Java Carpet Works: Jejak Karpet Tertua di Buitenzorg
Ada benda-benda yang tampaknya sederhana, bahkan setiap hari diinjak oleh kaki manusia, tetapi di dalam dirinya tersimpan perjalanan panjang sebuah kota. Karpet adalah salah satunya. Ia menjadi alas ruang tamu, kantor, rumah, tempat ibadah, bahkan ruang-ruang tempat keputusan penting dibuat. Namun di balik serat, warna, dan motifnya, sebuah karpet dapat menyimpan cerita tentang perdagangan, keterampilan tangan, keluarga, tenaga kerja, perubahan teknologi, dan perjalanan sebuah zaman. Di Bogor, kota yang pada masa Hindia Belanda bernama Buitenzorg, cerita itu pernah tumbuh dari sebuah usaha yang dikenal sebagai Java Peking Carpet Works, yang dalam perkembangannya lebih dikenal sebagai Java Carpet Works. Berdasarkan kesinambungan sejarah dan penuturan keluarga penerusnya, usaha ini dapat disebut sebagai salah satu usaha karpet tertua yang masih meninggalkan jejak di Kota Bogor. Ia bukan hanya sebuah tempat membuat dan menjual karpet, melainkan pernah menjadi ruang tempat masyarakat melihat berbagai hasil kerajinan dan benda-benda seni yang pada zamannya masih merupakan sesuatu yang istimewa.
Kisahnya bermula dari Pieter Paul Dobbe dan istrinya, Hendrina Arnolda van Laer, pasangan yang masih memiliki darah Belanda tetapi memilih menjalani kehidupannya di Hindia. Sebelum mendirikan usaha karpet, keduanya tinggal di Rajapolah, Tasikmalaya. Sekitar 1941, mereka telah mengerjakan berbagai kerajinan tangan seperti tas, topi, dan berbagai barang lainnya untuk dijual. Kemudian datanglah masa pendudukan Jepang pada 1942–1945 yang mengubah kehidupan banyak orang. Pieter Paul Dobbe dan Hendrina Arnolda van Laer turut mengalami kerasnya masa itu sebagai bagian dari masyarakat yang ditempatkan dalam kamp interniran Jepang. Setelah perang berakhir pada 1945, keduanya kembali ke Belanda. Tetapi dua tahun kemudian, pada 1947, mereka kembali lagi ke Indonesia dengan membawa pengalaman, gagasan, dan keterampilan yang kemudian menjadi dasar bagi kehidupan baru mereka. Di Indonesia inilah mereka mendirikan usaha karpet yang diberi nama Java Carpet Works, di lokasi yang dahulu dikenal sebagai Museumweg, sebuah nama jalan yang kini menjadi bagian dari sejarah kota Bogor.
Pada masa awal berdirinya, Java Carpet Works masih jauh dari gambaran sebuah industri modern. Mesin hanya digunakan untuk membantu mengolah atau memintal bahan, sementara pekerjaan utama membuat karpet tetap mengandalkan tangan manusia. Bulu domba menjadi bahan yang penting dalam proses produksi. Bulu yang telah dicukur kemudian dicuci, diberi warna, dikeringkan, lalu diolah dan dipintal menjadi benang. Setelah itu tangan para pekerja mengerjakan bagian yang paling menentukan, yaitu merajut dan menganyam benang hingga berubah menjadi karpet. Berbagai teknik dan bahan tradisional digunakan, antara lain Mourzuk dan Block Mat, sementara bahan seperti sisal, pandan, sabut kelapa, dan ijuk juga menjadi bagian dari produk yang dihasilkan. Pada masa tertentu, menurut penuturan keluarga penerusnya, usaha tersebut bahkan mempekerjakan sekitar tiga ratus orang. Angka itu memperlihatkan bahwa Java Carpet Works bukan sekadar bengkel kerajinan keluarga, melainkan pernah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak tangan dan banyak kehidupan. Setiap karpet yang keluar dari tempat itu membawa kerja manusia yang panjang, mulai dari bahan mentah sampai menjadi benda yang siap digunakan.
Terjemahan Nieuwe Courant 1949 ; Salah satu unsur yang tak tergantikan untuk menciptakan suasana nyaman dalam sebuah interior, dan akan selalu demikian, adalah penutup lantai yang baik. Namun pada masa seperti sekarang dan di negeri ini, sebuah karpet yang baik bagi kebanyakan kalangan benar-benar tidak terjangkau harganya, sementara karpet modern yang polos sama sekali tidak mudah diperoleh.
Dahulu memang demikian, tetapi tidak lagi sejak Java Peking Carpet Works di Buitenzorg dan Tasikmalaja mulai memproduksi karpet dan tikar.
Hasil produksinya kini dapat dilihat dan juga dibeli di Firma Reiss & Co., Herenstraat 40/42, yang memamerkan koleksi cukup lengkap di ruang atas tokonya.
Karpet-karpet tersebut dibuat dari bahan campuran setengah serat dan setengah wol, atau seluruhnya dari wol. Warnanya sangat elegan dan hiasannya sederhana, berupa satu motif bunga atau daun dengan warna yang tidak mencolok. Tersedia pula beberapa karpet polos. Semuanya dibuat dengan tangan dan memiliki jaminan usia pemakaian antara 80 hingga 90 tahun, serta tentu saja tahan warna.
Akhirnya tersedia pula warna-warna muda dan modern, seperti putih kusam dan beige, yang begitu sesuai untuk rumah-rumah di Hindia dan perabot rotan, warna yang hingga kini terlalu jarang kita jumpai di negeri ini.
Selain karpet, Java Peking Carpet Works juga memproduksi tikar sisal dan tikar sabut kelapa yang bahkan sebelum perang telah memperoleh tempat di tengah masyarakat. Produk-produk tersebut juga tahan warna.
Kami juga melihat beberapa barang berukuran lebih kecil, seperti alas berwarna-warni dan keranjang sampah, dengan warna yang menyenangkan dan harga yang tidak mahal.
Karpet dan tikar juga dapat dipesan sesuai dengan warna dan pola yang diinginkan. Namun perlu diperhitungkan bahwa dibutuhkan waktu sedikitnya dua hingga tiga bulan sebelum sebuah karpet selesai dibuat.
Java Peking Carpet Works banyak mengekspor produknya ke Belanda dan memasok sejumlah perusahaan seperti De Bijenkorf dan Vroom & Dreesmann.
Pameran ini dapat dikunjungi setiap hari pukul 08.00–12.00 dan 14.00–16.00. Khusus hari Rabu dan Sabtu, selain pagi hari, pameran juga dibuka pada sore hari pukul 16.00–18.00.
Kami sangat menganjurkan setiap orang untuk menyempatkan diri berkunjung dan melihatnya. Produk-produk “buatan tanah air sendiri” ini sungguh layak untuk diperhatikan.
Gambaran mengenai Java Carpet Works pada masa awal Republik dapat ditemukan dalam surat kabar sezaman. Nieuwe Courant edisi 2 Februari 1949 memberitakan keberadaan Java Peking Carpet Works di Buitenzorg dan Tasikmalaja. Hasil produksinya pada waktu itu dapat dilihat dan dibeli melalui Firma Reiss & Co. di Herenstraat 40/42, yang memamerkan koleksi karpet di ruang atas tokonya. Surat kabar tersebut menggambarkan karpet-karpet buatan Java Peking Carpet Works sebagai produk yang dibuat dari campuran setengah serat dan setengah wol atau seluruhnya dari wol, dengan warna yang elegan serta hiasan sederhana berupa motif bunga atau daun yang tidak mencolok. Beberapa karpet bahkan dibuat polos. Seluruhnya dikerjakan dengan tangan dan disebut memiliki jaminan usia pemakaian antara delapan puluh hingga sembilan puluh tahun serta tahan warna. Yang menarik, produk itu tidak hanya mengikuti selera lama, tetapi juga menghadirkan warna-warna muda dan modern seperti putih kusam dan beige yang dianggap sangat cocok untuk rumah-rumah di Hindia dan dipadukan dengan perabot rotan. Pada masa itu warna-warna demikian masih jarang ditemukan di negeri ini, sehingga karpet buatan Java Peking Carpet Works bukan sekadar benda kegunaan rumah tangga, tetapi juga bagian dari perubahan selera interior masyarakat perkotaan.
