MEMAKNAI BANI IRSYAD

Islam bukanlah milik bangsa Arab semata, meskipun diturunkan di tanah Arab. Namun Islam juga tidak dapat dilepaskan dari bangsa Arab sebagai pusat peradaban, sejarah dan wahyu.

Demikian pula Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Ia bukan organisasi eksklusif, hanya untuk etnis Arab semata, melainkan untuk seluruh kaum muslimin di Indonesia. Meski para penyokong awal pendiriannya banyak berasal dari keturunan Arab, identitas Al-Irsyad tidak dapat disempitkan hanya pada garis keturunan, tetapi harus dipahami sebagai ikatan nilai, perjuangan, dan ideologi.

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah sebagai sebuah organisasi Islam nasional didirikan dengan misi utama di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Ketiganya bukanlah bidang yang berdiri sendiri, melainkan saling bertaut dan menguatkan, bersifat interaktif. Menyelenggarakan pendidikan adalah amanat dan perintah Islam; ia merupakan bagian dari dakwah, dan sekaligus memiliki dimensi sosial yang luas.

Dalam tulisan singkat ini, saya ingin memaknai frasa Bani Irsyad yang termaktub dalam Nasyidul Irsyad atau Mars Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Mengapa digunakan istilah Bani Irsyad?, bukan Jama’atul Irsyad?

Dalam mars tersebut disebutkan: Bangunlah menuju ketinggian, menuju petunjuk, wahai Bani Irsyad!

Saya mencoba memaknai Bani Irsyad, atau seolah, abauna al awwalun dengan memaknainya bahwa Ia adalah sebagai anak keturunan ideologis bukan dalam arti biologis, melainkan sebagai hubungan batin dan pemikiran dengan organisasi. Siapa pun, sekali lagi siapapun, dari latar belakang mana pun, selama ia menerima mabda' (ideologi), ia adalah Bani Irsyad, dan pula selama mematuhi AD/ART, maka ia adalah bagian dari Bani Irsyad. 

Sebagaimana telah kita pahami, Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah adalah organisasi Islam nasional yang memiliki landasan pemikiran yang jelas dan tertuang dalam Mabadi Al-Irsyad. 

Organisasi ini tidak didirikan seperti organisasi profesi seperti PWI, Organisasi para pengacara, LBH, atau perkumpulan notaris, melainkan sebagai wadah perjuangan nilai dan pemurnian ajaran Islam.

Perlu pula kita catat bahwa Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah ditopang oleh dua kekuatan utamanya ; pria dan wanita. Dalam sejarah awal pendiriannya, para perempuan Al-Irsyad memiliki peran yang sangat signifikan dan jasa yang besar, yang patut kita kenang dan teladani.

Sebagaimana induknya, badan-badan otonom di lingkungan Al-Irsyad Al-Islamiyyah juga memiliki mars masing-masing, serta menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai moto perjuangan.

Di sini saya ingin menyampaikan sebuah kenangan sejarah. Pada Mubes Gerakan Pelajar Al-Irsyad (GPA) tahun 1979 di Bogor, saya diminta oleh PB GPA untuk menemui salah satu aktivis dan tokoh drumband Al-Irsyad Pekalongan, yaitu Allahyarham Bapak Cholid Abubakar Babsel, agar menggubah Mars Pelajar Al-Irsyad. Alhamdulillah, mars tersebut disahkan, dengan lirik sebagai berikut:

Bangkitlah Pelajar Al-Irsyad,
Engkau tunas harapan bangsa,
Harapan negara dan agama,
Janganlah kau tidur terlena,
Bangunlah maju pantang mundur,
Mengikis bid’ah dan khurafat,
Tegakkan Kitab suci Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman,
Tegakkan kemurnian Islam,
Sunnah Nabi menjadi tuntunan,
Amar ma’ruf dan nahi munkar,
Itulah yang menjadi tujuan.

Akhirnya, Abau'na al awwalun harus tetap kita jadikan contoh, karena sesungguhnya  mereka  itu  bisa kita katakan telah mewaqafkan bukan hanya hartanya, tapi ilmu, pemikiran dan tenaganya.

Awod Maretan (penulis), berdiri di kanan, foto bersama dikediamanya dengan Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah (tengah) Prof.Dr.Faisal Bin Madhi. 

Khatimah

Mari kita jadikan Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, di seluruh cabangnya, sebagai rumah besar bersama bagi kemaslahatan Irsyadiyyin. Jadikan rumah besar itu sebagai tempat bersilaturahim, berkumpul, dan berdiskusi tentang persoalan organisasi dan umat.

Undzur ma qola wa la tandzur man qola ; Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan

Pekalongan, 21 Januari 2026
Awod Maretan


Tanggapan atas Tulisan al-Mahbub Awod Maretan: Memaknai Bani Irsyad, oleh : Abdullah Abubakar Batarfie

Tulisan almahbub Awod Maretan tentang Makna BANI IRSYAD adalah sebuah refleksi yang bukan hanya jernih secara konseptual, tetapi juga bernilai sangat tinggi secara historis dan ideologis.
 
Terus terang, baru kali inilah saya menemukan sebuah tulisan yang mampu memaknai secara mendalam, utuh, dan bernas arti dari kata “BANI IRSYAD.” Sebuah istilah yang selama ini sering dilafalkan, dinyanyikan yang diwariskan pada lintas generasi, tetapi jarang benar-benar direnungkan maknanya.

Tulisan ini sungguh amat berharga. Ia tidak sekadar menafsirkan satu frasa dalam Mars Al-Irsyad, melainkan membuka kesadaran kolektif bahwa Bani Irsyad bukanlah soal garis "darah", tetapi ikatan nilai, perjuangan, dan ideologi. Inilah “darah ideologis” yang menyatukan seluruh Irsyadiyyin, tanpa memandang asal-usul etnis, geografis, maupun sosial.

Lebih dari itu, tulisan ini selaras dengan pandangan dan keteladanan pendiri Al-Irsyad sendiri, Syaikh Ahmad Surkati, tentang makna menjadi Muslim sekaligus menjadi Indonesia seutuhnya. Sebuah analogi yang sangat indah dengan menjadi Islam dan menjadi Indonesia bukanlah dua identitas yang bertentangan, melainkan dua kesadaran yang menyatu. Hal ini tergambar dalam kata-kata mengharukan yang disampaikan langsung oleh Syaikh Ahmad Surkati kepada Prof. Dr. Rasjidi;
“Aku (Syaikh Surkati), merasa telah bertahun-tahun berkecimpung memimpin Al-Irsyad di Indonesia. Bahwa tiap-tiap dzarrah (atom) dari badan saya telah berganti dengan unsur-unsur Indonesia. Aku akan tetap hidup di Indonesia sampai akhir hayatku.” (Hussein Badjerei, Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, 1996: 64)
Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan manifestasi historis dari semangat keindonesiaan Al-Irsyad sejak kelahirannya. Ia menegaskan bahwa Al-Irsyad bukan organisasi diaspora, melainkan organisasi nasional yang mengakar, berjuang, dan berkorban untuk umat dan bangsa Indonesia.

Dalam konteks inilah, tulisan almahbub Awod Maretan menemukan relevansinya yang paling kuat. Ketika ia memaknai Bani Irsyad sebagai anak keturunan ideologis, bukan biologis, maka ia sesungguhnya sedang melanjutkan ruh pemikiran Syaikh Surkati, bahwa Islam adalah milik semua, dan Al-Irsyad adalah rumah besar bagi seluruh muslimin Indonesia yang menerima mabda’-nya.

Secara historis, makna ini juga tercermin kuat dalam Mars Al-Irsyad (Nasyidul Irsyad) yang diciptakan oleh dua tokoh utama Al-Irsyad, yakni Ustadz Zen Bawazir dan Ustadz Muhammad Munif. Keduanya bukan hanya menggubah lirik, tetapi merefleksikan misi, tujuan, dan ruh perjuangan Al-Irsyad ke dalam syair yang hidup hingga hari ini. Kalimat Wahai Bani Irsyad dalam mars tersebut bukan sekadar seruan ghirah emosional, melainkan panggilan ideologis, panggilan perjuangan, dan panggilan sejarah.

Dengan demikian, tulisan _almahbub_ ini tidak hanya memperkaya pemahaman, tetapi juga memperdalam rasa memiliki terhadap organisasi. Ia mengingatkan kita bahwa menjadi bagian dari Al-Irsyad berarti mewarisi amanat dakwah, pendidikan, dan sosial, mewarisi perjuangan pemurnian Islam serta mewarisi tanggung jawab sejarah untuk terus menjaga mabda’ dan aset umat.

Tulisan ini patut diapresiasi setinggi-tingginya, disebarluaskan, dan dijadikan bahan refleksi bersama bagi seluruh Irsyadiyyin agar kita tidak hanya menyanyikan mars, tetapi juga menghayati maknanya, tidak hanya menyebut Bani Irsyad, tetapi benar-benar hidup sebagai Bani Irsyad.

Saya bersama almahbub Awod Maretan, dalam peluncuran Novel Tapak Mualim 
karya Ady Amar
Pagi di Buitenzorg, saat hujan deras dengan iringan senandung lagu Oum Kutsum; salamah, karya Ali Ahmad Batkatsier dan secangkir kopi bah sipit, ana amat menikmati tulisan yang bernas dari almahbub Awod Maretan.
Ana uhibbukum fillah ya almahbub akhy Awod

Bogor, 20 Januari 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Pemahaman kami Irsyadiyyin kota Bandung mungkin tidak sedalam muallim Awod Maretan atas tafsir frasa "Bani Irsyad". Tapi pemahaman seperti itulah yang mendorong kami sepakat menamai maqbaroh yang dikelola yayasan Al-Irsyad kota Bandung: Permakaman "Bani Irsyad". (Dr.Khalid Harras)

Posting Komentar untuk "MEMAKNAI BANI IRSYAD"