Perjalanan Napak Tilas ke Ranau


Pusat Dokumentasi (PUSDOK) Sejarah & Kajian Al-Irsyad Bogor kembali melakukan kegiatan napak tilas dengan telah menelusuri jejak keberadaan Al-Irsyad di Ranau. Pembentukan dan peresmian cabang Al-Irsyad di Ranau pernah tercatat dalam notulen resmi yang ditulis oleh Hoodbestuur Al-Irsyad di Batavia (Jakarta). Berita resmi yang bersumber dari notulensi itulah oleh H.Hussein Badjerei kemudian dimuat dalam buku karyanya AL-IRSYAD MENGISI SEJARAH BANGSA (1996). Cuma sayangnya dalam buku itu tidak mencantumkan tanggal pembentukan dan nama para pelaku yang terlibat di dalamnya. Hanya saja disebutkan pembukaan cabang Al-Irsyad di Ranau dihadiri oleh Sekretaris Hoodbestuur Al-Irsyad, Ali Harharah. Dari sumber penulis yang sama pada artikel dan buku saku SEJARAH AL-IRSYAD ditulis pula acara peresmiannya yang berlangsung dengan meriah.

Setelah dilakukan ikhtiar penggalian dan pencarian lebih dalam oleh PUSDOK dari berbagai sumber dan literatur, akhirnya tabir sejarah ini terungkap sedikit lebih gamblang melalui buku KAUM TUO-KAUM MUDO, sebuah studi ilmiah tentang Perubahan Religius di Palembang periode 1821-1942  yang ditulis oleh seorang intelektual berkebangsaan Belanda Jeroen Peeters. Buku itu diterbitkan dalam rangkaian kerja sama Studi Islam Indonesia-Belanda atau Indonesian-Netherlands Coopration in Islamic Studies (INIS) Tahun 1997.

Jeroen Peeters mengungkapkan dalam bukunya itu bahwa, kehadiran Al-Irsyad di Ranau telah menjadi tonggak sejarah penting di Palembang sebagai titik tolak tegaknya kesadaran nasional, serta pentingnya umat Islam melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan menuju kemajuan di segala bidang kehidupan. Di buku itu menurut Peeters, Al-Irsyad di Ranau dibawa oleh alumninya seorang guru agama bernama H.Ahmad Rivai. Ia kembali ke Ranau kampung halamannya di Desa Pagar Dewa tempat dirinya dilahirkan, datang dengan membawa serta pemikiran serta misi penting almamaternya, setelah berhasil menyelesaikan studinya pada Madrasah Al-Irsyad di Batavia yang dipimpin dan berada di bawah asuhan pendirinya Syaikh Ahmad Surkati yang juga adalah gurunya. 

Menurut Peeters dalam bukunya itu, pembentukan cabang Al-Irsyad di Ranau bersamaan pula dengan diresmikannya pembukaan Lembaga Pendidikan yang berada dalam naungan organisasi itu pada tanggal 31 Juli 1927. Sekalipun kehadiran Al-Irsyad di Pagar Dewa mendapatkan tantangan dan protes keras dari Kaum Tuo, acara peresmian pembukaanya tetap berlangsung sangat meriah dihadiri oleh masyarakat yang bersepahaman dengan Kaum Mudo, juga disaksikan oleh para pejabat pemerintah setempat antaranya adalah Demang dan kontrolir dari Muara Dua. Ali Harharah yang secara khusus datang dari Batavia sebagai Sekretaris Hoofdbestuur Al-Irsyad membuka acara peresmian dan memberikan orasinya antara lain tentang arah dan tujuan gerakan Al-Irsyad meliputi dakwah Islam yang sesuai dengan adat istiadat serta kesopanan bermazhabkan kepada Imam Syafi’i.

Ali Harharah alumnus sekolah Al-Irsyad di Batavia yang menjadi salah satu kader inti pelanjut estafeta kepemimpinan organisasi Al-Irsyad yang dirintis dan didirikan oleh gurunya Syaikh Ahmad Surkati. Ali Harharah dikenal sebagai seorang penulis yang produktif dan juga orator. Dikalangan kaum pergerakan nasional Ia dijuluki sebagai spreaker dari gang Kenari. Ali Harharah ini pula yang ditugasi gurunya Syaikh Ahmad Surkati untuk ikut membina penanaman paham keagamaan kepada anggota Jong Islamieten Bond (JIB). Ali Harharah pernah menduduki berbagai jabatan penting pada Hoofdbestuur Al-Irsjad. Hoofdbestuur sekarang ini sama kedudukannya dengan Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Di buku itu Peeter menggambarkan protes Kaum Tuo kepada Al-Irsyad dengan memprovokasi masyarakat yang ikut menentang dengan melakukan aksi mencoret dinding sekolah Al-Irsyad pada malam dimana esok harinya akan dilangsungkan acara peresmian dengan kalimat-kalimat: “Ini sekolah wahabi”, “Ini sekolah kaoem Moedo”. Aksi itu sebagai bentuk protes mereka yang ditujukan kepada para Pengurus Al-Irsyad dari kalangan ulama modernis yang telah membawa gerakan moderenisasi dan paham Pembaharuan Islam ke tanah Ranau. 

