Jejak bangsa Pakistan & India Untuk Kemerdekaan di Kota Bogor


“Bangsa India di Kota Bogor 100% Berdiri di Belakang Pemerintah Republik Indonesia”

Ada kalanya sejarah datang kepada kita bukan melalui buku-buku tebal atau monumen yang berdiri megah, melainkan melalui selembar koran tua yang kertasnya telah menguning dimakan usia. Tulisan-tulisannya mungkin sudah tidak lagi menggunakan ejaan yang kita kenal sekarang, sebagian hurufnya mulai kabur, tetapi di antara baris-baris yang renta itu tersimpan suara manusia dari sebuah zaman yang pernah bergolak.

Salah satu suara itu datang dari Kota Bogor.

Sebuah berita lama memuat judul yang sangat tegas: “Bangsa India di kota Bogor 100% berdiri di belakang Pemerintah Republik Indonesia.” Judul tersebut bukan sekadar berita biasa. Di bawahnya terdapat sebuah pernyataan yang bahkan lebih kuat: “Kita beroetang boedi kepada bangsa Indonesia, dan haroes siap sedia, kalau perlu mengeloearkan darah oentoek membantu bangsa Indonesia.”

Pernyataan itu disampaikan oleh Toean Moetoe, yang disebut sebagai Ketua Perserikatan Bangsa India di Bogor.

Membaca kalimat tersebut hari ini, 81 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, kita seakan dibawa kembali ke Bogor pada hari-hari pertama Republik. Saat itu Indonesia memang telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tetapi kemerdekaan itu belum menjadi sesuatu yang aman untuk dinikmati. Republik yang masih sangat muda sedang berusaha membangun pemerintahan, menyusun kekuatan, dan mempertahankan kewibawaannya di tengah ancaman kembalinya kekuasaan kolonial.

Dalam suasana seperti itulah, pada suatu sore yang dicatat dalam berita tersebut, berlangsung pertemuan di Kota Bogor yang dipimpin oleh Toean Moetoe. Hadir di antaranya Pt. Rd. Odang, Wali Kota Bogor, pengurus Komite Nasional Indonesia Kota Bogor, serta wakil pers. Pertemuan itu disebut sebagai pertemuan pertama yang berlangsung di bawah pengawasan Pemerintah Republik Indonesia.

Bagi sebuah kota seperti Bogor, yang sejak masa kolonial telah menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa dan kebudayaan, peristiwa tersebut tentu mempunyai arti tersendiri. Di kota yang tidak jauh dari Batavia itu, sebuah komunitas yang disebut sebagai “bangsa India” menyatakan sikapnya terhadap Republik yang baru lahir.

Toean Moetoe menyampaikan penerimaan atas kedatangan pemerintahan Republik Indonesia. Ia menyatakan terima kasih atas penghormatan dan perlindungan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat India. Tetapi yang paling menarik adalah pernyataan mengenai kesediaan untuk membantu Republik Indonesia, bahkan jika diperlukan dengan mengorbankan darah.

Kalimat itu menjadi penting karena ia lahir bukan pada masa ketika kemerdekaan sudah mapan. Ia lahir ketika masa depan Indonesia sendiri masih penuh ketidakpastian.

Dalam pertemuan itu perjuangan Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru dan para pejuang India lainnya juga disebut-sebut. Perjuangan bangsa India menuju kemerdekaan dipertautkan dengan perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Kemudian muncul sebuah seruan yang sederhana tetapi memiliki makna besar: “India Merdeka, Indonesia tetap Merdeka.”

Setelah pidato-pidato itu, pertemuan ditutup dengan doa kepada Allah SWT agar Indonesia semakin kokoh berdiri sebagai negara merdeka.

Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa tersebut. Pada tahun 1945, ketika berita ini ditulis, sebenarnya belum ada negara Pakistan seperti yang kita kenal sekarang. Istilah “bangsa India” pada masa itu harus dibaca dalam konteks zamannya. India dan Pakistan masih berada dalam satu kesatuan politik yang berada di bawah kekuasaan Britania Raya, yang lazim disebut British India.

