Hikayat Nyai Lameh dan Sejarah Kemandoran, Antara Pal Merah dan Soekaboemi; Land yang Dipimpin Landheer dan Para Mandor


Seluruh lantai rumahnya dari tanah merah, tapi karena seringnya digosok menggunakan serbuk dari bekas limbah penggergajian kayu, lantai tanah itu mengkilap seperti lapisan berglazur laksana terakota. Dinding rumahnya memakai bilik anyaman dari bilah bambu selapis, yang jika mentari pagi mulai terbit akan menyeruak menembus disetiap celah dinding bagaikan titik cahaya mustika yang berkilau. Orang di Betawi menyebut dinding anyaman bambu itu dengan sebutan gedek.

Rumah itu memiliki dua ruang kamar tidur berpintu sejajar yang kamar utamanya terdapat satu ranjang besi berkain kelambu dari bahan tirai tipis tembus pandang berwarna putih terawangan, motif kupu-kupu khas peranakan. Terkadang ada kelambu istimewa yang dipakai saat lebaran, kelambu itu tepiannya dihiasi dengan renda cantik mirip kebaya encim. Alas untuk tidurnya menggunakan kasur berisi kapuk dari bunga pohon randu dengan balutan kain "sepre" berwarna putih polos. Kasur dalam bahasa Inggris dinamakan mattres yang berasal dari bahasa Arab "Matrah", karena kasur penggunaannya baru diperkenalkan kepada bangsa Eropah untuk pertama kalinya oleh orang-orang Arab yang telah memakai alas kasur untuk tidur sejak 77 ribu tahun yang silam. Orang Mesir kuno pada 3400 SM tidur di atas tumpukan dahan pohon kelapa disudut-sudut rumah mereka.

Dalam kamar tidur yang berukuran lebih kecil, hanya ada satu dipan kayu yang cukup dipakai oleh orang dewasa, biasanya disebut dengan risbang, diambil dari bahasa Belanda "rest bunk" yang artinya adalah "tempat tidur". Risbang itu pun sama beralaskan kasur berisi kapuk tempat nyaman "bangsat-bangsat" berkembang  biak, sejenis hewan serangga yang orang sering sebut dengan "kutu. Ukurannya sangat kecil tidak lebih besar dari seukuran isi kwaci hitam yang terbuat dari olahan biji semangka. Bangsat tidak termasuk serangga buas yang mematikan tapi gigitannya sangat mengganggu dan akan membuat tubuh menjadi gatal, aromanya yang khas menyengat akan tercium jika korban yang terkena gigitan bangsat menjadi murka hingga hewan itu mati dipites. Entah sejak kapan dan siapa orang di Betawi yang pertama kali menamakan hewan itu dengan sebutan "bangsat", penulis telah "keilangan obor". Tapi asumsinya, bisa jadi karena hewan itu yang selalu bersembunyi dibalik lekukan jahitan kasur yang ngumpet laksana pencuri yang nama itu bersinonim dengan kata bangsat yang artinya macam-macam, antaranya kutu busuk, kepinding dan sejenis umpatan untuk orang yang bertabiat jahat sebagai pencuri, pecompet dan sebagainya.

"Urang" Sunda di Jawa Barat menamakan hewan yang serupa dengan "bangsat" ialah "tumbila" atau "tumila". Bahkan ada lirik dan judul lagu berbahasa sunda yang berirama musik jazz "Tumbila di Adu Boksen", dilantunkan oleh pesinden kesohor Upit Sarimanah. Bagian dari lirik lagu itu adalah; Tumbila di Adu Boksen, Ditonjokan Ku Adina, Beuki lila Da Beuki Bosen, Atuda Geus Aya Gantina.

Kembali ke rumah berdinding gedek yang berlantaikan tanah merah, di ruang tengah rumah itu ada dipan besar yang berfungsi serba guna yang dipakai oleh pemiliknya walau hanya sekedar untuk "reba'an" duduk "besile" sepanjang hari, juga dipakai untuk sholat, zikir dan baca al- Qur'an. Sekali tempo dipakai untuk makan bersama. Dipan itu tingginya tidak pendek dan juga tidak tinggi. Terkadang dipan tersebut dipakai untuk berkumpul anggota keluarga terdekat yang datang, tapi biasanya anggota keluarga yang perempuan saja, karena galibnya, laki-laki itu selalu terdepan sebagai simbol dari seorang anak laki-laki adalah pempimpin bagi kaum wanita, selaras dengan bunyi pada ayat dalam Al-Qur'an, "arrijala qawwamuna 'alan nisa, surat an-Nisa' ayat 34".

Di bagian depan rumah yang berfungsi sebagai ruang tamu, terdapat satu set kursi antik yang oleh banyak orang disebut dengan kursi becak, karena bagian kayu penyanggah tangan dikursi itu yang menyerupai bentuknya seperti becak. Melingkar setengah bulat, sehingga saat kita duduk di kursi itu, tangan kita akan menekuk melingkar di atasnya. Terkesan gagah dan formal tapi rileks saat diduduki. Apalagi laki-laki yang duduk dijemarinya memakai cincin berbatu akik pandan warna hijau kekeruhan bentuk oval sebesar biji pinang dibelah dua. Dan pada badannya dibalut sabuk hijau khas atribut haji di zaman lampau. Terlebih lagi jika memakai kopiah torbus bewarna merah yang sempat menjadi stayle umat Islam dimasa lalu sebagai simbol semangat Pan Islamisme dan pengaruh dari ke khalifahan Turki Usmani. Biasanya orang dahulu memakai kopiah miring sedikit dan itu terlukiskan pada judul dan lirik lagu pada musik Ghazal Melayu dengan judul Songkok Mereng, dilantunkan oleh Ahmad Yusoh.

Kopiah Torbus berwarna merah sempat menjadi sasaran demonstran umat Islam di tanah air, karena sebagian besar kopiah itu di import dari Italia. Ramai-ramai umat Islam membuang dan membakar semua made in Italia, termasuk mobil fiat milik almarhum Karim Oey yang juga dibakar atas kesadarannya sendiri sejak setelah Sidi Omar Mochtar dihukum gantung pada tahun 1931 karena memimpin perlawanan terhadap Penjajahan Itali di awal tahun 1911, sampai hampir 20 tahun. Konon menurut almarhum H.Ridwan Saidi, tokoh yang mengajak umat Islam di tanah air untuk memboikot semua produk Italia itu adalah Syaikh Ahmad Surkati pendiri Al-Irsyad, yang kemudian diamini oleh seluruh tokoh dan para pemuka Islam di Indonesia, termasuk oleh Haji Karim Oey. Mereka yang masih tetap mengunakan torbus di masa itu bahkan meniadi bahan perbincangan di masyarakat, terutama dari kalangan etnis Arab yang jumlah para pemakainya lebih banyak. Berita tentang masih adanya para pemakai torbus merah saat boikot itu dilakukan, menjadi tranding topik yang sempat dimuat dalam pelbagai surat kabar, antaranya adalah surat kabar Sin Tit Po yang terbit di Surabaya.

Disudut ruang tamu tersedia bale-bale yang sering dipakai untuk kaum lelaki sekedar kongkow, rebaan atawa ngupi. Tiga kosa kata itu menunjukan dialektikal lokal. Orang Betawi sangat lekat dengan Islam, kehidupannya tidak jauh dari ajaran Islam dan tradisi yang bernafaskan Islam. Termasuk budaya cium tangan setiap kali berjumpa dengan anggota keluarganya saat datang dan pergi, meski mereka hidup dalam satu rumah. Begitupun dalam lingkungan kekerabatan antara yang muda kepada yang dituakan. Teras depan rumah menjadi tempat aktvitas kaum lelaki di Betawi untuk semua kalangan dan usia, termasuk pekarangan depan rumah yang luas untuk latihan bela diri, "Silat Cingkrik" antaranya yang menjadi ikon khas nama seni maen pukulan di kampung Rawa Belong.

Halaman rumah yang luas banyak ditanami pelbagai pohon buah-buahan, antaranya "Bacang dan Kwini" yang nama buah itu lazim disebut orang di Betawi, bahkan nama "kwini" sudah tersohor sejak dahulu sebagai salah satu nama ruas jalan yang berada di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Buah Kwini menurut catatan para peneliti tidak pernah ditemukan tumbuh secara liar, karena itu oleh sejumlah ahli botani menyimpulkan bahwa buah yang tergolong dalam keluarga mangga-manggan ini, hasil silangan secara alami antara mangga dan bacang.