Bersumber dari buku karya Jeroen Peeters itulah tim PUSDOK kemudian menuju lokasi yang menjadi objek penelusuran atau napak tilas jejak murid-murid Syaikh Ahmad Surkati dan keberadaan sekolah Al-Irsyad di Ranau. Tim terdiri dari Bapak Zeyd Amar, Mansyur Alkatiri dan Abdullah Batarfi. Ditemani dan dipandu oleh Bapak Ridwan, Ketua PW Al-Irsyad Al-Islamiyyah Provinsi Lampung diperjalanan berikutnya.

Dengan menggunakan kendaraan pribadi mobil chevrolet Avio merah tahun 2004 milik Bapak Zeyd Amar yang dikemudikannya sendiri, tim napak tilas bertolak dari Jakarta pada Hari Selasa, 6 Agustus 2019 pukul 09.30 pagi menuju Ranau dan tiba untuk transit di hari yang sama di Kota Bandar Lampung pada pukul 16.30. Setelah menginap satu malam di Ibu Kota Bumi Andalas tersebut, esok paginya pada pukul 07.00 dengan berganti kendaraan mobil Daihatsu Grand Max warna silver milik inventaris Pimpinan Cabang Al-Irsyad Al-Islamiyyah kota Bandar Lampung, tim napak tilas melanjutkan perjalanan menuju Ranau dibantu dan dipandu Bapak Ridwan mengemudikan kendaraan secara bergantian dengan Bapak Zeyd Amar. 

Ranau di Sumatera Selatan yang berbatasan dengan Lampung Barat menjadi tujuan utama perjalanan tim napak tilas. Berbekal informasi minim hanya dari 2 halaman pada buku Kaum Tuo - Kaum Mudo dari setebal 264 halaman karya Jeroen Peeters, tim napak tilas berangkat dari Bandar Lampung sekitar pukul 07.00 WIB. Jalan yang relatif kecil, hanya cukup untuk berpapasan dua kendaraan pagi itu sudah terlihat ramai dari sejak di Kemiling Bandar Lampung hingga ke Raja Basa. 

Menyusuri jalur trans Sumatera ke arah Palembang, kendaraan dapat melaju cepat karena kondisi jalan yang cukup bagus dan mulus. Jalan yang dilalui berkelok tajam, naik dan menuruni bukit, menembus kawasan hutan cagar alam, tidak kurang dari 6 kabupaten dilaluinya. Setelah melewati Lampung Tengah dan Pesisir Barat, perjalanan pun berbelok ke kanan dan tiba di Liwa, ibu kota Lampung Barat yang berudara sejuk. Tim singgah sejenak mengabadikan diri di depan tugu icon kota Liwa dan istirahat untuk makan di kota itu. Dalam perjalanan berikutnya sejak dari kota Liwa, pemandangan yang dilalui elok dipandang mata dengan deretan rumah-rumah penduduk yang dijumpai hampir semuanya model panggung bercorak melayu, khas adat Lampung. Perkebunan kelapa sawit, kopi dan hutan lada menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Di daerah Kotabumi Selatan ditemukan rumah adat yang masih asli dan sempat berhenti mengabadikan diri pada anak tangga rumah kayu itu, serasa membayangkan diri sedang berada di rumah Datuk Maringgih dalam film Siti Nurbaya.

Setelah menempuh waktu hampir satu setengah jam dari kota Liwa, sampailah perjalanan tim napak tilas di kaki Gunung Seminung yang berada di tepian Danau Ranau pada pukul 16.00. Danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Perjalanan langsung berbelok ke arah kanan menyusuri alamat tujuan di Pagar Dewa, dimana jejak sekolah Al-Irsyad berada sesuai petunjuk yang ditulis oleh Jeroen Peeters. Sesampainya di Pagar Dewa ada aura historis dimana tim sudah menduga titik lokasi yang dicari. Di lokasi yang berjarak tidak kurang dari 100 meter ditemukan ada dua gedung sekolah tua. Diurutan pertama sudah dipastikan tidak ada kaitan dengan yang sedang dilacak karena gedung tua itu masih berstatus aktif dibawah naungan Nahdatul Ulama. Diurutan keduanyalah menjadi dugaan kuat karena menurut keterangan penduduk setempat yang ditemui, gedung itu dulunya merupakan sekolah yang dikelola oleh aktivis PSII (Partai Sjarikat Islam Indonesia). Berdasarkan tulisan Jeroen Peeters, para pengurus Al-Irsyad di Ranau memang hampir semuanya terlibat menjadi aktivis PSII, bahkan calon gurunya yang bernama H.Zaini sempat ditahan selama 3 tahun oleh Pemerintah kolonial Belanda karena terlibat dalam propaganda PSII pusat yang menentang pemberlakuan pajak yang dipandang menyulitkan para petani kopi dan cengkeh di Ranau. 

Warga Pagar Dewa yang berhasil di wawancara dan belakangan diketahui berprofesi sebagai guru pada sekolah negeri di kecamatan warkuk itu, kemudian mengantarkan tim menemui Bapak Thamrin Amlan yang dipandang sebagai orang yang dituakan di desa Pagar Dewa dan memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh baru yang ditemukan Haji Akmal Alwi, seorang pejuang kemerdekaan yang dihormati dan kisahnya sudah melegenda bagi masyarakat Ranau. 

Tim tiba dikediaman Bapak Thamrin Amlan hampir mendekati pukul 17.00 Wib dan disambut dengan ramah serta penuh kekeluargaan. Tabir keberadaan sekolah Al-Irsyad di Pagar Dewa akhirnya terbuka lebar. Dari keterangannya yang membuat semua tim terharu, Ia menuturkan bahwa almarhumah ibunya Murhamah binti Hanan merupakan lulusan sekolah Al-Irsyad Pagar Dewa. Dari lokasi yang sudah diduga sebelumnya oleh tim, benar adanya bahwa disitulah letak bekas gedung sekolah Al-Irsyad yang pernah berdiri di Desa Pagar Dewa. Pagar Dewa sebuah desa yang berada di Kecamatan Warkuk Ranau Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. 

Rasa lelah setelah menempuh perjalanan sepanjang 275 KM selama hampir delapan jam dari Bandar lampung segera sirna, seluruh anggota tim diliputi oleh perasaan suka cita dan keharuan, jejak yang ditelusuri dan ditemukan semua itu berada diluar dugaan. Dari Bapak Thamrin Amlan ini pula diketahui bahwa Ahmad Rivai bersaudara dengan Hadji Akmal Alwi, pejuang kemerdekaan yang kini namanya diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Ranau. Dari keterangannya pula, bahwa Bapak Akmal adalah guru ibunya semasa sekolah di Al-Irsyad Pagar Dewa. 

Memasuki waktu malam, anggota tim kemudian memutuskan untuk mencari penginapan. Ditepian Danau Ranau yang cantik dikelilingi oleh gunung Seminung dan Bukit Barisan yang terbentang luas, disitulah anggota tim napak tilas memutuskan untuk menginap. Ditengah udara Ranau yang dingin, malam itu juga sekitar pukul 20.00 WIB, tim kemudian bertandang menemui Bapak Azeta cucu almarhum ustadz Ahmad Rifai yang sedang dilacak berdasarkan arahan Bapak Thamrin Amlan. Tim berhasil menemui Bapak Azeta dirumahnya yang khas, rumah panggung adat melayu. Darinya diperoleh keterangan bahwa dirinya anak dari Almarhum Bapak Matriza anak satu-satunya almarhum ustadz Ahmad Rivai. Tidak ditemukan dokumentasi apapun darinya, karena rumah peninggalan ustadz Ahmad Rivai yang dihuninya pernah terbakar dan memusnahkan semua peninggalannya. Darinya pula beroleh keterangan bahwa ustadz Ahmad Rivai sudah wafat sejak masa Bung Karno, dan juga istrinya Zainun. Belakangan baru diketahui bahwa Matriza ayah Azeta adalah pemilik pulau yang terkenal di tengah Danau Ranau, pulau yang oleh orang-orang menyebutnya sebagai pulau Marisa, akibat terkilirnya lidah orang Ranau untuk menyebut nama asli pemilik pulau itu. Dari keterangan Bapak Azeta pula, makam kakeknya ustadz Ahmad Rivai tidak dapat dilacak karena makamnya di pekuburan umum Pagar Dewa sudah bertumpuk dengan pemakaman baru sesudahnya. Sedangkan pamannya Akmal Alwi pejuang pemberani telah lebih dulu wafat dikubur hidup-hidup oleh penjajah Jepang. Akmal adalah pewakif gedung yang dahulu pernah dipakai sebagai Sekolah Al-Irsyad di Ranau. Di sekolah itu pula Akmal pernah mengajar, sebagaimana yang dituturkan oleh Bapak Thamrin Amlan. Untuk menghormati jasanya sebagai pejuang Ranau, Pemerintah setempat kemudian membangun patung Akmal di Simpang Sender.

Dari banyak keterangan warga masyarakat, nama Akmal lebih menonjol karena menjadi ikon perjuangan rakyat Ranau melawan penjajahan baik terhadap Belanda maupun Jepang. Dari banyak sumber pula, Akmal pernah bersekolah di Batavia. Untuk menelusuri almamater Akmal di Batavia ada dua sumber informasi yang belum sempat tergali oleh tim, yaitu dari Hajjah Kamilah anak perempuan Akmal sebagai satu-satunya yang masih hidup dan kini sudah lama menetap bersama suaminya di kota Palembang, dan Bapak Umar Said sebagai generasi kedua aktivis PSII di Pagar Dewa yang masih hidup. Cuma sayang tim tidak berhasil menemuinya karena saksi kunci kedua sedang tidak berada di desanya. Tim memiliki keyakinan bahwa Akmal Alwi menempuh pendidikan yang sama dengan saudaranya Ahmad Rivai di Madrasah Al-Irsyad Batavia yang juga mendapatkan didikan langsung dari gurunya Syaikh Ahmad Surkati. Dari sumber media online yang menyebutkan bahwa Akmal merupakan lulusan Al-Azhar di Jakarta jelas dengan mudah akan terbantahkan karena perguruan itu baru ada berdiri di Jakarta sesudah kemerdekaan sejak tahun 1952. Selain itu, pada dekade tahun 1900 tidak ada lembaga pendidikan modern bercorak Pembaharuan Islam di Batavia selain lembaga pendidikan Al-Irsyad yang berdiri sejak 6 September 1914. Madrasah Al-Irsyad di Batavia pada kurun waktu antara tahun 1915 - 1940, menjadi sekolah pilihan kaum pergerakan dari berbagai daerah di tanah air. 

Tim napak tilas melacak jejak keberadaan Madrasah Al-Irsyad di Ranau akhirnya membuahkan keyakinan final. Pada esok harinya sebelum kembali pulang, tim menyempatkan diri kembali ke bekas gedung sekolah Al-Irsyad di Pagar Dewa. Di dinding bekas gedung sekolah itulah ditemukan fakta sejarah yang tidak dapat terbantahkan, sebuah tulisan yang hampir pudar karena tertutupi oleh cat tembok tertulis sejarah keberadaan bekas gedung tersebut yang memuat nama Akmal Alwi sebagai perintis kemerdekaan dan keberadaan sekolah Al-Irsyad pada tahun 1926. Tulisan itu dibuat oleh Yayasan yang dirintis oleh keluarga Besar Akmal Alwi, diantaranya adalah almarhum Drs.H. Kafrawi Rahim mantan Bupati Lahat. Dari petunjuk pemakai bekas gedung sekolah Al-Irsyad itu pula, tim diantar menuju rumah panggung yang juga disebut sebagai bekas peninggalan almarhum Akmal Alwi di Pagar Dewa. Di rumah itu dijumpai foto Akmal Alwi dan anggota keluarganya dan merupakan penemuan awal untuk mengungkap lebih dalam lagi akan sosoknya di kelanjutan napak tilas berikutnya, terutama pada saksi kunci yang akan ditelusuri dari Ibu Hajjah Kamilah di kota Palembang dan Bapak Umar Said di Pagar Dewa.

Bekas gedung sekolah Al-Irsyad
Pagar Dewa Ranau

Artefak sebuah tulisan di dinding
 bekas gedung sekolah Al-Irsyad




Foto bersama Bapak Thamrin Amlan


Tim PUSDOK dari kiri ke kanan 
Mansyur Alkatiri, Abdullah Batarfie dan Zeyd Amar 

Allahyarham Akmal Alwi


Rumah peninggalan keluarga Akmal Alwi

Rumah panggung khas Lampung

Pulau Marisa (Matriza) yang terkenal
di danau Ranau
(foto diambil dari situs di internet)

Berlangganan artikel terbaru via email. GRATIS! :

Belum ada Komentar untuk "Perjalanan Napak Tilas ke Ranau"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel