HUSSEIN BADJEREI, TOKOH AL-IRSYAD YANG MELEGENDA (Bagian ke-1)

H. Husein Bajerei adalah wartawan, politisi dan tokoh budayawan Betawi. Husein tertarik dengan dunia jurnalistik sejak muda. Sepanjang karirnya, Husein sudah bergabung dengan sejumlah media diantaranya Pemuda Masyarakat, Gema Pemuda Al-Irsyad, Media HMI, Suara Al-Irsyad, Ihya Ulumiddin, PENA, Harian Pelita, Media Persatuan dan Penerbitan Alam’arif. Kiprah terakhirnya di bidang jurnalistik adalah tatkala menjadi pengasuh tunggal "Laporan Berkala" Al-Irsyad yang disingkat dengan Lapla.

Selain kesibukannya dalam dunia jurnalistik, Husein cukup aktif dalam sejumlah kegiatan organisasi, bahkan pernah menduduki sejumlah posisi penting diantaranya Ketua Penerangan dan Publikasi Bagian Kesenian Dewan Mahasiswa UI, Ketua Departemen Penerangan PB HMI masa kepengurusan Ismail Hasan Metareum SH, anggota Dewan Pertimbangan Perserikatan Organisasi-organisasi Islam Seluruh Indonesia (PORPISI), anggota Dewan Pertimbangan BKS Pemuda-Militer dan Front Nasional Pembebasan Irian Barat.

Dalam buku otobiografi "Anak Krukut Menjelajah Mimpi" yang ditulisnya sendiri, Ia lahir di Gang Petasan, Krukut 21 April 1933. Untuk menemukan alamat yang memiliki nama gang unik itu kini tidak akan sulit, karena sampai dengan sekarang namanya belum pernah berubah sejak awal mula ada pabrik petasan di gang itu. Demikian pula dengan nama Krukut, nama ini pun dari dahulu sudah dikenal orang di Betawi, sejak sebelum dan sesudah wijkenstelsel di Batavia dicabut, sebuah kebijakan dari pemerintah kolonial yang mewajibkan warga etnis Arab di Batavia hidup berdampingan dengan nyamuk sebesar lalat, yang wilayahnya telah disiapkan oleh Belanda berada dekat dengan rawa-rawa di sekitar Pasar Ikan dan Pekojan.

Dari sejak dicabutnya peraturan tentang kependudukan yang dibuat oleh penjajah itulah, banyak warga etnis Arab di Batavia yang kemudian berangsur pindah satu persatu mendiami daerah yang lebih sehat, mendiami wilayah barunya di Tanah Abang dan Krukut. Termasuk Syaikh Agil Badjerei, kakek dari Hussein Badjerei yang kemudian tinggal dan menetap di Gang Petasan. Agil yang hijrah dari Hadramaut ke Batavia pada abad 18 ini, menikahi seorang wanita Betawi bernama Nafisah yang disapa cucu dan kerabatnya dengan sebutan Mak Pise, termasuk oleh cucu kesayangannya Hussein Badjerei. Dari rahim Mak Pise itulah lahir dua orang anak laki-laki yang dinamainya Saleh dan Abdullah.

DI TUBUH HUSSEIN BADJEREI MENGALIR DARAH AL-IRSYAD

Abdullah Agil Badjerei lahir di Pekojan 1 Januari 1904. Sepuluh tahun setelah Syaikh Ahmad Surkati membuka sekolah Al-Irsyad pada 6 September 1914, Abdullah pun dimasukan oleh ayahnya di sekolah baru itu yang pamornya cepat melejit bak meteor, maju mendahului Jamiat Khair, lembaga yang mengundangnya datang ke Batavia. Syaikh Ahmad Surkati yang oleh Abdullah disapanya dengan panggilan Mualim Ahmad itu, bahkan pernah diminta mendampinginya mengajar, saat usianya kurang dari sembilan belas tahun dengan mendapatkan honor mengajar sebesar 30 gulden, setara harga beras 1.2 ton di masa itu.

Madrasah pertama Al-Irsyad di Jalan Jati Baru Petamburan dibuka bersamaan dengan berdirinya Jum'iyyah yang menjadi penopang keberlangsungan madrasah. Isu pertama dan utama yang menjadi pemicu, gagasan lahirnya dua lembaga penting yang saling terikat itu, organisasi dan sekolah, adalah karena tidak adanya kesepemahaman para pemuka Jamiatul Khair dengan Syaikh Ahmad Surkati tentang persamaan derajat manusia, yang berimplikasi terhadap strata masyarakat yang menjadi sandaran untuk kelas sosial dan agama, termasuk penggunaan titel di depan nama seseorang yang disandarkan pada hak paten berdasarkan nasabnya.

Selain mengajar, Abdullah aktif menjadi penerjemah tunggal gurunya Mualim Ahmad, yang dilakoninya adalah membantu kegiatan korespondesi, menerjemahkan pidatonya, penerjemah forum diskusi dan perdebatan, juga menulis artikel di berbagai majalah. Sering pula mewakilinya sebagai pemateri yang diperuntukan bagi para pelajar muslim di sekolah barat, khususnya di Stovia dan forum-forum yang dihadiri oleh kaum intelektual di Batavia. Kemampuan bahasa Arab Abdullah Agil Badjerei mendapatkan pengakuan dari Prof. Dr. Van Nieuwenhuise yang dijukukinya dengan "King of The Arabic".

Masih tentang ayahnya Abdullah Agil Badjerei, pada 1923, Ia telah diminta gurunya sebagai redaktur di majalah Al-Dhakhirah al-Islamiyah yang diterbitkan dan dipimpin sendiri oleh Surkati. Bahkan sejak itu, meski kadang diselingi oleh tokoh-tokoh lainnya dengan jabatan serupa, posisinya sebagai sekretaris (sekjen) dalam organisasi Al-Irsyad di tingkat pusat, tidak pernah putus sejak periode 1922 hingga tahun 1954. Abdullah seolah telah menjadi ikon Al-Irsyad yang paling menonjol disetiap congresnya, dari Muktamar ke Muktamar, sejak perhelatan akbar organisasi di tingkat nasional itu masih menggunakan istilah "Algemene Vergadering” (Rapat Umum) yang diselenggarakan setiap tahun sekali, atau sering pula menggunakan istilah "Jaarvergadering".

Kehadiran Abdullah Agil Badjerei dalam Muktamar pada kali terakhir yang dihadirinya adalah saat berlangsungnya Muktamar ke-30 dan terbilang yang paling penting pada tahun 1970 di kota Bondowoso, kota bersejarah yang menjadi saksi bisu saat masa-masa "revolusi" perjuangan dakwah Al-Irsyad, salah satunya adalah "Peristiwa berdarah Bondowoso" yang terjadi di tahun 1932.

Sejak setelah Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-30 itulah, Abdullah kali terakhir tampil bersama sahabat-sahabat seperjuangannya. Bahkan bersamanyalah noktah perjuangan yang tertuang menjadi risalah dari intisari dakwah Al-Irsyad ini lahir dan seolah menjadi nota kesepakatan bersama untuk menentukan arah Al-Irsyad di masa yang akan datang dengan membuat rumusan penting "Ikhtisar Mabadi Al-Irsyad" untuk kemudian menjadi Ketetapan Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-30.

Abdullah bin Agil Badjerei yang jika diriwayatkan hidupnya tak akan selesai berjilid-jilid ini, wafat pada 4 November 1971 di Jakarta. Di mata Hussein anaknya, ia bukan saja sebagai sosok seorang ayah yang memiliki banyak peran dimata anaknya Hussein. Kadang menjadi gurunya, teman seperjuangan dan kawan sehari-hari untuk berbagi cerita tentang Al-Irsyad, tentang Pemimpin Besar Al-Irsyad Ahmad Surkati, kisah-kisahnya yang penuh dengan ketauladanan. Kedua orang terpenting di Al-Irsyad ini, ayah dan anak, sepanjang hidupnya telah "Menabur hari di Al-Irsyad".

Hussein menjadi putera tunggal tokoh besar Al-Irsyad Abdullah Agil Badjerei dengan Rogayah binti Abdullah Ba'Agil. Kakek dari pihak ibunya, yang dia panggil dengan sapaan Njid Dulo sangat dikenal oleh orang di Tenabang, karena profesinya sebagai "Merbot kuburan Arab" wakaf Syaikh Said Naum. Hussein cucunya "kehilangan obor" siapa nama neneknya yang juga asli Betawi dari garis ibunya. Sejak setelah perpisahan ibunya yang dia panggil dengan Umi Yaya ini, Hussein kecil yang dipanggil "Usin" oleh keluarga dan teman sebayanya, hidup dalam asuhan penuh kasih sayang neneknya Mak Pise bersama kakak-kakak perempuannya yang satu ayah. Ibunya "Umi Yaya", sempat menikah kembali dengan Derahman Jeni anak Mujeni, yang menjadi ikon pembela Surkati "nomor wahid" di Betawi. Mujeni atau akrab disapa Jeni, pada masanya dikenal pula sebagai kepala kampung atau "Serean".

Baik Jeni maupun anaknya Derahman Jeni, keduanya dikenal sebagai pendekar di Betawi, jagonya "ahli maen pukulan "khususnya di kawasan Tanah Abang. Pada masa revolusi fisik (1945-1950), Derahman Jeni merupakan pahlawan yang berjuang di garis depan melawan Belanda yang berhasil mengobarkan semangat perlawanan rakyat melawan penjajah. Tokoh pendekar Betawi itu, semasa hidupnya sangat disegani yang membuat kawasan Tanah Abang tidak berani diganggu oleh para bandit dan begundal.


Dari pernikahan Abdullah ayah Hussein dengan empat orang istrinya, Hussein memiliki empat belas orang bersaudara, tapi yang paling terdekat dan hidup bersama sepanjang hayatnya yang bukan saja berperan sekedar sebagai kakak melainkan ibu baginya adalah Khadidjah dan Salha, terutama Salha yang sepenuhnya telah dengan segenap hati meluapkan kasih sayang pada "Usin" adiknya. Salha bersuamikan Mochammad Basyadi yang juga telah menjadi orang besar di Al-Irsyad.

Selain aktif dalam berbagai kegiatan penting di Al-Irsyad sejak belia sebagai pengurus teras Pemuda Al-Irsyad, jabatan terpenting Mochammad Basyadi adalah sebagai Sekjen Pengurus Besar (Hoofdbestuur) Al-Irsyad dan Sekretaris Yayasan Al-Irsyad Jakarta, dan sekretaris dari Stichting Surkati. Pernikahan Mochammad Basyadi dan Salha terbilang paling "heboh" di Betawi akibat luapan satu qabilah yang marah karena terjadinya pernikahan  beda "kasta". Tapi Abdullah ayah Salha yang teguh pada prinsip almusawa sebagai doktrin Al-Irsyad yang mengusung tentang persamaan kesetaraan, berlangsungnya pernikahan ini tak goyah dari serangan yang menentangnya, satu truk laki-laki dari satu kabilah Abdullah yang tinggal satu koloni di bumi priangan, berhasil dihalau massa yang dikomandani oleh sepasukan anak buah Bang Jeni, jagoan Betawi dari Tenabang, pengikut setia Syaikh Ahmad Surkati pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Mochammad Basyadi yang pernah memiliki dan memimpin "Orkes Al-Wardah" dibawah naungan Pemuda Al-Irsyad, bersama istrinya Salha tinggal dan juga ikut bersamanya Mak Pise, di kediamannya yang berada di kampung Kumpi Tamberang di kawasan Petojo, Jakarta Pusat.

Ustadz Mochammad Basyadi yang lulusan sekolah Al-Irsyad Batavia, asuhan dan didikan langsung Muallim Ahmad Surkati ini, wafat di Jakarta pada 14 Desember 1954. Sebagaimana kisah hidup mertuanya Abdullah Agil Badjerei, kisah pengabdian dan keluhuran budi Ustadz Mocahmmad Basyadi jika ditulis perjalanan sepanjang hidupnya yang penuh dengan ketauladanan, bisa jadi akan setebal kitab Sulalatus Salatin. Hussein Badjerei pernah berseloroh terhadap sosok yang dikaguminya itu; "Seandainya ada Nabi setelah Nabi Muhammad, maka Muhammad Basyadilah yang patut menjadi Nabi".

Mohammad Basyadi (kanan) & Abdullah Badjerei
Dua Sekjen Al-Irsyad

Hussein Badjerei menempuh pendidikan dasar pertamanya di Hollandsche Inlandsche School - HIS, sekolah yang diperuntukan bagi kalangan "ningrat" pada masa penjajahan Belanda. Tapi hanya beberapa tahun saja, saat memasuki di kelas 3, terpaksa sekolahnya dihentikan akibat invasi Jepang yang dengan kebijakannya telah banyak menutup semua sekolah di Jakarta pada tahun 1942. Satu tahun sesudahnya, setelah Nippon merasa berkuasa mutlak atas wilayah jajahannya, Hussein kemudian disekolahkan oleh ayahnya di Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta, yang kala itu dikepalai oleh Ustadz Ali Harharah, teman satu perguruan dan sahabat seperjuangan ayahnya yang dikenal sebagai oratornya Al-Irsyad dan dijuluki "Spreker dari Gang Kenari" oleh Saeroen (1920-1962), wartawan senior di Batavia.

Sejak pasca masa peralihan dari penguasaan penjajah Belanda kepada Jepang, dan selama menjadi siswa di almamater ayahnya, Husein menghadapi masa-masa sulit yang hidup dengan keterbatasan ekonomi. Untuk menambah uang saku, terpaksa Ia harus berusaha mandiri dengan berjualan manisan mangga di sekolah. Manisan yang dibuatnya sendiri, modalnya baik gula maupun mangganya Ia dapatkan dari pemberian kawannya Abdul Azis Alkatiri, yang manggganya Ia petik langsung dari pohon yang tumbuh di pekarangan milik keluarga temannya tersebut.

Ketika rapat Ikada berlansung, usia Hussein Badjerei saat itu masih dua belas tahun, yang bersama teman-temannya berhasil menerobos masuk dalam kerumunan massa hingga dekat dengan podium tempat Bung Karno berdiri dan berbicara selama kurang lebih lima menit. Dalam buku otobiografinya Ia memberikan kesaksian bahwa dalam rapat umum di tanah lapang Gambir itu, Bung Karno yang kedatangannya dikawal ketat, bukan untuk berpidato dalam rangka membakar api semangat rakyat seperti yang oleh banyak orang sebut dan ditulis pada beberapa buku sejarah proklamasi, tetapi hanya berbicara singkat tak kurang dari lima menit saja, dalam rangka untuk menenangkan massa dan membubarkan Rapat Raksasa tersebut.

Di masa yang serba tidak menentu selama revolusi berlangsung pada zaman Jepang dan tindakan agresor tentara Sekutu dan Belanda, keluarga Hussein Badjerei terpaksa harus sering kali berpindah kediaman, seluruh anggota keluarganya diboyong pindah oleh ayahnya untuk mencari tempat yang dianggap lebih aman, hingga keluar jauh dari kota Jakarta, demi terhindar dari marabahaya bom-bom yang berhamburan menghantui rumah-rumah penduduk saat terjadinya konflik bersenjata berlangsung antara pemuda rakyat dengan NICA yang bertengsi di Petojo. Bahkan sekolahan Al-Irsyad di Petojo Jaga Monyet pun ikut menjadi korban pendudukan yang dipakai paksa oleh tentara Belanda saat agresinya yang kedua, dan berlanjut penguasaan atas bangunan sekolah tersebut yang berpuluh-puluh tahun lamanya dikuasai dan dihuni oleh eks tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger - KNIL dari golongan "londo ireng". Hingga akhirnya asset itu hilang ditelan bumi yang ujung-ujungnya tergantikan dengan persil hasil prahara di daerah kayu manis Bogor yang konon jumlah luasnya pun sekarang sudah berkurang banyak karena dijual sebagian oleh Yayasan Dana Bantuan Perguruan-Perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang telah "sekonyong-konyong" menjadi penguasa atas asset eks Petojo tersebut, meniru-niru tentara KNIL. Padahal gedung sekolah Al-Irsyad di Petojo Jaga Monyet yang bersejarah, sebelumnya merupakan asset Yayasan Al-Irsyad Jakarta atau dengan kata lain milik Irsyadi di Betawi.

Selama gedung sekolah Al-Irsyad di Petojo Jaga Monyet berada dalam penguasaan NICA dan anteknya KNIL, sejak saat itu pula aktivitas pembelajaran dihentikan. Bahkan oleh Abdullah ayahnya, Hussein sempat diboyong pindah ke Cianjur, tapi tak lama kemudian harus balik kembali ke Jakarta karena permintaan Mak Pise neneknya dan kakanya Salha yang kala itu masih tetap bertahan tinggal di Jakarta. Setelah situasi sempat pulih, sekolah Al-Irsyad kembali dibuka dan meski terlambat,  Hussein akhirnya lulus dari sekolah dasar di tahun 1949, usianya saat itu sudah memasuki 16 tahun.

Di masa agresi kedua Belanda, sekolah Al-Irsyad di Jakarta yang Majelis Pendidikannya kala itu diketuai oleh Toebagoes Sjoe'aib Sastradiwirja, mengambil sikap tidak kooperatif, memilih untuk tidak bekerjasama dengan Pemerintah Pendudukan Belanda. Tapi dikala harus tetap melaksanakan keberlangsungan kegiatan kependidikannya, selama ujian akhir berlangsung dalam persiapan yang serba terbatas, sekolah Al-Irsyad dibantu oleh tenaga guru dari kalangan "republiken" guna mempersiapkan bahan materi ujian masuk sekolah lanjutan yang dipersiapkan secara sederhana dengan tulisan tangan yang dimuat pada buku tulis, kemudian secara bergiliran disalin oleh seluruh siswa. Tenaga pengawas yang bertindak sebagai penilik sekolah Al-Irsyad adalah Bapak H.Dahlan Abdullah yang setelah kedaulatan RI diangkat sebagai Duta Besar pertama RI di Irak, hingga beliau wafat dalam masa tugasnya dengan upacara pemakaman terbesar sepanjang sejarah yang pernah diberikan terhadap seorang diplomat oleh Pemerintah Irak. Tokoh asal kota Pariaman, Sumatera Barat yang memiliki nama lengkap Haji Bagindo Dahlan Abdullah (15 Juni 1895 – 12 Mei 1950), adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah menjabat sebagai Wakil Pemimpin Pemerintahan Kota Jakarta mendampingi Raden Suwirjo di masa peralihan kekuasaan antara pendudukan Jepang dengan Pemerintah Indonesia dari 7 September 1945 hingga 23 September 1945.

Sejak dinyatakan lulus dari SD Al-Irsyad dan setelah mengikuti ujiannya yang kedua di Al-Irsyad akibat ketertinggalan karena masa revolusi, atas usaha Bapak Toebagoes Sjoe'aib Sastradiwirya, Hussein kemudian mendaftar dan berhasil menjadi siswa di "SMP PMIK", sekolah yang dianggap berstatus partikelir oleh Belanda, tapi dianggap sebagai sekolah negeri oleh Pemerintah Republik Indonesia. Letak sekolahnya menempati sebuah bangunan darurat yang berada diantara himpitan rumah-rumah penduduk antara Jalan Kaji dan Petojo Enclek. Bahkan semua siswa termasuk Hussein Badjerei membawa sendiri bangku dari rumah karena ketidak tersediaan alat dan perlengkapan yang memadai. Ciam Sun Tiauw adalah satu-satunya anak Cina di sekolah itu yang menjadi sahabatnya, hingga keduanya sama-sama telah menapaki usia senia. Hubungannya dengan Ciam sudah ibarat keluarga, meski keduanya berbeda agama dan etnis.

Setelah kedaulatan RI pulih, pada bulan Desember 1949, sekolah darurat yang "melarat" itu langsung dipindahkan ke lokasi Jalan Budi Utomo No.3. Tidak diketahui dengan pasti singkatan apa PMIK, tapi sejak dahulu dikenal orang dengan sebutan sekolah Federal. Sejak saat itulah hari-hari Hussein Badjerei sampai enam tahun berikutnya hingga SMA, dilewatinya di sepanjang Jalan Budi Utomo, yang pada zaman Belanda dinamakan Vrijmetselaarsweg. Oleh pemerintah nama SMP PMIK namanya kemudian diubah menjadi Sekolah SMP II.

Di sekolah SMP II inilah petualangan Hussein Badjerei sebagai seorang aktivis dimulai, Ia kemudian dipilih untuk menjadi Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia ranting SMP II. Bersama Mahbub Djunaidi yang masih memiliki hubungan kekerabatan dari pihak ibunya Rogaya Ba'adil, Hussein Badjerei dengan teman satu sekolah lainnya mendirikan "Surya Kancha", sebuah organisasi extra sekolah yang menggiatkan kegiatannya pada bidang olah raga.

Sejak masih dibangku SMP, Hussein Badjerei sudah aktif menulis di Majalah Pemuda Masyarakat yang dicetak dalam bentuk stensilan oleh Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Selain oleh Roestam Anwar seniornya di IPPI yang memberinya motivasi dalam mengembangkan dirinya menjadi seorang penulis, A.Hamid Attamimi SH yang dikemudian hari pernah menjabat sebagi Menteri Wakil Sekretaris Kabinet RI, juga terus menerus selalu memberikan bimbingan kepadanya. A.Hamid Attamimi yang juga dikenal sebagai Bapak Perundang-Undangan RI ini, bahkan memberinya kenangan-kenangan berupa karikatur indah karyanya sendiri kepada Husein Badjerei, karena pernah sama-sama aktif di Majalah Pemuda Masyarakat. Dalam karikatur itu ditulis kalimat pujian kepada Hussein yang dinukilnya dari syair Arab terkenal, as-Samaw'al.

Tahun 1952, Hussein dan teman seangkatannya lulus ujian akhir dari SMP II dan sama-sama masuk ke SMA I di Jalan Budi Utomo No.7. Di sekolah yang sama, Ia duduk satu bangku dengan Mahbub Djunaidi. Mahbub sahabatnya kelak dikenal sebagai seorang sastrawan Indonesia dan Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Ayahnya, H. Djunaidi adalah salah satu tokoh NU dan anggota DPR RI pada pemilu 1955. Hubungan dua sahabat yang berbeda "idiologis" itu saling melengkapi dalam kancah perjuangan bersama sebagai anak bangsa, mengisi kemerdekaan dalam berbagai aktivitas kebangsaan, seni dan politik. Disaat Al-Irsyad bermuktamar yang ke 32 di kota Bogor tahun 1979, dihadapan muktamirin yang menghadirinya, termasuk dua tokoh bangsa M. Natsir dan M.Roem, telegram ucapan bermuktamar dari sahabatnya Mahbub, dibacakannya oleh Hussein dalam arena Muktamar, di sela-sela acara sidang pembukaan tengah berlangsung.

