HUSSEIN BADJEREI, TOKOH AL-IRSYAD YANG MELEGENDA (Bagian ke-4 - TAMAT)

"MENGHATAMKAN" MASA PENGABDIAN DI AL-IRSYAD, MENGENANG 18 TAHUN KEPERGIAN CUCU MAK PISE

Dinamika dengan berbagai macam tantangan dan perubahannya adalah hal yang sangat biasa terjadi di dalam sebuah organisasi. Namun tak semua orang mampu serta siap menghadapi perubahan dan tantangan yang terjadi di dalam sebuah organisasi, mulai dari tuntutan perubahan mendadak, bahkan tuntutan untuk menjadi kreatif, inovatif, hingga berani menyelesaikan masalah yang sangat kompleks. Hussein Badjerei sebagai seorang organisatoris sejati dengan segudang pengalamannya selalu mampu menghadapinya, meski harus berhadap-hadapan dengan "assabiquna awwalun" sekalipun, setajam mata pisau yang menghunusnya dari segala arah, tak mampu menggoyahkan dirinya pada pertarungan sengit dalam arena "perbedaan", semua permasalahan dan keruwetan akhirnya bisa disudahi dengan kebersamaan lewat tangisan haru dan pelukan.

Setelah berpuluh tahun lamanya, sejak sepanjang usia hidupnya Hussein Badjerei tercatat mengakhiri kegiatannya dalam stuktur Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada tahun 1992, meski "ruh" Al-Irsyad dalam jiwanya masih tetap menyatu dan tidak akan mampu memisahkannya. Tapi pasca Muktamar tahun 1996 di kota Pekalongan merupakan klimaks dari dinamika organisasi yang tidak ter-kendali-kan-nya. "Hal ihwal" semua urusan organisasi yang dihadapinya kian liar dan berbisa, mematikan semangat kebersamaan yang telah tersusun rapih dan hancur berkeping-keping, memporak porandakan persaudaran satu "nasab dan idelogi" akibat tercemarinya oleh doktrin asing yang cepat menyebar merasuki organisasi Al-Irsyad. Benih perpecahannya itu telah ditebar oleh para penyusup yang diimport dari Saudi Arabia, negeri yang dahulu saat merangkak ingin menjadi sebuah negara masih melarat dan gembel, justru telah dibantu oleh Al-Irsyad. Virus import itu berimplikasi pada memburuknya tali  silaturahim yang dahulu saling bergandengan tangan dan membersamai yang akhirnya satu sama lain merasakan adanya jurang pemisah yang teramat dalam, termasuk yang dialami dan dirasakan sendiri olehnya. Di titik inilah seorang Hussein Badjerei telah menanggung rasa dalam ruang yang penuh kehampaan.

Dalam suasana "sepi" dan "serba asing" itu, Usin cucu Mak Pise wafat di Jakarta pada 25 Mei 2005 dan dimakamkan pada rebo siang selepas beduk lohor di pemakaman Karet Bivak, Tanah Abang. Penulis alhamdulillah berkenan hadir menyaksikan pemakaman seorang yang "luar biasa" ini tapi dengan cara yang tidak "biasa". Prosesi pemakaman Hussein bin Abdullah bin Agil Badjerei, tokoh luar biasa yang pernah dimiliki Al-Irsyad itu hanya dihadiri oleh sedikit tokoh Al-Irsyad yang dahulu pernah membersamainya, bahkan tidak ada kalimat perpisahan dari Al-Irsyad yang telah melahirkan dan membesarkan namanya menjadi seorang Irsyadi tulen, 24 karat.

Husssin Badjerei menikahi Fanny Basari pada 30 Juni 1962 yang kelak kemudian dari pasangan ini melahirkan anak perempuan yang dinamainya Nasti Hussein. Nasti dilahirkan pada 27 Desember 1970, karena itu dirinya dan orang-orang terdekatnya, setelah kelahiran puteri tunggalnya lahir menyebut namanya dengan sebutan Abu Nasti. Saat Abu Nasti tengah berjibaku dalam mempersiapkan pembuatan film Balada Dangdut, dimana ia berperan sebagai penghulu dalam film tersebut, Nasti anaknya menikah dengan Ibrahim bin Abdul Azis Abdun, pria pilihan asal Kraksan Jawa Timur pada tanggal 9 Agustus 1997.

Hussein sempat menikah untuk yang kedua kalinya. Baik Fanny maupun Ani Murtinah istri keduanya, sama-sama merupakan wanita berdarah jawa murni, dari pernikahannya dengan Ani Murtinah mereka sempat dikaruniai satu anak laki-laki tapi wafat saat masih bayi dan diberinya nama Abdullah.

Kepergian Hussein Badjerei sebagai salah satu putera dan kader terbaik yang pernah dimiliki oleh Al-Irsyad itu, sampai kapanpun dan bagi siapapun dipastikan akan merasakan kehilangan pada sosoknya yang amat langka bagi Al-Irsyad ini. Hussein Badjerei yang sepanjang hayatnya hidup dengan amat sederhana itu, telah banyak mewarisi kekayaan berupa karya tulis dan dokumentasi penting bagi khazanah Al-Irsyad yang sangat besar. Sayang seluruh peninggalan dari semua koleksinya yang bernilai historisy itu, kini tidak diketahui lagi dimana rimbanya.

Bagi penulis, mengutip sebuah ungkapan yang pernah beliau tulis tentang Syaikh Ahmad Surkati, bahwa Surkati dengan Al-Irsyad, kedua nama itu tidak akan dapat dipisahkan; "Surkati adalah Al-Irsyad, Al-Irsyad adalah Surkati". Ungkapan yang sama tentunya patut kita berikan kepada Hussein Badjerei, ibarat orang di Betawi bilang; "biar kopye ente tambe miring", Hussein Badjerei dan Al-Irsyad, kedua nama itu akan terus melekat hingga hari kiamat.

Ridwan Saidi sahabatnya memberinya pengantar tentang kisah hidup Husein Badjerei dalam bukunya yang berjudul "Anak Krukut menjelajah Mimpi". Menurutnya Hussein Badjerei yang berlatar belakang seorang sastrawan tapi telah lama ditinggalkannya demi memilih untuk aktif di Al-Irsyad, jejak kesastrawananya masih dapat diendus-endus pada semua tulisan-tulisannya. Hussein adalah generasi penerus sastrawan peranakan arab yang pernah ada di Indonesia sejak Abdullah Al-Mishri, Syihabuddin Alawi dari Pekojan yang menulis "Syair Ikan Dalam Laut", M.Balfas dari Krukut dan sastarawan terkemuka Ali Audah.

Masih menurut Ridwan Saidi, Hussein Badjerei dididik oleh ayahnya Abdullah Agil Badjerei dalam semangat egalitarianisme yang menjadi ciri khas organisasi Al-Irsyad yang dibangun oleh Syaikh Ahmad Surkati. Pada sosok Hussein dapat kita saksikan dia bisa berteman akrab dengan seorang cina sekalipun, bahkan seorang anak angkatnya adalah peranakan cina. Hussein bersama Ciam Sun Tiauw sahabatnya, bagaikan "kuali ame kekep". Demikian pula dengan sahabatnya Mahbub Djunaidi yang berlatar belakang NU. Hussein juga dengan santainya dapat seenaknya melenggak lenggok dalam dunia perfilman yang penuh dengan aneka suku dan ras, tapi dalam dirinya terdapat jiwa tauhid yang kuat dan murni. Hussein tumbuh memiliki "ghirrah Islamiyyah" yang kuat yang ia dapatkan dari ayahnya Abdullah Agil Badjerei, dan dari abang iparnya Muhammad Basyadi, buah dari ajaran Al-Irsyad yang tertanam kuat dalam diri dan keluarganya.

Hussein adalah tipe seorang sahabat yang memegang teguh pada nilai-nilai persahabatan yang agung, yang tidak mengenal khianat, bahkan ia tidak mau mengerti makna perpisahan karena tak sanggupnya ia melihat sebuah perpisahan. Di mata H. Ridwan Saidi dan sahabat aktivis lainnya, Hussein memiliki penglihatan kritis dan jeli dalam masalah politik di tanah air dan pemikiran politik seorang Hussein bertumpu pada kepentingan Islam.

Kenangan bersama sahabatnya 
H.Mahbub Djunaidi

Hussein merupakan seorang intelektual dan politisi muslim yang berbakat, tapi ia adalah seorang aktor yang sulit mendapatkan panggung. Panggung politik Indonesia tidak ramah terhadap orang seperti Hussein yang selalu memegang teguh pendirian dan pantang untuk menjadi penjilat. Hussein selalu ada peluang meraih posisi politik yang paling baik, tetapi selalu saja ada faktor pengganjal. Apa yang sangat didambakan Hussein selalu luput dari pelukannya, maka Hussein pun seperti yang digambarkan oleh sahabatnya H.Ridwan Saidi, sebagai orang yang bagaikan berjalan di pinggir kayangan.

Hussein telah melahirkan banyak puluhan cerpen yang dimuat dalam pelbagai majalah terkemuka, karenanya ia terakreditasi sebagai seorang pengarang Indonesia. Gaya penulisan Hussein banyak menggunakan gaya dialektikal Betawi yang oleh Mahbub Djunaidi dan H.Ridwan Saidi mengingatkannya pada gaya penulisan wartawan tiga zaman Kwee Kek Beng. Penguasaan Hussein akan bahasa Betawi yang luas dengan mudahnya memainkan ungkapan-ungkapan Betawi dalam semua tulisannya tersebut, bahasa Betawi yang kaya dengan metaphora dengan baik dimanfaatkan oleh Hussein sebagaimana Kwee Kek Beng.

Hussein lahir dan dibesarkan dalam kultur peranakan Arab yang kental tapi secara personality Hussein memiliki yang lain dan berbeda dari kebanyakan "jamaah" nya. Latar pendidikan, bahkan sempat menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, malang melintang dalam dunia pergerakan sebagai seorang aktivis, berinteraksi dengan berbagai kalangan manusia, terutama yang memiliki intelektual lebih, membuat Hussein tampil beda dari kaumnya dalam lingkungan peranakan Arab. Semua itu mempengaruhi gaya hidupnya dan mengantarkan dia pada "keterasingan" dilingkungannya, harga mahal dari seorang Hussein yang telah memilih jalan yang tidak biasa, yang tidak sembarang orang bisa melewatinya.

H.Misbach Yusa Biran yang memberinya label kepada Hussein sebagai kamus berjalannya Al-Irsyad mengungkapkan; "Saya sudah biasa bergaul dengan teman dari etnis Arab, selalu akrab dan hangat. Tapi Hussein lebih dari itu, ia sangat telaten". Menurut Misbach, jika berbicara tentang Al-Irsyad, sekecil apapun akan dijawab oleh Hussein, termasuk rute jalan-jalan pagi Surkati, seolah apa yang diceritakannya tahun 1915 itu, peristiwanya baru terjadi kemarin sore.

Saat usianya memasuki 70 tahun, dua tahun sebelum hari wafatnya itu tiba sebagai takdir yang telah ditentukan oleh al-Khaliq Allah SWT Yang Maha Pencipta, buku autobiografinya telah selesai ditulisnya dan dicetak untuk pertama kalinya pada 20 April 2003, oleh LISP yang berkantor dikediaman sahabatnya H.Ridwan Saidi di Jalan Merak IV No.31, Bintaro Jaya. Sekaligus memberinya pengantar pada buku itu yang diberinya judul; HUSSEIN BADJEREI, Anak Krukut Menjelajah Mimpi. H.Ridwan Saidi sahabatnya memberi pengantar pada buku itu menggunakan judul berupa "Satire", majas sindiran bergaya jenaka yang khas dari seorang Ridwan Saidi sebagai budayawan Betawi dan diberinya tajuk; "Di Pinggir Kayangan".

Buku outobiografinya yang ditulis sendiri oleh Hussein Badjerei, dapat dikatakan sebagai outobiografi yang tertulis secara jujur dan faktual. Ia mampu bercerita tentang kehidupannya tanpa terkena hero syndrome sebagaimana yang terkesan kuat dalam puluhan biografi tokoh-tokoh Indonesia yang memuakan. (H.Ridwan Saidi).

Dalam buku autobiografinya itu, rasa berada di ambang kematian sudah dirasakannya, terlukis haru dan pilu saat menggambarkan rasa dukanya setelah orang-orang terdekatnya satu persatu wafat mendahuluinya. Hussein Badjerei ingatannya sangat kuat saat melukiskan rasa duka dan kehilangan nenek, ayah, ibu, paman dan saudara-saudaranya yang terdekat dalam lingkaran hatinya, termasuk ipar dan kemenakannya dengan akurasi waktu dan peristiwa yang terlukiskan dikala mereka tiada.

Demikian pula saat semua sahabat ayahnya wafat, yang kesemuanya adalah tokoh terkemuka Al-Irsyad, terdidik dalam asuhan Muallim Ahmad, sejak alumninya dari angkatan yang pertama hingga yang termutakhir tatkala sekolah Al-Irsyad di Jakarta masih mentereng mencetak generasinya yang paling menonjol, termasuk mereka yang berada di daerah yang semuanya mampu direkam dalam ingatannya, kapan wafatnya dan dapat menjelaskan sosoknya dengan utuh. Termasuk sentuhannya secara emosional kesemua tokoh-tokoh itu dengan dirinya.

