"Jejak Langkah Syaikh Ali Ath-Thoyib dan Thoriqoh Tijaniyah: Penyebaran dan Pengaruhnya di Indonesia"

 

Sayyid Ali bin Abdullah al-Sufyani al-Azhari
 al-Madani al-Hasani


Thoriqoh Tijaniyah, sebuah aliran tarekat yang berakar sejak masa kekhalifahan Turki Utsmaniyyah pada tahun 1787, dipimpin oleh Syaikh Abul Abbas Ahmad At-Tijani, juga dikenal sebagai Ahmad bin Muhammad bin Al-Mukhtar At-Tijani. Tarekat ini muncul sebagai reaksi terhadap aspek eksentrik dan metafisis sufisme pada masanya, mengarah pada pemurnian syariat yang bertujuan menghubungkan manusia dengan ruh Nabi Muhammad S.A.W.

Meskipun aliran ini berakar di Turki Utsmaniyyah, pengaruhnya telah menyebar luas hingga ke wilayah Maghribi dan Afrika. Bahkan, Tijaniyah telah dikenal di Indonesia sebelum tahun 1900, dipraktikkan oleh sejumlah ulama di Pesantren Buntet di Cirebon, sebuah pusat keagamaan yang memainkan peran penting selama perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pondok Pesantren ini juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Kongres Al-Islam pertama pada tahun 1922 di Cirebon, yang diinisiasi oleh H.O.S. Tjokroaminoto dengan dukungan dari para alim ulama dan tokoh Pembaharu Islam, termasuk Syeikh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad, yang turut hadir dalam kongres tersebut dengan didampingi oleh kedua muridnya.

Penting untuk dicatat bahwa KH Abbas bin KH Abdul Jamil, bersama saudaranya KH Anas bin KH Abdul Jamil dan KH Muhammad Akyas, menerima ijazah thoriqoh dari Sayyid Ali bin Abdullah al-Thoyyib di Bogor pada tahun 1937. Ketiganya menjadi pionir dalam penyebaran Thoriqoh Tijaniyah di Pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kedatangan Sayyid Ali ke Indonesia pada tahun 1920-an direkam oleh sejarawan Belanda G.F Pijper dalam bukunya yang berjudul "Fragmenta Islamica". Pijper bahkan bertemu langsung dengan Sayyid Ali di Lereng Gunung Gede, Cianjur-Jawa Barat. Sayyid Ali bertugas sebagai Kepala Madrasah Muawwanat al-Ikhwan di Cianjur selama 3 tahun, sebelum pindah ke Bogor pada tahun 1923 untuk memimpin Madrasah al-Falah al-Wahidiyah selama kurang lebih 3 tahun pula.

Sayyid Ali datang ke Indonesia tidak hanya untuk berdakwah, tetapi juga untuk menyebarkan Islam dan mengembangkan Thoriqoh Tijaniyah. Dengan perjalanan hidup dan pengajaran yang disebarkannya, Thoriqoh Tijaniyah menjadi salah satu aliran tarekat yang berkembang pesat di Indonesia.

Penelusuran jejak keberadaan Madrasah al-Falah al-Wahidiyah di Empang membawa penulis ke dalam serangkaian informasi yang menarik. Dari cerita yang pernah disampaikan oleh almarhum Essam Al-Wahdi kepada penulis, terungkap bahwa Madrasah Al-Falah Al-Wahidiyah adalah dua lokal kelas yang disiapkan secara khusus oleh kakeknya, Sjaich Ahmad bin Said Al-Wahdi. Fokus pendidikannya terutama pada pembelajaran Ibadah dan Bahasa Arab, ditujukan khusus bagi anak-anak peranakan Arab di Kampung Empang.

Kitab karangan Sayyid Ali al-Thoyib


Meskipun hanya sedikit dokumentasi yang tersisa, penulis berhasil menemukan buku kecil berbahasa Arab karya Sayyid Ali al-Thoyib. Buku tersebut dicetak resmi dengan nama Madrasah Al-Falah Al-Wahidiyah tertera di sampulnya. Dengan judul "Tuhfatul Mubtadiin Fima Yajibu Ma'rifatuhu Min al-din", buku ini memuat dasar-dasar aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, fiqih madzhab Imam Syafi'i, dan Tasauf al-Thoriqoh Tijaniyah. Sebuah penemuan yang menambah kekayaan sejarah pendidikan di wilayah tersebut.

Madrasah Al-Falah Al-Wahidiyah, yang digagas oleh keluarga Al-Wahdi, ternyata tidak bertahan lama. Ia ditutup ketika cabang Madrasah Jamiatul Kher dibuka di lokasi yang sama, yang dipimpin oleh Sjaich Abdul Hamid Assudani. Kini, di tempat yang sama telah menjadi lokasi Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sejak tahun 1929, yang telah secara resmi membuka cabangnya di Bogor sejak tahun 1928. Sebuah perjalanan yang menarik dari satu institusi pendidikan ke institusi pendidikan lainnya di tempat yang sama.

