Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, 3 Februari 1918, No. 100. Surat kabar ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas pada masanya dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.
Uit de Arabische Samenleving.
Te Soerabaja heeft onder leiding van eenige Bataviasche Arabieren een vergadering plaats gehad om te geraken tot de oprichting van een vereeniging Islah, waarvan het doel is de regeering af te brengen van haar voornemen om de militie voor Arabieren in te voeren, voorts om pogingen in het werk te stellen om de bezwaren, aan de immigratie gesteld, ongedaan te maken, het stichten van een hospitaal voor Arabieren en het oprichten van een Maleisch blad ter behartiging van de Arabische belangen.
De Arabieren te Soerabaja en Grissee voelen intusschen niets voor de vereeniging, zoolang daarin zitting neemt Sech Ahmad bin Ahmad Soerkati Alansari, aangezien deze vroeger voorman van de Irsjad-vereeniging was, welke ten doel had gelijkstelling te verkrijgen tusschen Saids en Sechs, het bezoeken van openbare scholen en zich in het openbaar vertoonen van Arabische meisjes, welke handelingen in strijd met het geloof en de adat geacht worden.
Men ziet te Soerabaja in de Islah dan ook een herleving van de Irsjad.
Intusschen zal den 9den Februari te Batavia de oprichtingsvergadering plaats hebben.
Dari Kalangan Masyarakat Arab.
Di Surabaya, di bawah pimpinan beberapa orang Arab dari Batavia, telah berlangsung sebuah pertemuan dengan tujuan mendirikan sebuah perkumpulan bernama Islah. Tujuan perkumpulan ini antara lain adalah berusaha membujuk pemerintah agar membatalkan rencananya untuk memberlakukan wajib militer bagi orang-orang Arab, serta mengupayakan agar berbagai pembatasan yang diberlakukan terhadap imigrasi dihapuskan. Selain itu, perkumpulan tersebut bermaksud mendirikan sebuah rumah sakit bagi orang-orang Arab dan menerbitkan sebuah surat kabar berbahasa Melayu untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Arab.
Sementara itu, orang-orang Arab di Surabaya dan Gresik tidak bersedia mendukung perkumpulan tersebut selama Sech Ahmad bin Ahmad Soerkati Alansari menjadi bagian di dalamnya. Sebab, ia sebelumnya merupakan salah seorang pemimpin perkumpulan Al-Irsyad, yang antara lain bertujuan memperoleh persamaan kedudukan antara golongan Sayid dan Syeikh, memperbolehkan anak-anak Arab bersekolah di sekolah-sekolah umum, serta membolehkan perempuan Arab tampil di ruang publik; tindakan-tindakan tersebut dipandang bertentangan dengan agama dan adat.
Karena itu, di Surabaya, Islah dipandang sebagai kebangkitan kembali gerakan Al-Irsyad.
Sementara itu, pada tanggal 9 Februari, di Batavia akan diselenggarakan rapat pendirian perkumpulan tersebut.

Islah dan Pergulatan Masyarakat Arab di Surabaya
Berita Bataviaasch Nieuwsblad, 3 Februari 1918, No. 100 memperlihatkan sebuah bab kecil namun penting dalam sejarah masyarakat Arab di Hindia Belanda. Di Surabaya, muncul gagasan untuk mendirikan sebuah perkumpulan bernama Islah. Gagasannya cukup luas: menentang rencana pemerintah kolonial menerapkan milisi bagi orang Arab, memperjuangkan kelonggaran terhadap aturan imigrasi, mendirikan rumah sakit bagi masyarakat Arab, serta menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu yang dimaksudkan untuk memperjuangkan kepentingan mereka.
