Nama Gang di Empang Bogor dan asal usul penamaannya

Suasana Alun-Alun Empang tempo doeloe - Sumber foto: Universitas Leiden Belanda

Empang pernah ditetapkan oleh Pemerintah kolonial Belanda sebagai kawasan pemukiman orang-orang Arab di Bogor. Dahulu nama resminya adalah Kampong Soekaati yang kemudian resmi dinamakan sebagai nama administrasi sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan kota Bogor Selatan.

Pada masa lalu di Empang ada banyak jalan setapak, jalan yang hanya bisa dilalui para pejalan kaki, jalan setapak yang menghubungkan antar pekarangan rumah penduduk. Biasanya nama jalan setapak tersebut dinamai dari ciri khas yang ada di kawasaan itu,umumnya dari nama pohon seperti kebon kalapa (kelapa) atau kebon muncang (kemiri). Ada juga karena di daerah tersebut berawa-rawa maka dari itu kemudian dinamakan rawa bolang dekat dengan jalan Sedane yang kini sudah menghilang. Selain jalan setapak yang akhirnya resmi menjadi sebuah Gang, ada juga nama-nama Gang di Empang yang memang sudah resmi masuk dalam peta pemukiman oleh kolonial Belanda dan oleh Pemerintah Republik Indonesia setelah kemerdekaan.

Penyebutan istilah Gang diambil dari bahasa Belanda yang secara harfiah artinya jalan atau lorong di antara celah bangunan maupun rumah-rumah penduduk yang hanya di peruntukan bagi para pejalan kaki. Karena itu pada zaman Belanda di setiap muka Gang akan ditancapkan dua buah Paal beton setinggi kurang lebih satu meter yang tujuannya adalah agar tidak dapat dilalui oleh gerobak atau kendaraan lainnya. Bahkan sepeda tidak diperbolehkan dikayuh tapi harus dituntun.

Paal Beton yang masih ada dan tersisa di Empang. Paal yang di cat putih masih bisa kita jumpai di Gang Kaum depan Alun-Alun. Masih berada dalam kawasan itu terdapat Paal serupa yang menghubungkan antara Alun-Alun dengan Jalan Sedane. Gang itu kini dinamakan Gang Al-Irsyad karena ada gedung SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang sudah berdiri sejak tahun 1928. Paal beton di Gang Al-Irsyad pada bagian muka Gang dari Alun-Alun sudah hilang satu akibat ulah penduduk setempat agar bisa dimasuki oleh kendaraan roda empat. Sedangkan pada bagian muka Gang dari arah jalan Sedane letaknya digeser (dipindah) lebih ke arah dalam. Tinggi Paal di Gang Al-Irsyad dan Gang Kaum tingginya menjadi lebih pendek karena terkubur oleh ketinggian akibat perbaikan jalan dan salah satunya akibat kerusakan sehingga tingginya sudah tidak sejajar lagi (di Gang Al-Irsyad)

Gang pada zaman Belanda tertata dengan rapih dan ramah lingkungan karena dirawat oleh para pegawai rendah pemerintah. Gang dimasa kolonial permukaanya dibeton berbentuk kotak berurutan ukuran kurang lebih 60 x 60 cm atau ada juga yang dibuat dari sejenis ubin berbahan batu  kali yang dikiri dan kanannya ditata dengan bebatuan yang disebut balai (sunda), fungsinya adalah untuk menyerap air sekaligus menjaga keseimbangan agar jalan beton itu tetap awet. Setiap hari ada petugas yang pekerjaannya berjalan menyusuri Gang demi Gang untuk mencabut rumput atau tanaman liar yang tumbuh di celah bebatuan dan beton. Dan apabila ada yang rusak akibat gompal pada betonnya, petugas itu segera akan memperbaikinya kembali, demikian juga dengan bebatuannya jika akan ada yang lepas atau hilang. Gang warisan kolonial Belanda di Bogor dan masih terawat dengan baik salah satunya dapat kita jumpai di Gang Tirta yang berada di belakang pertokoan Jembatan Merah. 

Sebagian penamaan Gang di Empang merujuk pada nama orang setempat yang dikenal seperti Rodan, Solihin, Surya, Haji Abas, Pa Ocon, Bang Ji'ung, Galoeh dan Ma Ara. Nama-nama Gang itu muncul akibat kebiasaan penyebutan warga kepada nama seseorang sebagai ciri yang menjadi patokan di Gang itu. Misalnya nama Rodan di ambil dari nama Roudhon tapi warga Empang memanggilnya dengan sebutan Ami Rodan. Ami adalah sapaan kepada laki-laki dewasa Arab atau yang sudah berusia lanjut yang artinya adalah paman. Ami Rodan peranakan arab yang bernama asli Roudhon bin Tsabit Al-Nahdi.

Gang Bang Ji'ung diambil dari nama seorang pendatang asal Betawi (Jakarta) yang menetap di Empang. Ia berprofesi sebagai ahli urut patah tulang. Penampilan berpakaiannya khas kaum pria Betawi dengan paduan celana pangsi dan kaos oblong putih dan dibalut oleh kemeja tipis warna merah polos yang hampir mirip dengan baju melayu tanpa kerah. Gang Bang Ji'ung sekarang ini sudah diganti oleh Pemerintah Kota (pemkot) menjadi Gang Pirus. Pirus adalah nama lokal di Indonesia untuk batu permata jenis Turquoise yang namanya berasal dari bahasa Prancis, artinya adalah Batu dari Turki, karena untuk pertama kalinya batu pirus di perkenalkan dan dibawa ke Eropa oleh bangsa Turki.

Sebelum resmi dinamakan Gang Ma Ara, dahulu warga setempat menyebutnya sebagai Gang Pa Ocon. Kemungkinan besar Ia dilahirkan di tempat yang sama. Pada dekade tahun 1960 kondisi fisiknya sudah kelihatan sangat tua dengan rambutnya yang putih merata dan tidak bergigi satupun (ompong). Pa Ocon diperkirakan lahir pada dasawarsa tahun 1890 yang sudah dikenal kocak sejak usia mudanya. Karena itulah orang-orang lebih suka memanggilnya dengan Pa Ocon. Ocon adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa sunda yang artinya canda atau guyon.

Banyak kisah lucu tentang dirinya, salah satu penggalan kisah aksi guyonannya adalah ketika Ia berhasil mengelabui tetangganya dengan jam dinding miliknya. Jam itu menjadi patokan tetangganya berangkat setiap pukul 4 dini hari ke stasiun Batutulis, tempatnya bekerja sebagai petugas di loket penjualan karcis (tiket) kereta api.

Malam selepas dini hari, Pa Ocon secara sengaja merubah arah berputarnya jarum pada jam dindingnya agar berbunyi berdentang 4 x pada pukul 2 dini hari. Sontak suara itu membuat tetangganya berkemas diri dan segera mengayuh sepedanya menuju stasiun. Sesampainya disana tidak di dapatinya para pedagang yang biasa sudah berkerumun menunggu jam loket buka dan Iapun tersadarkan setelah melihat jam gantung yang berada di atas peron stasiun. Siang harinya menjelang pukul 14.00 sekembalinya pulang dari stasiun, di mulut Gang Pa Ocon telah menunggu dengan tangan yang satu bertulak pinggang dan satunya lagi dijulurkan seolah tanda minta sesuatu sambil mengucapkan; oper wereuh nih? oper wereuh adalah salah ucap lidah sunda untuk kata belanda overwerk yang artinya lembur kerja.

Gang Ma Ara terbilang nama yang baru di munculkan sebagai sebuah nama Gang pada tahun 2000. Tapi keberadaan Ma Ara di Gang itu kemungkinan sudah sejak puluhan tahun yang silam. Ma merupakan sapaan pendek dari Emak yang artinya adalah Ibu. Hampir sepanjang hidupnya Ma Ara mengabdikan diri dengan berprofesi sebagai Mabeurang. Di Betawi profesi serupa dinamakan Dukun Beranak dan ditempat lainnya disebut dengan Paraji. Istilah Paraji juga digunakan sebagai bahasa resmi Indonesia untuk profesi ini. Ma Ara wafat di usianya yang hampir mencapai 100 tahun pada 2 Juni 2001. Selisih satu hari sebelum wafatnya Anthony Quinn (21 April 1915-3 Juni 2001) aktor berkebangsaan Meksiko yang memerankan Omar Mukhtar dalam film Lion of the Desert (1981) dan Hamzah radiallahu'anhu pada film The Message (1976). Anthony Quinn telah berhasil memenangkan dua nominasi Academy Award dalam karirnya sebagai pekerja seni. Sedangkan Ma Ara juga mendapatkan penghargaan dari Walikota Bogor sebagai Paraji Teladan dan namanya resmi diabadikan menjadi nama sebuah Gang tempatnya menetap hingga akhir hayat, menggeser nama Pa Ocon yang sudah melegenda di Gang itu sebagai tukang ocon.