Pada bagian belakang rumah ada kandang kambing, yang setiap tahun kambing terbesar akan disembeleh pada hari raya Iedul Adha. Biasanya kambing yang dipelihara adalah jenis bandot. Kotoran kambing dijadikan pupuk kandang untuk tanaman pohon anggrek dan jenis tanaman hias lainnya. Dari yang diketahui dan dialami oleh penulis, sekitar tahun 80-an daerah Rawa Belong sudah menjadi centra penjualan bunga, bahkan disebut-sebut sebagai yang terbesar se Asia Tenggara. Jenis anggrek capung bahkan ditanami sekaligus sebagai pagar pembatas rumah antar tetangga, jenis anggrek ini terbilang murah karena itu digunakan sebagai pelengkap saat membuat dekorasi bunga untuk "dipuade".

Seperti itulah gambaran tentang rumah Nyai Lameh di Rawa Belong yang nama lengkapnya Siti Salamah binti Taping, sejak kepulangan dari Mekkah disapa orang dengan panggilan Nyai Haji Lameh. Nyai Lameh adalah nenek buyutku, yang dalam istilah kekerabatan Betawi disebut dengan "Kumpi". Nyaik atau Nyai dalam istilah kekerabatan di Betawi digunakan untuk menyebut seorang nenek, namun kata itu sering dipakai untuk menyebut wanita yang dituakan atau dihormati.

Nyai Lameh dilahirkan dari pasangan "laki bini" Kong Taping bin Pi'ie dan Nyai Enong pada pada akhir abad ke-19, diperkirakan tahun 1873 di Kampung Sukabumi Ilir Rawa Belong, salah satu kampung yang terbilang sohor yang banyak melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh dan menjadi ikon yang melegenda di Betawi. Sebut saja antaranya adalah Pitung dan Haji Mat Item.

Mat Item bersarung dan berkopiah miring

Pitung atau disebut dengan panggilan Bang Pitung dan Mat Item, kedua tokoh ini dalam sejarah dan kebudayaan Betawi disebut sebagai "jago maen pukulan", yang secara umum dikenal dengan istilah Pendekar. Seperti dikutip dalam buku karya G. J. Nawi yang berjudul Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi, istilah "Maen Pukulan" lahir sebagai bentuk perlawanan masyarakat setempat terhadap penindasan yang dilakukan kolonial Belanda di masa penjajahan.

Tidak seperti yang disangkakan oleh seseorang, yang dikatakan Pitung bukanlah nama sebenarnya, melainkan nama kumpulan yang beranggotakan tujuh orang diambil dari nama kelompok "Pitung, Pituan, Pitulung". Kontroversi tentang Pitung itu pada akhirnya menjadikan tokoh legend di Betawi ini menjadi sosok yang tidak nyata alias fiktif belaka. Padahal dari sejarah lisan, nama Pitung nyata adanya, termasuk nama kedua orang tua dan anggota keluarganya, termasuk diduganya makam Pitung yang masih bisa dijumpai di daerah Rawa Belong. Nenek penulis, anak ketiga perempuan Nyai Lameh dari suami pertamanya Kong Laim (Salim), pernah bercerita bahwa Pitung masih terbilang kerabat jauhnya, tapi yang memiliki pertalian kerabat dekat, justru dengan Mat Item.

Kampung Rawa Belong cukup terkenal menjadi tempat berkumpulnya para jago maen pukulan Betawi. Ada banyak tafsiran tentang asal usul penamaan Rawa Belong, salah satunya berasal dari nama seorang dermawan bernama Bang Belong yang terkenal memiliki lahan luas, termasuk tanah yang berawa-rawa, dari situlah kemudiam memunculkan namanya yang kian dikenal orang dengan sebutan Rawa Belong. Rawa Belong yang terletak di Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, kini terbilang menjadi kawasan yang menyisakan komunitas asli warga Jakarta yakni Betawi yang apa bila berbicara sejarah Jakarta erat kaitannya dengan Betawi, bicara Betawi pasti bicara Rawa Belong. Konon sastrawan Betawi SM Ardan disebut-sebut sebagai putera asli Rawa Belong yang tercatat sebagai orang pertama kali menggunakan dialek Betawi dalam karya sastra Indonesia.

