Dari Guru, Gontor, dan Jalan Panjang Pendidikan Islam

Terjemahan ; Kiai W. Hasjim tentang Guru

Sekolah Islam memperingati hari jadinya 
Selama sepekan, sekolah agama Islam berasrama Pondok Gontor di Ponorogo memperingati hari jadinya yang ke-25 dengan berbagai kegiatan, antara lain resepsi, pertandingan olahraga, pameran, dan pertunjukan rakyat. Sekolah tersebut didirikan 25 tahun sebelumnya oleh Kiai A. Sahal, yang kemudian memberikan nama Pondok Modern Gontor kepada sekolah itu.

Pada hari pertama peringatan, hadir tidak kurang dari 2.000 tamu, di antaranya Menteri Agama, Kiai Wahid Hasjim. Sejumlah pejabat lainnya juga hadir, yaitu Gubernur Samadikun, wakil Kolonel Bambang Sugeng, para wali kota Madiun dan Blitar, serta 14 bupati dari Keresidenan Madiun.

Dalam rangka peringatan jubileum tersebut, sang menteri meresmikan gedung sekolah baru yang telah selesai dibangun, dengan menggunting pita. Dalam pidatonya, menteri menyatakan bahwa kedudukan guru sejak masa revolusi sedikit banyak telah mengalami kemunduran, akibat adanya pandangan bahwa hubungan antara guru dan murid harus didemokratisasi.

Namun demikian, menurut Kiai Wahid Hasjim, guru tetap harus menempati tempat yang terhormat, karena ia memiliki fungsi penting dalam masyarakat.

Gubernur Samadikun dan sejumlah pejabat lainnya juga menyampaikan pidato. Dari pihak Presiden Soekarno, Perdana Menteri Soekiman, serta banyak tokoh penting lainnya di lingkungan pemerintahan, diterima ucapan selamat melalui telegram.


Ada kalanya sebuah berita lama di surat kabar menyimpan suara zaman yang jauh lebih panjang daripada usia kertas tempat ia dicetak. Demikian halnya dengan berita De Vrije Pers, 31 Oktober 1951, yang mencatat peringatan 25 tahun sebuah sekolah Islam berasrama di Ponorogo: Pondok Gontor. Seperempat abad sebelumnya, lembaga itu didirikan oleh Kiai A. Sahal dan kemudian dikenal sebagai Pondok Modern Gontor. Pada perayaan itu, tidak kurang dari dua ribu orang datang. Menteri Agama Kiai Wahid Hasjim hadir bersama Gubernur Samadikun, wakil Kolonel Bambang Sugeng, para wali kota Madiun dan Blitar, serta para bupati dari Keresidenan Madiun. Gedung sekolah baru pun diresmikan. Di tengah suasana perayaan itu, Kiai Wahid Hasjim berbicara tentang sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan jantung dari seluruh persoalan pendidikan: guru.

Menurut berita tersebut, Kiai Wahid Hasjim melihat bahwa sejak masa revolusi kedudukan guru sedikit banyak mengalami perubahan. Hubungan guru dan murid semakin diletakkan dalam suasana yang lebih demokratis. Namun demokratisasi itu, menurutnya, tidak berarti menghilangkan kehormatan guru. Guru tetap harus menempati tempat yang terhormat karena ia memegang fungsi penting dalam masyarakat.

Di sinilah berita tahun 1951 itu menjadi menarik jika dibaca kembali ketika Gontor memasuki usianya yang ke-100 pada September 2026. Apa yang pada masa itu dibicarakan sebagai persoalan kedudukan guru, dalam perjalanan panjang Gontor berkembang menjadi gagasan yang lebih luas: pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid, melainkan membentuk manusia yang sanggup hidup, berpikir, bekerja, dan mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.

Gontor sendiri lahir dari keberanian untuk menghidupkan kembali sesuatu yang hampir padam. Pada 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1345 H dalam peringatan Maulid Nabi, tiga putra Kiai Santoso Anom Besari—K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi—membuka kembali Pondok Gontor. Ketiganya kemudian dikenal sebagai Trimurti, dan dari tangan mereka Gontor bergerak menjadi sebuah lembaga pendidikan dengan corak modern.

Modern dalam hal ini bukan berarti meninggalkan akar pesantren. Justru yang dilakukan Trimurti adalah mencari bentuk baru agar tradisi pendidikan Islam tetap dapat hidup di tengah perubahan zaman. Gontor kemudian mengembangkan sistem pendidikan yang memadukan berbagai inspirasi pendidikan, termasuk kajian terhadap Al-Azhar di Mesir, Syanggit, Aligarh di India, dan Santiniketan.

Karena itu, sejarah Gontor tidak hanya dapat dibaca sebagai sejarah sebuah pesantren di sebuah desa di Ponorogo. Ia merupakan bagian dari arus panjang pembaruan pendidikan Islam di Indonesia. Dalam arus tersebut terdapat banyak simpul, banyak guru, banyak madrasah, dan banyak gagasan yang saling bertemu.

Salah satu hubungan intelektual yang menarik adalah apa yang kemudian dikemukakan Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Sebagai alumnus Gontor dan salah seorang intelektual Muslim Indonesia yang paling berpengaruh pada abad ke-20, Cak Nur melihat bahwa gagasan pembaruan Al-Irsyad dan pemikiran pendirinya, Syaikh Ahmad Surkati, ikut memberi bahan pemikiran bagi K.H. Ahmad Sahal dalam membangun Gontor. Pandangan tersebut juga dikutip dalam lingkungan Al-Irsyad, yang menyebut bahwa menurut Cak Nur, Kiai Sahal memperoleh banyak bahan dari Ahmad Surkati, terutama mengenai gerakan modernisasi pendidikan.

Kesaksian itu menjadi semakin menarik karena Cak Nur kemudian menuangkan pemikirannya tentang dunia pesantren dalam Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan, yang diterbitkan Paramadina pada 1997. Buku tersebut tidak hanya berbicara tentang pesantren sebagai lembaga tradisional, tetapi juga tentang kemampuannya menghadapi perubahan dan modernisasi. Edisi buku itu bahkan memuat tulisan yang berkaitan dengan perjalanan Gontor dan laporan mengenai seminar 70 tahun Pondok Modern Gontor.

Maka hubungan Gontor dengan dunia pembaruan Islam tidak sebaiknya dibayangkan sebagai hubungan yang sederhana dan lurus. Ia lebih menyerupai sungai: ada banyak anak sungai yang mengalir dari berbagai tempat, bertemu, bercampur, lalu membentuk arus baru. Pengaruh pembaruan Islam dari berbagai lembaga dan tokoh bertemu dengan tradisi pesantren, pengalaman pendidikan para pendirinya, serta kebutuhan masyarakat pada zamannya. Dari pertemuan itulah Gontor menemukan bentuknya sendiri.

Seratus tahun kemudian, sejarah itu kembali mendapat makna baru. Dalam resepsi kesyukuran satu abad Gontor pada September 2026, K.H. Hasan Abdullah Sahal, salah seorang pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor dan putra K.H. Ahmad Sahal, menyampaikan pidato di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Pidatonya menjadi perhatian luas karena dibawakan dengan humor yang segar, tetapi di balik humor itu tersimpan kritik sosial. Ia menyindir kebiasaan manusia yang sibuk “mencari muka”: yang tidak punya ijazah mencari ijazah, yang tidak punya nama mencari nama, yang tidak punya uang mencari uang, yang tidak punya jabatan mencari jabatan, dan akhirnya yang tidak punya muka pun mencari muka.

Humor itu terasa seperti gurauan seorang kiai kepada jamaahnya. Tetapi jika dibaca dalam konteks perjalanan Gontor selama satu abad, ia sebenarnya membawa pertanyaan yang lebih dalam: untuk apa pendidikan?

Pendidikan, bagi Gontor, bukan untuk sekadar memperoleh selembar ijazah, gelar, nama, atau kedudukan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu menciptakan sejarah. Karena itu Kiai Hasan mengingatkan bahwa Gontor memilih jalan pendidikan untuk mencerdaskan umat dan membangun peradaban, bukan hanya hidup dari kebesaran sejarah yang telah dibuat oleh para pendahulunya. Abad pertama telah menjadi sejarah; abad kedua harus diisi dengan sejarah baru.

Di sana terasa kembali gema berita De Vrije Pers tahun 1951. Enam puluh lima tahun sebelum satu abad Gontor, Kiai Wahid Hasjim berbicara tentang guru dan kehormatan pendidikan. Kini, setelah satu abad perjalanan Gontor, pembicaraan itu seolah menemukan bentuk lain: pendidikan harus membuat manusia berani berdiri di atas kakinya sendiri, berpikir bebas, hidup sederhana, dan bersedia mempertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya.

Itulah sebabnya sejarah Gontor tidak berhenti pada nama tiga pendirinya. K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi telah meletakkan sebuah sistem yang kemudian melahirkan generasi demi generasi. Dari lingkungan Gontor muncul nama-nama yang kemudian mengisi berbagai ruang kehidupan bangsa, di antaranya Nurcholish Madjid, K.H. Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Hidayat Nur Wahid, Hamid Fahmy Zarkasyi dan banyak lainnya. Gontor tidak menentukan jalan hidup para alumninya; ia membekali mereka dengan pendidikan, lalu mereka berjalan ke berbagai arah.

Dan mungkin di situlah makna paling panjang dari sebuah pesantren. Ia bukan pabrik manusia dengan bentuk yang seragam. Ia adalah tempat manusia ditempa, kemudian dilepaskan untuk memasuki dunia yang lebih luas.