Munculnya etnis yang berimigrasi dan menetap di Empang maupun kelompok yang berprofesi dalam sebuah keahlian, oleh Pemerintah Belanda kemudian nama etnis, suku dan keahliannya itu ditetapkan sebagai nama sebuah tempat. Sebut saja misal Pekojan yang berasal dari kata Khoja. Istilah yang pada masa lalu digunakan untuk menyebut penduduk keturunan India beragama Islam. Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 telah menetapkan daerah Pekojan sebagai zona pemukiman bagi para pendatang muslim asal benggali dan dari negara lainnya yang beragama Islam. Kelak kemudian disebut sebagai Kampung Arab karena jumlah penghuninya lebih banyak dari pendatang muslim lainnya. 

Demikian pula dengan Kaum yang di identikan dengan para ahli agama termasuk imam dan marbot Masjid Agung. Di Jawa sering kali orang menyebutnya dengan Kauman. Adapun Gang Banjar di ambil dari nama keluarga Pagustian asal Kesultanan Banjarmasin Kalimantan Selatan yang diasingkan dan di tempatkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Empang. Bagian dari kisah tempat pengasingan Pagustian tersebut itulah yang memunculkan nama sebuah Gang dan kini disebut dengan nama Gang Inten (Intan).

Konon penamaan Gang Intan bermula dari Nyai Salamah ibu dari Ratu Zaleha yang disebut sebagai Ni Putih. Ni Putih turut bersama anak dan menantunya menemani mereka ke pengasingan di Buitenzorg (Bogor). Menurut cerita lisan yang menjadi buah bibir warga Lolongok pada zaman dulu, Ni Putih mencari intannya yang di boyong oleh pemerintah kolonial ke negeri Belanda. Intan itu disebut-sebut berukuran besar dan karenanya Ni Putih yang sudah tua renta dan sudah mulai pikun, sering mencari intannya yang dianggap hilang hingga pada halaman paling belakang rumah pengasingannya yang sekarang disebut sebagai Gang Intan. Nasib yang sama seperti harta pusaka berharga dan mahkota kesultanan Banjarmasin yang dirampas oleh Belanda, juga dialami oleh kerajaan Mughal di India, Intan (berlian) terbesarnya yang dinamakan Kohinoor telah di klaim milik Kerajaan Inggris dan disematkan pada mahkota Ratu Elizabeth. Disebut-sebut Intan Kohinoor merupakan yang terbesar dan terkilau di dunia.

Nama Gang Banjar jejak bekas tempat pengasingan Gusti Muhammad Arsyad dan Ratu Zaleha. Nama Gang Intan jejak Ni Putih yang melegenda mencari permata Intan pusaka Kesultanan Banjarmasin yang raib diboyong penjajah ke negeri Belanda

Karena di Empang banyak pangemasan yang diambil dari bahasa setempat artinya adalah para pengrajin pembuatan perhiasan mas dan perak, pada dekade tahun 1980 Pemerintah kota Bogor kemudian meneruskan nama-nama Gang yang berderetan dengan Gang Intan tersebut hingga ke ujung jalan Lolongok dengan nama-nama batu permata yaitu Gang Berlian, Gang Pirus dan Gang Zamrud. Pangemasan di Empang sekarang ini tidak lagi berjaya seperti masa lalunya tapi masih tetap eksis hingga sekarang walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu. Penamaan batu permata sebagai nama Gang di Empang oleh Pemkot Bogor justru malah mengaburkan sejarah tentang asal usul yang seharusnya menjadi khazanah budaya dan sejarah kota Bogor.

Sebagaian dari jalan setapak yang tidak resmi tapi diizinkan oleh pemilik lahan untuk dilalui kini telah berangsur hilang karena lahannya dijual oleh ahli waris. Salah satunya adalah jalan yang menghubungkan antara jalan Sedane ke arah kebon kelapa. Dari jalan setapak itulah para pejalan kaki dari arah Sedane dapat lebih mudah dan cepat menuju ke Kebon Muncang, Qubah Al-Attas, Gang Karupuk, atau ke arah jalan Lolongok yang menghubungkan pada Gang-Gang di sepanjangnya.

Berlangganan artikel terbaru via email. GRATIS! :

Belum ada Komentar untuk "Nama Gang di Empang Bogor dan asal usul penamaannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel