Kesaksian Jubileum 25 Tahun dalam De Indische Courant, 27 September 1939

 

Sebuah sumber primer tentang Ahmad Surkati, pendidikan, pembaruan Islam, dan perjalanan Al-Irsyad

Pada 27 September 1939, ketika dunia sedang berada di ambang Perang Dunia II, sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Surabaya, De Indische Courant, memuat laporan panjang mengenai sebuah peristiwa penting dalam sejarah Al-Irsyad: perayaan 25 tahun berdirinya Al-Irsyad.

Laporan tersebut bukan sekadar berita tentang sebuah resepsi. Di dalamnya tersimpan sebuah potret kehidupan Al-Irsyad pada akhir dekade 1930-an: tentang sekolah, kepanduan, tokoh pendiri, hubungan dengan masyarakat Arab, jaringan organisasi, pendidikan guru, hingga pengaruh Al-Irsyad yang menurut pengurusnya telah menjangkau masyarakat Muslim di Hindia Belanda bahkan Hadramaut.

Lebih penting lagi, berita itu memuat sebuah tinjauan sejarah Al-Irsyad yang disampaikan langsung oleh sekretaris Hoofdbestuur—Pengurus Besar—Al-Irsyad. Karena itu, laporan tersebut memiliki nilai khusus sebagai sumber primer sezaman untuk memahami bagaimana Al-Irsyad sendiri memandang sejarah kelahirannya pada tahun 1939.


Sebuah gapura Arab di Citadelweg

Perayaan jubileum itu berlangsung di sekolah Al-Irsyad di Citadelweg, Surabaya.

Di pintu masuk sekolah didirikan sebuah gapura kehormatan bergaya Arab. Pada malam pembukaan kongres, gapura tersebut diterangi cahaya lampu sehingga menjadi bagian dari suasana perayaan.

Bagi sebuah organisasi yang telah melewati seperempat abad perjalanan, dekorasi tersebut bukan sekadar hiasan. Ia menjadi simbol identitas sebuah komunitas yang telah membangun lembaga pendidikan dan organisasi di tengah kehidupan masyarakat Hindia Belanda.

Resepsi dimulai sekitar pukul sembilan malam dan mendapat perhatian besar.

Di meja pengurus ditempatkan foto berukuran seukuran manusia dari pendiri Al-Irsyad, Achmad Sokarti—Ahmad Surkati—yang hadir sendiri dalam resepsi tersebut.

Foto itu dihiasi rangkaian bunga.

Kehadiran Surkati sekaligus penempatan fotonya secara terhormat memperlihatkan bagaimana, 25 tahun setelah berdirinya Al-Irsyad, tokoh tersebut masih dipandang sebagai figur sentral dalam ingatan organisasi.

Ini merupakan salah satu bagian paling penting dari laporan tersebut.

Bukan hanya karena koran menyebut Surkati sebagai de oprichter—pendiri—tetapi juga karena Surkati sendiri hadir dalam perayaan 25 tahun organisasi yang didirikannya.


Dari sekolah menuju sebuah gerakan

Dalam uraian sejarah yang disampaikan pada malam itu, sekretaris Pengurus Besar Al-Irsyad, Mohamad bin Moe[nif], menjelaskan sejarah organisasi dalam bahasa Arab. Uraian tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.

Menurut laporan De Indische Courant, penjelasan sejarah itu dibagi menjadi tiga bagian:

  1. keadaan sebelum berdirinya Al-Irsyad;
  2. proses lahirnya organisasi;
  3. pengaruh Al-Irsyad terhadap masyarakat Muslim.

Pembagian tersebut menarik karena menunjukkan bahwa pada 1939 Al-Irsyad telah memiliki kesadaran historis mengenai perjalanan organisasinya sendiri.

Sejarah tidak hanya dipandang sebagai masa lalu, tetapi juga sebagai penjelasan mengenai mengapa organisasi itu lahir dan apa yang telah dicapainya selama seperempat abad.


Hadramaut dan latar belakang perubahan

Menurut uraian tersebut, sebelum lahirnya Al-Irsyad, terdapat berbagai persoalan sosial dan keagamaan di Arabia.

Pembicara menyebut adanya apa yang ia gambarkan sebagai pengaruh-pengaruh yang tidak baik dalam kehidupan beragama, yang antara lain dikaitkan dengan keterbelakangan pendidikan dan rendahnya tingkat literasi.

Buta huruf, menurutnya, memainkan peranan besar.

Hadramaut digambarkan sebagai wilayah yang relatif terisolasi. Bahkan hubungan pos disebut hampir tidak ada.

Keadaan tersebut, menurut narasi yang disampaikan pada kongres, mendorong sejumlah keluarga untuk meninggalkan Hadramaut dan mencari masa depan di luar negeri. Salah satu tujuan utama migrasi tersebut adalah Nederlands-Indië atau Hindia Belanda.

Bagian ini penting untuk memahami latar sosial yang kemudian memungkinkan berkembangnya komunitas Arab di berbagai kota di Hindia Belanda.

Migrasi Hadrami bukan hanya memindahkan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain. Bersama mereka ikut bergerak jaringan keluarga, perdagangan, pendidikan, pemikiran keagamaan, dan gagasan mengenai pembaruan.


1911: Ahmad Surkati dipanggil untuk mendirikan sekolah modern

Dalam narasi sejarah yang dibacakan pada jubileum tersebut, tahun 1911 ditempatkan sebagai titik penting sebelum lahirnya Al-Irsyad.

Beberapa orang Arab yang telah menetap di Hindia Belanda mendirikan sebuah perkumpulan pendidikan.

Mereka kemudian mengundang Achmad Sorkati, yang pada waktu itu disebut masih tinggal di Mekah, untuk mendirikan sebuah sekolah Arab modern.

Inilah salah satu bagian paling penting dari sumber tersebut.

Karena menurut kesaksian internal Al-Irsyad pada 1939, terdapat suatu fase pendidikan sebelum lahirnya organisasi Al-Irsyad pada 1914.

Dengan demikian, kronologi yang ditampilkan sumber ini adalah:

1911 — perkumpulan pendidikan dan gagasan sekolah modern

kemudian

1914 — berdirinya Al-Irsyad untuk meneruskan pekerjaan Ahmad Surkati.

Artinya, sumber tersebut sendiri membuat pembedaan antara fase awal pendidikan dan organisasi Al-Irsyad yang kemudian berdiri.


Persoalan Alawi dan non-Alawi

Namun, perjalanan itu tidak berlangsung tanpa konflik.

Menurut laporan tersebut, sikap Ahmad Surkati yang membolehkan perkawinan antara Alawi dan non-Alawi menimbulkan penentangan.

Persoalan ini harus ditempatkan dalam konteks sosial masyarakat Arab-Hadrami pada masa itu, terutama menyangkut persoalan nasab, kedudukan sosial, dan hubungan antara kelompok Alawi dan non-Alawi.

Sikap Surkati terhadap persoalan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah gerakan pembaruan yang diasosiasikan dengan dirinya.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan tersebut berhubungan dengan prinsip kesetaraan manusia dalam Islam yang kemudian menjadi salah satu ciri penting pemikiran Al-Irsyad.


Surkati dan berbagai tuduhan politik

Laporan De Indische Courant juga menyebut bahwa Ahmad Surkati pernah menghadapi tuduhan yang sangat serius.

Ia, menurut laporan tersebut, antara lain dituduh mempunyai hubungan dengan Moskow, hendak menyebarkan komunisme, serta melakukan kegiatan spionase untuk kepentingan Turki dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Bagian ini perlu dibaca secara hati-hati.

Koran menggunakan formulasi “werd ... ervan beschuldigd”, yang berarti “dituduh”.

Karena itu, sumber tersebut tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa tuduhan-tuduhan tersebut benar. Yang dapat dipastikan dari sumber ini adalah bahwa Surkati pernah menjadi sasaran kecurigaan dan tuduhan politik dalam suasana sosial-politik Hindia Belanda pada zamannya.

Bahkan bagian teks koran yang memuat tuduhan tersebut mengalami kerusakan dalam salinan/OCR yang tersedia, sehingga bagian itu sebaiknya diperiksa kembali melalui scan koran asli sebelum digunakan sebagai kutipan akademis.


Dari perpecahan menuju Al-Irsyad

Konflik internal akhirnya menyebabkan perkumpulan sekolah tersebut, menurut narasi yang disampaikan dalam kongres, mengalami kehancuran.

Namun sejarah tidak berhenti di sana.

Pada 1914, berdirilah Al-Irsyad.

Tujuannya, menurut sumber tersebut, adalah:

meneruskan pekerjaan Ahmad Surkati.

Pernyataan ini memiliki bobot historiografis yang besar.

Sebab, pada peringatan 25 tahun Al-Irsyad, organisasi tersebut sendiri menjelaskan asal-usulnya dengan menempatkan Ahmad Surkati sebagai tokoh yang pekerjaannya hendak diteruskan.

Dengan demikian, bagi sejarah internal Al-Irsyad tahun 1939, Surkati bukan sekadar tokoh yang pernah berada di sekitar organisasi. Ia merupakan figur pendiri dan sumber kesinambungan gerakan.


Dua puluh lima tahun kemudian

Pada 1939, seperempat abad telah berlalu sejak berdirinya Al-Irsyad.

Menurut laporan tersebut, organisasi itu telah berkembang dan memiliki pengaruh yang tidak lagi terbatas pada lingkungan internalnya.

Pengurus Al-Irsyad menyatakan bahwa pengaruh organisasi telah dirasakan oleh masyarakat Muslim di Hindia Belanda.

Bahkan lebih jauh lagi, pengaruh tersebut disebut telah terasa di Hadramaut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Al-Irsyad pada masa itu melihat dirinya sebagai gerakan yang memiliki hubungan lintas wilayah antara Hindia Belanda dan dunia Hadramaut.

Ada arus yang bergerak dua arah: manusia dari Hadramaut menuju Hindia Belanda, sementara gagasan pendidikan dan pembaruan dari Hindia Belanda diklaim kembali memperoleh pengaruh di Hadramaut.


Al-Irsyad sebagai pencetak guru

Salah satu kalimat paling menarik dari berita tersebut berbunyi:

“Al Irsjad levert onderwijzers af, niet alleen voor eigen scholen, doch ook voor tallooze inheemsche Mohammedaansche onderwijsinrichtingen.”

Dalam bahasa Indonesia:

“Al-Irsyad menghasilkan guru-guru, bukan hanya untuk sekolah-sekolahnya sendiri, tetapi juga untuk banyak lembaga pendidikan Islam pribumi.”

Kalimat ini memperlihatkan satu aspek penting dari sejarah Al-Irsyad yang sering kali kurang mendapat perhatian: peran kaderisasi guru.

Sekolah Al-Irsyad bukan hanya bertujuan menghasilkan murid. Dalam narasi organisasi pada 1939, lembaga pendidikan tersebut juga telah menjadi tempat pembentukan tenaga pendidik yang kemudian dapat berkiprah di berbagai lembaga pendidikan Islam.

Dengan demikian, pengaruh Al-Irsyad dapat dipahami bukan hanya melalui jumlah sekolah yang dimilikinya, tetapi juga melalui mobilitas para guru dan penyebaran gagasan pendidikan.


Kongres yang mempertemukan banyak kalangan

Resepsi jubileum tersebut dihadiri berbagai tokoh.

Di antara mereka terdapat controleur-kotta, patih Surabaya, Kapitein der Arabieren, utusan dari lebih dari 15 organisasi, serta para wartawan.

Komposisi tamu tersebut memperlihatkan bahwa perayaan 25 tahun Al-Irsyad merupakan sebuah acara publik yang memperoleh perhatian dari berbagai kalangan.

Al-Irsyad pada 1939 bukan organisasi yang hidup dalam ruang tertutup.

Ia berinteraksi dengan pejabat pemerintahan, komunitas Arab, organisasi masyarakat, pers, serta lingkungan sosial yang lebih luas.


Pandu Al-Irsyad dan wajah generasi muda

Suasana malam itu juga diwarnai penampilan Pandu Al-Irsyad.

Sebelum pidato sambutan, para pandu Al-Irsyad tampil dengan kelompok musik tiup, membawakan beberapa lagu.

Pawai anak-anak Arab yang semula direncanakan memang dibatalkan. Demikian pula pertandingan sepak bola melawan Hercules dari Batavia tidak jadi dilaksanakan karena beberapa pemain tidak tersedia.

Namun kegiatan kepanduan tetap berlangsung.

Bahkan setelah resepsi resmi berakhir sekitar pukul setengah sebelas malam, berbagai permainan kepanduan Arab masih dilaksanakan hingga tengah malam.

Hal ini memberikan gambaran menarik mengenai Al-Irsyad sebagai organisasi yang tidak hanya bergerak di bidang pendidikan agama, tetapi juga membangun aktivitas generasi muda melalui kepanduan, musik, olahraga, dan kegiatan sosial.


Bahasa Arab, Melayu, dan ruang publik

Satu detail lain yang penting adalah penggunaan dua bahasa dalam acara tersebut.

Sejarah Al-Irsyad disampaikan dalam bahasa Arab, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.

Pidato-pidato lain juga disampaikan dalam bahasa Arab dan Melayu.

Penggunaan dua bahasa ini menggambarkan posisi Al-Irsyad dalam masyarakat Hindia Belanda: berakar pada tradisi intelektual dan keagamaan Islam yang menggunakan bahasa Arab, tetapi sekaligus berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas melalui bahasa Melayu.

Di sini terlihat bagaimana Al-Irsyad berada di antara dua dunia: warisan keilmuan Islam dan realitas sosial Hindia Belanda.


Sebuah potret Al-Irsyad tahun 1939

Jika seluruh laporan De Indische Courant dibaca secara utuh, kita mendapatkan sebuah potret Al-Irsyad menjelang pecahnya Perang Dunia II.

Organisasi ini telah berusia 25 tahun.

Ia memiliki sekolah.

Ia memiliki guru.

Ia memiliki kepanduan.

Ia mempunyai jaringan organisasi.

Ia berhubungan dengan masyarakat Arab.

Ia dikenal oleh pejabat pemerintahan.

Ia menjadi perhatian pers.

Dan yang paling penting, ia memiliki ingatan sejarah mengenai pendirinya: Ahmad Surkati.

Dalam perayaan tersebut, Surkati bukan hanya disebut dalam pidato sejarah. Ia hadir secara fisik di tengah-tengah para peserta jubileum.

Foto dirinya ditempatkan di meja pengurus dan dihiasi bunga.

Seolah-olah Al-Irsyad sedang mengatakan kepada generasi yang hadir malam itu bahwa perjalanan 25 tahun yang mereka rayakan tidak dapat dipisahkan dari seorang guru yang datang dari dunia Islam, membawa gagasan pendidikan, dan kemudian menjadi tokoh utama dalam lahirnya sebuah gerakan pembaruan di Hindia Belanda.


Sumber primer yang merekam ingatan Al-Irsyad

Nilai terbesar berita De Indische Courant tanggal 27 September 1939 bukan hanya terletak pada informasi mengenai acara jubileum.

Lebih jauh daripada itu, berita tersebut merupakan dokumen tentang bagaimana Al-Irsyad memandang dirinya sendiri pada tahun ke-25 keberadaannya.

Ia memperlihatkan bahwa pada 1939 Al-Irsyad memahami sejarahnya melalui sebuah rangkaian:

Hadramaut → migrasi → pendidikan → Ahmad Surkati → 1911 → konflik → 1914 → Al-Irsyad → pendidikan guru → pengaruh di Hindia Belanda dan Hadramaut.

Inilah yang membuat berita tersebut berharga sebagai sumber primer.

Namun, seperti semua sumber sejarah, narasi ini perlu dibaca secara kritis. Ia merupakan laporan surat kabar mengenai pidato seorang pengurus Al-Irsyad dalam sebuah acara organisasi. Karena itu, beberapa bagian merupakan pandangan atau klaim internal organisasi pada 1939, bukan dengan sendirinya fakta yang telah diverifikasi dari seluruh sumber sezaman.

Justru karena itulah sumber ini menarik.

Ia tidak hanya memberitahu kita apa yang dilakukan Al-Irsyad, tetapi juga bagaimana Al-Irsyad ingin dikenang oleh generasinya sendiri.


Penutup: 25 tahun sebuah warisan

Pada malam September 1939 itu, di sebuah sekolah Al-Irsyad di Citadelweg, Surabaya, seperempat abad perjalanan organisasi dikenang.

Gapura bergaya Arab berdiri di pintu masuk.

Lampu-lampu menerangi halaman sekolah.

Para pandu memainkan musik.

Para pejabat, tokoh masyarakat, utusan berbagai organisasi dan wartawan hadir.

Pidato disampaikan dalam bahasa Arab dan Melayu.

Al-Qur'an dibacakan.

Telegram ucapan selamat berdatangan.

Dan di tengah ruangan, foto seorang lelaki yang datang dari dunia Islam beberapa dasawarsa sebelumnya dihiasi bunga:

Achmad Surkati.

Ia sendiri hadir pada malam itu.

Dua puluh lima tahun setelah Al-Irsyad berdiri, nama Surkati masih ditempatkan pada pusat ingatan organisasi.

Dari sudut pandang sejarah, barangkali inilah pesan paling kuat dari sumber De Indische Courant tanggal 27 September 1939:

Al-Irsyad tidak hanya sedang merayakan usianya. Ia sedang merayakan sebuah warisan.

Warisan pendidikan.

Warisan pembaruan.

Warisan kesetaraan.

Dan warisan seorang guru bernama Ahmad Surkati, yang oleh generasi Al-Irsyad tahun 1939 masih dikenang sebagai pendiri yang pekerjaannya hendak mereka teruskan.

Sumber primer

“De druk bezochte jubileumreceptie. Toespraken en een historisch overzicht” dan “De geschiedenis van Al Irsjad”, De Indische Courant, Surabaya, 27 September 1939.

Catatan: ejaan nama dalam koran mengikuti bentuk kolonial/Belanda, seperti Achmad Sokarti/Sorkati, Al Irsjad, dan nama-nama lainnya. Untuk publikasi ilmiah, bentuk tersebut sebaiknya dipertahankan dalam kutipan sumber, sementara dalam narasi Indonesia dapat dinormalisasi menjadi Ahmad Surkati

Bogor, 6 September 2026
Abdullah Abubakar Batarfie 

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Posting Komentar untuk "Kesaksian Jubileum 25 Tahun dalam De Indische Courant, 27 September 1939"