Ahmad Surkati, Akhlak Al-Qur’an, dan Kaum Muda Hindia Belanda
Gambar Ilustrasi
Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar De Indische 7 Desember 1932. Surat kabar yang terbit pada masa Hindia Belanda ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.
GEESTELIJK LEVEN.
Zedeleer uit den Qor'an.
Dit boekje, dat verschenen is bij de firma J. B. Wolters, is van de hand van Sjeich Ahmad Soerkati en heeft ten doel de moderne Indonesische jeugd te behoeden voor verwerping van de Islamitische zedeleer zonder die leer te kennen. Het verschijnsel doet zich namelijk voor (en zulks niet alleen hier te lande!), dat het moderne schoolonderwijs, de magische kennis van het 2 × 2 = 4, een dusdanig overwicht heeft verkregen op de geesten der jongeren, dat het oude geloof der vaderen daardoor geheel op den achtergrond wordt gedrongen en zelfs met schouderophalen wordt begroet.
En nu is het volkomen juist, zooals de heer Ch. O. van der Plas in een voorwoord tot dit boekje zegt, dat niet alleen geloovige naturen, maar zelfs zij, die zelf niet godsdienstig zijn, erkennen, dat voor zeer vele menschen godsdienst het hoogste goed is, voor nog meer een onmisbare steun.
Evenzeer is het juist, dat om een volk te kunnen begrijpen en met dat volk te kunnen meeleven, het noodig is kennis te bezitten van de godsdienstige denkwijze van dat volk. De geschiedenis van het Nederlandsche volk bijvoorbeeld kan nimmer begrepen worden door hem, die geen of weinig kennis draagt van de grondbeginselen van het Christendom. Nog minder zal men kunnen begrijpen datgene wat ten grondslag lag aan de geestelijke conflicten, waarin dit volk in den loop der eeuwen is gewikkeld geweest en die zijn algemeen karakter hebben bepaald.
Hetzelfde moet het geval zijn met de bewoners van deze landen, die tengevolge van het strikt neutrale onderwijs op de scholen, gevaar loopen de herinnering aan den godsdienst en de tradities hunner ouders te verliezen en daarvoor wellicht slechts geringschatting te gevoelen.
Dit laatste is echter geheel misplaatst, zooals uit de door den heer A. Soerkati hier opgeteekende levensregels kan blijken. Vele daarvan passen volkomen voor onzen tijd, trots de dertien eeuwen, die zijn voorbijgegaan sedert zij aan den profeet Moehammad en de zijnen werden geopenbaard. Men vindt hier, al of niet tot zijn verbazing, een sterk verzet tegen echtscheiding, wreedheid jegens dieren, hoogmoed en het zich verheffen boven anderen, en daarnaast een aansporing tot liefdadigheid, verzorging van weezen en armen, het betrachten van rechtvaardigheid in alle zaken des levens.
Het is te hopen, dat vele Westersch opgeleide jongelieden van beiderlei kunne dit boekje zullen lezen en er door gebracht mogen worden tot nader onderzoek.
Terjemahan bahasa Indonesia
KEHIDUPAN ROHANIAH
Ajaran Akhlak dalam Al-Qur’an
Buku kecil yang diterbitkan oleh perusahaan penerbit J. B. Wolters ini ditulis oleh Syaikh Ahmad Soerkati. Tujuannya adalah melindungi kaum muda Indonesia modern agar tidak menolak ajaran akhlak Islam tanpa terlebih dahulu mengenal ajaran tersebut.
Gejala semacam ini memang terjadi, dan bukan hanya di negeri ini! Pendidikan sekolah modern, dengan pengetahuan matematisnya yang dianggap begitu mengagumkan—bahwa dua kali dua sama dengan empat—telah memperoleh pengaruh sedemikian besar terhadap pikiran kaum muda. Akibatnya, kepercayaan lama yang diwariskan oleh nenek moyang mereka tersisih ke belakang, bahkan disambut dengan sikap acuh tak acuh.
Dalam hal ini, sebagaimana dikatakan oleh Tuan Ch. O. van der Plas dalam kata pengantar buku kecil tersebut, memang benar bahwa bukan hanya orang-orang yang beriman, melainkan juga mereka yang tidak menganut agama, mengakui bahwa bagi banyak orang, agama merupakan sesuatu yang paling berharga, dan bagi lebih banyak orang lagi, agama adalah penopang kehidupan yang tidak dapat diabaikan.
Sama benarnya bahwa untuk memahami suatu bangsa dan turut merasakan kehidupan bersama bangsa itu, seseorang perlu memiliki pengetahuan mengenai cara bangsa tersebut memandang kehidupan berdasarkan agamanya. Sebagai contoh, sejarah bangsa Belanda tidak mungkin dipahami oleh seseorang yang tidak mengetahui, atau hanya sedikit mengetahui, prinsip-prinsip dasar agama Kristen. Terlebih lagi, ia tidak akan dapat memahami landasan konflik-konflik rohaniah yang melibatkan bangsa itu sepanjang perjalanan sejarahnya, yang turut membentuk watak mereka secara umum.
Hal yang sama tentu berlaku bagi penduduk negeri-negeri ini. Akibat pendidikan sekolah yang sepenuhnya netral dalam urusan agama, mereka menghadapi risiko kehilangan ingatan terhadap agama dan tradisi orang tua mereka, dan bahkan mungkin hanya menyisakan perasaan meremehkan keduanya.