Berita Nieuwe Courant itu juga memperlihatkan bahwa Java Peking Carpet Works telah mengembangkan jenis produksi yang lebih luas. Selain karpet, perusahaan tersebut membuat tikar sisal dan tikar sabut kelapa yang bahkan disebut telah memperoleh tempat di tengah masyarakat sejak sebelum perang. Produk-produk itu juga dikenal tahan warna. Di ruang pamer dapat pula ditemukan berbagai barang berukuran lebih kecil seperti alas berwarna-warni dan keranjang sampah dengan warna yang menyenangkan dan harga yang tidak mahal. Karpet maupun tikar dapat dipesan menurut warna dan pola yang diinginkan, meskipun pelanggan harus bersedia menunggu sedikitnya dua sampai tiga bulan sampai pesanan selesai dibuat. Di sini terlihat bahwa Java Carpet Works telah mengenal produksi berdasarkan pesanan dan selera pelanggan pada masa yang masih sangat jauh dari zaman industri interior modern seperti sekarang. Lebih jauh lagi, Nieuwe Courant mencatat bahwa Java Peking Carpet Works banyak mengekspor hasil produksinya ke Belanda dan memasok sejumlah perusahaan besar seperti De Bijenkorf dan Vroom & Dreesmann. Dengan demikian, dari sebuah tempat di Buitenzorg, hasil pekerjaan tangan para pekerjanya dapat bergerak melampaui batas Hindia dan masuk ke jaringan perdagangan dengan negeri Belanda. Di tengah keadaan Indonesia yang baru beberapa tahun merdeka, kenyataan tersebut menjadi bagian menarik dari sejarah produksi dan perdagangan yang tumbuh di Bogor.
Java Carpet Works pada masa itu juga dapat dilihat sebagai semacam ruang pamer benda seni dan kerajinan. Ketika Nieuwe Courant mengabarkan bahwa masyarakat dapat datang untuk melihat koleksi yang dipamerkan di ruang atas Firma Reiss & Co., yang ditawarkan bukan hanya fungsi sebuah karpet, tetapi juga keindahan bentuk, warna, motif, bahan, dan keterampilan pembuatannya. Dalam konteks sejarah Bogor, tempat seperti ini memiliki arti penting karena memperlihatkan bahwa sejak masa awal Republik telah terdapat ruang yang mempertemukan produksi kerajinan, perdagangan, estetika interior, dan masyarakat. Karena itu, Java Carpet Works dapat disebut sebagai salah satu bentuk awal galeri benda seni dan kerajinan di Bogor, bukan dalam pengertian galeri seni modern yang kita kenal sekarang, tetapi sebagai tempat di mana hasil kerja tangan manusia dipamerkan, diperlihatkan kepada masyarakat, dan dinilai bukan hanya berdasarkan kegunaannya, melainkan juga berdasarkan keindahannya.
Setahun kemudian, nama Java Carpet Works kembali muncul dalam catatan sejarah melalui kunjungan seorang tokoh penting Republik Indonesia. Indische Courant edisi 6 September 1950 memberitakan bahwa Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta beberapa hari sebelumnya melakukan kunjungan ke Bogor dan meninjau Java Peking Carpet Works. Hatta berada di perusahaan tersebut selama kurang lebih satu setengah jam dan melihat serta mempelajari seluruh proses kegiatan yang berlangsung di dalam perusahaan. Kunjungan itu berlangsung pada masa Indonesia sedang membangun dirinya sebagai negara yang baru merdeka. Sebuah usaha yang mengolah bahan menjadi barang jadi dengan tenaga manusia tentu memiliki arti dalam suasana ketika bangsa Indonesia sedang berusaha membangun kehidupan ekonominya sendiri. Hatta datang melihat pekerjaan yang berlangsung di dalam perusahaan, dari proses pengolahan bahan hingga pekerjaan tangan yang menghasilkan karpet. Menurut penuturan keluarga penerus Java Carpet Works, bukan hanya Bung Hatta yang pernah datang. Bung Karno juga disebut pernah berkunjung, demikian pula sejumlah pejabat pemerintahan lainnya. Kunjungan-kunjungan tersebut kini menjadi bagian dari ingatan keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Untuk kunjungan Bung Karno dan para pejabat lainnya, penuturannya perlu ditempatkan sebagai sejarah lisan keluarga sampai ditemukan dokumen atau pemberitaan sezaman yang dapat menguatkannya.
Terjemahan Koran ; Java Peking Carpet Works telah menyelenggarakan sebuah pameran di Hotel des Indes, yang berlangsung hingga hari ini. Dalam foto terlihat seorang tukang sedang mengerjakan pembuatan sebuah karpet dengan cara mengikat atau menyimpulkan benang, dengan motif lambang Indonesia.
Tidak lama setelah kunjungan Bung Hatta, Java Peking Carpet Works kembali tampil dalam pemberitaan surat kabar, kali ini melalui sebuah pameran di Batavia. Indische Courant edisi 6 Oktober 1951 mencatat bahwa Java Peking Carpet Works menyelenggarakan sebuah pameran di Hotel des Indes, salah satu hotel terkenal di Batavia, yang berlangsung sampai hari pemberitaan tersebut diterbitkan. Berita itu disertai sebuah foto yang memperlihatkan seorang tukang sedang mengerjakan karpet dengan teknik mengikat atau menyimpulkan benang, dengan motif lambang Indonesia. Detail kecil dalam berita itu menjadi sangat berarti. Beberapa tahun setelah Proklamasi, sebuah perusahaan yang berakar dari pengalaman keluarga Eropa dan berkembang di Buitenzorg justru menampilkan karpet dengan motif lambang Republik Indonesia. Di sana sejarah tidak hanya berbicara mengenai bahan, teknik, dan perdagangan, tetapi juga mengenai perubahan lingkungan politik dan kebudayaan setelah Indonesia merdeka. Karpet itu bukan sekadar benda hias. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah keterampilan yang sebelumnya berkembang dalam lingkungan Hindia dapat mengambil bentuk baru di tengah kehidupan Republik. Tangan seorang tukang mengikat satu demi satu simpul benang, sementara lambang Indonesia perlahan muncul dari susunan benang tersebut. Berita singkat Indische Courant itu dengan demikian menyimpan gambaran yang kuat mengenai sebuah masa ketika keterampilan tangan, industri kerajinan, perdagangan, dan identitas Indonesia bertemu dalam satu benda.
Ada sebuah ironi kecil dalam sejarah nama perusahaan ini. Pieter Paul Dobbe pada awalnya memberi nama usahanya P.P. Dobbe & Son, sebuah nama yang secara harfiah memberi kesan bahwa kelangsungan usaha kelak akan diteruskan oleh seorang anak laki-laki. Tetapi sejarah tidak selalu berjalan menurut nama yang ditulis pada papan perusahaan. Usaha tersebut justru diteruskan oleh putrinya, Maya, dan kemudian berpindah kepada generasi berikutnya, yaitu cucunya, Riske Luciana. Dengan demikian, perjalanan Java Carpet Works berlangsung melalui garis keturunan perempuan, dari generasi pertama kepada putri, kemudian kepada cucu perempuan, tanpa pernah benar-benar berpindah kepada keturunan laki-laki sebagaimana kesan yang terkandung dalam nama awal P.P. Dobbe & Son. Di dalam sejarah perusahaan yang panjang, bagian ini mungkin tampak kecil, tetapi justru di situlah sejarah keluarga menjadi hidup. Sebuah perusahaan tidak bertahan hanya karena nama, modal, atau bangunan, tetapi karena ada orang yang bersedia menjaga, meneruskan, dan menyesuaikannya dengan zaman.
Motto “From Sheep to Carpet” terasa seperti ringkasan dari perjalanan panjang tersebut. Dari bulu domba yang semula hanya bahan mentah, melalui tangan para pekerja dan proses yang panjang, lahirlah karpet yang menghiasi rumah-rumah dan ruang-ruang kehidupan. Tetapi zaman tidak pernah berhenti. Teknologi berkembang, kebutuhan masyarakat berubah, produksi massal semakin menguasai pasar, dan cara orang memilih interior pun berubah. Java Carpet Works akhirnya tidak lagi memproduksi karpet seperti masa awalnya. Perusahaan tersebut kemudian bertransformasi mengikuti kebutuhan zaman dengan menyediakan karpet produksi pabrik modern sekaligus berbagai layanan seperti pemasangan, obras, perawatan, reparasi, pencucian, karpet sajadah untuk masjid, dan karpet wall-to-wall yang dibuat secara khusus sesuai kebutuhan pelanggan. Bentuk usahanya berubah, tetapi kesinambungan namanya tetap terjaga. Dari tangan yang dahulu mencuci dan memintal bulu domba sampai kepada teknologi karpet modern, perjalanan itu memperlihatkan bagaimana sebuah usaha keluarga dapat bertahan dengan cara mengubah dirinya tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Iklan dalam surat kabar setelah nama alamat berganti dari Museumweg menjadi Jalan Kantor Baru
Museumweg telah berubah, Buitenzorg telah menjadi Bogor, generasi telah berganti, dan kota telah tumbuh jauh melampaui wajahnya pada pertengahan abad ke-20. Tetapi di tengah perubahan itu Java Carpet Works masih membawa ingatan tentang masa ketika karpet dibuat dengan tangan, ketika ratusan pekerja pernah terlibat dalam produksinya, ketika hasil buatan Buitenzorg dikirim hingga ke Belanda, ketika sebuah pameran karpet dapat menjadi daya tarik masyarakat, ketika Bung Hatta datang melihat proses produksinya selama satu setengah jam, dan ketika pada 1951 sebuah karpet dengan motif lambang Indonesia dikerjakan oleh tangan seorang tukang dan dipamerkan di Hotel des Indes. Menurut penuturan keluarga, Bung Karno dan sejumlah pejabat pemerintahan juga pernah hadir di tempat itu. Karena itu sejarah Java Carpet Works layak ditempatkan bukan semata-mata sebagai sejarah sebuah perusahaan, melainkan sebagai bagian dari sejarah sosial, ekonomi, industri kerajinan, dan kebudayaan Kota Bogor. Ia memperlihatkan bahwa sejarah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung besar dan nama-nama yang tercatat dalam buku pelajaran, tetapi juga oleh para pekerja yang tangannya mengolah bahan, oleh keluarga yang mempertahankan usaha, oleh benda-benda yang dibuat dengan ketekunan, dan oleh tempat-tempat yang diam-diam menjadi saksi pergantian zaman. Karpet memang berada di bawah kaki manusia, tetapi sejarah yang melekat padanya dapat membawa kita kembali kepada sebuah Buitenzorg yang telah lama berlalu.
Abdullah Abubakar Batarfie
Sumber catatan sejarah: Nieuwe Courant, 2 Februari 1949, berita mengenai Java Peking Carpet Works di Buitenzorg dan Tasikmalaja serta pameran dan penjualan produknya melalui Firma Reiss & Co., Herenstraat 40/42; Indische Courant, 6 September 1950, berita mengenai kunjungan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta ke Java Peking Carpet Works di Bogor; Indische Courant, 6 Oktober 1951, berita mengenai pameran Java Peking Carpet Works di Hotel des Indes dan foto seorang tukang yang sedang membuat karpet dengan motif lambang Indonesia. Informasi mengenai Pieter Paul Dobbe, Hendrina Arnolda van Laer, Maya, Riske Luciana, sejarah keluarga, proses produksi, jumlah pekerja, serta kesinambungan usaha merupakan penuturan sejarah keluarga penerus Java Carpet Works.
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.










Posting Komentar untuk "Java Carpet Works: Jejak Karpet Tertua di Buitenzorg"
Posting Komentar