Sejak masih dibangku SMA, sesaat menjelang ujian akhir, Hussein yang sudah mulai ikut dalam pergerakan sebagai seorang kader dan aktivis di Al-Irsyad, untuk pertama kalinya mengikuti Muktamar Al-Irsyad ke-28 di kota Surabaya tahun 1954. Dari titik tolak inilah, setiap dzarah yang telah mengalir "darah irsyadi" dalam tubuhnya, sebagai putera terlahir dari lingkungan dan keluarga Irsyadi 24 karat, terutama sosok ayahnya Abdullah Agil Badjerei sebagai satu diantara generasi yang dilahirkan langsung dari "rahim" Al-Irsyad di masa awal, keikutsertaannya sejak setelah Muktamar ke-28 di Surbaya, menjadi titik nol dari seorang Hussein Badjerei yang menapaki dirinya untuk "Menabur Hari di Al-Irsyad".

Akibat keterbatasan ekonomi keluarganya, meski ada usaha dari al-Ustadz Siddik Surkati sahabat ayahnya dan "paman idiologinya", yang telah menyatakan siap bersedia membantu semua biaya perkuliahannya yang ditolaknya secara halus karena ada alasan khusus, Hussein Badjerei akhirnya hanya mampu bertahan satu tahun menjadi mahasiswa pada mata kuliah Perundang-undangan di Universitas Indonesia. Selama menjadi mahasiswa dalam kurun waktu yang sama, selama satu tahun itulah Hussein aktif sebagai aktivis kampus dan pernah diangkat menjadi Ketua Seksi Penerangan Dewan Kesenian Mahasiswa Universitas Indonesia.

Siddik Surkati, kemenekan dari tokoh central Al-Irsyad, Syaikh Ahmad Surkati, memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga Badjerei. Ia adalah sahabat ayahnya Abdullah yang hubungan keduanya sudah melebihi sahabat, bahkan saudara. Selain karena sama-sama terbentuk oleh kesamaan ideologi, lahir dari satu rahim bernama Al-Irsyad, ustadz Siddik merupakan tipe seorang yang telah mengajarkan arti sebuah persahabatan dan persaudaraan, membeli pelajaran bagaimana saling memberi, cinta dan menghargai arti sebuah kehidupan.

Tidak hanya dengan ayahnya Abdullah Agil Badjerei, Salha kakak kandungnya yang telah berperan sebagai ibu bagi Hussein, juga memiliki hubungan persahabatan yang sangat erat dengan Ibu Shofiyah Baasir, istri Siddik Surkati. Shofiyah merupakan adik kandung Ustadz Muhammad Baasir, tokoh dan ulama Al-Irsyad yang pernah menduduki jabatan sebagai ketua umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sedangkan istrinya adalah kemenakan Syaikh Ahmad Surkati yang menikah dengan Ibu Shofiyah binti Abul Fadhel Sati Surkati, puteri tunggal Ustadz Fadhel Sati Surkati, adik kandung Syaikh Ahmad Surkati. Salah satu orang yang berpengaruh dalam diri seorang Hussein adalah Abdullah Siddik Surkati, kedua sahabat ini dapat tergambarkan sebagai dua orang kakak beradik yang telah saling membersamai sejak keduanya masih kecil dalam lingkungan dan kultur yang saling mendukung dan mempengaruhi.

Keluarga tidak selalu harus berhubungan darah, melainkan orang-orang dalam hidupnya menginginkan diantara mereka masing-masing hadir dalam kehidupnya. Hal itulah untuk menggambarkan "pesaudaraan" yang terjalin antara keluarga Abdullah Agil Badjeri dengan keluarga Siddik Surkati, demikian pula antara Hussein Badjerei dengan Abdullah Siddik Surkati. "Persahabatan antara keduanya ibarat roda yang terus berputar, yang membuat lokomotifnya terus berjalan."

(BERSAMBUNG)

Bogor, 9 Juli 2023
Abdullah Abubakar Batarfie 

Posting Komentar untuk "HUSSEIN BADJEREI, TOKOH AL-IRSYAD YANG MELEGENDA (Bagian ke-1)"