidikan yang mereka anggap baik. Nama Al-Irsyad ketika itu mulai dikenal di kalangan saudagar Muslim yang menginginkan anak-anak mereka menguasai ilmu agama sekaligus memperoleh pendidikan yang lebih modern.

Dari Surabaya, ada Sech Roebaija bin Talib, saudagar kain yang dikenal sebagai dermawan dan juga termasuk pendiri dan ketua perama Al-Irsyad cabang Surabaya (1919). Ia turut mendukung pendirian sekolah tersebut. Peran para saudagar seperti Roboja memperlihatkan bahwa perkembangan pendidikan pada masa itu tidak hanya bertumpu pada pemikiran seorang guru atau ulama. Ada pula orang-orang yang menggunakan kemampuan ekonominya untuk membantu menyediakan tempat dan kesempatan belajar bagi generasi berikutnya.

Di sinilah kita melihat hubungan yang menarik antara dunia perdagangan dan pendidikan. Para saudagar tidak selalu memandang keberhasilan sebatas banyaknya barang yang terjual atau luasnya jaringan usaha. Sebagian dari mereka juga memikirkan ke mana anak-anak mereka akan melangkah kelak. Kekayaan yang dikumpulkan dari perdagangan diharapkan dapat diteruskan dalam bentuk yang lain: ilmu pengetahuan dan bekal kehidupan.

Murid-murid Al-Irsyad di Lawang pun datang dari berbagai daerah. Menurut catatan sejarah Al-Irsyad yang ditulis oleh alm Hussein Badjerei, di antara mereka terdapat anak-anak pengusaha kretek dari Kudus, termasuk putra Haji Muslih, saudagar yang dikenal sebagai raja kretek. Ada pula murid dari Sumatera, termasuk putra Haji Ibrahim bin Musa Parabek, ulama terkemuka dari Minangkabau. Gambaran ini memperlihatkan bahwa daya tarik sekolah tersebut melampaui lingkungan masyarakat setempat. 

Bayangkan suasana asrama itu pada akhir 1920-an. Anak-anak muda datang dari kota-kota yang berjauhan, meninggalkan rumah dan keluarga untuk belajar di Lawang. Ada yang berasal dari keluarga saudagar kain, ada yang tumbuh di tengah kesibukan industri kretek Kudus, dan ada pula yang datang dari lingkungan ulama di Sumatera. Mereka dipertemukan dalam sebuah lembaga pendidikan yang diasuh oleh seorang guru dengan gagasan pembaruan Islam yang kuat.

Di tengah udara Lawang yang sejuk, mereka bukan hanya belajar untuk memenuhi keinginan orang tua. Mereka juga hidup dalam lingkungan yang mempertemukan berbagai pengalaman dan latar belakang. Sekolah menjadi tempat mereka mengenal dunia yang lebih luas daripada kota asal masing-masing.

Syaikh Ahmad Surkati sendiri dikenal sebagai tokoh yang menaruh perhatian besar pada pendidikan. Ia menekankan penguasaan ilmu, pembentukan akhlak, dan pemahaman agama yang bertumpu pada dalil. Ia juga mengajarkan kesetaraan manusia: kemuliaan tidak semestinya ditentukan oleh nasab atau kebanggaan pada garis keturunan, melainkan oleh ilmu, akhlak, dan ketakwaan.

Gagasan itu menjadi salah satu ciri penting pembaruan yang dibawanya melalui Al-Irsyad. Pendidikan tidak semata-mata dimaksudkan untuk melahirkan orang yang pandai membaca kitab, tetapi juga manusia yang mampu berpikir, memahami persoalan masyarakat, dan mengambil bagian dalam kehidupan zamannya.

Dari lingkungan pendidikan Al-Irsyad di Lawang kemudian dikenal pula nama HM Rasjidi. Ia kelak menjadi Menteri Agama pertama Republik Indonesia, seorang intelektual Muslim yang ikut mengambil bagian dalam perjalanan awal negara setelah kemerdekaan. Perjalanan Rasjidi memberi gambaran tentang bagaimana pendidikan Islam pada masa kolonial turut menyediakan bekal bagi tokoh-tokoh yang kemudian berkiprah di tingkat nasional.

Sekolah di Lawang itu sendiri tidak bertahan lama. Namun, pendeknya usia sebuah lembaga tidak selalu berarti pendek pula jejak yang ditinggalkannya. Riwayatnya memperlihatkan adanya usaha untuk membangun pendidikan yang menarik perhatian keluarga-keluarga dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk kalangan saudagar yang memiliki kemampuan untuk memilih sekolah bagi anak-anak mereka.

Kini, jika kita membayangkan kembali Lawang hampir seabad silam, Hotel Montagne dan sekolah Al-Irsyad menghadirkan dua potongan cerita yang saling menyambung. Yang satu mewakili kehidupan kota peristirahatan pada masa kolonial, dengan para pelancong Eropa dan kalangan berada yang datang menikmati udaranya. Yang lain mencerminkan tumbuhnya harapan baru melalui pendidikan.

Hotel Montagne dekat Lawang - 1920
Foto sekarang (18/10/26)

Bangunan yang dahulu menjadi tempat orang mencari kenyamanan berubah menjadi tempat anak-anak mencari pengetahuan. Di antara mereka ada putra-putra saudagar kretek Kudus, anak-anak keluarga berada dari Surabaya, dan murid-murid yang datang dari Sumatera. Mereka semua pernah menjadi bagian dari sebuah ikhtiar pendidikan yang dipimpin Syaikh Ahmad Surkati.

Lawang - 18 Oktober 2026

Begitulah kadang-kadang sejarah bekerja. Sebuah hotel mungkin hanya dikenang karena kemegahan bangunannya, sedangkan sebuah sekolah dikenang karena orang-orang yang pernah belajar di dalamnya. Tetapi ketika keduanya bertemu dalam satu kisah, kita menemukan sesuatu yang lebih menarik: bagaimana sebuah kota kecil yang sejuk pernah menjadi persinggahan bagi orang-orang Eropa, lalu menjadi tempat tumbuhnya cita-cita pendidikan bagi anak-anak bangsa.





Posting Komentar untuk "Dari Hotel Montagne ke Sekolah Al-Irsyad: Kisah Lawang dan Anak-Anak Saudagar Kretek"