M.Mashabi, Musisi Legendaris dari Kebon Kacang




Jika kita berbicara tentang musik Melayu yang legendaris, tak bisa tidak menyebut nama Muhammad Ridwan Mashabi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan M.Mashabi. Dia bukan hanya seorang musisi, tetapi juga seorang pencipta lagu yang memukau serta penyanyi yang karismatik.

Lahir dan dibesarkan di tengah kota Jakarta, betul-betul merasakan hembusan budaya Betawi yang kental. Pengalaman hidupnya di tengah keramaian pasar-pasar tradisional, suasana khas kampung, dan interaksi dengan beragam lapisan masyarakat Jakarta memberikan inspirasi yang melimpah bagi karya-karyanya.

Pada era tahun 1950-an hingga 1960-an, M.Mashabi menciptakan sejumlah lagu yang langsung menghujani tangga-tangga musik populer pada zamannya. Lagu-lagunya tidak hanya memikat telinga, tetapi juga menyentuh hati dan merasuk ke dalam jiwa pendengarnya. Melalui lirik-liriknya yang sederhana namun penuh makna, M.Mashabi mampu menyampaikan cerita-cerita kehidupan sehari-hari, cinta, kegembiraan, dan duka dalam alunan melodi yang merdu.

Meskipun telah berlalu puluhan tahun sejak lagu-lagunya pertama kali dirilis, kekuatan dan daya tariknya tetap tak terbantahkan. Lagu-lagunya dianggap sebagai warisan budaya musik Indonesia yang tak ternilai harganya. Bahkan, sampai sekarang, lagu-lagu beliau tetap menjadi favorit di kalangan berbagai lintas generasi, membawa kenangan manis dari masa lalu dan menghadirkan kehangatan ke dalam suasana saat ini.

Lahir dari keluarga yang sarat dengan kekayaan budaya Arab-Betawi, M.Mashabi memulai perjalanannya di kampung Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta, pada tahun 1943. Ia adalah anugerah dari rahim seorang ibu yang bernama Salmah Mashabi, seorang wanita yang menularkan kelembutan hati dan keindahan kepada anaknya.

Dalam setiap langkahnya, M.Mashabi mengalirkan darah seni yang mengalir deras dari ayahnya, Salim Mashabi. Ayahnya, seorang pemain musik yang mahir, bergabung dalam orkes Gambus Al-Wardah yang dipimpin oleh Mohammad Basyadi pada era gemilang tahun 1920-an. Di bawah naungan Pemuda Al-Irsyad Batavia, O.G. Al-Wardah menjelma sebagai wadah kreativitas seni yang membanggakan, khususnya dalam aliran musik Gambus. Di sini, Muhammad Basyadi, seorang tokoh cemerlang dari Al-Irsyad, memainkan peran sentral. Beliau tak hanya menjadi pemuka dalam musik Gambus, tetapi juga menapaki perjalanan gemilang di dalam Al-Irsyad, menjabat sebagai Sekjen Al-Irsyad dan menjadi Ketua Yayasan Al-Irsyad Jakarta. Dengan semangat dan dedikasi yang membara, Muhammad Basyadi telah meninggalkan jejak yang abadi dalam dunia seni. Dari sana, M.Mashabi mewarisi cinta dan keahlian dalam musik, menjadi pewaris sebuah tradisi yang kaya akan nuansa dan keindahan yang menurun dari sosok ayahnya, Salim Mashabi pentolan O.G. Al-Wardah.

M.Mashabi lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang erat terkait dengan Al-Irsyad. Bahkan, salah satu kerabat dari pihak ayahnya, Syaikh Said Mashabi tercatat sebagai salah satu founding father dari Al-Irsyad. Keakraban keluarganya dengan organisasi tersebut membawa pengaruh besar dalam perjalanan hidupnya.

Pendidikan dasarnya pun ditempuh di Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sebuah lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang dan dihormati di masyarakat, terletak di Gang Solang. Di sini, M.Mashabi tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga terlibat dalam pengembangan bakat seninya yang telah diasah sejak kecil.

Tak heran jika beberapa musisi kenamaan Indonesia juga berasal dari almamater yang sama. Selain Sech Albar, yang merupakan maestro gambus dan ayah dari rocker terkenal Ahmad Albar, ada pula Hussein Bawafie, Munif Bahasuan, Said Effendi, dan Lutfi Mashabi. Mereka semua memiliki ikatan yang kuat dengan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, tempat yang sama-sama menjadi tempat tumbuh kembang dan berkembangnya bakat musik mereka. Semua ini adalah bukti dari dedikasi dan keberhasilan lembaga pendidikan yang didirikan oleh ulama dan tokoh pembaharuan Islam di Indonesia, seperti Syaikh Ahmad Surkati, dalam membentuk generasi penerus yang berkualitas dan berbakat.

Bersama dengan tokoh dan musisi Melayu ternama lainnya seperti Hussein Bawafie dan Munif Bahasuan, Mashabi turut berkontribusi dalam merevolusi aliran musik Melayu murni menjadi lebih dinamis dan modern. Khususnya dalam penciptaan lirik lagu, ia menampilkan syair-syair yang memperkaya tema romantisme percintaan.

Lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikan langsung oleh M.Mashabi kerap mengudara melalui siaran radio pada zamannya. Selain itu, karya-karyanya juga tercatat dalam dapur rekaman, yang pada masa itu masih berbentuk piringan hitam yang tersebar luas di seluruh negeri. Generasi dari tahun 50-an hingga masuk ke tahun 80-an pasti mengenal dengan baik suara emasnya. Lirik syairnya mudah dihafal namun mendalam maknanya, menciptakan ikatan emosional yang kuat dengan pendengarnya.

Musisi orkes Melayu yang legendaris ini meninggalkan dunia dalam usia yang masih muda, pada usia 24-25 tahun. Meskipun usianya terbilang muda, ia telah diakui sebagai salah satu budayawan Betawi yang berbakat. Kehidupannya yang singkat namun berpengaruh berakhir di Jakarta, dan jasadnya disemayamkan di pemakaman warga keturunan Arab, yakni pekuburan wakaf Syaikh Said Naum. Tempat peristirahatan terakhirnya kini menjadi bagian dari kompleks Masjid dan Lembaga Pendidikan Said Naum, yang berdiri megah di Jalan KH Mas Mansyur No.25, Jakarta Pusat. Dalam kenangan akan dedikasinya dalam dunia seni dan kebudayaan, tempat tersebut menjadi sebuah titik penting yang mengabadikan warisan dan kontribusi yang berharga bagi budaya Betawi dan Indonesia secara keseluruhan.

M.Mashabi bukan hanya sekadar musisi, tetapi juga ikon budaya Betawi yang memberikan kontribusi yang besar dalam memperkaya warisan musik Indonesia. Melalui karyanya, ia telah berhasil membangun jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, serta mengabadikan nilai-nilai dan keindahan budaya Betawi yang kaya dan berwarna. Semoga warisan musiknya terus dikenang dan dihargai oleh generasi-generasi mendatang, sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya bangsa kita.

Beberapa lagu ciptaannya tetap abadi hingga kini, mengalun merdu dan tak lekang dimakan zaman, disukai oleh berbagai kalangan dari lintas generasi. Salah satunya adalah lagu "Kecewa", yang kembali populer melalui suara merdu Iis Dahlia. Karya-karyanya, seperti "Renungkanlah", "Harapan Hampa", "Hilang Tak Berkesan", "Keluhan Anak Tiri", "Ratapan Anak Tiri", "Untuk Bungamu", "Kenangan Lama", dan "Cerita Lama", masih menggema dalam ingatan penggemar musik hingga saat ini.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya dalam dunia seni musik, pemerintah DKI Jakarta, di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan saat itu, mengabadikan namanya menjadi salah satu nama ruas jalan di Jakarta Pusat, yakni Jalan M.Mashabi. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama ruang dalam gedung Kesenian Jakarta. Dengan demikian, warisan dan kontribusi M.Mashabi dalam menghidupkan dan memperkaya seni musik Indonesia tetap dikenang dan dihargai oleh masyarakat serta pemerintah setempat.

Bogor, 6 September 2023. Tulisan ini diperbaharui kembali pada 21 Febuari 2024


Abdullah Abubakar Batarfie


Belum ada Komentar untuk "M.Mashabi, Musisi Legendaris dari Kebon Kacang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel