Surkati dan JIB, dalam arsip colonial tahun 1929

Gambar Ilustrasi
Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar De Indische Courant, 20 Desember 1929, berita “Jong-Islamietenbond”. Surat kabar yang terbit pada masa Hindia Belanda ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.  

Jong-Islamietenbond

De Jong-Islamietenbond houdt, naar reeds eerder is gemeld, zijn vijfde congres te Soerabaia, te weten van 25 tot en met 29 December a.s. Woensdagavond, 25 December, heeft een receptie plaats, gevolgd door de eerste openbare vergadering. De reeks vergaderingen, die daarna op de volgende dagen worden gehouden, zullen slechts onderbroken worden door een opvoering op Vrijdagavond, 27 December, en besloten worden met een afscheidsbijeenkomst en een excursie op Zondag, 29 December.

Tijdens de vergaderingen zullen spreken de heeren Soetiono, over de anti-nationale tendensen in den Islam, S.A. Soerkatti over polygamie, M.A. Dasoeki over het choetbah-stelsel, en Djojosoegito over den Koran en andere Heilige Boeken.

Op de derde besloten vergadering wordt een nieuwe bondsvoorzitter verkozen en tijdens de derde openbare vergadering op Zaterdagavond, 28 December, worden de genomen besluiten bekend gemaakt.

Medegedeeld wordt dat, indien de heer H.A. Salim tijdig terug is, door hem eveneens een lezing zal worden gehouden.

Terjemahan Indonesia

Jong-Islamietenbond

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, Jong-Islamietenbond (JIB) akan menyelenggarakan kongresnya yang kelima di Surabaya, pada tanggal 25 hingga 29 Desember mendatang.

Pada Rabu malam, 25 Desember, akan diadakan sebuah resepsi yang dilanjutkan dengan sidang umum pertama. Rangkaian persidangan yang berlangsung pada hari-hari berikutnya hanya akan diselingi oleh sebuah pertunjukan pada Jumat malam, 27 Desember, dan akan ditutup pada Minggu, 29 Desember, dengan pertemuan perpisahan dan kunjungan atau ekskursi.

Dalam persidangan tersebut akan tampil sebagai pembicara beberapa tokoh, yaitu Soetiono, yang akan membahas kecenderungan antinasional dalam Islam; S.A. Soerkatti, mengenai poligami; M.A. Dasoeki, mengenai sistem khutbah; serta Djojosoegito, yang akan membahas Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya.

Dalam sidang tertutup ketiga, akan dipilih seorang ketua baru Jong-Islamietenbond. Sementara itu, dalam sidang umum ketiga yang diselenggarakan pada Sabtu malam, 28 Desember, keputusan-keputusan yang telah diambil dalam kongres akan diumumkan kepada peserta.

Disebutkan pula bahwa apabila H.A. Salim telah kembali tepat pada waktunya, ia juga akan menyampaikan sebuah ceramah.

Pada penghujung tahun 1929, Surabaya menjadi tempat bertemunya gagasan, anak-anak muda, dan perdebatan tentang masa depan Islam di Hindia Belanda. Di kota yang sedang tumbuh sebagai salah satu pusat perdagangan dan pergerakan itu, Jong-Islamietenbond (JIB) bersiap menyelenggarakan kongresnya yang kelima, 25 hingga 29 Desember 1929. Berita mengenai kongres tersebut dimuat oleh De Indische Courant edisi 20 Desember 1929. Lima hari pertemuan itu bukan sekadar rangkaian acara organisasi pemuda Islam. Di dalamnya tersimpan potret sebuah zaman ketika generasi muda Muslim mulai mencari bahasa baru untuk membicarakan agama, masyarakat, pendidikan, dan perubahan.

Yang menarik dari berita tersebut adalah hadirnya nama S.A. Soerkatti (Syaikh Ahmad Surkati) sebagai salah seorang pembicara. Ia dijadwalkan berbicara mengenai poligami, berdampingan dengan Soetiono yang membahas kecenderungan antinasional dalam Islam, M.A. Dasoeki mengenai sistem khutbah, dan Djojosoegito mengenai Al-Qur'an serta kitab-kitab suci lainnya. Daftar tema itu memperlihatkan bahwa ruang kongres JIB pada masa itu bukan sekadar tempat membicarakan kegiatan kepemudaan. Islam dibicarakan sebagai persoalan intelektual dan sosial yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Nama Surkati dalam berita ini bukan nama yang muncul secara kebetulan. Pada 1929, ia telah melewati perjalanan panjang sebagai seorang ulama dan pembaru pendidikan Islam di Hindia Belanda. Syaikh Ahmad Surkati, yang kemudian dikenal luas sebagai tokoh utama di balik berdirinya Al-Irsyad Al-Islamiyyah, datang ke Hindia pada awal abad ke-20 dan memainkan peranan penting dalam pembaruan pemikiran serta pendidikan Islam. Pada 1914, bersama sejumlah sahabat dan muridnya, ia berada di lingkungan yang melahirkan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Dari ruang-ruang pendidikan dan pengajian, gagasan tentang persamaan manusia, pentingnya ilmu pengetahuan, pemurnian ajaran, dan keberanian menggunakan akal dalam memahami persoalan keagamaan terus bergerak kepada generasi berikutnya.

