Seminar Perdana Pusdok Al-Irsyad Untuk Pengusulan Syaikh Ahmad Surkati Menjadi Pahlawan Nasiona

Senin, 23 September 2019, Surat Kabar Harian Republika memuat satu halaman penuh  dalam kolom mozaik ulasan yang bertajuk "Syaikh Ahmad Surkati dari Makah Ke Tanah Jawa". Koresponden Republika saudara Fuji Permana mengangkat tajuk itu setelah melalukan peliputan langsung digelarnya acara seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Dokumentasi Dan Kajian Al-Irsyad Bogor (Pusdok) pada 17 September 2019 yang lalu. Media lainnya yang meliput dan merilis kegiatan seminar itu adalah media online dari Mina News Net.

Seminar perdana Pusdok yang bertema "Syaikh Ahmad Surkati Pejuang, Pendidik dan Pembaharu Islam di Indonesia" itu menghadirkan dua orang nara sumber yaitu Bapak Zeyd Amar dan DR.Motoki Yamaguchi dari Jepang dengan di moderatori oleh Nabil A.Karim Hayaze.

Seminar yang kegiatannya di sponsori oleh Pemerintah Provinsi DKI telah dimulai sejak pukul 9 pagi hingga menjelang waktu sholat dzuhur yang berlangsung di exhibition Hall JakBook Lantai 3, Pasar Kenari Jakarta Pusat. JakBook adalah Pasar buku murah pertama yang dibuka untuk masyarakat oleh Pemerintah DKI Jakarta dibawah kepemimpinan Bapak Gubernur DR Anis Baswedan.

Para peserta seminar datang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan mahasiswa, dosen dan juga warga masyarakat para pecinta dan peminat sejarah. Mahasiswa yang antusias mengikuti jalannya seminar berasal dari berbagai Universitas diantaranya dari Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta. Selain perwakilan dari lembaga kajian Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia, seminar ini juga dihadiri oleh perwakilan cabang-cabang Al-Irsyad di wilayah DKI dan cabang disekitarnya seperti Depok dan Bogor. Juga dihadiri oleh perwakilan dari Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah Bapak Drs.Bahtiar dan Ustadz Zufar Bawazir, serta perwakilan Badan Otonom ditingkat Pusat para Pengurus Besar Wanita Al-Irsyad. Ketua Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah, KH Abdullah Al-Jaidi hadir dan memberikan sambutan dalam pembukaan seminar yang dihadiri oleh para peserta tidak kurang dari seratus orang, jumlah tersebut melibihi target dari kapasitas yang sudah disiapkan untuk 50 orang peserta. 

Suksesnya acara seminar perdana ini diselenggarakan bekerja sama dengan Tim Pengusul Syaikh Ahmad Surkati menjadi Pahlawan Nasional yang diketuai oleh Bapak Ir.Zeyd Amar. Kegiatan seminar tersebut menjadi rangkaian dari proses pengusulan yang akan diajukan kepada Pemerintah sesuai dengan prosedur dan perundang-undangan yang berlaku. Dan rencananya acara serupa juga akan digelar diberbagai tempat lainnya di Jakarta dan di kota-kota besar di Indonesia.

DR Motoki nara sumber dari negara sakura Jepang telah mencuri perhatian para peserta seminar, bukan saja karena materi yang disampaikannya menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek jepangnya yang masih kental, juga isi materinya yang memiliki bobot tersendiri dalam menampilkan ketokohan Syaikh Ahmad Surkati yang menurutnya dipandang sebagai seorang ulama yang pengaruhnya sangat besar bukan saja di Indonesia tapi di Asia. Dalam berbagai temuannya pada literasi dokumen dan majalah-majalah tua yang dia dapatkan, nama Surkati telah disebut-sebut sebagai ulama yang berpengaruh dalam pusaran global di dunia. Ketokohan dan pengaruh Syaikh Ahmad Surkati tersebut ada banyak disebut dalam berbagai buku yang ditulis oleh para peneliti sejarah Islam dan Arab dari berbagai negara, terutama dari Universitas bergengsi seperti Universitas Leiden di Belanda, Oxford di Inggris, Jepang, Norwegia, Australia, Amerika dan Malaysia.

Bapak Zeyd Amar pada materi seminar yang disampaikannya telah memberikan gambaran tentang status dan posisi Syaikh Ahmad Surkati selama berada di Makkah sebelum kedatangannya ke Indonesia. Kata-kata beliau yang menjadi motivasinya untuk hijrah berdakwah di Indonesia diugkapkan kembali oleh Bapak Zeyd Amar yang membuat para peserta larut dalam keharuan dan kekaguman akan ketokohan dan semangat serta cita-cita mulia yang terdapat dalam diri Syaikh Ahmad Surkati. Kata-kata populer yang dilontarkan oleh Surkati itu adalah " Baginya mati di Jawa lebih mulia daripada mati di Makkah tanpa berbuat sesuatu untuk umat.

Sebagai seorang yang cerdas dan selalu menggunakan pendekatan dialog dan rasional dalam memberikan pembinaan kepada kader dan murid-muridnya, Syaikh Ahmad Surkati yang diketahui hafal kutubus sittah dan hafidz 30 juz Al-Qur'an ini, menurut pemateri Bapak Zeyd Amar merupakan guru yang telah banyak melahirkan anak didiknya kelak menjadi para pemimpin pergerakan kebangsaan dan pemuka agama. Sebut saja diantaranya adalah Prof.DR KH Mohammad Rasyidi, Prof DR KH Farid Makruf, KH Kahar Muzakkir, KH Moh Yunus Anis, KH Saleh Suaidy, AR Baswedan, KH Iskandar Idris, Toebagoes Syuaib dan tokoh-tokoh lainnya yang juga mendapatkan sentuhan pemikirannya dan membentuk dirinya seperti kepada M.Natsir, Kasman Singodimedjo, HOS Tjokroaminoto dan Bung Karno.

Sebelum seminar berlangsung, ketua panitia penyelenggara Abdurrahman Bafadhol yang juga ketua Pimpinan Cabang Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Bogor memberikan sambutannya dan disusul kemudian oleh Ketua Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah KH Abdullah Al-Jaidi.

Dalam sambutannya ketua Panitia Abdurrahman Bafadhal menyampaikan tujuan diselenggarakannya acara seminar, yaitu upaya untuk memperkenalkan seorang tokoh yang di lahirkan di tengah tengah pusaran gerakan Tajdid pada abad 20 yang kemudian ia menjadi tokoh yang berada pada arus utama dalam gerakan itu. Menurut Bafadhal, gerakan tajdid atau pembaharuan ini lebih dikenal dalam khasanah sejarah gerakan Islam dengan sebutan Pan Islam yang digagas oleh Sayyid Jamalaludin Al Afghan yang kemudian di implementasikan oleh muridnya Syaikh Muhammad  Abduh menjadi sebuah Gerakan Pembaharuan Pendididkan Islam yang diteruskan oleh penerusnya Syaikh Muhammad Rasyid Ridho. Di Indonesia gerakan inipun diusung oleh Syaikh Ahmad Surkati dan sahabatnya Kyai Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyyah yang mendatkan inspirasi darinya. Pada awal tahun 20an muncul nama tokoh Ahmad Hassan yang menyatakan pengakuannya bahwa Surkati adalah gurunya.Kelak ketiga tokoh pemilik nama yang sama ini disebutnya sebagai Trio Mujaddid.

Menurutnya pula Inti gerakan yang menjadi visi perjuangan dakwah Trio Mujaddid tersebut adalah untuk mengembalikan kemurnian ajaran Islam yang selaras dengan apa yang telah diucapkan oleh Syaikh Muhammad Abduh "bahwa Islam tidak akan pernah bangkit kecuali dengan apa yang di sudah difahami dan dilaksanakan oleh generasi pertama dari umat ini dalam memahami dan melaksanakannya"

Ketua Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah KH Abdullah Al-Jaidi dalam sambutannya menyatakan bahwa ajaran yang dibawa oleh Syaikh Ahmad Surkati dalam misinya adalah menanamkan pendidikan dan menegakkan Aqidah sohihah. Karena itu menurutnya, salah satu moto terkenal dalam pergerakan dakwahnya adalah memberantas TBC yang merupakan singkatan dari Tahayul, Bid'ah dan Churafat. 

Menuru KH Abdullah Al-Jaidi, peran dan upaya Syaikh Ahmad Surkati tidak dapat diabaikan atas pembinaannya kepada umat Islam dan bangsa. Surkati telah berhasil melakukan perubahan yang diawalinya dari sebuah komunitas lewat jalur pendidikan. Karena itulah menurutnya, Surkati memang sudah selayaknya untuk dianugerahi sebagai Pahalwan Nasional karena beliau adalah guru bangsa, guru yang membina tokoh-tokoh Islam dimasanya dan menjadi guru spiritual kaum pergerakan Indonesia yang memberinya motivasi untuk bangkit sejajar dengan bangsa manapun di dunia ini dan menjadi negara yang berdaulat serta merdeka.

Peemandu Acara (mc) Ibu Eva Ambadar yang menjadikan acara seminar berwarna dan memiliki corak 







Berlangganan artikel terbaru via email. GRATIS! :

Belum ada Komentar untuk "Seminar Perdana Pusdok Al-Irsyad Untuk Pengusulan Syaikh Ahmad Surkati Menjadi Pahlawan Nasiona"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel