Dari Pekalongan untuk Umat: Lahirnya Armenzorg Al-Irsyad
Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Indonesia berdasarkan sumber-sumber sezaman.
Pekalongan.
AL-IRSJAD-ARMENZORG.
Op den zeventienden Augustus jongstleden vergaderde de Al-Irsjad-vereeniging te Pekalongan in haar clubhuis ter plaatse.
Hoofdschotel van deze vergadering was de oprichting van een Armenzorg-vereeniging onder auspiciƫn van de Al-Irsjad, daar vele klachten over onvoldoende armenzorg binnen waren gekomen.
In het Armenzorg-bestuur namen zitting de volgende heeren:
Sd. Moh. Asjeblie, voorzitter;
Sd. Achmad Basjemleh, vice-voorzitter;
Moh. Assoelaiman, eerste secretaris;
Salimin Shak, tweede secretaris;
Achmad Batog, penningmeester;
M. Baladram en Obed Jacoeb, commissarissen.
Pekalongan
AL-IRSJAD – LEMBAGA PEMELIHARAAN KAUM MISKIN
Pada 17 Agustus yang lalu, Perhimpunan Al-Irsjad Pekalongan mengadakan rapat di gedung perkumpulannya di kota tersebut.
Pokok utama pembahasan dalam rapat itu adalah pembentukan sebuah perkumpulan pemeliharaan kaum miskin (Armenzorg) di bawah naungan Al-Irsjad. Langkah ini diambil karena telah banyak diterima keluhan mengenai belum memadainya pelayanan dan bantuan bagi kaum fakir miskin.
Susunan pengurus lembaga pemeliharaan kaum miskin tersebut adalah sebagai berikut:
- Sd. Moh. Asjeblie sebagai Ketua.
- Sd. Achmad Basjemleh sebagai Wakil Ketua.
- Moh. Assoelaiman sebagai Sekretaris I.
- Salimin Shak sebagai Sekretaris II.
- Achmad Batog sebagai Bendahara.
- M. Baladram dan Obed Jacoeb sebagai Komisaris.
Berita yang dimuat dalam Het Algemeen Handelsblad, Derde Blad, edisi Selasa, 22 Agustus 1939, memberikan gambaran penting mengenai kiprah sosial Al-Irsjad Pekalongan menjelang pecahnya Perang Dunia II. Melalui rapat yang diselenggarakan pada 17 Agustus 1939, Al-Irsjad Pekalongan memutuskan untuk membentuk sebuah Armenzorg Vereeniging, yaitu lembaga yang secara khusus bertugas mengelola pelayanan sosial bagi fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan. Dalam sistem organisasi sosial di Hindia Belanda, istilah Armenzorg tidak sekadar berarti "pemeliharaan orang miskin", melainkan menunjuk pada sebuah badan amal yang memiliki kepengurusan, administrasi, dan program kerja yang teratur. Pembentukan lembaga ini menunjukkan bahwa Al-Irsjad telah mengembangkan konsep dakwah yang tidak berhenti pada pendidikan dan penyebaran ilmu agama, tetapi juga diwujudkan melalui pelayanan sosial yang terorganisasi sebagai bentuk nyata ajaran Islam tentang kepedulian terhadap kaum lemah.
Keputusan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan kelanjutan dari tradisi filantropi yang telah tumbuh di lingkungan Al-Irsjad sejak masa awal berdirinya. Setelah organisasi Al-Irsjad Al-Islamiyyah didirikan di Batavia pada 6 September 1914, cabang-cabangnya segera berkembang ke berbagai kota di Pulau Jawa. Pekalongan menjadi cabang kedua Al-Irsjad setelah Tegal, dan secara resmi berdiri pada 20 November 1917. Sejak awal, Pekalongan berkembang sebagai salah satu pusat terpenting Al-Irsjad karena kota ini merupakan pusat perdagangan, industri batik, sekaligus tempat bermukimnya komunitas Arab dan pribumi yang dinamis. Di kota inilah gagasan pembaruan pendidikan Islam yang diperkenalkan oleh Syaikh Ahmad Surkati memperoleh sambutan luas.
Sebagaimana cabang-cabang Al-Irsjad lainnya, Pekalongan tidak hanya mendirikan sekolah modern yang memadukan pelajaran agama dan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga membangun kehidupan sosial masyarakat melalui berbagai kegiatan kemanusiaan. Pembentukan Armenzorg pada tahun 1939 memperlihatkan bahwa kepedulian sosial telah menjadi bagian integral dari misi organisasi. Langkah ini juga menunjukkan adanya kesadaran bahwa dakwah Islam harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat, terutama kepada kelompok miskin dan rentan. Dengan demikian, pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Susunan pengurus yang diberitakan—terdiri atas Moh. Asjeblie, Achmad Basjemleh, Moh. Assoelaiman, Salimin Shak, Achmad Batog, M. Baladram, dan Obed Jacoeb—juga memperlihatkan bagaimana tokoh-tokoh lokal Al-Irsjad mengambil peran aktif dalam mengorganisasi kegiatan sosial masyarakat. Hal ini mencerminkan kuatnya tradisi gotong royong dan tanggung jawab kolektif yang berkembang di lingkungan Al-Irsjad pada akhir masa kolonial.
Berita ini sekaligus memperlihatkan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, Al-Irsjad telah mempraktikkan konsep pelayanan sosial berbasis masyarakat (community-based social welfare). Melalui lembaga seperti Armenzorg, Al-Irsjad berupaya menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan kemiskinan dan kesejahteraan umat. Inisiatif tersebut menjadi bukti bahwa gerakan pembaruan Islam yang dirintis Syaikh Ahmad Surkati bukan hanya bertujuan mencerdaskan umat melalui pendidikan modern dan memurnikan ajaran Islam, tetapi juga membangun masyarakat yang berkeadilan, berempati, dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.
Sumber: Het Algemeen Handelsblad, Derde Blad, Selasa, 22 Agustus 1939.
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.



Posting Komentar untuk "Dari Pekalongan untuk Umat: Lahirnya Armenzorg Al-Irsyad"
Posting Komentar