Menjadikan Kuda Troya dalam Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah?
![]() |
| Gambar hanya ilustrasi |
PENG-KUDA TROYA-AN PERHIMPUNAN AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH?, Oleh Awod Maretan
نتعاون على ما اتفقنا ونتسامح فيما اختلفنا
Kita bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati, dan saling menghormati dalam hal-hal yang kita perselisihkan (Sayyid Rasyid Ridha)
Istilah Kuda Troya berasal dari kisah mitologi Yunani. Ketika pasukan Yunani gagal menembus benteng kokoh Kota Troya, mereka menggunakan muslihat, sebuah kuda kayu raksasa yang tampak sebagai hadiah, padahal di dalamnya tersembunyi pasukan inti. Muslihat itu berhasil. Kota Troya jatuh bukan karena serangan terbuka, melainkan karena kelengahan dari dalam.
Metafora ini terasa relevan untuk menggambarkan kegelisahan yang kini dihadapi Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sebuah organisasi Islam nasional yang memiliki sejarah panjang, kontribusi besar, serta peran penting dalam perjalanan umat dan bangsa. Hari ini, kita patut waspada terhadap indikasi kuat bahwa mabadi’ (prinsip-prinsip dasar) organisasi perlahan, namun pasti, disusupi oleh kelompok-kelompok dengan agenda ideologis yang berbeda.
Penyusupan itu tidak hadir secara frontal. Ia masuk melalui berbagai pintu: institusi pendidikan, penguasaan masjid, hingga pengaruh struktural. Yang lebih memprihatinkan, dalil-dalil agama kerap dijadikan legitimasi, seolah-olah hanya satu tafsir yang paling benar dan rajih, sementara yang lain dianggap menyimpang atau keliru.
Meminjam ungkapan tokoh senior Zeyd Amar dalam tulisannya Torehan Kembali di Kota Batik: “Kelompok yang memiliki perbedaan mendasar dalam menginterpretasikan landasan idiil dan mabādi’ Al-Irsyad.”
Padahal, cara-cara penguasaan seperti itu, yang mengabaikan etika, musyawarah, dan adab berorganisasi, tidak dibenarkan dalam ajaran Islam".
Sesungguhnya, Al-Irsyad Al-Islamiyyah sejak awal berdiri adalah jalan pembangun dan penjaga peradaban Islam. Hal ini tercermin jelas dalam sistem pendidikannya. Di madrasah-madrasah Al-Irsyad, para murid tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, ushul fiqh, dan disiplin agama lainnya, tetapi juga pengetahuan umum seperti seni, menggambar, mantiq, aljabar, ilmu bumi, dan berbagai cabang ilmu lainnya. Kurikulum tersebut bukan kebetulan. Ia adalah perwujudan dari nilai, visi pada simbol Al-Irsyad itu sendiri.
Abdullah Abubakar Batarfie, dalam salah satu kutipan tulisannya; Makna Sejarah di Balik Lambang Al-Irsyad Al-Islamiyyah : "Logo ini bukan hanya identitas visual, melainkan juga menggambarkan nilai-nilai dan tujuan organisasi yang tetap relevan hingga saat ini.”
Maka, menjaga Al-Irsyad bukan semata soal struktur dan aset, tetapi menjaga ruh, nilai, dan arah perjuangannya.
Akhirnya, marilah kita berdoa dan berikhtiar dengan penuh ketawadhuan, disertai muhasabah yang jujur. Semoga Jum’iyyah ini senantiasa eksis, kokoh dalam prinsip, dan lapang dalam menyikapi perbedaan.
Khatimah
Mari kita jadikan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, di seluruh cabangnya, sebagai rumah besar bersama bagi kemaslahatan Irsyadiyyin. Jadikan rumah besar itu tempat bersilaturahim, berkumpul, dan berdiskusi tentang persoalan organisasi dan umat.
انظر ما قيل ولا تنظر من قال
Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.
Awod Maretan
Membaca Peng-Kuda Troya-an Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah?. Catatan Reflektif saya dari Korban Persekusi dalam Ikhtiar Menjaga Corak dan Mabadi’ Jum‘iyyah”
Kegelisahan yang disuarakan dalam tulisan ini juga saya alami secara nyata, bahkan pada titik yang lebih personal. Dalam ikhtiar menjaga corak dan mabadi’ Jum‘iyyah melalui strategi-strategi organisasi yang sah dan beradab, saya justru mengalami persekusi di ruang publik. Sikap kasar dilontarkan di tengah keramaian, bukan sebagai perbedaan pendapat yang sehat, melainkan sebagai tekanan psikologis yang secara terang mengarah pada ancaman fisik.
Tanggapan atas tulisan Abdullah Batarfie seharusnya menggugah kesadaran kita bersama, bahwa tantangan dan yang dihadapi di bogor, harus menjadi perhatian kita semua. Bahwa suatu ideologi kadang menjadikan penganutnya bersikap dan bertindak diluar adab dan kepatutan, sama sekali tidak mencerminkan ajaran, akhlak Islam.Sekali lagi, "teror" dan persekusi yang dialami akhina Abdullah, hampir sama yang pernah dialami guru-guru dan tokoh-tokoh Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada saat awal berdirinya. Semoga Akhina Abdullah Abubakar Batarfie, diberi ketabahan, kesabaran, kesehatan, afiat dan bisa terus berkarya, untuk menyalakan obor peradaban. (Awod Maretan)
Jeli dan tandas menguliti masalah yang disebut dengan istilah agresi ideologis. Sebuah istilah yang sangat tepat menggambarkan situasi saat ini. (Mansyur Alkatiri)
Nyaris tiga dasawarsa lalu, tepatnya pada pertengahan tahun 1990-an, Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah diterpa gelombang pengkhianatan yang dahsyat. Ana tidak berminat membedah asal-muasalnya secara rinci, sebab para senior di sini tentu sudah sama mafhum: infiltrasi itu, harus diakui sebagian terjadi karena kelemahan internal kita sendiri dalam membangun sistem organisasi yang tertata dan profesional.
