KENAPA, AL-IRSYAD

Karakter ideologi Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah adalah wasathiyah, jalan tengah yang moderat. Watak ini bukan sekadar konsep, melainkan cerminan dari pandangan sang pendiri utamanya, Syaikh Ahmad Surkati, serta diwariskan oleh para muridnya dalam perjalanan panjang organisasi ini.

Barangkali ada yang bertanya, mengapa saya terus menulis tentang Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, seakan tak pernah bosan dan lelah?

Perlu saya tegaskan, bahwa sebuah organisasi, termasuk Al-Irsyad, pada hakikatnya hanyalah wadah. Ia adalah sarana untuk meniti jalan menuju keridhaan Allah SWT. Setiap organisasi Islam membawa semangat yang sama: menyampaikan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, meskipun dengan corak pemahaman, pendekatan, dan manhaj yang beragam.

Demikian pula Al-Irsyad Al-Islamiyyah, yang sejak awal berdirinya telah memiliki pijakan pemikiran yang dirumuskan oleh para pendirinya. Sebagaimana Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), maupun Persis, yang dalam praktik keagamaan memiliki banyak kesamaan, namun tetap menyimpan kekhasan masing-masing, semua itu merupakan hasil ijtihad para ulama dan pendirinya. Bahkan dalam sejarahnya, para tokoh pendiri dari organisasi-organisasi Islam tersebut, pernah menimba ilmu dari guru yang sama, KH. Ahmad Dahlan dan Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari, menimba ilmu di Makkah pada guru yang sama, terutama berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabawi, di Makkah, lalu terjalinnya persahabatan yang erat diantara mereka, akan tetapi perbedaan bukanlah jurang, melainkan khazanah.

Mereka dijalan yang sama, akan tetapi memiliki kekhasan dan fokus di bidangnya masing-masing.

Dalam tubuh sebuah organisasi pergerakan, kaderisasi adalah keniscayaan. Dari sanalah lahir pemimpin-pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan memimpin, tetapi juga berkarakter dan berintegritas. Sebab, hidup dan matinya sebuah organisasi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinannya.

Seorang pemimpin, lebih dari sekadar ketua, harus memiliki visi yang jernih dan misi yang menenteramkan. Ia dituntut mampu dan berkepentingan menumbuhkan suasana damai, merawat ukhuwah, solidaritas, serta menjaga soliditas di tengah komunitasnya atau anggotanya. Jangan sampai keputusan yang diambil, sadar atau tidak, justru menjadi pemantik perpecahan.

Kepemimpinan menuntut hikmah, keluasan ilmu, kejernihan hati, dan kebijaksanaan dalam bertindak. Dalam setiap gejolak, konflik, atau kegaduhan di dalam organisasi, peran pemimpin menjadi sangat menentukan. Sebuah ungkapan bijak mengingatkan kita;

Kama takuunu yuwalla ‘alaikum ; “Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan memimpin kalian.”

Memimpin organisasi, terlebih yang memiliki potensi konflik, bukanlah perkara ringan. Ia menuntut kehati-hatian, kedewasaan, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah.

Di tengah perubahan zaman dan bergesernya standar nilai, bahkan dalam lingkungan organisasi Islam sekalipun, tak jarang muncul praktik-praktik yang mengkhawatirkan: *ambisi kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan dan penyesatan* Sebuah syair Arab patut menjadi cermin renungan:

فالبهت عندكم رخيص سعره
حثوا بلا كيل ولا ميزان

“Di sisi kalian, dusta menjadi begitu murah harganya,dihamburkan tanpa takaran dan timbangan.”

Maka, kita akan dan wajib terus berdoa dan berikhtiar, semoga Al-Irsyad senantiasa dijaga dari segala bentuk perpecahan dan fitnah yang merusak persatuan!

Mari kita jadikan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah di seluruh cabangnya, sebagai rumah besar bersama bagi kemaslahatan Irsyadiyyin. Rumah yang hangat untuk bersilaturahim, tempat bertukar pikiran, berdiskusi serta ruang yang sehat untuk merawat kepedulian terhadap umat.

Undzur ma qola wala tandzur man qola.