Rawa Belong banyak memiliki bangunan peninggalan sejarah, dua di antaranya adalah gedung milik Tuan Tanah Andries Hartsinck, mantan petinggi VOC yang lokasinya berada di Pal-Merah dan disebut orang sebagai Gedong Tinggi. Nama Pal-Merah diambil dari sebuah Pal yang berarti patok berwarna merah sebagai penanda batas wilayah Batavia ke arah Buitenzorg.

Nyai Lameh berfoto bersama cucu-cucunya (berdiri bersender) Ibu penulis Zainah dan kakanya Noorjahan

Nyi Lameh yang semasa gadisnya dikenal cantik molek dan menjadi idaman pemuda di kampungnya pernah menikah dua kali. Suami pertamanya adalah Salim bin Kisar dan kelak disapa oleh anak keturunannya dengan sebutan Kong Laim. Meski terbilang jauh, konon masih memiliki tali kekerabatan dengan Nyai Lameh, berasal dari kampung yang sama. Pekerjaannya adalah menarik dokar miliknya sendiri. Dari pernikahannya dengan Kong Laim memperoleh empat orang anak terdiri dari, yang tertua bernama Abdul Qohar, disapa orang dikampungnya dengan panggilan Cang Haji Dul, kedua Siti Fatimah, ketiganya bernama Muhammad Ali, disapa orang dengan panggilan Matali dan yang "bontot" (ke-4) adalah Mua'aneh (Ane), nenek kandung penulis yang setelah menikah dengan suami keduanya asal Peshawar-Pakistan, mengganti namanya dan diberi nama baru menjadi Aisah (Esah).

Matali dimasa tuanya mengidap pikun, yang secara medis adalah gejala awal dimensia, dimana terjadinya penurunan fungsi otak seperti menurunnya daya ingat, gangguan proses berpikir dan perilaku, serta perubahan kondisi mental atau emosional. Matali yang disapa Bang Aliuk oleh nenek penulis, hilang dan tidak pernah kembali hingga sekarang yang diyakini sudah wafat, meski ikhtiar pencarian dilakukan dengan segala cara termasuk disiarkan dalam Surat Kabar Harian Pos Kota, tapi hasilnya tetap nihil.

Kartu Tanda Penduduk KTP Kong Malik (atas) dan Nyai Lameh (bawah)

Nyai Lameh menikah untuk yang kedua kalinya dengan Kong Malik sejak setelah suami pertamanya wafat. Dengan Kong Malik yang memiliki nama lengkap Abdul Malik dikaruniai tiga orang anak, mereka adalah Abdullah (Dulo), Abdul Salam (Oret) dan Muhiyeh (Iyut). Kong Malik berasal dari kampung Kemandoran dan dikenal sebagai jagonya ahli maen pukulan yang ditakuti dan disegani oleh banyak orang dikampungnya. Dikutip dari tulisan Poestaha Depok, istilah Kemandoran muncul karena dikampung itulah, kawasan antara "Pal Merah" dan "Soekaboemi" yang telah banyak melahirkan para Mandor, sebuah jabatan fungsioal untuk mengawasi tanah partikelir milik para tuan tanah, persaingan yang ketat menjadikan syarat mumpuni untuk menjadi seorang Mandor adalah harus jago dalam seni maen pukulan.

Kong Malik memiliki lahan luas yang banyak ditanami pohon buah-buahan, sebagian dari hasil panennya dijual ke pasar Pal Merah. Di atas lahannya itu pula ia mewakafkan sebidang tanahnya untuk didirikan Mushola yang setelah pewakifnya wafat oleh warga setempat dinamai dengan namanya "Mushola Al-Malik". Jalan setapak yang menghubungkan antara jalan Anggrek sekarang dengan musholanya, yang melintasi di bekas pekarangan rumah yang diwariskan kepada istrinya Nyai Lameh, dinamakannya Gang Haji Malik.

Kong Malik wafat hari selasa malam pukul 21.45, tanggal 7 Desember 1971 dan dimakamkan keesokan harinya pada rebo siang selepas beduk lohor, yang makamnya berada dekat disamping mushola "Al-Malik" yang didirikannya. Kini dalam satu lokasi yang sama dimakamkan tiga orang anaknya Haji Abdullah bin Haji Abdul Malik, Haji Abdul Salam bin Haji Abdul Malik dan Hajjah Muhiyeh binti Haji Abdul Malik.

