Kongres Al-Irsyad di Batavia Tahun 1938
Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar — De Locomotief, Jumat, September 1938. Surat kabar yang terbit di Semarang ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.
De „Al-Irsjad".
Het nieuwe hoofdbestuur.
De Arabische vereeniging „Al Irsjad” heeft Zondag j.l. een jaarvergadering te Batavia belegd. In die vergadering werd o.a. het nieuwe hoofdbestuur gekozen voor de periode 1938-1939, dat als volgt thans is samengesteld:
Voorzitter, Ahmad Mashabi; vice-voorzitter, M. Afiff; 1ste secretaris, Abdullah Badjerei; 2de secretaris, Ali Harahah; penningmeester, Ahmad Mahrie; commissarissen, Ali Moegits, Mohamad Moenif, Ali Hoebeis, Tehir Argoebie en Salim Albakrie.
Als adviseur van de vereeniging treedt op de heer Oemar Nadji.
Terjemahan Bahasa Indonesia
Al-Irsjad
Susunan Pengurus Besar yang Baru
Perkumpulan Arab Al-Irsjad pada hari Minggu yang lalu telah menyelenggarakan Rapat Tahunan di Batavia. Dalam rapat tersebut, antara lain, dipilih Pengurus Besar (Hoofdbestuur) yang baru untuk masa bakti 1938–1939, dengan susunan sebagai berikut:
Ketua: Ahmad Mashabi
Wakil Ketua: M. Afiff
Sekretaris I: Abdullah Badjerei
Sekretaris II: Ali Harahah
Bendahara: Ahmad Mahrie
Komisaris: Ali Moegits, Mohamad Moenif, Ali Hoebeis, Tehir Argoebie, dan Salim Albakrie.
Adapun yang bertindak sebagai penasihat (adviseur) perkumpulan adalah Oemar Nadji.
Penyebutan "De Arabische vereeniging Al-Irsjad" merupakan cara pandang dan klasifikasi yang lazim digunakan oleh pers kolonial Belanda terhadap organisasi-organisasi yang didirikan oleh komunitas Arab di Hindia Belanda.
Dalam pemberitaan ini, De Locomotief menyebut Al-Irsjad sebagai "De Arabische vereeniging Al-Irsjad" (Perkumpulan Arab Al-Irsjad). Penyebutan tersebut merupakan klasifikasi yang lazim digunakan oleh media kolonial Belanda terhadap organisasi yang didirikan oleh masyarakat keturunan Arab pada masa Hindia Belanda. Sebutan itu tidak mencerminkan identitas Al-Irsyad Al-Islamiyyah sebagai organisasi Islam yang eksklusif berdasarkan etnis, melainkan lebih merupakan cara administrasi dan perspektif kolonial dalam mengelompokkan organisasi-organisasi masyarakat pada masa itu.
Sejak awal Al-Irsyad Al-Islamiyyah mengusung semangat pembaruan Islam yang terbuka. Sekolah-sekolah Al-Irsyad menerima peserta didik dari berbagai latar belakang suku dan keturunan, sementara keanggotaannya tidak dibatasi oleh garis etnis tertentu. Karena itu, istilah "Perkumpulan Arab" dalam arsip-arsip kolonial perlu dipahami sebagai produk sudut pandang pemerintah dan pers Hindia Belanda, bukan sebagai representasi jati diri Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang sesungguhnya.
Berita ini sendiri merekam pelaksanaan Jaarvergadering (Rapat Tahunan) Al-Irsjad di Batavia yang menghasilkan pemilihan Hoofdbestuur (Pengurus Besar) untuk masa bakti 1938–1939. Forum tersebut menunjukkan bahwa Al-Irsyad telah memiliki tata kelola organisasi yang modern, dengan mekanisme musyawarah, pemilihan pengurus, serta pembagian tugas yang jelas. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Ahmad Mashabi, M. Afiff, Abdullah Badjerei, dan Oemar Nadji juga memperlihatkan keberlanjutan kepemimpinan organisasi dalam melanjutkan perjuangan dakwah dan pendidikan yang telah dirintis sejak berdirinya Al-Irsyad pada tahun 1914.
Dari forum inilah arah kebijakan dan kepemimpinan Al-Irsjad ditentukan secara musyawarah. Susunan Pengurus Besar yang terpilih mencerminkan regenerasi kepemimpinan di tubuh Al-Irsjad pada akhir dekade 1930-an. Tokoh-tokoh seperti Ahmad Mashabi, M. Afiff, Abdullah Badjerei, dan Oemar Nadji merupakan bagian dari generasi penerus yang melanjutkan estafet perjuangan setelah masa kepemimpinan para perintis.
Di tengah situasi Hindia Belanda yang sedang mengalami dinamika politik menjelang Perang Dunia II, penyelenggaraan rapat tahunan dan pemilihan pengurus menunjukkan bahwa Al-Irsjad tetap menjaga kesinambungan roda organisasi serta komitmennya dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan. Karena itu, berita ini bukan sekadar catatan pergantian pengurus, melainkan menjadi salah satu jejak sejarah yang memperlihatkan keberlangsungan kehidupan organisasi Al-Irsjad pada masa kolonial.
Bogor, 20 Juli 2026
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.


Posting Komentar untuk "Kongres Al-Irsyad di Batavia Tahun 1938"
Posting Komentar