Ketika Al-Irsyad Membantah Berita Politik: Surat dari Batavia, 1919
Pada 26 November 1919, surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad memuat sebuah surat bantahan berjudul “Een Onjuist Bericht” atau “Sebuah Berita yang Tidak Benar”. Surat tersebut ditandatangani Sech Said bin Salim Mashabi atas nama pengurus perkumpulan Al-Irsyad di Batavia. Isinya merupakan tanggapan resmi terhadap sebuah berita yang sebelumnya dimuat dalam surat kabar Arab Al-Ikbal, kemudian dikutip oleh kantor berita Aneta dan dimuat kembali dalam pers berbahasa Belanda. Berita tersebut menyebut bahwa perkumpulan Al-Irsyad telah mengadakan sebuah pertemuan di kantor seorang bernama Mangoes (Syaikh Umar bin Yusuf Manggoesy) di Petodjo, Batavia, dengan tujuan menghasut sebagian masyarakat Arab agar menentang kebijakan pemerintah Inggris di Hadramaut.
Bagi pengurus Al-Irsyad, berita itu bukan perkara kecil. Tuduhan bahwa sebuah perkumpulan pendidikan masyarakat Arab terlibat dalam kegiatan politik yang berkaitan dengan pemerintahan Inggris di Hadramaut dapat memberikan gambaran yang sama sekali berbeda mengenai organisasi tersebut. Karena itu, melalui surat yang dimuat Bataviaasch Nieuwsblad, mereka segera memberikan bantahan. Kalimat pembukanya tegas: berita yang diberitakan tersebut dinyatakan “absoluut onwaar”, atau sama sekali tidak benar. Bantahan itu kemudian disusun dalam tiga pokok penjelasan yang memperlihatkan bagaimana Al-Irsyad mendefinisikan dirinya di tengah kehidupan masyarakat Arab Batavia.
Pertama, pengurus Al-Irsyad menyangkal lokasi pertemuan yang disebut dalam berita. Mereka menyatakan bahwa Tuan Mangoes tidak mempunyai kantor di Petodjo. Keterangan sederhana ini menjadi salah satu dasar untuk mempertanyakan keseluruhan berita yang beredar. Kedua, mereka menegaskan bahwa Al-Irsyad tidak pernah bergerak di bidang politik. Menurut surat tersebut, tujuan perkumpulan itu semata-mata adalah “onderwijs onder de Arabische bevolking te bevorderen”, yakni memajukan pendidikan di kalangan masyarakat Arab. Penegasan ini memperlihatkan pentingnya pendidikan dalam identitas awal Al-Irsyad sekaligus menunjukkan keinginan pengurusnya untuk membedakan aktivitas organisasi mereka dari kegiatan politik.
Menariknya, dalam bantahan itu pengurus Al-Irsyad juga menyinggung persoalan modernisasi masyarakat Arab. Mereka menyatakan bahwa Al-Ikbal sangat menentang Al-Irsyad karena surat kabar tersebut, menurut mereka, tidak menghendaki “een moderniseering van het Arabische volk”, modernisasi bangsa Arab. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa perselisihan antara Al-Irsyad dan Al-Ikbal tidak semata-mata berkaitan dengan satu berita tentang Hadramaut. Di belakangnya terdapat perbedaan pandangan yang lebih luas mengenai arah perubahan masyarakat Arab, terutama mengenai pendidikan dan gagasan pembaruan.
Bagian ketiga surat bantahan menyangkut sebuah ungkapan yang disebut “banteng poetih”, beserta beberapa ungkapan lain yang oleh Al-Ikbal diberitakan sebagai perkataan yang ditujukan kepada Konsul Inggris. Pengurus Al-Irsyad dengan tegas menyatakan bahwa perkataan tersebut tidak pernah diucapkan oleh anggota mereka. Bahkan mereka menilai ungkapan-ungkapan itu telah “uit den duim zijn gezogen”, secara harfiah berarti “dikarang dari ujung jempol” atau dibuat-buat. Dengan demikian, Al-Irsyad bukan hanya menyangkal adanya pertemuan politik, tetapi juga menyangkal pernyataan-pernyataan yang dianggap telah dikaitkan secara keliru kepada anggota organisasi.
Pernyataan yang paling penting dalam surat tersebut adalah penegasan bahwa Al-Irsyad “zich totaal niet met het beleid van welke regeering ook wenscht in te laten”—sama sekali tidak ingin mencampuri kebijakan pemerintahan mana pun. Kalimat ini memberikan gambaran mengenai posisi yang hendak ditampilkan Al-Irsyad kepada publik pada 1919. Organisasi tersebut menegaskan dirinya sebagai perkumpulan yang bergerak dalam bidang pendidikan masyarakat Arab, bukan sebagai organisasi yang hendak ikut menentukan atau memengaruhi kebijakan pemerintah Inggris, Belanda, ataupun pemerintahan lainnya.
Konteks Hadramaut membuat persoalan ini menjadi semakin menarik. Hubungan masyarakat Arab di Hindia Belanda dengan Hadramaut bukan hanya hubungan politik, melainkan juga hubungan keluarga, perdagangan, pendidikan dan kebudayaan. Berita mengenai perkembangan di tanah leluhur dengan mudah sampai ke Batavia melalui jaringan surat kabar dan hubungan antarkomunitas. Karena itu, persoalan politik di Hadramaut dapat menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat Arab Hindia Belanda, meskipun sebuah organisasi seperti Al-Irsyad berusaha menjaga dirinya agar tidak terseret ke dalam politik tersebut.
Surat ini juga menunjukkan pentingnya pers Arab dan pers kolonial dalam kehidupan intelektual masyarakat Arab di Batavia. Sebuah berita yang pertama kali muncul dalam Al-Ikbal berpindah melalui kantor berita Aneta, kemudian masuk ke surat kabar berbahasa Belanda. Setelah itu, Al-Irsyad menggunakan ruang yang sama untuk memberikan klarifikasi. Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana informasi mengenai masyarakat Arab bergerak melintasi batas bahasa: dari pers Arab menuju kantor berita kolonial, lalu kepada pembaca surat kabar berbahasa Belanda, dan akhirnya kembali dijawab oleh organisasi yang namanya diberitakan.
Dalam konteks sejarah Al-Irsyad, dokumen ini menjadi salah satu jejak yang menarik mengenai identitas awal organisasi tersebut. Pada masa itu Al-Irsyad masih berada dalam fase awal perkembangan gerakan pendidikan dan pembaruan. Surat bantahan ini memperlihatkan bahwa pengurusnya merasa perlu menjelaskan kepada publik bahwa modernisasi pendidikan masyarakat Arab tidak identik dengan keterlibatan politik. Bahkan ketika isu politik Hadramaut memasuki ruang publik Batavia, Al-Irsyad secara resmi menyatakan bahwa organisasinya tidak hendak mencampuri kebijakan pemerintahan mana pun.
Lebih dari satu abad kemudian, sebuah surat pendek yang dimuat di Bataviaasch Nieuwsblad itu memberikan gambaran kecil tentang suasana masyarakat Arab Batavia pada 1919. Di sana terdapat surat kabar Arab, kantor berita, organisasi pendidikan, perdebatan mengenai modernisasi, persoalan Hadramaut dan perhatian pemerintah kolonial terhadap kehidupan masyarakat Arab. Semua unsur tersebut bertemu dalam satu ruang publik yang sama. Al-Irsyad bukan berada di luar arus sejarah itu, melainkan justru tumbuh di tengahnya.
Karena itu, “Een Onjuist Bericht” bukan hanya sebuah bantahan terhadap berita yang dianggap keliru. Ia merupakan dokumen yang memperlihatkan bagaimana Al-Irsyad pada masa awal berusaha menjelaskan siapa dirinya kepada masyarakat: sebuah perkumpulan yang menempatkan pendidikan dan pembaruan masyarakat Arab sebagai tujuan utamanya, sembari menyatakan tidak ingin memasuki kebijakan politik pemerintahan mana pun. Dari selembar surat yang terbit di Batavia pada 26 November 1919, kita dapat melihat salah satu fragmen penting dari pergulatan masyarakat Arab Hindia Belanda dalam menentukan arah pendidikan, pembaruan dan posisi mereka di tengah dunia kolonial.
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad, 26 November 1919, artikel/surat bantahan “Een Onjuist Bericht”, ditandatangani Sech Said bin Salim Mashabi, atas nama pengurus Vereeniging Al-Irsyad. Surat tersebut menanggapi berita yang berasal dari surat kabar Arab Al-Ikbal dan dikutip oleh kantor berita Aneta.
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Terjemahan koran ;
Sebuah Berita yang Tidak BenarYang terhormat Tuan,Batavia, 25 Nov, '19.Sehubungan dengan sebuah berita Aneta yang dimuat dalam surat kabar Anda pada hari Sabtu yang lalu, yang oleh Aneta diambil dari surat kabar berbahasa Arab “Al-Ikbal”, dan yang memberitakan bahwa di kantor Tuan Mangoes di Petodjo telah diadakan suatu rapat oleh perkumpulan “Al-Irsyad”, yang terutama bertujuan untuk menghasut sebagian penduduk Arab yang tinggal di sini agar menentang kebijakan pemerintah Inggris di Hadramaut, maka kami yang bertanda tangan di bawah ini, atas nama pengurus perkumpulan “Al-Irsyad”, menyampaikan kepada Tuan bahwa apa yang diberitakan tersebut sama sekali tidak benar, sebagaimana dapat diketahui dari penjelasan berikut.Pertama: Tuan Mangoes tidak mempunyai kantor di Petodjo.Kedua: telah diketahui bahwa perkumpulan “Al-Irsyad” tidak pernah bergerak di bidang politik, karena tujuan perkumpulan ini semata-mata adalah memajukan pendidikan di kalangan masyarakat Arab. Hal inilah yang sangat ditentang oleh “Al-Ikbal”, karena surat kabar tersebut tidak menghendaki adanya modernisasi di kalangan bangsa Arab.Ketiga: ungkapan “banteng poetih” maupun ungkapan-ungkapan lainnya, sebagaimana diterbitkan oleh surat kabar konservatif “Al-Ikbal”, yang terutama disebut-sebut ditujukan kepada Konsul Inggris di sini, adalah sesuatu yang dibuat-buat oleh surat kabar tersebut. Tidak pernah seorang pun anggota “Al-Irsyad” menggunakan ungkapan semacam itu. Alasannya jelas, karena perkumpulan ini sama sekali tidak ingin mencampuri kebijakan pemerintahan mana pun.Atas nama pengurus perkumpulan “Al-Irsyad”,Sech Said bin Salim Mashabi.
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad No.396, 26 November 1919



Posting Komentar untuk "Ketika Al-Irsyad Membantah Berita Politik: Surat dari Batavia, 1919"
Posting Komentar