Namun di balik agenda yang tampak umum itu, tersimpan persoalan yang jauh lebih dalam: pertarungan gagasan di dalam masyarakat Arab sendiri. Nama Syaikh Ahmad bin Ahmad Surkati Al-Anshari menjadi titik persoalan. Bagi sebagian masyarakat Arab di Surabaya dan Gresik, kehadirannya dalam Islah membuat perkumpulan itu sulit diterima. Surkati bukan nama yang asing. Ia telah dikenal sebagai salah seorang pemimpin Al-Irsyad, organisasi yang membawa gagasan pembaruan pendidikan dan sosial di kalangan masyarakat Arab, termasuk gagasan mengenai persamaan kedudukan antara Sayid dan Syaikh serta keterbukaan terhadap pendidikan sekolah umum.
Koran kolonial itu mencatat keberatan tersebut dengan bahasa dan ukuran pandangan masyarakat pada zamannya. Perempuan Arab yang tampil di ruang publik dan anak-anak Arab yang bersekolah di sekolah umum disebut sebagai sesuatu yang dianggap bertentangan dengan agama dan adat oleh kelompok yang menolak gagasan Al-Irsyad. Karena itulah, bagi sebagian orang Arab di Surabaya, Islah bukanlah organisasi baru yang berdiri di ruang kosong, melainkan dipandang sebagai kebangkitan kembali Al-Irsyad.
Di sinilah berita pendek itu menjadi penting bagi sejarah. Ia memperlihatkan bahwa pada awal 1918, perdebatan di kalangan masyarakat Arab Hindia Belanda bukan semata-mata mengenai hubungan mereka dengan pemerintah kolonial, tetapi juga menyangkut siapa yang berhak menentukan arah kehidupan sosial, pendidikan, adat, dan masa depan komunitas mereka sendiri. Di satu sisi terdapat kebutuhan menghadapi kebijakan pemerintah kolonial; di sisi lain terdapat perbedaan tajam mengenai cara masyarakat Arab memahami agama, pendidikan, adat, dan hubungan antargolongan.
Menarik pula bahwa pusat perhatian berita bergerak dari Surabaya menuju Batavia. Setelah pertemuan di Surabaya, disebutkan bahwa rapat pendirian Islah akan diselenggarakan di Batavia pada 9 Februari 1918. Ini menunjukkan bahwa jaringan masyarakat Arab pada masa itu tidak berhenti pada batas kota. Batavia, Surabaya, dan Gresik terhubung oleh hubungan dagang, keluarga, organisasi, pers, dan gagasan. Apa yang diperdebatkan di satu kota dapat segera menjadi persoalan bagi kota lain.
Berita ini juga mengingatkan kita bahwa pers kolonial bukan sekadar tempat mencatat peristiwa. Ia adalah jendela yang memperlihatkan bagaimana masyarakat pada zamannya dilihat dan dikategorikan oleh penguasa serta media kolonial. Karena itu, istilah-istilah seperti Arabische Samenleving, Saids dan Sechs dalam berita tersebut sebaiknya dibaca sebagai bagian dari bahasa dan kerangka pengelompokan masyarakat Hindia Belanda pada masa itu, bukan diterima begitu saja sebagai gambaran utuh mengenai masyarakat Arab.
Dengan demikian, berita Bataviaasch Nieuwsblad No. 100, 3 Februari 1918, dapat dibaca sebagai salah satu keping sejarah yang merekam persimpangan antara politik kolonial, kepentingan masyarakat Arab, dan gelombang pembaruan Al-Irsyad. Beberapa hari kemudian, tanggal 9 Februari, Batavia menjadi panggung bagi kelanjutan peristiwa itu. Dari sana kita dapat melihat bahwa sejarah masyarakat Arab di Hindia Belanda bukan sejarah yang berjalan lurus, melainkan penuh pertemuan, perbedaan, perdebatan, dan usaha mencari jalan keluar bersama.
Bogor, 28 September 2026
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak Cipta
Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.
Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Posting Komentar untuk "Islah dan Pergulatan Masyarakat Arab di Surabaya"
Posting Komentar