Sayyid Ali al-Thoyyib bersama istrinya 
Raden Siti Suhiyam


Keberadaan Sayyid Ali al-Thoyyib di Empang, Bogor, ternyata tidak berlangsung lama. Selain aktif dalam kegiatan pendidikan dan dakwah di bawah naungan Jamiatul Kher di Batavia. Selama masa tugasnya sebagai kepala madrasah Al-Falah Al-Wahidiyah, beliau sempat menikahi wanita ningrat setempat di Bogor, Raden Siti Suhiyam. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra laki-laki yang diberi nama Muhammad, yang dikenal di kalangan ulama Thoriqoh sebagai Sayyid Muhammad bin Ali al-Thoyyib. Namun, masyarakat Empang lebih mengenalnya dengan panggilan Ustadz Muhammad Thoyib.

Sayyid Ali al-Thoyyib, yang dikenal sebagai ahli dalam bidang ilmu Fiqih dan memperoleh gelar "amin al-Fatawa al-Syafi'iyah" di negerinya, Madinah, juga dikenal sebagai Khalifah Toriqoh al-Tijaniyah. Beliau memiliki nama lengkap Sayyid Ali bin Abdullah al-Sufyani al-Azhari al-Madani al-Hasani.

Setelah menjelajahi berbagai kota di Jawa, beliau kembali ke kota kelahirannya, Madinah, dan wafat pada tahun 1944. Meskipun begitu, warisannya di Empang, Bogor, masih dapat kita temukan, yang dilanjutkan oleh putra dan generasinya sebagai Khalifah dan Mugaddam Toriqoh al-Tijaniyah di Indonesia. Jejaknya menjadi saksi perjalanan spiritual dan intelektual yang menarik, dipandang oleh kalangan masyarakat Islam Indonesia yang berfaham torikoh, telah membawa cahaya ilmu dan kearifan ke berbagai penjuru.

Sayyid Muhammad bin Ali al-Thoyyib


Puteranya, Sayyid Muhammad bin Ali al-Thoyyib, yang meninggal dunia di Bogor pada tahun 1987 dan dikebumikan di pemakaman wakaf Los Empang, dikenal sebagai ulama sepuh yang memiliki hubungan erat dengan para ulama Tarekat di Indonesia. Beliau terutama terkait dengan ulama-ulama terkemuka dari kalangan Nahdliyien (NU). Kediamannya sering dikunjungi oleh ulama-ulama ternama, seperti K.H. Abdullah bin Nuh, dan ulama terkemuka lainnya di Jawa Barat. Salah satunya adalah K.H. Ahmad Shobulwafa Tajul Arifin, yang akrab disapa dengan sebutan Abah Anom, pimpinan pondok pesantren Suryalaya di Tasikmalaya. Kehadirannya menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi para pengikutnya serta menjadi titik pertemuan bagi pemikiran dan perenungan keagamaan yang mendalam di wilayah tersebut. Sayyid Muhammad Ali al-Thoyib tokoh panutan ulama yang cukup dihormati dan disegani di kota Bogor, terutama kedudukannya sebagai mubaligh dan khatib tetap di Masjid Agung Athohiriyah Empang.

Dar Ainus-Syamsi, tempat yang dulu begitu eksis dan ramai dikunjungi, terletak di samping kediaman Sayyid Muhammad Ali al-Thoyib di Jalan Sedane, Empang, adalah lembaga dan majelis Tarekat yang beliau dirikan, di mana beliau aktif menyebarkan dan mengembangkan Tarekat Tijaniyah yang dirintis oleh ayahnya, Sayyid Ali al-Thayib.

Selain Dar Ainus-Syamsi, jejak Sayyid Muhammad Ali al-Thoyib, juga terdapat toko Jamu Hikmah yang lokasinya berada dalam satu kompleks dengan kediamannya. Toko ini menjual berbagai perlengkapan ritual Tarekat, ilmu Hikmah, serta obat-obatan herbal dan suplemen kesehatan berbahan rempah-rempah. Papan nama yang menunjukkan keberadaan toko Jamu Hikmah masih dapat kita temukan pada gerbang masuk, menjadi peninggalan dari masa lalunya yang masih tersisa hingga saat ini.

Meskipun begitu, Lembaga Dar Ainus Syamsi yang dahulu menjadi pusat kegiatan Toriqoh Tijaniyah dan perayaan hari-hari besar Islam, kini tidak lagi diselenggarakan di tempat tersebut. Namun, warisan spiritualnya tetap membawa cerita yang menginspirasi bagi generasi berikutnya, mencerahkan perjalanan rohani dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

BOGOR, 20 Febuari 2024, sebuah tulisan yang diperbaharui kembali dari tulisan lama yang ditulis pada 8 Syawal 1441.H/1 Juni 2020.M, Abdullah Abubakar Batarfie

Posting Komentar untuk ""Jejak Langkah Syaikh Ali Ath-Thoyib dan Thoriqoh Tijaniyah: Penyebaran dan Pengaruhnya di Indonesia""