Eks Kediaman Hussein Badjerei yang Sederhana tapi Bersejarah, Jalan Dukuh Pinggir IV Rt.014/05, Tanah Abang Jakarta. Dirumah ini pernah menjadi pusat kegiatan pers Al-Irsyad, Suara Al-Irsyad 
dan Lapla

"Gevoeling" diambil dari kosa kata Belanda yang di masa lalu sering dipakai sebagai istilah untuk menggambarkan hari-hari terakhirnya dipenghujung senja, ungkapan untuk seorang Hussein Badjerei yang seringkali mudah menangis saat mengenang masanya yang silam. Dukuh Pinggir rumahnya yang juga sama-sama melegenda dengan namanya untuk Al-Irsyad, berangsur sepi dari semua aktivitas yang dahulu ramai dikunjungi, dan bisa jadi korespondensi terbanyak dari surat menyurat yang pernah dialamatkan orang ke rumahnya. Surat-surat itu bertukar kiriman bukan hanya untuk hal ihwal jumiyyah yang terlampau dinamis, tapi saling bertukar kabar, merajut tali kasih antara sesama sahabat, dengan sahabat juniornya sekalipun, seperti Awod Maretan (Pekalongan) dan Hamid Abud Attamimi (Cirebon), termasuk penulis yang juga sempat berkorespondensi dengannya. Abdurrahman (AR) Baswedan tercatat diantara tokoh besar yang juga pernah melayangkan suratnya ke alamat Dukuh Pinggir IV, bahkan sesaat sebelum pejuang kemerdekaan itu wafat.

Dipan kecil seukuran badan yang sering dipakai sekedar merebahkan diri oleh tokoh-tokoh Al-Irsyad di kediamannya di Dukuh Pinggir, antaranya yang paling sering digunakan oleh al-Ustadz Said Hilabi, dikemudian hari terpaksa berubah letaknya dan teronggok tidak terpakai sejak tokoh yang dihormatinya itu wafat. Dimata istrinya Fanny, Said Hilabi sudah seperti ayah baginya. Bahkan dari tangan Said Hilabi dan terlibatnya banyak tokoh seperti Oemar Hobeis dan Ahmad Ali Sungkar, kediamannya di dukuh Pinggir IV berangsur membaik dan layak dihuninya, setelah sebelumnya rumah sangat sederhana yang luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi itu, sempat dihuninya hanya berdinding triplek tanpa ada aliran listrik.

Rasa sepi sebagai seorang aktifis organisasi, terutama sebagai kader sejati dan pengurus teras Al-Irsyad Al-Islamiyyah di tingkat nasional, sejak setelah angin kencang "berhasil" merobohkan atap rumah besarnya yang kokoh dimana rumah itu berpuluh-puluh tahun dihuninya, baik sejak di Jalan Kemakmuran (sekarang; Jalan KH.Hasyim Asy'ari), hingga berpindah ke Jalan Keramat Raya No.25. Ia seolah sudah siap mental menghadapi semua itu, meski ada perasaan yang pilu berkecamuk dalam hatinya, pecah berkeping-keping bagaikan kaca yang dihempaskan ke atas batu.

Ia melukiskan bagimana saat masih berjibaku dalam urusan sebagai pengabdi di Al-Irsyad, kunjungannya ke satu kota demi kota, saat tiba di kota itu akan banyak teman sejawat yang menjemput dari mula saat kereta itu tiba di stasiun, lalu banyak pula yang mengantarnya saat akan kembali pulang. Di Hotel tempat menginap selama dalam kunjungan, atau di rumah yang menjadi tempat singgah, akan penuh sesak dengan Irsyadi yang menemui dan menjamunya penuh kehangatan dan keakraban. Kesepian yang terakhir kalinya adalah saat kunjungannya ke kota Surabaya, meski tiga hari tiga malam menginap, ia hanya dapat berlinang air mata menatap langit-langit hotel, hampir tidak ada yang menemaninya lagi seperti dulu.

Jum'an Basalim, dirasakannya sebagai teman yang paling setia saat masa-masa senjanya di Dukuh Pinggir, tentu tidak ternafikan pula sahabat-sahabat lainnya semisal Ridwan Saidi, Abdullah Surkati, Amak Baljun, Amang Alwaini, Faruk Mahri, dan yang lainnya. Jum'an Basalim menjadi tempat Hussein dalam mencurahkan semua isi hatinya yang terundung oleh rasa sepi. Hussein masih dapat merasakan kehangatan akan kehadiran dua orang cucunya, buah hati dari puterinya Nasti, Abdul Azis yang lahir di Jakarta, 29 Mei 1988 dan Hasbi Hussein yang dilahirkan di Kraksan, Probolinggo pada 2 Maret 2001.

Bogor, 8 Juli 2023
Abdullah Abubakar Batarfie
Tamat

Posting Komentar untuk "HUSSEIN BADJEREI, TOKOH AL-IRSYAD YANG MELEGENDA (Bagian ke-4 - TAMAT)"