Sejarah dan Kompleks Pemakaman Keluarga Dalem Sholawat: Jejak Para Bupati dan Menak Sunda di Bogor

 


Kala itu, pada pertengahan abad ke-18, di kaki Gunung Salak yang megah, berdirilah sebuah daerah bernama Empang. Wilayah ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang para pemimpin Sunda yang penuh dengan liku-liku sejarah. Di sana, terbentang sebuah kompleks pemakaman yang sunyi, tempat peristirahatan terakhir bagi para bupati dan bangsawan Sunda yang pernah berjaya. Kompleks ini, yang dikenal sebagai Pemakaman Keluarga Dalem Sholawat, menjadi penanda perjalanan sejarah yang kaya dengan cerita-cerita heroik dan spiritualitas yang mendalam.

Makam R.H.Muhammad Thohir

H.Raden Muhammad Thohir, yang dikenal masyarakat sebagai Auliya Thohir Al-Bughuri, menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1849. Sosok ini bukan sekadar pemimpin biasa; ia adalah Penghulu Kampung Baru yang dilantik pada 13 April 1826. Ia juga merupakan pendiri Masjid Agung Empang yang kelak diabadikan dengan nama Masjid Ath-Thohiriyah. Thohir adalah putra Raden Tumenggung Wiradireja, Bupati Bogor ke-7 yang menjabat antara tahun 1758 hingga 1761. Makam ayahandanya, Raden Tumenggung Wiradireja, terletak di Tanah Baru, tempat di mana ia memimpin sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Kampung Baru. Kampung Baru, yang kemudian dinamai Sukahati, perlahan-lahan dikenal dengan nama Empang di bawah pemerintahan Hindia Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

H.Raden Muhammad Thohir menikahi Ratu Syarifah, putri dari Pangeran Sugiri atau Asyogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa, seorang pahlawan nasional. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Haji Adipati Tumenggung Wiranata, yang dikenal oleh keturunannya sebagai Dalem Sepuh. Dalem Sepuh pernah menjabat sebagai Bupati Bogor ke-15 dari tahun 1815 hingga 1849 sebelum wafat di Mekkah pada tahun yang sama. Dalem Sepuh menikah dengan Nyi Raden Ayu Kendran, putri dari Dalem Ariya Wiratanudatar ke-5, Bupati Cianjur ke-5 yang menjabat antara tahun 1761 hingga 1776. Dari pernikahan ini, lahir Haji Raden Adipati Aria Suriawinata, yang kemudian dikenal luas sebagai Dalem Solawat karena kebiasaannya dalam mendawamkan sholawat sebelum ibadah shalat Jumat di Masjid Agung Empang.

Dalem Solawat adalah seorang ulama dan umaro yang menjabat sebagai Bupati Bogor ke-16 dari tahun 1849 hingga 1864. Ia juga pernah menjabat sebagai Bupati Karawang ke-10 yang berkedudukan di Wanayasa pada periode 1827 hingga 1849. Pada masa pemerintahannya, pusat kedudukan bupati dipindahkan dari Wanayasa ke Dusun Sindang Kasih, yang kemudian diberi nama baru, Purwakarta. Dalem Solawat memiliki beberapa istri, salah satunya adalah Nyi Raden Radja Permas atau Ibu Jero, putri dari Haji Raden Tumenggung Sastranegara. Haji Raden Tumenggung Sastranegara adalah ayah dari Ibu Jero dan pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta untuk meneruskan jabatan menantunya antara tahun 1849 hingga 1854. Gelar Ibu Jero adalah tanda istri utama atau First Lady sang bupati.

Kompleks pemakaman Dalem Sholawat menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi banyak tokoh penting selain Dalem Sholawat sendiri. Di sini, terdapat makam bupati lain, pejabat seperti Jaksa Buitenzorg, penghulu, dan wedana. Bahkan, terdapat makam Bupati Cirebon R.A.A.Soeriadiredja atau Kandjeng Cinere yang wafat pada tahun 1904. Di antara mereka, terdapat pula sosok R.H.M. Imam Mudrika, seorang penulis terkenal yang karyanya digemari tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri, termasuk Belgia. 

Makam Kandjeng Cinere (Bupati Cirebon)

R.H.M. Imam Mudrika adalah salah satu budayawan yang banyak berkarya di bidang sastra dan musik. Karya sastranya mencakup buku filsafat keislaman, novel, filsafat Sunda Wiwitan, dan kumpulan puisi tentang cinta dan kesufian. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Album "Prasasti Cinta" yang dibuat pada tahun 2000 dengan video klip yang dibuat di empat kota Eropa: Venesia, London, Paris, dan Amsterdam. Imam Mudrika juga meluncurkan Album Pop Sunda pada tahun 2013 di Hotel Savoy Homann Bandung, bersamaan dengan peluncuran buku Filsafat Sunda Wiwitan berjudul "Niskala Purbajati," yang dihadiri oleh banyak tokoh budayawan Sunda berpengaruh. Album religi "Istikharah Cinta" yang juga pernah diluncurkan di Jakarta bersama 13 judul buku kumpulan puisi religi dan puisi tentang percintaan anak manusia, termasuk dalam karya-karyanya yang diburu oleh para penikmat karangan R.H.M.Imam Mudrika bin R.Muhammad Sanusi. 

Pemakaman ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Bogor. Nama Raden Adipati Aria Suriawinata diabadikan sebagai nama ruas jalan di Empang, tepat di depan makamnya. Sementara nama Raden Adipati Wiranata diabadikan pada ruas jalan di sekitar alun-alun Empang, tepat di depan masjid.

Jejak para bupati dan menak Sunda ini tidak hanya tertinggal di makam-makam mereka, tetapi juga dalam sejarah dan hati masyarakat Bogor. Warisan mereka terus hidup dalam nama-nama jalan, masjid, dan kisah-kisah yang diceritakan dari generasi ke generasi. Kompleks Pemakaman Keluarga Dalem Sholawat bukan hanya sekadar tempat peristirahatan terakhir; ia adalah monumen hidup yang mengingatkan kita akan masa lalu yang penuh dengan kejayaan, spiritualitas, dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Abdullah Abubakar Batarfie

Posting Komentar untuk "Sejarah dan Kompleks Pemakaman Keluarga Dalem Sholawat: Jejak Para Bupati dan Menak Sunda di Bogor"