Gan To'ing syuhada di Cisadane dan Haji Abdullah Delman pendiri Masjid Al Munawwar di Empang


Rd.H.Moh Thohir bin Rd.H.Gaos

Lubuk adalah bagian dari aliran sungai yang terdalam. Air dibagian lubuk ini pada umumnya tenang dan tidak mengalir, tapi terkadang ada arus yang kuat dari bagian dasarnya. Beberapa lubuk memiliki nama tersendiri dan karenanya ada yang menjadi nama daerah seperti Lubuk Linggau di Sumatera Selatan dan Lubuk Pakam di Sumatera Utara.

Masyarakat sunda mengenal istilah lubuk dengan sebutan Leuwi. Seperti halnya Lubuk, beberapa nama daerah di Jawa Barat juga diambil dari nama Leuwi, antaranya adalah Leuwiliang di Kabupaten Bogor dan Leuwi Panjang yang kini menjadi nama terminal bis di Bandung. Bahkan ada beberapa nama Leuwi di Bogor memiliki kaitan erat dengan sejarah Pakuan Pajajaran dan ada yang sudah menjadi legenda, salah satunya adalah Leuwi Sipatahunan yang berada dekat dengan Istana Bogor di sungai Ciliwung. 

Disepanjang sungai Cisadane yang mengalir di Empang, ada dua Leuwi yang populer disebut  dengan Leuwi Ceuli dan Leuwi Kuda. Ceuli dalam bahasa sunda artinya adalah telinga, disebut demikian karena bentuknya yang hampir mirip daun telinga. Ada bagian yang menjoros yang dalam bahasa sunda disebut sedong. Bagian dari sedong itulah yang jika dilihat dari atas jembatan ledeng yang melintasi Leuwi Ceuli tersebut akan ada penampakan seperti daun telinga. Pada bagian sedong itu pula sering menjadi titik pencarian jenazah yang hanyut terbawa arus deras air sungai Cisadane. Adalah Raden Mohammad Tohir atau akrab disapa Gan To'ing yang memiliki kemampuan menyelam dan sering dimintai bantuannya untuk melakukan pencarian orang yang kelelep. Bahkan beliau wafat saat sedang melakukan tugas mulianya mencari jenazah korban palid di sungai Cisadane, korbannya adalah anak seorang peranakan arab putera laki-laki dari ami Mahfudz Mahdami.

Peristiwa itu terjadi pada bulan suci romadhon, saat dimana umat Islam tengah melakukan ibadah puasa, demikian pula halnya dengan Gan To'ing. Diperkirakan pada pukul 2 siang ditengah panasnya terik matahari Ia bergegas dari kediamannya di gang inten dengan diiringi oleh para kerabat korban palid menuju sungai Cisadane. Diduga korban sudah terbawa arus sungai di dekat bendungan (dam pulo), atau pada bagian bawah arus air yang keluar dari pintu bendungan yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda tahun 1872.

Seperti biasanya, Gan To'ing langsung menenggelamkan diri untuk melakukan pencarian pada celah bebatuan di dasar sungai. Ratusan masyarakat menyaksikan peristiwa yang mencekam ini karena setelah hampir lebih dari satu jam Ia tidak kunjung muncul kepermukaan.

Hari itu cuaca berubah menjadi mendung dan awan gelap menyeliputi kota Bogor pertanda akan turun hujan. Hingga kemudian memasuki waktu pukul 5 sore tubuhnya sudah ditemukan tak berdaya dan ada pendarahan dibagian kepalanya, kuat dugaan terbentur oleh batu bercadas ditepian tebing saat akan bangkit dari dasar sungai.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sebelumnya beliau sempat dicegah untuk tidak melakukan pencarian karena usianya yang sudah uzur dan juga kondisi kesehatannya yang sedang kurang sehat, tapi karena panggilan misi kemanusiaan, profesinya itupun tetap dilakoninya hingga Ia syahid (Insya Allah) dalam keadaan berpuasa di kedalaman sungai Cisadane pada 16 Romadhon tahun 1969. Jasadnya dimakamkan di komplek Pemakaman Keluarga Besar Dalem Sholawat di Empang. Dinisannya ditulis Rd.Moh Thohir bin R.H.Gaos, ayahnya R.H.Gaos adalah bekas Hofd Penghoeloe Tjibadak. R.H Gaos merupakan generasi kedua Raden Patih Candra Menggala atau Patih Bogor. Sedangkan dari garis ibundanya adalah generasi kelima Pangeran Dipenogoro dari garis anak laki-laki tertuanya Rd.Mas Djonet Dipenogoro yang wafat di Kampung Jawa Baru (Jabaru) dekat Pasir Kuda, Buitenzorg tahun 1832.

Adapun jembatan ledeng yang melintasi Leuwi Ceuli itu dibangun oleh Pemerintan kolonial Belanda dan diresmikan pemakaiannya pada 23 Desember 1922. Dinamakan Jembatan Ledeng karena dibawah jembatan itu ada saluran pipa air bersih yang diambil dari sumber mata air di daerah kota batu. Pipa Air Bersih atau pada masa Kolonial Hindia Belanda dinamakan sebagai waterleiding ini adalah sarana yang disediakan oleh  gemeente setingkat pemerintah kota untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi warga Buitenzorg, khususnya orang-orang kaya belanda. Pusat pengambilan sumber air bersih di daerah Kota Batu tersebut hingga kini masih dikenal sebagai gang haminte. Karena pengelolaan sumber air bersih itu berada dibawah gemeente Buitenzorg atau pemerintah kota Bogor. 

Leuwi lainnya yang berada pada aliran sungai cisadane di Empang adalah yang dikenal dengan nama Leuwi Kuda. Lokasinya berada di dekat pertemuan antara sungai Cisadane dan sungai Cipinang Gading. Dinamakan Leuwi Kuda karena dahulu digunakan untuk tempat memandikan kuda-kuda milik Haji Abdullah bin Oemar Hasanah pemilik banyak angkutan delman, yang karenanya dikenal pula dengan panggilan Haji Abdullah Delman. Konon ia memiliki 40 orang anak dari 7 orang istri yang dinikahinya.

Haji Abdullah Delman adalah peranakan arab yang memiliki lahan luas di jalan sedane untuk menyimpan kuda-kuda dan delman miliknya. Pada tahun 90an di jalan sedane masih terdapat nama tempat yang disebut sebagai istal kuda, tapi bukan milik Haji Abdullah. Istal adalah istilah yang digunakan sebagai kandang kuda. 

Tidak jauh dari tempat pemandian kuda-kuda milik Haji Abdullah, didirikan sebuah langgar (musholla) ditepian dekat Leuwi Kuda. Langgar ini berfungsi sebagai sarana ibadah yang disediakan oleh Haji Abdullah untuk para pekerjanya, kusir dan juga para penambang batu dan pasir di sungai Cisadane. Langgar itu kemudian berangsur diperluas dan dibangun menjadi sebuah masjid yang permanen pada tahun tujuh puluhan dan dinamakan Al-Munawwar. Haji Hasan Hasanah salah seorang anak laki-laki Haji Abdullah memiliki pengaruh dan berperan penting dalam usaha perluasan, pembangunan dan memakmurkan Masjid Al-Munawwar. Nama Haji Hasan Hasanah dan masjidnya kian terkenal setelah di Masjid itu diselenggarakan kuliah shubuh pada setiap bulan suci ramadhon. Jamaah yang menghadiri kuliah shubuh ini membludak hingga lebih dari seribu orang baik dari kaum pria maupun wanita. Belakangan orang-orang lebih mengenalnya sebagai masjid Haji Hasan Hasanah.

Haji Hasan Hasanah juga dikenal sebagai penyelenggara tour ziarah ketempat-ketempat jejak Islam di nusantara, jauh sebelum menjamurnya biro-biro perjalanan wisata religi. Sebagai penyelenggara dan pimpinan tour ziarah, Haji Hasan dikenal bijak dan bertanggung jawab terhadap anggota rombongan selama dalam perjalanan, karena itu dari waktu ke waktu pesertanya semakin bertambah jumlahnya. 

Haji Hasan wafat pada 14 Maret 1986, jenazahnya dihantar kepemakaman oleh para penziarah yang memadati masjid Almunawwar yang selama ini dibinanya dan berada persis disamping kediamannya. Istrinya Ustadzah Khadidjah juga dikenal sebagai pemimpin majelis taklim kaum wanita, baik kegiatan yang dipusatkan di Masjid, maupun dari rumah ke rumah di kampung Lolongok Empang dan sekitarnya.


(sumber foto; Bogor Tempo Doeloe)

Delman-delman milik Haji Abdullah daerah operasi tarikannya adalah antara dari Jalan Pedati di pecinan hingga kampung arab di Empang. Delman Haji Abdulah biasanya mangkal dipersimpangan antara post weg dan tanjakan empang atau persis berada disebrang hotel Belvue yang terkenal di Buitenzorg, yang sekarang sudah berubah menjadi Bogor Trade Mall 

Delman dan kusir sebagai alat transportasi dan profesi itu kini sudah jarang ditemukan. Dibeberapa daerah alat transportasi serupa ini ada yang menyebutnya dengan nama sado maupun dokar, di cibadak dan sekitarnya dikenal dengan istilah nayor. Masyarakat sunda sendiri pada umumnya menyebut dengan istilah kahar, sedangkan orang melayu dan sebagaian warga betawi ada yang menyebutnya dengan istilah bendi. Penamaan Delman itu sendiri berasal dari penemunya yakni Ir Charles Theodore Deeleman yang tinggal di Batavia. Sedangkan sado berasal dari bahasa Prancis dari kata dos-à-dos yang berarti saling memunggungi. Kata ini kemudian disingkat oleh orang betawi dengan istilah sado.

Sumber foto Bogor Tempo Doeloe

Berlangganan artikel terbaru via email. GRATIS! :

Belum ada Komentar untuk "Gan To'ing syuhada di Cisadane dan Haji Abdullah Delman pendiri Masjid Al Munawwar di Empang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel