Dari Pekalongan untuk Pendidikan Indonesia: Sekolah Al-Irsyad sebagai Ruang Tumbuhnya Gagasan Kebangsaan

gambar ilustrasi

Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Indonesia berdasarkan sumber-sumber sezaman.

Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar — De Locomotief, Vrijdag 11 Juni 1948, Jaargang No. 233. Surat kabar yang terbit di Batavia ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.


PEKALONGAN
Onderwijzersbond

Op 4 Juni j.l. hield de Persatoean Goeroe Indonesia (Ind. Onderwijzersbond) in het gebouw van de Sekolah Al-Irsjad een vergadering, welke werd voorgezeten door den heer Soewondo. Meer dan twee derde der bondsleden was aanwezig.

Ter vergadering werd besloten, dat binnenkort aangevangen zal worden met het geven van kunstavonden voor de bevolking.

Tevens werd besloten een voorstel, betreffende de verbetering van de positie der onderwijzers, in te dienen, alsook het voorstel tot de oprichting van een particuliere school.

De Nederlandsche taal zal op de Sekolah Ra'jat niet onderwezen worden, maar op de vervolgschool zal zij als vak worden aangemerkt.

Sumber:

De Locomotief, Vrijdag 11 Juni 1948, Jaargang No. 233.

Terjemahan bahasa Indonesia

PEKALONGAN

Persatuan Guru Indonesia

Pada 4 Juni yang lalu, Persatoean Goeroe Indonesia (PGI) atau Persatuan Guru Indonesia, mengadakan rapat di gedung Sekolah Al-Irsjad. Rapat tersebut dipimpin oleh Soewondo dan dihadiri oleh lebih dari dua pertiga anggota organisasi.

Dalam rapat itu diputuskan bahwa dalam waktu dekat akan mulai diselenggarakan malam-malam kesenian bagi masyarakat.

Selain itu, rapat juga memutuskan untuk mengajukan usulan mengenai perbaikan kedudukan dan kesejahteraan para guru, serta usul pendirian sebuah sekolah swasta.

Mengenai bahasa pengantar, diputuskan bahwa bahasa Belanda tidak akan diajarkan di Sekolah Rakyat, namun di sekolah lanjutan bahasa Belanda tetap akan diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran.

Sumber: De Locomotief, Jumat, 11 Juni 1948, Jaargang No. 233

Catatan Historis

Berita yang dimuat dalam De Locomotief edisi 11 Juni 1948 memperlihatkan bahwa Gedung Sekolah Al-Irsjad Pekalongan pada masa awal Revolusi Kemerdekaan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi ruang publik bagi berbagai organisasi masyarakat. Salah satunya adalah Persatoean Goeroe Indonesia (PGI), organisasi profesi guru yang memperjuangkan peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik pada masa Republik Indonesia yang baru berdiri.

Pemilihan gedung Sekolah Al-Irsjad sebagai tempat rapat menunjukkan bahwa sekolah-sekolah Al-Irsjad telah memiliki posisi penting di tengah masyarakat Pekalongan. Sejak berdirinya cabang Al-Irsjad di Pekalongan pada 20 November 1917, lembaga ini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam modern yang terbuka bagi berbagai kegiatan intelektual dan kemasyarakatan. Sekolah Al-Irsjad tidak hanya mencetak peserta didik, tetapi juga menjadi tempat bertemunya tokoh pendidikan, organisasi profesi, dan masyarakat dalam membicarakan masa depan bangsa.

Keputusan untuk menyelenggarakan malam kesenian memperlihatkan bahwa dunia pendidikan saat itu dipandang tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun kehidupan budaya masyarakat. Sementara itu, usulan mengenai perbaikan kedudukan guru mencerminkan kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan nasional sangat bergantung pada penghargaan terhadap profesi guru. Di tengah situasi politik dan ekonomi yang belum stabil akibat Agresi Militer Belanda, perhatian terhadap kesejahteraan guru menjadi agenda penting dalam pembangunan negara yang baru merdeka.

Menarik pula dicermati keputusan mengenai pengajaran bahasa Belanda. Setelah Indonesia merdeka, bahasa Belanda tidak lagi dijadikan mata pelajaran di Sekolah Rakyat, sebagai bagian dari upaya melepaskan warisan sistem pendidikan kolonial dan memperkuat penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Namun, pada tingkat sekolah lanjutan, bahasa Belanda tetap diajarkan sebagai mata pelajaran karena pada masa itu banyak literatur ilmiah, buku pelajaran, dan referensi pendidikan masih menggunakan bahasa Belanda. Kebijakan ini menunjukkan sikap yang pragmatis: meninggalkan dominasi kolonial dalam pendidikan, tetapi tetap memanfaatkan penguasaan bahasa Belanda sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan.

Berita ini juga memperlihatkan bahwa Al-Irsjad tetap konsisten menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan yang terbuka bagi kepentingan masyarakat luas. Gedung sekolahnya menjadi ruang dialog bagi organisasi profesi, memperkuat hubungan antara pendidikan, kebudayaan, dan perjuangan membangun bangsa. Dengan demikian, arsip ini menjadi bukti bahwa kontribusi Al-Irsjad pada masa awal kemerdekaan tidak hanya terbatas pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga pada pembentukan kehidupan intelektual dan sosial masyarakat Indonesia.

Sumber arsip: De Locomotief, Jumat, 11 Juni 1948, Jaargang No. 233.

Bogor, 12 Juli 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Posting Komentar untuk "Dari Pekalongan untuk Pendidikan Indonesia: Sekolah Al-Irsyad sebagai Ruang Tumbuhnya Gagasan Kebangsaan"