Maka ketika pada Desember 1929 seorang tokoh seperti Soerkatti diundang berbicara di hadapan kaum muda JIB, peristiwa itu dapat dibaca sebagai sebuah pertemuan dua generasi. Di satu sisi terdapat generasi muda Muslim yang sedang membangun organisasi dan mencari bentuk baru bagi kehidupan Islam di tengah perubahan zaman. Di sisi lain berdiri seorang ulama yang telah lebih dahulu melewati pergulatan pemikiran, pendidikan, dan pembaruan Islam selama bertahun-tahun. Pertemuan itu memperlihatkan bahwa gagasan yang pernah tumbuh di lingkungan Al-Irsyad tidak berhenti di ruang sekolah atau organisasi Al-Irsyad saja. Ia ikut memasuki ruang perbincangan pemuda Muslim yang lebih luas.

Ada hal lain yang juga penting. JIB sendiri merupakan salah satu organisasi pemuda Islam yang tumbuh dalam suasana kebangkitan intelektual dan organisasi pada dekade 1920-an. Kongresnya di Surabaya mempertemukan berbagai persoalan yang pada masa itu sedang hidup dalam masyarakat Muslim Hindia. Bahkan rencana kehadiran H.A. Salim, apabila ia telah kembali tepat waktu, memperlihatkan jaringan intelektual Islam yang semakin luas. Nama-nama yang tercantum dalam berita tersebut menunjukkan adanya ruang perjumpaan antara ulama, intelektual, dan kaum muda.

Di sinilah arti penting berita kecil yang dimuat koran kolonial itu. Ia tidak sedang menulis sejarah besar. Hanya beberapa paragraf tentang sebuah kongres yang akan berlangsung beberapa hari kemudian. Tetapi dari berita singkat itu kita dapat melihat denyut kehidupan intelektual Muslim pada akhir 1920-an: pemuda berkumpul, memilih pemimpin, menyusun keputusan, mendiskusikan persoalan agama, dan mengundang tokoh-tokoh yang mereka anggap penting untuk berbicara.

Dan di antara nama-nama itu terdapat Syaikh Ahmad Surkati

Bagi sejarah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, kehadiran namanya dalam kongres JIB 1929 memberi satu jejak yang berharga. Ia memperlihatkan bahwa pengaruh seorang pembaru tidak selalu dapat diukur hanya dari lembaga yang didirikannya atau dari jumlah murid yang pernah diajarnya. Pengaruh juga dapat dilihat dari ruang-ruang intelektual tempat gagasannya diperbincangkan, diteruskan, dan bertemu dengan generasi yang lebih muda.

Surabaya pada akhir Desember 1929 dengan demikian bukan hanya tempat berlangsungnya kongres kelima Jong-Islamietenbond. Ia menjadi salah satu panggung tempat gagasan Islam modern, pendidikan, kepemudaan, dan perubahan sosial saling berjumpa. Di panggung itu, Surkati tampil sebagai seorang ulama yang telah lebih dahulu membuka jalan bagi pembaruan pendidikan dan pemikiran Islam di Hindia.

Sebuah berita koran kolonial mungkin hanya mencatat bahwa ia akan berbicara tentang poligami. Tetapi bagi kita yang membaca kembali sejarah hampir satu abad kemudian, nama itu membawa kita jauh lebih dalam: kepada perjalanan seorang guru, pembaru, dan pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang gagasannya terus menemukan ruang di tengah generasi Muslim yang sedang mencari masa depannya.

Sumber: De Indische Courant, 20 Desember 1929, berita “Jong-Islamietenbond”. 

Bogor, 29 September 2026
Abdullah Abubakar Batarfie 

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 

Posting Komentar untuk "Surkati dan JIB, dalam arsip colonial tahun 1929"