Semarak Hari Merdeka Peranakan Arab di Kota Bogor

Luqman Askar & Rayyan Basyarahil
Penerus Pusaka Seni Abdoel Hadi Mahdami

Indonesia pada tahun ini memperingati hari kemerdekaannya yang ke-74 pada 17 Agustus 2019. Peringatan ini bukan saja diperingati secara nasional dan unik yang berlangsung di Istana negara, juga diselenggarakan oleh seluruh lapisan masyarakat diberbagai daerah di tanah air dengan segala bentuk dan acara untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan tersebut. 

Rakyat Indonesia memiliki berbagai kegiatan unik yang diadakan di tanah air dalam memperingati hari kemerdekaannya. Bahkan ada yang sudah mentradisi seperti balap makan kerupuk, balap karung, panjat pinang dan lain-lain. Di luar negeri upacara pengibaran bendera pada peringatan setiap hari kemerdekan selalu pihak pemerintah yang menyelenggarakan, tapi di Indonesia pengibaran bendera diselengarakan dihampir seluruh pelosok desa. Baik itu disekolah-sekolah, maupun di kantor kelurahan. Tentu saja, puncak acara secara nasional upacara pengibaran bendera berlangsung di istana negara yang dipimpin langsung oleh Presiden yang bertindak sebagai inspektur upacara. Peringatan Itu semua, baik kegiatan yang dilangsungkan oleh masyarakat maupun pemerintah dilakukan sebagai tanda ucapan syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Kemeriahan menyambut hari merdeka juga dirayakan oleh warga masyarakat keturunan Arab di Bogor. Acara yang dikemas dengan hiburan ini dinamakan malam silaturahmi dan tasyakuran dirgahayu kemerdekaan RI ke 74. Kalimat berbahasa Arab ditulis diatas spanduk "Ied Al Istiqlal Al Indunisiya". Ied artinya adalah Hari Raya dan Istiqlal berarti Merdeka. Karena itulah Bung Karno menamai masjid yang dibangunnya dan konon termegah dan terbesar saat itu se asia tenggara dengan nama Masjid Istiqlal. Dipilihnya nama Istiqlal selain bentuk puncak rasa syukur kehadirat Illahi atas kemerdekaan yang diraih, juga menunjukan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah perjuangan umat Islam Indonesia, termasuk di dalamnya warga keturunan Arab tanpa terkecuali. 

Puncak kemeriahan menyambut hari merdeka warga keturunan Arab berlangsung di kediaman H.Abud Sungkar dan juga sebagai sohibul bait pada hari jum'at malam tanggal 23 Agustus 2019. Tuan rumah H.Abud Sungkar seorang pengusaha yang tinggal menetap di kawasan Petamburan Jakarta ini seolah menjadi magnet warga keturunan Arab yang tersebar di jabodetabek. Tidak kurang dari 500 orang datang menghadiri kemeriahan acara tersebut. Para pemain musik dan vokalis dihadirkannya dari berbagai kota yang bukan saja pemain utamanya berasal dari kota Bogor, juga ada yang didatangkan secara khusus dari Purwakarta, Pamekasan Madura, dan Jakarta. Menariknya pementasan seni musik yang ditampilkan menyesuikan selera para penggemar yaitu menyajikan dua jenis musik yang berkolaborasi antara musik melayu dan gambus. Penyanyi dangdut papan atas dan senior dihadirkan salah satunya adalah Mansyur.S yang membawakan beberapa judul lagu.

Acara ini dikemas dalam bentuk hiburan yang dinamakan "samar deple". "Samar" merupakan kosa kata Arab yang lazim digunakan oleh masyarakat hadharim (baca; orang Hadramaut-Yaman Selatan) yang secara maknawi artinya adalah acara berkumpul bersama dengan kemeriahan hiburan musik gambus yang diiringi dengan tarian zafin. Sedangkan "deple" diambil dari kosa kata arab seperti samar yang artinya duduk bersila dibawah beralaskan gatipeh (permadani). Ada juga yang menyebutkan istilah "deple" ini diambil dari bahasa sunda. Dalam bahasa Arab rebana disebut dengan "duff" yang dimainkannya dengan cara duduk bersila. Bisa jadi karena memainkan rebana tersebut sambil duduk, maka para pemainnya dengan cara duduk bersila disebut dengan "deple". Diperlukan kajian khusus untuk mencari sumber dua kata tersebut, "samar" dan "deple".

Musik gambus dan tarian zafin yang berasal dari Arab ini sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia.Menurut salah satu sumber dari situs wikipedia, zapin berasal dari bahasa arab yaitu "Zafn" yang mempunyai arti pergerakan kaki cepat mengikut rentak pukulan. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, dahulunya digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan. Musik pengiringnya terdiri dari dua alat utama yaitu alat petik gambus dan alat musik tabuh berupa gendang. Alat petik gambus  di Arab disebut dengan istilah oud. Sedangkan oleh masyarakat di Jawa Barat alat musik ini dinamakan dengan "gitar kuya". Karena bentuknya yang menyerupai punggung kura-kura. Kura-kura hewan berjenis ampibi ini oleh orang sunda dinamainya dengan istilah "kuya".

Zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki, namun kini dalam budaya Melayu baik Indonesia, Malaysia dan Brunai sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan. Tarian zafin dalam budaya melayu terutama adalah tarian resmi kerajaan diraja Kesultanan Melayu.

Tari Zapin sangat ragam gerak tarinya, walaupun pada dasarnya gerak dasar zapin-nya sama, ditarikan oleh rakyat di pesisir timur dan barat Sumatra, Semenanjung Malaysia, Sarawak, Kepulauan Riau, pesisir Kalimantan dan Brunei Darussalam.

Bagi masyarakat keturunan Arab di Indonesia, khususnya di Jawa. Memainkan alat petik gambus yang disebut "oud" ini masih dalam corak aslinya, selain lirik lagunya yang tetap menyanyikan lagu-lagu Arab, juga para pengiring baik yang menari zafin dalam bentuk gerak tarian yang masing-masing memiliki namanya sendiri-sendiri, juga tetap di dominasi oleh kaum pria. Hampir tidak ditemukan ada kaum hawa yang menari tarian zafin ditengah-tengah perhelatan acara musik gambus berlangsung karena kuatanya tradisi Arab yang berlandaskan corak dan ajaran syariat Islam. 

Pemain alat petik gambus dikalangan hadharim disebut dengan "mugaddam". Dalam acara kemeriahan hari Merdeka di kediaman H.Abud Sungkar ini yang ditampilan adalah Ressam Attamimi pemain oud atau mugaddam dari kota Purwakarta. Sedangkan pemain gitar khusus yang merupakan hasil kreasi klasik dari kolaborasi antara musik gambus dan arab, ditampilkan dua orang sekaligus senior dan juniornya yaitu Luqman Askar dan Rayyan Basyarahil. 

Permainan alat musik gitar dalam iringan musik hasil kolaborasi irama gambus dan melayu ini adalah warisan budaya peranakan Arab di Nusantara (baca; hadharim) yang pada masa silam dipopulerkan oleh Hadi Mahdami. Warga keturunan Arab di Bogor memanggilnya dengan sebutan Ami Adun. Dan warga peranakan Arab di Jakarta menyapanya dengan panggilan akrab "Ami Hadi". Jenis permainan alat musik dan lagu ini terbilang langka dan klasik, karena itulah Luqman Askar disebut-sebut sebagai reinkarnasinya Ami Hadi. Kini dengan kondisi kesehatannya yang sudah tidak lagi prima dan bahkan sudah diambang masa pensiunnya, Luqman Askar tampil membawakan dua judul lagu yang mendapatkan tepuk riuh hadirin bersama penerusnya Rayyan Basyarahil yang tinggal di Pamekasan Madura. Esa Hilang Dua Terbilang, ungakapan itu dirasa tepat untuk menggambarkan adanya penerus pusaka seni budaya sang maestro Ami Hadi, dari Luqman Askar yang kini diteruskan oleh Rayyan Basyarahil berjuluk Luqman Askar Jr.





Berlangganan artikel terbaru via email. GRATIS! :

Belum ada Komentar untuk "Semarak Hari Merdeka Peranakan Arab di Kota Bogor"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel