Dua tokoh yang menjadi Pilar Al-Irsyad itu kini telah pergi untuk selama-lamanya


KH Abdullah Said Baharmus Allahyarhamuh

Wafatnya dua tokoh senior Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam sepekan terakhir ini, Ustadz Abdullah Said Baharmus dan Bapak Ridho Umar Baridwan SH membawa duka yang amat dalam bagi jumiyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah. 

Almarhum KH Abdullah Said Baharmus yang semasa hidupnya masih menjadi anggota aktif Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah, adalah seorang aktivis dakwah yang dihormati dalam dunia pergerakan Islam di Indonesia, terutama pengabdian dirinya dalam berbagai pembangunan lembaga pendidikan Islam termasuk pondok-pondok Pesantren, rumah yatim piatu dan Masjid. Di salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Indonesia, almarhum merupakan Sekretaris Badan Wakaf Pondok Pesantren Darussalam Gontor.

Almarhum KH Abdullah Said Baharmus yang kini masih menjabat sebagai Ketua Himpunan Alumni Arab Saudi yang dihormati oleh para Mahasiswa Universitas Islam Madinah ini, tercatat pula sebagai salah seorang pendiri Partai Keadilan Sejahtera, sejak Partai berbasis Islam di Indonesia tersebut masih bernama Partai Keadilan yang berdiri pada tahun 1998, buah hasil embrio gerakan aktivis dakwah Islam di era tahun 80-an.

Almarhum KH Abdullah Said Baharmus dikenal sangat amanah dalam menjalankan amanat bantuan dari Negara Timur Tengah, terutama Quwait dan Arab Saudi untuk pembangunan Masjid-masjid, Pesantren dan Sekolah Yatim di Indonesia melalui Yayasan Jamiyyah Arrahmah yang didirikannya. 

Sebagai tokoh penghubung donasi dari Timur Tengah itulah, hubungan baiknya dengan berbagai lembaga bantuan Luar Negeri dan dengan sejumlah kedubes negara-negara Timur Tengah di Indonesia dapat dipeliharanya dengan baik. Karenanya itu pula almarhum KH Abdullah Said Baharmus selama beberapa periode telah dipercaya sebagai ketua Majelis Hubungan Luar Negeri PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sebelum akhirnya namanya masuk pada bursa pemilihan anggota Dewan Syuro dalam Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-40 di Kota Bogor.

HM Ridho Umar Baridwan, S.H.

Almarhum HM Ridho Umar Baridwan, S.H., mantan Ketua Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah periode pertama, sejak lembaga yang berfungsi sebagai tahkim itu terbentuk kembali untuk pertama kalinya setelah kemerdekaan, wafat pada hari sabtu siang, 24 Juli 2021. Kepergiannya telah menyisakan duka yang amat dalam bagi Jumiyyah. Tokoh yang dilahirkan sebagai anak idiologis Ustadz Umar Hubeis ini, merupakan aktivis Al-Irsyad cabang Surbaya yang lahir di kota itu.

Sejarah mencatat, almarhum H.M Ridho Umar Baridhwan yang akrab disapa dengan panggilan ami Ridho ini, persentuhannya dengan Al-Irsyad di awalinya setelah dirinya bergabung menjadi anggota pada corps Drum Band Al-Irsyad cabang Surabaya. Bahkan keterlibatannya itu disebut-sebut sebagai salah seorang yang dipandang paling menonjol dan berani saat kesatuan Unit Drum Band Al-Irsyad tersebut tampil sebagai bagian dari eksponen 66, yang kala itu bersama pelajar da mahasiswa membangun kekuatan demonstrasi besar-besaran dalam upaya pembubaran gerakan komunisme di Indonesia. Pemuda Ridho Baridwan dengan tubuh tinggi besarnya berada dalam barisan terdepan memegang panji dalam parade.

Dua bersaudara Almarhum Ridho dan Asad yang memiliki postur tubuh tinggi besar ini adalah yang paling sering di daulat membawa panji di barisan terdepan dalam setiap parade. Pada perhelatan pembukaan Konperensi Islam Afrika Asia (KIAA) di Bandung tahun 1965, keduanya ditempatkan sebagai barisan pertama dari golongan ormas Islam yang tampil senagai "the dream team" Drum Band Al-Irsyad se-Jawa Timur. Bahkan Bung Karno yang menyaksikan penampilan keduanya bersama aksi Drum Band Al-Irsyad menyatakan kekagumannya.

DI pentas nasional, Almarhum Ami Ridho mulai terlibat aktif saat organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah tengah dilanda prahara yang nyaris akan memporak porandakan eksistensi organisasi. Tidak sedikit baik tenaga, fikiran dan harta yang dicurahkannya demi menyelematkan jumiyyah dari konspirasi jahat sekelompok kaum "puritan" yang akan menghancurkannya yang telah menebarkan benih-benih fitnah dan perpecahan. Upaya itu dapat almarhum hadapi dan atasi bersama para aktivis organisasi lainnya, termasuk saudaranya almarhum Asad Baridhwan melalui jalur hukum dan konsolidasi organisasi. 

Almarhum Ami Ridho satu diantara aktivis organisasi yang "pontang panting" berjuang siang dan malam tak pernah mengenal waktu, menyelematakan logo Al-Irsyad mendapatkan hak patennya setelah ada tangan-tangan kotor yang akan mencurinya dari pemiliknya yang sah dan berhak. Meski gagalnya pencurian logo tersebut disiasati oleh persengkokolan para pencurinya itu dengan membuat logo palsu hampir diserupakan.

Terselenggaranya Muktamar ke Mukatamar Al-Irsyad sejaka prahara yang menimpanya, perhelatan konstitusionalnya yang menjadi amunisi ampuh di dalam menjaga dan merawat organisasi dari "kepunahan", sedikit banyak tersentuh oleh tangan kekar penuh keberanian dan kecerdasan buah fikiran Almarhum HM Ridho Umar Baridhwan, S.H.

Pantaslah kiranya atas jasa dan jerih payah perjuangannya tersebut, almarhum terpecaya untuk mendampingi ketua umum sebagai wakil ketua Umum Pimpinan Pusat untuk bersama-sama menahkodai jumiyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di tingkat nasional. Kepercayaan yang diberikan oleh Irsyadien kembali terjadi pada Muktamar Ke-39 yang menunjuknya sebagai Ketua Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Banyak sudah buah karya almarhum yang sudah digoreskannya bagi jumiyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dari terbitnya media meski bersifat insidentil, buku yang memperkenalkan kader Al-Irsyad sebagai tokoh bangsa, hingga kegiatan advokasi dan kiprahnya yang mewakili organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah, salah satunya adalah tampilnya dan semakin eratnya kebersamaan Al-Irsyad bersama para pucuk pimpinan ormas Islam di pentas nasional.

Dapatlah kiranya dan layak jika Al-Irsyad Al-Islamiyyah menggambarkan dua orang sosok kadernya KH Abdullah Said Baharmus dan HM Ridho Umar Baridhwan, S.H yang secara hampir bersamaan kini sudah meninggalkan kita semua menghadap Allah SWT, sebagai dua orang tokoh yang telah menjadi "pilar" bagi jumiyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُم وَارْحَمْهُم وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُم، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُم، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُم، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا 1نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ. أمين امين يارب العالمين.

Posting Komentar untuk "Dua tokoh yang menjadi Pilar Al-Irsyad itu kini telah pergi untuk selama-lamanya"