Pekalongan, 28 Maret 2026
Awod Maretan

Sebuah tanggapan dari para sahabat dan aktivis;

Almahbub Hamid Abud Attamimi
"...Seorang pemimpin lebih dari sekadar ketua, harus memiliki visi yang jernih dan misi yang menenteramkan.Ia dituntut mampu dan berkepentingan menumbuhkan suasana damai, merawat ukhuwah, solidaritas, serta menjaga soliditas di 
tengah komunitasnya atau anggotanya.." (Awod Maretan, 'Kenapa, Al-Irsyad')
Organisasi memang mensyaratkan punya anggota, selain adanya Peraturan serta tujuan yang sejak awal disepakati, tetapi Figur Ketua atau Pemimpin tetap amat sangat menentukan.

Awod Maretan bukan orang kemaren sore di Al-Irsyad, ia telah banyak makan asam garam, dan bergaul dengan banyak aktifis di banyak Cabang Al-Irsyad, maka pengetahuan dan pengalamannya itulah yang membersamai dia sehingga amat peka pada masalah Kepemimpinan di Al-Irsyad.
Sebesar apapun Organisasi, tanpa Kepemimpinan yang utuh dan kuat, apalagi jika punya misi lain atau dikendalikan oleh rulling class, atau segelintir orang yang memanjakan naluri atau syahwat kekuasaannya, kehancuran tinggal menanti saatnya.....(Hamid Abud Attamimi)
Abdullah Abubakar Batarfie
Menjaga Rumah Bersama: Menafsir Ulang Wasathiyah dan Kepemimpinan dalam Cermin Nasihat almahbub Awod Maretan
Tanggapan atas tulisan almahbub Awod Maretan ini pada dasarnya bukan sekadar apresiasi, melainkan juga ikhtiar untuk merawat napas panjang pemikiran yang beliau suguhkan, tenang, jernih, namun mengandung kegelisahan yang dalam terhadap arah perjalanan jam’iyyah.

Tulisan almahbub Awod Maretan menghadirkan kembali satu kata kunci yang sejak awal menjadi ruh Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah ; wasathiyah. Bukan sekadar jargon, tetapi jalan hidup yang diwariskan oleh Syaikh Ahmad Surkati, jalan tengah yang tidak hanya berdiri di antara dua kutub, melainkan mampu merangkul keduanya tanpa kehilangan prinsip.

Dalam hal ini, almahbub Awod Maretan dengan tepat mengingatkan bahwa organisasi hanyalah wadah. Ia bukan tujuan, melainkan perahu. Dan seperti perahu, ia akan selamat atau karam bukan semata karena besar kecilnya, tetapi karena bagaimana ia dikemudikan, dan ke mana ia diarahkan.

Pada bagian yang menyinggung hubungan antar organisasi Islam, uraian almahbub Awod Maretan menjadi semakin kaya jika kita ingat satu fragmen penting dalam sejarah: bagaimana Syaikh Ahmad Surkati, sebagai tokoh pembaharu, tetap mengedepankan ukhuwah Islamiyyah.

Ia tidak membangun tembok, tetapi jembatan. Pada tahun 1929 di Surabaya, beliau bahkan memfasilitasi forum diskusi yang mempertemukan kalangan ulama reformis dan tradisional. Di forum itulah ia bertemu dengan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), seorang ulama besar yang sangat dihormati.

Dan betapa indah adab itu tercermin ketika Syaikh Surkati berkata tentang beliau: "bahwa dalam diri KH. Hasyim tampak kezuhudan, dan keluasan pemahaman dalam mazhab Syafi’i". Sebuah pengakuan yang lahir bukan dari kesamaan pandangan, tetapi dari kejernihan hati.

Di titik ini, almahbub Awod Maretan seakan sedang mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak pernah menjadi masalah utama, tapi cara kita menyikapinyalah yang menentukan apakah ia menjadi rahmat atau musibah.

Namun, kegelisahan utama almahbub Awod Maretan tampaknya terletak pada soal kepemimpinan. Dan memang, di sinilah simpul paling menentukan dari hidup matinya sebuah organisasi.

Sebagaimana ditegaskan oleh almahbub Awod Maretan ; memimpin organisasi, terlebih yang memiliki potensi konflik, bukanlah perkara ringan. Ia bukan sekadar soal kecakapan administratif, tetapi tentang kebijaksanaan dalam merangkul, keadilan dalam memutuskan, dan kejernihan dalam membaca keadaan.

Di sinilah sebuah analogi menjadi penting. Seorang pemimpin ibarat penata taman. Ia tidak boleh hanya menyiram satu pohon lalu membiarkan yang lain mengering. Ia tidak boleh pula menanam pohon baru di tempat yang sama, dengan jenis yang sama, hanya karena merasa itu baik tanpa mempertimbangkan harmoni keseluruhan taman.

Sebab kebijakan yang tampak “baik” namun hanya mengakomodir satu pihak atau satu figur, pada akhirnya justru melahirkan kesan dualisme. Misalnya, membangun lembaga pendidikan baru di wilayah kerja yang sama, dengan bidang garapan yang sama, tanpa koordinasi yang matang dengan struktur yang telah ada. Ini mungkin terlihat sebagai proyek kebaikan, tetapi dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan irisan kepentingan, bahkan konflik tersembunyi.

Hal yang sama juga berlaku pada gerakan-gerakan yang melampaui tupoksi. Ketika seorang atau sekelompok pihak menginisiasi forum seperti sarasehan, namun tidak diarahkan untuk merajut persatuan, melainkan justru berpotensi memperlebar jurang, maka di situ kepemimpinan kehilangan arah etiknya.

Sebagaimana disinggung secara implisit oleh almahbub Awod Maretan, saya menganalogikan seperti relasi antara Pimpinan Cabang dan Yayasan seharusnya tidak menjadi ruang tarik-menarik kepentingan. Ia justru bisa diformulasikan secara bijak, memadukan pendekatan historis dengan kerangka hukum dan perundang-undangan, tanpa menafikan salah satunya.

Di sinilah letak kematangan seorang pemimpin: mampu merangkul dua realitas antara tradisi dan regulasi, menjadi satu tarikan napas yang saling menguatkan, bukan saling menegasikan.

Pada akhirnya, tulisan almahbub Awod Maretan bukan hanya ajakan untuk mencintai Al-Irsyad, tetapi juga seruan halus untuk mengoreksi diri. Bahwa fitnah, ambisi, dan kecenderungan memaksakan kehendak dengan membungkusnya sebagai “kebaikan”, adalah ujian yang selalu hadir dalam setiap zaman.

Dan di tengah semua itu, pesan almahbub Awod Maretan terasa sederhana namun dalam: jadikan Al-Irsyad sebagai rumah bersama. Rumah yang hangat, bukan hanya bagi yang sepakat, tetapi juga bagi yang berbeda. Rumah yang tidak hanya berdiri megah, tetapi juga kokoh karena dihuni oleh hati-hati yang lapang.

Maka benar apa yang diingatkan oleh almahbub Awod Maretan ;“Undzur ma qola wala tandzur man qola.”Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.

Dan barangkali, di situlah letak kejujuran kita sebagai bagian dari jam’iyyah, berani menerima kebenaran, meski ia datang bukan dari diri kita sendiri.

Buitenzorg, 28 Maret 2026

Salam Takzim
Abdullah A.Batarfie


Merasa Asing di Rumah Sendiri: Catatan Zeyd Amar tentang Pergeseran di Tubuh Jam’iyyah, sebuah tanggapan atas tulisan al-akh Awod Maretan. (Dalam foto di atas, tampak Bapak Ir Zeyd Amar duduk di deretan kedua dari kiri)

Tulisan yang bernas dari para senior memberi cerahan kepada kita, kadang kita merasa sedih melihat perkembangan organisasi.

Empat bulan saya berada di Bondowoso, shalat di masjid Al-Ikhlas di lingkungan sekolah Al Irsyad. Saya merasa asing di tengah kumpulan jamaah Irsyadiyin. Banyak pergeseran yang terjadi. Tidak mendengar lagi kalimat Bismillah dijaharkan imam. Tidak melihat lagi tenadah tangan ketika berdoa bermunajad kepada Allah. Sudah tidak ada tradisi haflah yang setiap tahunnya tempat berkumpulnya banyak orang yang selama ini tinggal di luar kota.

Selama ini pula saya tidak pernah berjumpa dengan ketua Pimpinan Cabang, hanya sesekali dengan sekretaris, namun tidak ada pembicaraan tentang jumiyyah.

Saya merasa asing di kalangan sendiri yang gagal membaca Eskalasi dalam konteks perkembangan organisasi, peningkatan, pertumbuhan, atau pertambahan intensitas dalam berbagai aspek organisasi, seperti skala operasional, komitmen, maupun dinamika yang terjadi. Sulit membedakan mana yang kita dan mana yang mereka semua berbaur seakan semua sama. (Zeyd Amar)
"Sedih membaca tanggapan Bang Zeyd Amar ini, menceritakan realitas yang ada. Fenomena Basmalah disirrkan itu, yang ana alami di cabang Pekalongan, kira-kira mulai ada tahun 1990-an, setelah banyak dari tokoh Al-Irsyad wafat, ana mengalami itu dan menjadi pembicaraan serius dikalangan para aktifis, dan fenomena ini bukan hanya dialami oleh Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah saja, tapi juga Muhammadiyah, DDI, dll, mungkin hanya NU yang "selamat". (AWOD MARETAN)

"Kalau soal basmalah sirr itu kan persoalan furu'iyyah. Selama gak memaksakan dia yang paling benar, saya rasa tidak masalah. Yang masalah kalo mereka mentahdzir yang tidak sirr". (Ust.Artha Wijaya)

"Shodaqtum. Tapi kita harus menghormati sebuah kebiasaan, jangan mengubah, sesuatu kebiasaan yang dijalankan, kan, Basmalah jahr pun tidak salah". (AWOD MARETAN)

"Itu dia yang terjadi, seakan membaca jahar basmalah, menadahkan tangan ketika berdoa dan mengaminkan, dianggapnya kurang tepat". (Zeyd Amar)

"Ada pepatah arab mengatakan ; تَرْكُ الْعَادَةِ عَدَاوَةٌ ; Meninggalkan kebiasaan/adat itu dapat menimbulkan permusuhan. Mungkin ini seperti kaidah fiqh".

"Pepatah arab lainnya ;  تَرْكُ الْعَادَةِ عَدَاوَةٌ ; "Meninggalkan kebiasaan/adat itu bisa menimbulkan permusuhan. Mungkin ini juga bisa dijadikan sebagai  kaidah fiqh". (AWOD MARETAN)

"Iya, tinggal diambil jalan tengahnya. Tidak boleh berselisih hanya karena persoalan furu'iyah. Terkadang ada sisi edukasi juga, bahwa Nabi Saw juga pernah membaca sirr dalam basmalah. Kalo tidak dipraktikkan, nanti jamaah tidak tahu soal ini. Saya sendiri kalau jadi imam saat khatib jumat atau shalat fardhu lainnya, saya lihat kebiasaan masjidnya. Kalo masjidnya, imamnya biasa sirr dalam basmalah, maka saya sirr juga. Kalo jahr, saya jahr". (Ust. Artha Wijaya)

"Itu yang dicontohkan oleh ulama kita dahulu, seperti Hamka, KH. AR. Fachruddin, dll". (AWOD MARETAN)

"Kaidah ini apa berlaku bagi adat yang bertentangan dengan akidah? Misal: Kepercayaan mengusir gangguan setan dengan menaruh benda tajam (peniti) di baju orang hamil". (Ust. Artha Wijaya)

"Tentu tidak, jika bertentangan dengan Islam, Syeikh Surkati saat awal dakwah di Indonesia tidak menafikkan mayoritas muslimin bermadzahab Syafi'i". (AWOD MARETAN)

,"Kebiasaan di sini tentu yang tidak menyimpang dari syariah". (Zeyd Amar)

"Jumiyyah Persatuan Islam (PERSIS), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Muhammadiyah, itu tegas dakwah memerangi TBC (Takhayul, Bid'ah & Churafat), dan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah. Tetapi ketegasannya disampaikan dengan hujjah, santun, dan semangat untuk menolong agar kita selamat dunia dan akhirat. Bukan semangat permusuhan, keras, benci, dll, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian oknum yang mengaku kaum "puritan". (Ust. Artha Wijaya)

Shodaqta ya Ustadz Arta. Kelompok yang mengklaim kaum "puritan" itu seperti semangka, luarnya hijau, dalamnya merah, tapi perilaku sosialnya buruk. Mereka sepertinya bukan gerakan dakwah, tapi politik. (AWOD MARETAN)

"Makanya dulu Tuan Hassan, selalu mengutip ayat al-Qur'an, pernyataan nabi Syuaib kepada kaumnya ;

إن اريد إلا الاصلاح مااستطعت وما توفيقى الا بالله عليه توكلت وإليه انيب

Tidaklah yang aku inginkan melainkan perbaikan semampuku. Tidak ada hidayah, taufik, kecuali datang dari Allah. Kepadanya-Lah aku bertawakal, kepada-Nya pula aku kembali.

Karena itu, meski berbeda soal furu', beliau tetap menjaga silaturrahim kepada orang yang berbeda pendapat. Dan hubungan mereka tetap baik". (Ust. Artha Wijaya)

Posting Komentar untuk "KENAPA, AL-IRSYAD"