Addalil, Suara Al-Irsyad dari Surabaya

 

Een nieuw Arabisch tijdschrift.

Wij vernemen, dat de Arabieren te Soerabaja van de Al-Irsjad-partij een Arabisch tijdschrift willen uitgeven, ten doel hebbende hun landgenooten volgens de inzichten van Al-Irsjad voor te lichten. Immers sedert eenigen tijd bestaat in Soerabaja ook een Arabisch tijdschrift van de Sajidspartij, de Hadramaut, en zooals men weet kunnen de Sjeicks, of de Al-Irsjad-partij, niet overweg met de Sajids en daarom dient het nieuwe tijdschrift, dat om de 15 dagen zal verschijnen en den 15den November a.s. het licht zal zien, mede als actie tegen de Hadramaut.

Het nieuwe tijdschrift zal den naam dragen van Addalil, hetgeen „de gids” beteekent, en staat onder redactie van de heeren Oesman Makarim en Cen Bawajir.

Terjemahan Indonesia

Sebuah Majalah Arab Baru

Kami mendapat kabar bahwa orang-orang Arab di Surabaya dari Partai Al-Irsyad bermaksud menerbitkan sebuah majalah berbahasa Arab, dengan tujuan memberikan penerangan kepada sesama mereka sesuai dengan pandangan dan pemikiran Al-Irsyad. Sebab, sejak beberapa waktu sebelumnya di Surabaya juga telah terbit sebuah majalah berbahasa Arab yang diterbitkan oleh Partai Sayid, yaitu Hadramaut. Sebagaimana diketahui, kaum Syeikh, atau Partai Al-Irsyad, tidak dapat berjalan sehaluan dengan kelompok Sayid. Oleh karena itu, majalah baru tersebut, yang akan terbit setiap dua minggu sekali dan direncanakan mulai terbit pada tanggal 15 November mendatang, juga dimaksudkan sebagai bagian dari gerakan menghadapi Hadramaut.

Majalah baru itu akan diberi nama Addalil, yang berarti “Sang Penunjuk” atau “Pedoman”, dan berada di bawah redaksi Oesman Makarim dan Cen Bawajir.

22 Oktober 1925

Addalil, Suara Al-Irsyad dari Surabaya

Pada masa ketika pers masih menjadi salah satu medan penting bagi perdebatan gagasan di kalangan masyarakat Arab di Hindia Belanda, Surabaya tumbuh sebagai salah satu pusat penerbitan dan pertukaran pemikiran yang ramai. Sebuah berita dalam pers berbahasa Belanda mencatat munculnya rencana penerbitan majalah berbahasa Arab bernama Addalil, yang berarti “Sang Penunjuk” atau “Pedoman”. Majalah ini hendak diterbitkan oleh kalangan Al-Irsyad di Surabaya dan direncanakan terbit setiap dua minggu, dengan nomor perdana pada 15 November.

Kemunculan Addalil tidak dapat dilepaskan dari suasana perdebatan intelektual dan organisasi di kalangan masyarakat Arab pada masa itu. Di Surabaya sebelumnya telah terbit Hadramaut, yang dalam berita tersebut disebut sebagai penerbitan dari kalangan Sayid. Pers berbahasa Belanda itu secara terang menggambarkan hubungan antara kelompok Al-Irsyad dan kelompok Sayid sebagai hubungan yang tidak sehaluan. Karena itu, Addalil bukan sekadar hendak menjadi bacaan baru, tetapi juga dimaksudkan sebagai sarana menyampaikan pandangan Al-Irsyad kepada masyarakat Arab, sekaligus menjadi media dalam pergulatan gagasan yang sedang berlangsung.

Yang menarik, pilihan nama Addalil sendiri menyiratkan cita-cita sebuah media yang hendak memberikan arah. Melalui bahasa Arab, bahasa yang dekat dengan tradisi intelektual dan keagamaan masyarakat Hadrami, para pengelolanya ingin menjangkau pembaca mereka sendiri dengan gagasan yang mereka yakini. Redaksinya dipercayakan kepada Oesman Makarim dan Cen Bawajir, dua nama yang tercatat dalam berita sebagai orang-orang di balik penerbitan tersebut.

Catatan kecil dari Surabaya ini memperlihatkan bahwa sejarah Al-Irsyad tidak hanya berlangsung di ruang sekolah, masjid, dan perkumpulan, tetapi juga di halaman-halaman surat kabar dan majalah. Di tengah masyarakat kolonial yang beragam, pers menjadi ruang untuk menyampaikan pikiran, membentuk kesadaran, dan memperdebatkan arah masa depan komunitas. Addalil dengan demikian merupakan salah satu jejak penting dari tradisi literasi Al-Irsyad—ketika pena dan percetakan digunakan untuk membawa gagasan dari ruang pertemuan menuju khalayak yang lebih luas.

Bogor, 28 September 2026
Abdullah Abubakar Batarfie 

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 

Posting Komentar untuk "Addalil, Suara Al-Irsyad dari Surabaya"