Pantun karenamu Corona Ramadhan dan Lebaran jadi nestapa

Kapal berlabuh di tanjung pinang,
Saudagar Intan membawa tongkat.
Kapan terasa puasa datang,
Sanak saudara datang menyambut.

Sampan dikayuh gelombang hilang,
Kapal nelayan ditelan gelombang.
Sejak puasa datang bertandang,
Sudah terasa akan menghilang.

Tuan dan Puan memetik pinang,
Makan sirih ditabur pinang.
Tahun ini puasa terbilang,
Musibah corona jadi penghalang.

Berhias guru menghibur murid,
Contoh tauladan guru yang jalang.
Bershaf shalat jamaah di masjid,
Corona datang jadi penghalang.

Kaki rusa dipanah raja,
Kaki rusa sakit meradang.
Kaki merapat tiada guna,
Karena tertular jarak merenggang,

Tanduk rusa dibelah parang,
Bawa pelanduk di atas sampan.
Tadarus berulang tajwid diulang,
Bacaan mulia penuntun iman.

Rampai ditabur tirai dibuka,
Kemuning dipakai kain penutup.
Ramai di masjid mushaf dibuka,
Karena corona mushaf tertutup.

Selendang puteri penutup khilaf,
Zakun pangeran penembus malam.
Sepuluh hari ramai itikaf,
Zikir dan qiroat pengisi malam.

Daun sirih bertabur kapur,
Kapur dipadu memakai gambir.
Duduk berdiam untuk tafakur,
Karena corona salam berakhir.

Rumah panggung tinggi teratur,
Diatas panggung tali terikat.
Ramai dulu tuan bertutur,
Dalam puasa setan diikat.

Raja Siam pandai berpantun,
Kalam Raja jadi penuntun.
Ramai kini canda melantun,
Karena corona insan ditawan.

Inai dipetik jari tertukar,
Semai di ladang terbang ke awan.
Insan ditawan takut tertular,
Setan ramai bebas tertawan.

Rumah panggung naik ditangga,
Hantaran raja singgah di taman.
Ramai dulu lebaran tiba,
Harum semerbak dupa lebaran.

Selendang puteri indah menawan
Hantaran raja tanda pinangan,
Sedap malam bunga jambangan,
Harum semerbak malam takbiran.

Kembang melati tumbuh di taman,
Puteri dipinang senyum menawan.
Ketupat opor di atas dipan,
Penyedap rasa hari lebaran.

Lamaran raja tamu diundang,
Kerabat datang hadir diundang.
Lebaran tiba kerabat datang,
Karena corona terlambat datang.

Baju batik dipakai raja,
Berbaris rapih menjamu tamu.
Berjabat tangan bertatap muka,
Berpeluk haru pengobat rindu.

Bunga rampai pembuka kata,
Kalimat petuah paduka raja.
Bertepuk tangan memaling muka,
Karena corona menutup muka.

Impian raja jadi harapan,
Akhirnya sampai diperaduan.
Inilah waktu penanda zaman,
Akhir kalimat di akhir zaman.

Susah dan senang jadi ikatan,
Perisai hidup dua pasangan.
Sedih dan risau jadi siraman,
Penanda zaman insan beriman.

Anak raja salam menyapa,
Kasih yang sampai bukan impian.
Akhir kalimat pantun tercipta,
Karena sedih di akhir zaman.

Selendang puteri tanda idaman,
Rambut terurai bukan larangan.
Semoga tuan semua beriman,
Rahmat Allah insan beriman.

Lepas pinangan bukan halangan,
Sepasang kasih jadi kenangan.
Lahir dan bathin mohon maafkan,
Semoga terhibur insan beriman.

Untukmu tuan dan puan seluruh alam, Salam dan doa saya haturkan, 25 Ramadhan 1441 Hijri, Abdullah Batarfie di Buitenzorg

Belum ada Komentar untuk "Pantun karenamu Corona Ramadhan dan Lebaran jadi nestapa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel