Sohibul Hikayat, Kesenian Betawi asal Timur Tengah

 


Betawi dikenal sangat relegius dan taat dalam menjalankan syariat ajaran agama Islam, yang dipengaruhi oleh corak dan ragam budaya sejak setelah bermukimnya banyak etnis yang mendiami kota itu, terutama bangsa Arab yang kedatangannya (hijrah) selain untuk berniaga, juga menyebarkan dakwah Islam hingga kemudian membentuk pola dan sendi-sendi pada semua unsur budaya serta peradaban terhadap masyarakatnya.

Salah satu kebudayaan Betawi yang mendapatkan pengaruh kuat dan bersumber dari bangsa Arab itu antaranya adalah kesenian “Sohibul Hikayat”, yang meski sudah diambang kepunahan, tapi masih dapat kita jumpai hingga pada hari ini yang terus diupayakan pelestariannya oleh para pegiat kesenian dan kebudayaan Betawi di Jakarta, meski dengan istilah yang berbeda.

“Sohibul Hikayat” merupakan kesenian Betawi dalam bentuk sastra lisan yang bersumber dari Timur Tengah. “Sohibul Hikayat” itu sendiri berasal dari akar kata bahasa Arab, terdiri dari dua kata yaitu “sohibul” dan “hikayat” yang bermakna kurang lebih sohibul itu artinya adalah “empunya” dan hikayat ialah cerita. Sohibul Hikayat berarti “Yang Empunya Cerita”. Salah satu maestro seniman “Sohibul Hikayat yang kesohor di Betawi bernama Zaid yang akrab disapa dengan panggilan Bang Ja’id (“d” dilafalkan “t”). Oleh masyarakat Betawi ia pun populer disebut sebagai “Tukang Cerite”.

Karena popularitasnya sebagai tukang cerita, dalam kalangan masyarakat Betawi sampai memunculkan istilah kata “ngeja’it” untuk menyebut profesi budaya tersebut kepada Bang Ja’it yang punya makna tukang cerita. Istilah dengan memberi imbuhan “nge” pada pelaku tukang cerita ini tampaknya sudah berlangsung berabad-abad lamanya sebagai istilah yang disematkan kepada para seniman “Sohibul Hikayat” di Betawi, karena generasi sebelum Zaid yang bernama Djafar yang juga berprofesi sama pun memunculkan kata “ngejafar”.

Dalam pementasan “Sohibul Hikayat” di atas panggung atau duduk besile di bale-bale beralasakan gatipeh, sementara para penontong duduk melingkar atau berhadap-hadapan langsung menghadap “Tukang Cerite”. Isi cerita biasanya akan dibuka dengan hal yang menyangkut keindahan akhlak dengan kemasan dakwah, setelah itu “Sohibul Hikayat” ceritanya terus mengalir yang akan membuat penonton tertawa terhibur karena lucunya alur cerita hingga selesai dengan salam penutup oleh “Tukang Cerite”.

Di era Bang Ja’it, bisa jadi sama pada generasi sebelumnya, setiap alur cerita biasanya menggunakan kata “alkisah” dan “syahdan”, tentu saja dengan intonasi dan gaya pengucapan Melayu Betawi, terutama kaum “betawi tengah”, karena kesenian ini populer berkembang pada masyarakat Betawi tengah yang tinggal di perkampungan dalam pusat kota, terutama di Tanah Abang dan Pekojan. Sumber cerita yang dibawakan oleh “Sohibul Hikayat” di antaranya diangkat dari kisah cerita “Seribu Satu Malam”, “Nurul Laila”, “Alfu Lail wal laila”, dan kisah-kisah epik lainnya yang berasal dari Persia.

Diantara penggalan alur cerita “Sohibul Hikayat” yang sering dibawakan oleh para tukang cerita seniman Betawi pada masa lalu itu antaranya adalah;

“Sahdan, kata sohibul hikayat, seorang raja di negeri Sarkistania memiliki putri bernama Harsani. Kecantikannya kesohor ke seantero negeri. Harsani memiliki hidung mancung serundang. Lehernya panjang semarang dan putih, bila minum airnya terbayang. Rambut mayang terurai. Pipi bak pauh dilayang. Tidak heran banyak anak raja tergila-gila dan mencoba melamarnya. Sayangnya, lamaran itu selalu ditolak oleh raja dan permaisurinya.”

Penerus Zaid sebagai “Tukang Cerita” dalam pementasan “Sohibul Hikayat” adalah anaknya sendiri yaitu Ahmad Zaid, yang bernama lengkap Hadji Ahmad Sofyan Zaid. Ia yang popularitasnya boleh dikata mencuat pada era modern sesudah kemerdekaan yang namanya juga sama beken dengan babenya (ayahnya) Zaid. Dengan dukungan tekhnologi mutakhir di masanya, aksi manggung Ahmad Zaid atau akrab disapa dengan panggilan Sofyan Jait yang secara kebetulan pula memiliki mimik wajah yang kocak, bersyukur kisah “Sohibul Hikayat” yang dibawakan oleh A.Sofyan MZ (Zait) dapat terdokumentasikan dalam bentuk pita kaset recorder.

Kemahiran Sofyan Zaid sebagai Sohibul Hikayat menjadi salah satu hiburan panggung dalam pesta hajatan warga Betawi sangat menghibur. Gaya dan kepiawaiannya bercerita mampu membawa para penonton dan pendengarnya terasa hidup dalam alam yang sedang dikisahkan. Seolah sedang berada dalam negeri seribu satu malam.

Tidak hanya terekam dalam bentuk pita kaset  recorder, suaranya juga pernah diperdengarkan yang disiarkan secara langsung mengudara melalui radio swasta di Jakarta, seperti Radio Parikesit, El-Gangga dan Cendrawasih. Kenangan siaran suaranya dalam radio yang tak akan pernah dilupakan oleh warga Jakarta pada masanya, adalah saat bulan suci Ramadhan menjelang waktu sahur, antara tahun 70-an hingga menjelang awal 80-an.

“Sohibul Hikayat” alis “Tukang Cerite” A.Sofyan MZ (Zait) putera Zaid asal Tanah Abang dan alumnus Madrasah Jamiatul Khair ini, alur cerita yang dibawakannya antaranya adalah judul-judul cerita seperti “Hayatun Nufus”, “Nurul Laila”, “Ma’ruf Tukang Sol Sepatu”, “Gambus 12”, “Ahmad Pengurus (marbot) Masjid, atau kisah-kisah lainnya. Tidak hanya dalam dalam bentuk tuturan lisan, kemampuannya dalam mengekspresikan gaya dan rupa jin, bicaranya jin, dan kecantikan paras puteri raja, menjadi daya tarik bagi para penonton “Sohibul Hikayat” yang dipentaskan oleh A.Sofyan MZ (Zait).

Hadji Ahmad Sofyan Zaid atau A.Sofyan MZ (Jait) merupakan putera Betawi kelahiran Tanah Abang, 3 Desember 1942 dan anak ke-4 dari 16 bersaudara. Bakat kesenimananya sebagai “Tukang Cerite” murni didapat dan terbentuk berkat babenya (ayahnya) Zaid. Kemanapun Bang Ja’it manggung ke seantero Betawi, Sofyan ngintil ngikut diajak babenya.

Dari situlah tumbuh hasratnya untuk menjadi penerus jejak babenya dan tampil sebagai “Sohibul Hikayat”. Bahkan namanya masyur, tak kalah kesohor dengan sang Maestro Bang Zaid untuk pentas diundang “Ngeja’it”.

Di masanya, Hadji Ahmad Sofyan Zaid atau A.Sofyan MZ (Jait) yang menikah dengan Siti Zubaedah dan dikaruniai 6 puteri ini, boleh dibilang sebagai satu-satunya seorang seniman “Sohibul Hikayat” yang hanya dimiliki Betawi. Pantaslah kiranya jika pemerintah DKI memberikan aprsesiasi kepada ahli warisnya, paling tidak untuk mengabadikan namanya atau nama ayahnya sebagai nama jalan di Jakarta, sebagaimana pula layak untuk mengabadikan sejumlah nama ulama dan tokoh yang berjasa lainnya untuk nusa dan bangsa yang bermuasal atau pernah menetap memasyhurkan nama Betawi, seperti Syaikh Ahmad Surkati pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Sayyid Ali bin Abubakar Shahab pendiri Jamiatul Khair, dan nama-nama lainnya yang pantas dan layak untuk diabadikan.*

Dikutip kembali dari tulisan penulis (Abdullah Abubakar Batarfie) yang dimuat oleh  media online Hidayatullah.com dalam kolom sejarah (12/11/21).

Posting Komentar untuk "Sohibul Hikayat, Kesenian Betawi asal Timur Tengah"