YBPPAA: Ketika Sebuah Yayasan Dilahirkan untuk Mengabdi kepada Al-Irsyad Al-Islamiyyah
Alm Geys Amar (kanan)
Diolah dari catatan dan kesaksian H. Geys Amar, S.H., tokoh senior Al-Irsyad Al-Islamiyyah dan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah.
Sejarah sering kali menjadi saksi yang paling jujur. Ia tidak berbicara dengan emosi, melainkan melalui jejak peristiwa, dokumen, dan kesaksian para pelakunya. Karena itu, ketika dimunculkan anggapan pada masanya bahwa Yayasan Bantuan Perguruan-Perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (YBPPAA) tidak memiliki hubungan dengan organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Allahyarham H. Geys Amar, S.H. merasa perlu meluruskan pemahaman tersebut. Baginya, pernyataan seperti itu bukan sekadar kekeliruan administratif, tetapi berpotensi mengaburkan sejarah lahirnya sebuah lembaga yang sejak awal dibangun untuk menguatkan perjuangan Al-Irsyad.
Menurut Alm Geys Amar, embrio YBPPAA tidak lahir dari ruang rapat sebuah yayasan, melainkan dari ikhtiar panjang organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah mencari sumber pembiayaan demi keberlangsungan dakwah dan pendidikan. Pada masa itu, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah membentuk beberapa tim penggalangan dana yang secara bergantian berangkat ke Arab Saudi. Tim pertama dipimpin Ir. H. Hasan Babsel, disusul tim kedua di bawah H. Amir Hilabi, S.H., dan tim ketiga dipimpin H. Faisal Baasir, S.H. Mereka membawa satu amanat, yaitu memperjuangkan masa depan sekolah-sekolah Al-Irsyad.
Usaha yang dilakukan secara berulang itu akhirnya membuahkan hasil. Para muhsinin keturunan Hadhramaut yang bermukim di Arab Saudi, seperti Umar bin Ahmad Badahdah, Muhammad bin Salim bin Mahfudz, Muhammad bin Aboud Al-Amudi, Ahmad bin Said Bahamdan, Abdurrahman Aboud Bawazir, dan sejumlah dermawan lainnya, menyampaikan agar Al-Irsyad tidak lagi mengirim tim penggalangan dana. Mereka menyatakan kesediaannya membantu secara berkelanjutan dengan membiayai pembelian tanah dan pembangunan gedung yang hasil sewanya dapat menopang organisasi serta perguruan-perguruan Al-Irsyad.
Bantuan itu, menurut Geys Amar, tidak diberikan kepada yayasan yang telah ada, sebab pada waktu itu yayasan tersebut memang belum lahir. Bantuan diberikan kepada Al-Irsyad Al-Islamiyyah sebagai organisasi yang selama puluhan tahun dikenal luas karena kiprahnya dalam dakwah, pendidikan, dan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Para dermawan mengenal nama Al-Irsyad, bukan nama sebuah badan hukum yang berdiri sendiri.
Alm Geys Amar mengisahkan salah satu pernyataan yang paling membekas datang dari Umar bin Ahmad Badahdah. Saat berkunjung ke Indonesia sebagai Ketua Kamar Dagang Arab Saudi di Jeddah, ia mengatakan, "Saya berutang budi kepada Al-Irsyad. Karena itu sudah menjadi kewajiban saya membantu Al-Irsyad Al-Islamiyyah." Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa bantuan yang mengalir dari para muhsinin bukanlah hubungan bisnis, melainkan wujud penghormatan terhadap perjuangan panjang organisasi Al-Irsyad.
Dana dari para dermawan itulah yang kemudian digunakan untuk membeli berbagai aset strategis. Gedung di Jalan Salemba Raya No. 32 memperoleh dukungan utama dari Muhammad bin Salim bin Mahfudz, sedangkan pembelian gedung di Jalan Kramat Raya didukung oleh Abdurrahman Aboud Bawazir. Semua proses itu berlangsung sebelum YBPPAA dibentuk sebagai badan hukum.
Barulah pada 26 Juni 1981 lahirlah Yayasan Bantuan Perguruan-Perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyyah melalui Akta Notaris Mohamad Rifat Tadjoedin Nomor 240. Menurut Geys Amar, pembentukan yayasan tersebut merupakan langkah administratif agar pengelolaan aset dan penyaluran bantuan memiliki landasan hukum yang lebih kuat. Dengan kata lain, yayasan dibentuk untuk melayani kepentingan organisasi, bukan mengambil alih kedudukannya.
Semangat itu tercermin jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga YBPPAA yang pertama. Pengurus yayasan berasal dari anggota Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Bahkan, keanggotaan pengurus dapat berakhir apabila diberhentikan oleh organisasi sesuai ketentuan yang berlaku. Tujuan yayasan pun ditegaskan untuk membantu perguruan-perguruan yang berada di bawah naungan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sementara penyaluran bantuannya dilakukan melalui Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Lambang yang digunakan pun adalah lambang resmi Al-Irsyad.
Namun perjalanan sejarah berikutnya justru menghadirkan ironi. Setelah eksekusi gedung sekretariat pusat pada 1 September 2008, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah sebagai institusi resmi organisasi harus menjalankan roda kepemimpinan dengan berpindah-pindah dari satu kantor pinjaman ke kantor pinjaman lainnya di Jakarta selama bertahun-tahun. Keadaan ini memunculkan pertanyaan yang sulit diabaikan: bagaimana mungkin organisasi yang melahirkan yayasan justru tidak dapat menggunakan aset yang sejak awal dihimpun melalui perjuangan organisasi dan amanah para muhsinin? Dalam pandangan Alm H. Geys Amar, kondisi tersebut menjadi refleksi bahwa fungsi yayasan telah bergeser jauh dari cita-cita pendiriannya. Yayasan yang semestinya menjadi penyangga dan pengayom organisasi justru dipersepsikan sebagai kekuatan yang menghalangi organisasi untuk kembali ke rumahnya sendiri. Sebuah yayasan seharusnya menjadi pelindung, bukan menjadi "buldoser" yang mengikis hubungan historis antara organisasi dengan aset yang dibangun untuk kepentingannya.
Kini, ketika sebagian besar pelaku sejarah telah berpulang ke hadirat Allah Swt., tanggung jawab menjaga ingatan kolektif berada di tangan generasi penerus. Sejarah tidak boleh dipisahkan dari konteksnya, apalagi diarahkan sehingga kehilangan makna aslinya. Sebab YBPPAA lahir bukan untuk menggantikan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, melainkan sebagai amanah yang dibentuk oleh organisasi agar perjuangan dakwah dan pendidikan yang telah dirintis sejak 1914 dapat terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
.jpeg)
Posting Komentar untuk "YBPPAA: Ketika Sebuah Yayasan Dilahirkan untuk Mengabdi kepada Al-Irsyad Al-Islamiyyah"
Posting Komentar