Foto pernikahan Abdullah anak pertama Nyai Lameh dari suami keduanya Kong Malik

Syahdan, rumah Nyai Lameh yang digambarkan di atas bukanlah rumah lamanya, tapi itu adalah rumah baru yang dihuninya bersama Kong Malik, setelah sebelumnya selama berpuluh tahun lamanya menghuni rumah di sudut persimpangan jalan anggrek, yang belakangan dihuni oleh Abdullah bin Malik anaknya. Masih dalam satu zona dengan dibatasi oleh pekarangan pembatas, anaknya Muhiyeh tinggal bersama anak-anaknya disitu dan menemani Nyai Lameh hingga di akhir hayatnya. Nyai Lameh wafat pada hari Jum'at,  pukul 17.00, tanggal 3 Desember 1983 dalam usia 110 tahun. Seluruh anak-anaknya, cucu dan kumpinya, berkumpul dan menemaninya saat detik terakhir Nyai Lameh menghembuskan nafasnya dengan iringan kalimah tauhid "Laaillaha Ilallah Muhammad Rasulullah".

Nyai Lameh (duduk kanan) di atas kapal laut tengah dalam perjalanan ke tanah suci mekkah 

Penulis bersama nenek tercinta Ibu Esah, jum'at menjelang siang tengah berada di kediaman anak perempuan tertuanya Noorjahan di Empang-Bogor, yang dikala itu belum secanggih alat komunikasi mutakhir seperti di masa sekarang, sontak dijemput oleh Bang Ridwan atas keinginan Nyai Lameh sendiri, dan kiranya itu adalah isyarat hari terakhir perjumpaannya dengan Nyai Lameh, ibu kandung tercintanya yang disapanya dengan panggilan Nyak, panggilan untuk seorang ibu dalam kekerabatan Betawi. Bang Ridwan adalah anak lelaki tertua Hajjah Muhiyeh ( Cing Iyut ) saudari perempuan Ibu Esah.

Nyai Haji Lameh dimakamkan keesokan harinya, disamping makam suami pertamanya, Salim bin Kisar (Kong Laim) di pemakaman Keluarga Besar Kisar bin Godog di Jalan Harun Raya, Rawa Belong - Jakarta Barat. Kong Kisar adalah mertua Nyai Lameh yang sempat menanggung asuhan semua cucunya, anak dari pernikahan Nyai Lameh dengan suami pertamanya Kong Laim, terutama kepada Aisah nenek penulis yang disayangi dengan segenap hatinya. Aisah kecil pernah tinggal bersama kakek dan nenek kandungnya Kong Kisar dan Nyai Aini, Kong Kisar pulalah yang menjadi wali nikah Aisah tatkala menikah dengan suami yang pertama dan keduanya, yang akan penulis kisahkan dalam tulisan berikutnya pada bab khusus; "Hikayat Ibu Esah".

Bogor, 18 Juli 2023

Abdullah Abubakar Batarfie

Foto Nyai Lameh dimasa tuanya

Nyai Lameh (kanan) bersama anaknya Abdul Qohar alias Haji Doel (tengah) dan Istrinya Hajjah Satimeh - Foto diambil di atas kapal laut dalam perjalanan ke tanah suci Mekkah

Nyai Lameh dibarisan terdepan kedua dari kanan saat pernikahan cucunya Noorjahan bt Allahdad Khan anak dari Aisah ( Siti Muaneh )

Aisah puteri nomor 4 anak Nyai Lameh dari suami pertamanya Kong Laim (Salim) bin Kisar (nenek penulis)

Nenek penulis (kanan) Aisah dan Hajjah Muhiyeh kakak beradik anak Nyai Lameh

Nenek Penulis (kedua dari kiri) bersama adiknya Hajjah Muhiyeh (pertama dari kanan) bersama saudari sepupu (keponakan Nyai Lameh)

Bang Marwan (kiri) cucu Nyai Lameh 
bersama penulis 
(Marwan salah seorang anak Hajjah Muhiyeh)

2 Komentar untuk "Hikayat Nyai Lameh dan Sejarah Kemandoran, Antara Pal Merah dan Soekaboemi; Land yang Dipimpin Landheer dan Para Mandor"

  1. Allahummaghfirlahum, warhamhum wa'afihi wa fu'anhum...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin Ya Robbal alamin Allahumma ya mujibussailien

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel