Merawat Objektivitas, Menjaga Persahabatan


Dalam perjalanan hidup, kita tidak mungkin selalu bertemu dengan orang-orang yang sependapat dengan kita. Bahkan, dalam sebuah jamaah sekalipun, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika perbedaan itu menghilangkan kemampuan kita untuk bersikap adil.

Syafruddin Prawiranegara pernah mengingatkan, "Hendaklah kita selalu objektif, sekalipun terhadap orang yang tidak kita sukai." Sebuah kalimat sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Objektivitas adalah ujian kedewasaan. Ia mengajarkan kita untuk menilai persoalan berdasarkan fakta dan prinsip, bukan berdasarkan rasa suka atau tidak suka kepada seseorang.

Persahabatan juga demikian. Persahabatan yang baik bukanlah persahabatan yang selalu sepakat dalam segala hal. Justru persahabatan yang matang adalah ketika perbedaan tidak menghapus rasa hormat. Kita tetap dapat duduk bersama, saling menyapa, saling mendoakan, meskipun dalam satu persoalan kita memilih jalan yang berbeda.

Namun, menjaga persahabatan tidak berarti mengorbankan prinsip. Ada saatnya kita harus berkata, "Maaf, kali ini saya tidak bisa berjalan bersama." Bukan karena memusuhi, tetapi karena kita meyakini bahwa langkah itu berpotensi membawa kepada kemudaratan yang lebih besar. Menolak sebuah langkah bukan berarti membenci orang yang melangkah di sana.

Sejarah mengajarkan bahwa peristiwa-peristiwa besar sering kali berawal dari keputusan-keputusan kecil. Sebuah tanda tangan, sebuah dukungan, sebuah diam, atau sekadar hadir dalam sebuah barisan. Mungkin saat itu terlihat sepele, tetapi bertahun-tahun kemudian sejarah akan mencatatnya sebagai bagian dari sebuah rangkaian peristiwa. Karena itu, sebelum melangkah, ada baiknya kita bertanya kepada hati dan akal sehat: apakah langkah ini benar-benar membawa kemaslahatan, atau justru akan menjadi bagian dari catatan yang kelak kita sesali?

Menjadi objektif memang tidak mudah. Ia menuntut keberanian untuk mengakui kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai, dan keberanian untuk mengoreksi orang yang kita cintai ketika ia keliru. Tetapi justru di situlah letak kemuliaan akhlak.

Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang tetap lembut dalam persahabatan, teguh dalam prinsip, jernih dalam berpikir, dan adil dalam menilai. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan hanya seberapa dekat kita dengan seseorang, tetapi juga di barisan mana kita pernah berdiri ketika sebuah sejarah sedang dituliskan.

Sebagai penutup saya kutip maqolah Arab yang sering ditulis oleh almahbub Awod Maretan ;

لَا تَنْظُرْ إِلَى مَنْ قَالَ، وَانْظُرْ إِلَى مَا قَالَ

La tanẓur ila man qala, wanẓur ila ma qala.

"Jangan melihat siapa yang mengatakan, tetapi lihatlah apa yang dikatakannya."

Wallahu'alam bishowab

Bogor, 19 Juli 2026

Abdullah Abubakar Batarfie

Posting Komentar untuk "Merawat Objektivitas, Menjaga Persahabatan"