Kesatupaduan antara Pimpinan Pusat, Wilayah, dan Cabang yang menjunjung tinggi nilai dasar organisasi amatlah menentukan. Sebab gerakan penetrasi para sempalan itu tidak berhenti di satu titik; ia merembes dan meracuni beberapa Wilayah serta Cabang.
Alhamdulillah ‘ala kulli hal, makar busuk tersebut pada akhirnya dapat diluluhlantakkan. Sekalipun belum sepenuhnya tuntas, setidaknya soliditas internal mulai tumbuh kembali.
Apa kuncinya?
Kesatuan langkah antara Pusat dan Cabang. Dan yang tak boleh dilupakan: kesadaran penuh bahwa kita berdiri di atas Anggaran Dasar organisasi, serta hukum negara yang sah dan berlaku.
Ana tidak sedang menyederhanakan persoalan. Gerakan mereka masih ada. Bahkan muatan lokal yang mereka bawa tidak melulu soal jabatan formal di organisasi, sebagaimana juga telah disinyalir para senior, melainkan ideologi dan paham yang jelas-jelas menabrak nilai serta Mabadi Al-Irsyad.
Di beberapa Cabang, gerakan ini berlangsung massif dan demonstratif, bahkan sudah mengangkangi institusi resmi seperti Pimpinan Cabang atau Yayasan.
Kadang ana merenung: mengapa mereka tidak mampu menembus Badan Otonom seperti Pemuda dan Wanita? Apakah antum semua pernah memikirkan hal yang sama? Bukankah justru lebih strategis jika infiltrasi dimulai dari “akar” organisasi?
Guru sekaligus sahabat ana, Allah yarham Ustadz Yazid bin Isa Attamimi, beberapa kali ana ajak berdiskusi soal gerakan mereka. Namun beliau selalu mengelak.
“Yaa Hamid, buat apa antum terus membicarakan mereka? Apa antum berharap mereka berubah? Tidak. Mereka tidak akan berubah. Mereka berbeda dengan kita. Lebih baik kita bicara hal yang lebih bermanfaat: memperkuat diri dengan membangun sistem yang kokoh, kaderisasi, administrasi, pendidikan, dan dakwah.”
Itulah amanat beliau yang hingga kini terus terngiang di hati ana.
Pilihan dan keputusan sejatinya ada pada kita, bukan pada mereka. Lawan atau musuh kita sudah jelas. Pertanyaannya, apakah kita akan terus sibuk memperhitungkan kekuatan mereka, ataukah memilih memperkuat barisan ke dalam?
Ini tidak perlu didikotomikan dengan tudingan “mengurangi kewaspadaan”. Justru kewaspadaan yang sejati lahir ketika kita berani menelisik dan mengakui kelemahan internal. Memahami kekuatan lawan tidak lebih penting dibandingkan menyadari kerapuhan diri sendiri.
Memperkuat, menata, dan membangun kekuatan internal, in syaa Allah akan menghadirkan keberkahan, menumbuhkan kepercayaan diri, dan pada saat yang sama memungkinkan kita terus menebar manfaat. Sebaliknya, terlalu sibuk menghitung posisi dan kekuatan lawan hanya akan memelihara kecurigaan, menguras energi, bahkan secara tak sadar membiarkan arah dan orientasi perjuangan kita “dikendalikan” oleh mereka.
Memang, kondisi objektif tiap Wilayah dan Cabang berbeda. Namun coba antum kembali pada pertanyaan ana di atas: mengapa Badan Otonom relatif lebih aman? Menurut ana, terutama pada Wanita, terdapat “tameng” yang kuat, setidaknya dalam dua hal, yaitu konsolidasi yang mumpuni dan kepemimpinan yang solid.
Jelas, dakwah mereka menyusup ke mana-mana. Mereka pun bersemangat menggarap anak-anak muda. Namun pada saat yang sama, dakwah mereka justru kerap blunder, melahirkan antipati dan sikap apriori di tengah masyarakat, bukan hanya di lingkungan Al-Irsyad.
Marilah ini kita jadikan tantangan sekaligus peluang. Kesempatan untuk membuktikan bahwa Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dengan hati, obor, sayap, dan sisirnya, bukan hanya menebar kesejukan dan menerangi, tetapi juga membawa semangat egalitarian. Sebab kita merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta menolak taqlid buta.
Kini pertanyaannya? maukah kita bercermin dengan jujur?
Dengan segala hormat, menurut ana, Pimpinan Pusat justru kerap memproduksi kebijakan atau sikap yang berkontribusi pada gesekan antar-institusi: antara Wilayah dan Cabang, antara Pimpinan Cabang dan Yayasan. Kondisi ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya apatisme di kalangan fungsionaris Cabang. Ana sudah berulang kali mengingatkan, baik lewat lisan maupun tulisan, namun kerap berlalu seperti angin pegunungan yang sepoi-sepoi, menenangkan, tapi akhirnya hanya membuat mengantuk.
Mabadi bukanlah benda mati. Ia adalah ruh yang hidup. Maka hidupkan dan ajarkan ia. Anggaran Dasar dan visi Jam’iyyah, jika hanya dibaca tanpa dihayati dan dipraktikkan, tak akan meninggalkan bekas apa pun.
نصرٌ من الله وفتحٌ قريب
Hamid Abud Attamimi



Posting Komentar untuk "Menjadikan Kuda Troya dalam Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah?"
Posting Komentar