Di tengah pergolakan revolusi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, terselip pula kisah Allahdad Khan, seorang putera Peshawar yang pada masa itu telah menetap di Bogor. Kedekatannya dengan para prajurit Muslim dalam British Army, yang sebagian besar berasal dari wilayah yang kelak menjadi Pakistan, menjadikan kediamannya seperti tempat persinggahan yang akrab bagi mereka. Menurut kisah yang disampaikan Mahmud Khan, putera tertuanya, kepada penulis, hampir setiap malam para prajurit Muslim Inggris tersebut kerap bertandang ke kediaman Allahdad Khan. Mereka menaruh hormat kepadanya, dan dari pergaulan serta percakapan itulah Allahdad Khan disebut turut memberikan pengaruh kepada mereka agar bersimpati kepada perjuangan bangsa Indonesia dan membantu para pejuang Republik. Bahkan pada siang hari, para serdadu itu kadang datang lengkap dengan kendaraan perang mereka. Bagi Mahmud kecil dan kawan-kawannya, kehadiran kendaraan-kendaraan militer itu tentu menjadi pemandangan yang luar biasa; mereka bahkan sempat menaikinya, sebuah pengalaman masa kanak-kanak yang puluhan tahun kemudian tetap hidup sebagai kenangan. Di balik kenangan sederhana itu tersimpan kisah yang lebih besar: bahwa pada masa revolusi, hubungan antarmanusia, persaudaraan sesama Muslim, dan kedekatan seorang pendatang dengan para prajurit dari tanah yang jauh dapat menjadi jembatan yang mempertemukan mereka dengan perjuangan rakyat Indonesia yang sedang mempertahankan kemerdekaannya.

Karena itu, istilah Indian dalam dokumen dan surat kabar tahun 1945 tidak dapat begitu saja disamakan dengan kewarganegaraan India dalam pengertian sekarang. Orang-orang yang disebut sebagai bangsa India pada masa itu dapat berasal dari wilayah yang hari ini menjadi Republik India, tetapi dapat pula berasal dari wilayah yang dua tahun kemudian menjadi bagian dari Pakistan.

Termasuk wilayah North-West Frontier Province atau NWFP, yang sekarang dikenal sebagai Khyber Pakhtunkhwa, dengan Peshawar sebagai salah satu kota terpentingnya.

Dunia kemudian berubah dengan cepat. Pada 1947 British India berakhir. India dan Pakistan lahir sebagai dua negara merdeka. Pakistan berdiri pada 14 Agustus 1947, sedangkan India merdeka pada 15 Agustus 1947. Sebuah pembagian besar yang dikenal sebagai Partition of India mengubah batas-batas politik, kewarganegaraan, dan kehidupan jutaan manusia.

Orang-orang yang pada tahun 1945 masih sama-sama disebut Indian, dalam perjalanan sejarah berikutnya dapat menjadi warga negara India atau Pakistan, tergantung daerah asal dan perjalanan masing-masing.

Karena itu, ketika kita membaca berita mengenai “Bangsa India di Kota Bogor” pada tahun 1945, kita tidak boleh terburu-buru membayangkan bahwa semuanya adalah orang India dalam pengertian negara modern. Bisa saja di antara mereka terdapat orang-orang yang berasal dari wilayah yang kelak menjadi Pakistan. Namun kemungkinan tersebut tentu masih memerlukan pembuktian melalui penelitian arsip.

Justru di sinilah kliping tua itu menjadi menarik.

Ia bukan hanya menceritakan sebuah pertemuan. Ia membuka pintu untuk menelusuri sejarah diaspora Asia Selatan di Bogor. Siapakah Toean Moetoe? Dari mana asalnya? Siapakah Toean Asik, Mhd. Noer, Aminoedin, Moetjan, Abdoelkadir, Soeltan, Madjid, Abdoel Aziz dan Ahmad Wapoe yang disebut dalam susunan Perserikatan Bangsa India di Bogor? Apakah mereka datang dari Bombay, Madras, Punjab, Sindh, Bengal, atau mungkin dari wilayah yang kini menjadi Pakistan? Bagaimana mereka sampai ke Hindia Belanda? Dan bagaimana perjalanan hidup mereka setelah dunia politik Asia Selatan berubah pada 1947?





Abdul Kadir

Pertanyaan-pertanyaan itu belum semuanya mempunyai jawaban. Tetapi sejarah memang sering dimulai dari pertanyaan yang ditemukan di antara dokumen-dokumen lama.

Yang jelas, berita tersebut memperlihatkan bahwa komunitas India di Bogor bukan sekadar kelompok pendatang yang hidup tanpa hubungan dengan masyarakat sekitarnya. Mereka memiliki organisasi, kepengurusan, hubungan dengan tokoh pemerintahan dan kesadaran terhadap perkembangan politik di sekeliling mereka. Mereka hadir sebagai bagian dari masyarakat Bogor.

Dan ketika Republik Indonesia berdiri, mereka memilih untuk menyatakan dukungan.

Di sini kita menemukan sisi lain dari sejarah kemerdekaan Indonesia yang mungkin selama ini kurang mendapat perhatian. Sejarah kemerdekaan bukan hanya kisah tentang orang-orang yang lahir dari satu suku, satu daerah atau satu asal-usul. Republik Indonesia sejak awal hidup di tengah masyarakat yang beragam. Ada orang Jawa, Sunda, Melayu, Arab, Tionghoa, India dan berbagai komunitas lainnya. Sebagian telah berabad-abad hidup di Nusantara, sebagian lainnya datang kemudian dan membangun kehidupan baru di negeri ini.

Tetapi pada saat kemerdekaan dipertaruhkan, yang menentukan bukan semata-mata dari mana seseorang berasal, melainkan di mana ia memilih untuk berdiri.

Dan di Bogor pada masa awal Republik itu, sebuah komunitas yang disebut “bangsa India” telah menyatakan pilihannya.

Mereka mengatakan berdiri “100%” di belakang Pemerintah Republik Indonesia.

Lebih jauh lagi, mereka menyatakan kesediaan, jika diperlukan, untuk mengeluarkan darah demi membantu bangsa Indonesia.

Kalimat tersebut patut direnungkan kembali pada peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Sebab kita sering memandang kemerdekaan hanya dari tanggal 17 Agustus 1945, seolah-olah pada hari itu seluruh persoalan bangsa telah selesai. Padahal sesungguhnya Proklamasi adalah awal dari perjalanan panjang. Republik masih harus dipertahankan. Pemerintah harus dibangun. Rakyat harus diyakinkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar kata yang tertulis dalam teks proklamasi.

Dalam keadaan seperti itulah dukungan dari berbagai lapisan masyarakat menjadi penting.

Maka sebuah pernyataan dari komunitas India di Bogor pada 1945 sesungguhnya merupakan bagian kecil dari mosaik besar sejarah Republik.

Dan mungkin ada ironi sejarah yang menarik di baliknya. Ketika mereka mengucapkan “India Merdeka, Indonesia tetap Merdeka”, India sendiri belum menjadi negara merdeka dan Pakistan belum lahir. Mereka berbicara tentang dua cita-cita kemerdekaan dalam sebuah dunia yang masih dikuasai kolonialisme.

Dua tahun kemudian, India dan Pakistan benar-benar lahir sebagai negara.

Tetapi bagi sejarah Indonesia, ucapan mereka pada 1945 telah lebih dahulu menjadi catatan.

Di sebuah kota bernama Bogor, sebelum dunia Asia Selatan berubah oleh Partition, mereka pernah berdiri bersama Republik Indonesia.

Karena itu, selembar koran tua ini tidak semestinya hanya dipandang sebagai benda koleksi. Ia adalah sebuah kesaksian. Kesaksian tentang orang-orang yang mungkin namanya tidak lagi dikenal oleh generasi sekarang, tetapi pernah mengambil sikap pada saat sejarah sedang menentukan arah bangsa.

Mungkin kita tidak lagi mengetahui di mana mereka dimakamkan. Mungkin keturunan mereka telah menyebar ke berbagai tempat. Mungkin sebagian keluarganya kemudian menjadi warga India dan sebagian lainnya menjadi warga Pakistan. Bahkan mungkin ada di antara mereka yang keluarganya telah sepenuhnya melebur menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

Namun satu hal telah dicatat oleh sejarah: pada masa awal berdirinya Republik, mereka pernah mengatakan bahwa mereka berdiri bersama Indonesia.

Delapan puluh satu tahun kemudian, kalimat itu kembali menemukan maknanya.

17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2026.

Indonesia telah melewati perjalanan panjang. Generasi telah berganti. Kota Bogor telah berubah. Bangunan-bangunan lama sebagian telah hilang, jalan-jalan telah berganti wajah, dan nama-nama yang dahulu akrab di telinga masyarakat mungkin telah dilupakan.

Tetapi sebuah koran tua masih menyimpan suara mereka.

Suara Toean Moetoe dan komunitas bangsa India di Bogor yang pernah berkata:

“Kita berutang budi kepada bangsa Indonesia, dan harus siap sedia, kalau perlu mengeluarkan darah untuk membantu bangsa Indonesia.”

Dan kemudian: “India Merdeka, Indonesia tetap Merdeka.”

Barangkali inilah salah satu wajah Indonesia yang sesungguhnya: sebuah negeri yang sejak kelahirannya tidak hanya dihuni oleh mereka yang memiliki akar leluhur yang sama, tetapi juga oleh manusia-manusia dari berbagai penjuru dunia yang kemudian memilih Indonesia sebagai tempat hidup, tempat mencari penghidupan, dan pada suatu ketika, memilih pula untuk berdiri membela kemerdekaannya.

Dirgahayu Republik Indonesia.

81 tahun merdeka, dan sejarah masih terus menemukan kembali suara-suara yang pernah ikut menjaganya.

Bogor, 10 Agustus 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Posting Komentar untuk "Jejak bangsa Pakistan & India Untuk Kemerdekaan di Kota Bogor"