Hamid Abud Attamimi dan Kebaikan yang Tak Pernah Lelah
Enam tahun lebih, tanpa jeda. Tanpa absen. Tanpa mengeluh karena sepi respons. Ia tidak sedang mengejar tepuk tangan. Ia hanya setia pada laku kecil yang diulang setiap hari—dan itu tentang quote yang ditulisnya. Ady Amar, (dikutip dari laman kbanews.com 22 Februari 2026 ; Hamid Abud Attamimi dan Kesetiaan pada Cahaya Pagi)
Apa yang ditulis oleh saudara Ady Amar tentang kesetiaan cahaya pagi itu terasa jujur dan tepat. Ada orang yang menulis karena ingin didengar. Ada pula yang menulis karena merasa perlu menjaga cahaya agar tidak padam. Al-Mahbub Hamid Abud Attamimi, bagi saya, termasuk yang kedua.
Bertahun-tahun ia menyalakan satu kalimat selepas Subuh, tanpa jeda, tanpa riuh. Tapi sesungguhnya, kebaikan saudara Hamid tidak berhenti pada kebiasaan menulis quote setiap pagi. Ia juga setia pada satu hal yang sering diremehkan orang, yaitu menghargai tulisan sahabat-sahabatnya.
Jarang ada yang serajin beliau dalam memberi tanggapan. Hampir tak pernah luput ia meninggalkan komentar pada tulisan atau pikiran sederhana yang dibagikan sahabatnya. Bukan komentar basa-basi. Ia membaca dengan sungguh-sungguh. Ia memilih satu kalimat yang dianggap paling kuat, lalu mengutipnya, seringkali dipertebal, seakan ingin berkata, “Bagian ini penting. Jangan lewatkan.” Dan dari situ ia merangkai tanggapan yang tak biasa.
Kata-katanya tidak generik. Tidak mudah ditemukan di tempat lain. Kadang menghibur dengan cara yang cerdas, kadang menohok dengan santun, tapi selalu bermakna. Ada keluwesan dalam susunan kalimatnya, ada kehangatan dalam pilihan katanya. Tak jarang, pembaca tersenyum tanpa sadar, karena merasa dihargai, dimengerti, dan dikuatkan.
Beliau bukan hanya konsisten, tetapi juga sabar dan kritis dalam kadar yang pas. Ia menguatkan tanpa menjilat. Ia mengoreksi tanpa melukai. Ia memberi ruang tumbuh tanpa membuat orang merasa kecil.
Di zaman ketika orang berlomba terlihat paling benar, kalimat ini terasa menyejukkan. Mengakui keunggulan orang lain bukan tanda kalah, melainkan tanda matang. Di sini Hamid tidak hanya berbicara tentang ilmu, tetapi tentang kerendahan hati—sesuatu yang jauh lebih langka daripada sekadar kepandaian. (Ady Amar)
Lebih dari itu, saudara Hamid Abud juga rajin berbagi tulisan yang ia comot dari media sosial, terutama dari Facebook dan selalu menyebut nama penulisnya dengan jelas. Itu tampak sederhana, tetapi di zaman yang gemar mengambil tanpa menyebut sumber, sikap itu adalah bentuk adab yang tinggi. Ia pandai memilih kalimat yang paling bernas, yang paling bermanfaat untuk dibagikan kembali. Seolah ia sedang menyaring kebaikan, lalu mendistribusikannya dengan penuh tanggung jawab.
Dan satu hal yang paling menyentuh adalah doa-doanya. Hampir setiap tanggapan ditutup dengan kalimat doa. Nama sahabatnya disebut. Harapan baik dipanjatkan. Doa itu tidak terasa formalitas. Ia mengalir ringan, hangat, dan tulus. Seakan keluar dari hati yang bersih, dan karena itu terasa mudah menembus batas, menuju Sang Maha Rahman.
Di dunia yang sering pelit apresiasi dan miskin doa, Saudara Hamid memilih menjadi orang yang murah hati dalam keduanya.
Ia membuktikan bahwa membaca dengan sungguh-sungguh adalah bentuk cinta. Mengutip dengan jujur adalah bentuk penghormatan. Dan mendoakan dengan tulus adalah bentuk persaudaraan menyentuh qolbu yang paling dalam.
Semoga Allah menjaga hati Al-Mahbub saudara Hamid Abud Attamimi, melipatgandakan pahala setiap kalimat yang ia tulis, setiap doa yang ia panjatkan, dan setiap senyum yang ia tumbuhkan di wajah sahabat-sahabatnya.
Semoga cahaya pagi yang selalu ia nyalakan itu, kelak menjadi cahaya yang menyambutnya di hari yang lebih abadi. Aamiin.
Semoga Allah menjaga Al-Mahbub saudara Hamid Abud Attamimi dalam kesehatan, kejernihan hati, dan keteguhan niat, melipatgandakan pahala setiap kalimat dan doa yang ia tebarkan.
Saya juga ingin menyampaikan apresiasi setulusnya kepada al-Mahbub sauadara Ady Amar, yang telah menulis dengan indah tentang sahabatnya. Saudara Ady sendiri adalah sosok yang tak pernah letih menulis kebaikan dan inspirasi. Sebagai kolumnis sejati, ia seperti berpacu dengan detik, setiap waktu melahirkan gagasan, setiap peristiwa dijahit menjadi renungan. Konsistensinya menulis adalah energi tersendiri bagi banyak pembaca.
Dan semoga Allah juga menguatkan langkah Saudara Ady Amar, meluaskan keberkahan dalam setiap tulisannya, serta menjadikan pena beliau sebagai jalan kebaikan yang terus mengalir hingga waktu yang panjang.
Abdullah Abubakar Batarfie


Posting Komentar untuk "Hamid Abud Attamimi dan Kebaikan yang Tak Pernah Lelah"
Posting Komentar