Namun, sikap meremehkan itu sesungguhnya sama sekali tidak beralasan. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai pedoman kehidupan yang dihimpun oleh Tuan A. Soerkati dalam buku ini. Banyak di antaranya tetap sesuai dengan zaman kita, meskipun telah berlalu tiga belas abad sejak ajaran-ajaran tersebut diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya.
Di dalamnya, pembaca akan menemukan—mungkin dengan rasa heran, mungkin pula tidak—penolakan tegas terhadap perceraian, kekejaman terhadap hewan, kesombongan, serta sikap meninggikan diri di atas orang lain. Sebaliknya, buku ini menganjurkan kebajikan dan kemurahan hati, pemeliharaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin, serta penegakan keadilan dalam segala urusan kehidupan.
Patut diharapkan bahwa banyak kaum muda terdidik Barat, baik laki-laki maupun perempuan, akan membaca buku kecil ini dan terdorong untuk mempelajarinya lebih jauh.
Pada Desember 1933, surat kabar De Indische Courant memuat sebuah ulasan buku karya Syaikh Ahmad Surkati berjudul Zedeleer uit den Qor’an, yang berarti “Ajaran Akhlak dalam Al-Qur’an”. Sekilas, tulisan di rubrik Geestelijk Leven (Kehidupan Rohaniah) itu tampak seperti resensi buku biasa. Namun, kalau dibaca lebih jauh, ada kegelisahan zaman yang menarik untuk disimak.
Penulisnya menyoroti kaum muda yang semakin akrab dengan pendidikan modern, tetapi dikhawatirkan mulai menjauh dari agama dan tradisi orang tua mereka. Dengan nada menyindir, ia menyinggung pengetahuan sekolah yang serba pasti, seperti rumus dua kali dua sama dengan empat. Pengetahuan semacam itu memang penting, tetapi apakah cukup untuk membentuk manusia yang mengerti arti kehidupan?
Pada masa itu, sekolah modern mulai melahirkan generasi terdidik yang mengenal cara berpikir Barat. Mereka memperoleh kesempatan baru, tetapi pada saat yang sama menghadapi pertanyaan tentang hubungan mereka dengan warisan keluarga dan keyakinan agama. Persoalan inilah yang tampaknya ingin disentuh melalui buku kecil karya Ahmad Surkati tersebut.
Nama Surkati tentu bukan nama asing dalam sejarah pembaruan Islam di Hindia Belanda. Ulama kelahiran Sudan ini datang ke Batavia pada 1911 dan kemudian menjadi tokoh penting di balik berdirinya Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada 1914. Ia menaruh perhatian besar pada pendidikan dan pemahaman agama yang bertumpu pada ilmu, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun.
Menurut ulasan De Indische Courant, ajaran akhlak dalam buku Surkati masih relevan meskipun telah berlalu sekitar tiga belas abad sejak Al-Qur’an diturunkan. Di dalamnya terdapat anjuran menyantuni anak yatim dan orang miskin, berlaku adil, menyayangi makhluk hidup, serta menjauhi kesombongan dan sikap merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Menariknya, ulasan tersebut juga mengutip pandangan Ch. O. van der Plas dalam kata pengantar buku itu. Agama, menurut pandangan yang dikutipnya, bukan hanya sesuatu yang berharga bagi orang beriman, melainkan juga menjadi penopang kehidupan bagi banyak orang. Bahkan, untuk memahami sejarah suatu bangsa, orang perlu mengenal agama yang turut membentuk jalan hidup bangsa tersebut.
Penulis ulasan lalu mengajak pembaca melihat masyarakat Hindia Belanda sendiri. Jika sejarah Belanda tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa mengenal dasar-dasar Kekristenan, demikian pula masyarakat di negeri ini tidak bisa dipahami dengan mengabaikan agama dan tradisi mereka.
Di akhir tulisan, muncul harapan agar kaum muda terdidik, baik laki-laki maupun perempuan, membaca buku Surkati dan terdorong mempelajari ajaran Islam lebih jauh.
Hampir seabad telah berlalu sejak ulasan itu diterbitkan. Namun, persoalan yang diangkatnya masih terasa dekat. Kita tentu tidak perlu mempertentangkan ilmu pengetahuan dengan agama. Keduanya memiliki ruang dan peran masing-masing dalam kehidupan manusia. Yang menjadi soal ialah bagaimana pendidikan tidak hanya membuat seseorang pandai menjawab soal, tetapi juga mengerti bagaimana memperlakukan sesamanya.
Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan melalui buku kecil Ahmad Surkati tersebut. Sebab, dua kali dua memang empat. Tetapi untuk memahami arti keadilan, menolong orang miskin, menyayangi makhluk hidup, dan tidak menyombongkan diri, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar angka.
Catatan kecil dari De Indische Courant, Desember 1933, itu mengingatkan kita bahwa perbincangan tentang ilmu, agama, dan akhlak bukanlah perkara baru. Jauh sebelum kita mengenal hiruk-pikuk zaman sekarang, kaum muda Hindia Belanda telah diajak memikirkan pertanyaan yang sama: untuk apa ilmu, jika tidak membuat manusia menjadi lebih baik?.
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.



Posting Komentar untuk "Ahmad Surkati, Akhlak Al-Qur’an, dan Kaum Muda Hindia Belanda"
Posting Komentar