Berita De Vrije Pers tanggal 31 Oktober 1951 itu, dengan demikian, bukan sekadar catatan tentang sebuah perayaan 25 tahun. Ia adalah potret sebuah lembaga yang sedang tumbuh dan sebuah zaman yang sedang berubah. Dua puluh lima tahun ketika itu terasa panjang. Tetapi kini, setelah seratus tahun, berita tersebut tampak seperti sepotong kecil batu penanda di sebuah jalan yang sangat panjang.

Dari 25 tahun menuju 100 tahun, satu hal tetap menjadi benang merah: pendidikan adalah pekerjaan yang tidak selesai pada satu generasi. Guru mengajarkan kepada murid; murid kemudian menjadi guru bagi zaman berikutnya. Begitulah sebuah pesantren bertahan—bukan karena ia tinggal di masa lalu, melainkan karena ia terus melahirkan manusia yang sanggup menghadapi masa depan.

Sumber utama: De Vrije Pers, 31 Oktober 1951, berita “Kiai W. Hasjim over de leraar – Islamietische school herdacht jubileum.” Untuk konteks sejarah Gontor dan peringatan satu abad, digunakan pula sumber resmi Pondok Modern Darussalam Gontor dan sumber pendukung mengenai pemikiran Nurcholish Madjid dan hubungan gagasan Gontor dengan gerakan pembaruan Islam.
Ada bagian dari sejarah Gontor yang bagi saya bukan sekadar sejarah yang saya baca dari buku atau koran tua. Ia pernah datang sebagai sebuah jalan yang ditawarkan langsung kepada saya.

Ketika masih duduk di SMP Al-Irsyad, saya cukup aktif mengikuti berbagai kajian di Masjid Al-Irsyad–At-Taqwa, Pekojan, Bogor. Di tempat itulah saya banyak bertemu dengan para asatidz Al-Irsyad. Ustadz Abdullah Afiff, Ustadz Abdullah Bathatie, dan Ustadz Ali Azzan Abdat adalah di antara mereka yang mendorong saya agar melanjutkan pendidikan ke Pondok Modern Gontor. Bahkan, ada satu bujukan yang sampai hari ini saya ingat sebagai “bujukan maut” datang dari Ustadz Usman Amir Tebe, salah seorang tokoh terkemuka Al-Irsyad Bogor yang bagi saya bukan sekadar seorang guru, melainkan sosok yang sudah seperti orang tua kandung sendiri.

Namun, bujukan itu tidak berhasil. Saya tidak masuk Gontor. Barangkali pada usia itu saya belum mengerti bahwa sebuah keputusan pendidikan dapat menjadi persimpangan panjang dalam kehidupan seseorang. Saya menolak jalan yang sebenarnya telah dibukakan oleh orang-orang yang lebih dahulu melihat sesuatu yang belum mampu saya lihat.

Kini, ketika membaca kembali sejarah Gontor, terutama setelah menemukan berita lama De Vrije Pers tanggal 31 Oktober 1951 tentang Kiai Wahid Hasjim dan kedudukan guru, saya sering teringat kembali pada masa itu. Ada penyesalan yang tidak perlu disembunyikan. Pendidikan saya kemudian tidak berjalan sebagaimana yang saya harapkan. Saya sempat melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri, tetapi tidak menyelesaikannya hingga waktunya. Pada akhirnya, ijazah pendidikan formal yang saya miliki hanya sampai tingkat SMP Al-Irsyad.

Tetapi mungkin sejarah manusia memang tidak selalu berjalan melalui jalan yang lurus. Ada jalan yang pernah ditawarkan lalu kita tinggalkan. Ada kesempatan yang baru kita pahami maknanya setelah bertahun-tahun berlalu. Dan ada pula pelajaran yang justru datang dari penyesalan.

Karena itu, ketika hari ini saya menulis tentang Gontor yang telah mencapai satu abad, saya tidak sedang menulis dari jarak seorang pengamat yang sepenuhnya berada di luar sejarah itu. Saya menulis sebagai seseorang yang dahulu pernah dibujuk untuk menjadi bagian darinya, oleh guru-guru Al-Irsyad yang saya hormati, tetapi memilih jalan yang lain.

Mungkin saya memang tidak pernah menjadi santri Gontor. Tetapi anehnya, Gontor tetap meninggalkan jejak dalam perjalanan hidup saya. Jejak itu datang melalui para guru Al-Irsyad, melalui kajian-kajian di Pekojan, melalui cerita tentang pendidikan, dan melalui penyesalan yang baru terasa maknanya ketika usia telah berjalan jauh.

Barangkali inilah salah satu wajah pendidikan yang sering luput dicatat dalam sejarah: seorang guru kadang menanamkan benih pada muridnya, tetapi tidak pernah tahu ke mana benih itu akan tumbuh.

“Ijazah saya berhenti di SMP, tetapi penyesalan mengajarkan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti di sana.”
Bogor, 21 September 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Posting Komentar untuk "Dari Guru, Gontor, dan Jalan Panjang Pendidikan Islam"