Masjid Empang dan Kongres Al-Islam Kedelapan di Buitenzorg, Desember 1926.
Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Indonesia berdasarkan sumber-sumber sezaman.
Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar — Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, Semarang, Jumat, 10 Desember 1926, No. 201. Surat kabar yang terbit di kota Semarang ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda serta memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.
Het Achtste Al-Islam-congres
(Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, Semarang, Jumat, 10 Desember 1926, No. 201)
Het congres van de S.I. te Buitenzorg, gehouden van 1—6 December behoort weer tot het verleden. Maakte de Resident vóór den aanvang van deze conferentie bekend, dat in het grooter aantal inlanders op straat in de komende dagen niets verontrustends moest worden gezien,— dit is wel overbodig gebleken daar het niemand is opgevallen, dat er iets bijzonders gaande was in de Inlandsche wereld.
We hebben op de openbare vergaderingen die 's avonds in het voormalige gebouw van den Royal-Standard Bioscoop werden gehouden, een paar maal een kijkje genomen.
De leiding was bij den voorzitter der afdeeling Bogor: Joesoef Samah. De groote figuren uit de S.I.: Tjokroaminoto en Hadji Salim, zaten ook achter de bestuurstafel op het podium.
Hadji Salim hoorden we den eersten avond spreken over de „Hadji-organisatie". Hij begon met zijn verbazing uit te spreken over de geringe opkomst. Zijn auditorium bestond uit nog geen honderd personen. Zijn overigens vaak geestige rede kon het gehoor niet pakken, verschillende S.I.-ers zaten te knikkebollen.
In zijn speech zette hij de bekende denkbeelden over het doel der „Hadji-organisatie" uiteen.
Voor die pl.m. 4 millioen die de bedevaartgangers jaarlijks aan de transportmaatschappijen uitgeven, zouden 8 schepen gekocht kunnen worden. En waarom zouden ook de Islamieten niet in de eerste plaats bij hun geloofsgenooten gaan?
Ook Tjokroaminoto, meer demagoog en een spreker die alle trucjes kent van de volksredenaarskunst, kon zijn ietwat talrijker gehoor niet meesleepen. Hij sprak over zijn bezoek aan Mekka en Hadji Mansoer meer speciaal over het aldaar gehouden Islam-Wereldcongres.
Op het program stond ook een openluchtmeeting en een I.S.-padvinderdemonstratie, waartoe het Hoofd van plaatselijk bestuur in deze tijdsomstandigheden geen toestemming meende te moeten verleenen.
In de ochtenduren hadden in besloten kring sectievergaderingen plaats. Aan het einde van het congres werd in de Moskee op Empang een godsdienstoefening gehouden.
Het is wel opmerkenswaard hoe de S.I. in dergelijke bijeenkomsten, in navolging van de Christelijke, het religieuse element naar voren wil brengen. Het congres werd ook geopend met een reciet uit den koran.
Vrijwel onopgemerkt is dit congres te Bogor begonnen en geruischloos is het weer uiteen gegaan.
Kongres Al-Islam Kedelapan
Kongres Sarekat Islam (S.I.) di Buitenzorg yang berlangsung pada 1–6 Desember kini telah menjadi bagian dari masa lalu. Sebelum konferensi dimulai, Residen telah mengumumkan bahwa meningkatnya jumlah pribumi di jalan-jalan selama beberapa hari ke depan tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. Namun, pengumuman itu ternyata tidak diperlukan karena hampir tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ada peristiwa penting yang sedang berlangsung di kalangan masyarakat pribumi.
Kami sempat beberapa kali mengunjungi rapat-rapat umum yang diadakan pada malam hari di bekas gedung Bioskop Royal-Standard.
Sidang dipimpin oleh Ketua Cabang Bogor, Joesoef Samah. Tokoh-tokoh besar Sarekat Islam seperti Tjokroaminoto dan Hadji Salim juga duduk di meja pimpinan di atas podium.
Pada malam pertama, Hadji Salim berbicara mengenai "Organisasi Haji". Ia memulai pidatonya dengan menyatakan keheranannya atas sedikitnya jumlah peserta yang hadir. Audiensnya bahkan tidak mencapai seratus orang. Meskipun pidatonya sering kali jenaka, ia tidak mampu menarik perhatian hadirin; beberapa anggota Sarekat Islam bahkan tampak mengantuk.
Dalam pidatonya, ia menjelaskan gagasan-gagasannya mengenai tujuan "Organisasi Haji". Menurutnya, dari sekitar empat juta gulden yang setiap tahun dibelanjakan para jamaah haji untuk biaya transportasi, sebenarnya dapat dibeli delapan kapal. Ia juga mempertanyakan mengapa umat Islam tidak lebih mengutamakan bekerja sama dengan sesama pemeluk agama mereka.
Tjokroaminoto, yang dikenal sebagai seorang orator ulung dan menguasai berbagai teknik pidato rakyat, juga tidak mampu membangkitkan antusiasme hadirin yang jumlahnya sedikit lebih banyak. Ia berbicara mengenai kunjungannya ke Mekkah, sementara Hadji Mansoer secara khusus membahas Kongres Islam Sedunia yang diselenggarakan di sana.
Dalam program kongres sebenarnya juga direncanakan rapat umum terbuka dan demonstrasi kepanduan Islam, namun pemerintah setempat dalam situasi saat itu tidak memberikan izin.
Pada pagi hari diadakan rapat-rapat tertutup dalam berbagai seksi. Menjelang akhir kongres, sebuah kegiatan keagamaan diselenggarakan di Masjid Empang.
Menarik untuk dicatat bahwa Sarekat Islam, sebagaimana organisasi-organisasi Kristen pada masa itu, berupaya menonjolkan unsur keagamaan dalam pertemuan-pertemuannya. Kongres ini bahkan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an.
Hampir tanpa menarik perhatian, kongres di Bogor ini dimulai dan kemudian berakhir dengan tenang, tanpa gaung yang berarti.
Kongres Al-Islam Kedelapan dan Jejak Masjid Empang dalam Sejarah Sarekat Islam
Surat kabar Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië (Semarang, 10 Desember 1926, No. 201) memuat laporan menarik mengenai penyelenggaraan Kongres Al-Islam Kedelapan yang berlangsung di Buitenzorg pada 1–6 Desember 1926. Kongres ini merupakan salah satu forum penting Sarekat Islam (S.I.), organisasi pergerakan yang pada awal abad ke-20 menjadi wadah kebangkitan politik dan sosial umat Islam di Hindia Belanda.
Laporan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah kolonial mengawasi penyelenggaraan kongres dengan cukup serius. Bahkan, sebelum acara dimulai, Residen Buitenzorg merasa perlu menenangkan masyarakat bahwa berkumpulnya banyak orang pribumi di jalan-jalan bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, menurut pandangan surat kabar tersebut, kongres justru berlangsung tanpa menarik perhatian besar dari masyarakat luas.
Yang menarik bagi sejarah Bogor adalah kehadiran tokoh-tokoh besar pergerakan nasional seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Hadji Agus Salim, dan Hadji Mansoer di Buitenzorg. Mereka membahas berbagai persoalan umat Islam, mulai dari organisasi haji hingga perkembangan dunia Islam internasional setelah berlangsungnya Kongres Islam Sedunia di Mekkah.
Catatan lain yang penting adalah disebutkannya Masjid Empang sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan keagamaan penutup kongres. Hal ini menunjukkan bahwa pada dekade 1920-an, Masjid Empang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah masyarakat Empang dan penduduk Bogor, tetapi juga telah menjadi ruang pertemuan penting bagi gerakan Islam nasional.
Penyelenggaraan ibadah dan pembacaan Al-Qur'an sebagai bagian dari kongres memperlihatkan karakter Sarekat Islam yang berusaha memadukan perjuangan sosial-politik dengan identitas keislaman. Bagi sejarah Bogor, berita ini menjadi bukti bahwa Kampung Empang pernah menjadi salah satu panggung pertemuan tokoh-tokoh besar pergerakan Indonesia.
Pemberitaan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië tentang Kongres Al-Islam Kedelapan di Buitenzorg pada Desember 1926 dapat dibaca sebagai bagian dari cara pandang pers kolonial yang berupaya mengecilkan arti penting Sarekat Islam di mata publik. Dengan menekankan sedikitnya jumlah peserta, menggambarkan hadirin yang mengantuk, serta menyebut kongres berlangsung "tanpa menarik perhatian" dan "berakhir dengan tenang tanpa gaung", surat kabar tersebut secara tidak langsung membangun narasi bahwa pengaruh Sarekat Islam dan para pemimpinnya, seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan Hadji Agus Salim, telah merosot. Padahal, pada masa itu Sarekat Islam masih dipandang pemerintah Hindia Belanda sebagai salah satu gerakan politik Islam yang memiliki kemampuan menggalang massa dan membangkitkan kesadaran politik bumiputra. Karena itulah, pemberitaan semacam ini dapat dipahami sebagai bagian dari propaganda kolonial yang berusaha mereduksi wibawa dan pengaruh Sarekat Islam, sekaligus menegaskan pesan bahwa gerakan tersebut tidak lagi menjadi ancaman bagi keberlangsungan kekuasaan Belanda di Hindia.
Meski oleh pers kolonial kongres ini dianggap berlangsung "tanpa gaung", jejaknya justru memperlihatkan pentingnya Buitenzorg sebagai salah satu simpul pergerakan Islam dan nasionalisme Indonesia pada masa kolonial.
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.



Posting Komentar untuk "Masjid Empang dan Kongres Al-Islam Kedelapan di Buitenzorg, Desember 1926."
Posting Komentar