Jejak Manggusy di Buitenzorg dan Batas-Batas Kolonial
Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Indonesia berdasarkan sumber-sumber sezaman.
Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar — HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIË, edisi 16 Juli 1902. Surat kabar yang terbit di Batavia ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.
Overtreding.
Het is den Arabieren, gevestigd ter hoofdplaats Buitenzorg, verboden buiten de hun aangewezen wijk, d.i. de kompoeng Empang, te wonen.
Sedert geruimen tijd woont echter in de buurt Tadjoer, eenige palen voorby de grens van de hoofdplaats Buitenzorg, de Arabier Mangoes, kapitein van zyn natie te Batavia.
Men vraagt ons of het hoofd van plaatselijk bestuur en de resident van Batavia hiermede bekend zyn en of aan genoemden Arabier vergunning is verleend buiten zyn wyk te wonen.
— HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIË, 16 Juli 1902.
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pelanggaran
Orang-orang Arab yang bermukim di ibu kota Afdeling Buitenzorg dilarang tinggal di luar kawasan yang telah ditentukan bagi mereka, yaitu Kampung Empang.
Namun, sejak cukup lama, di daerah Tajur, beberapa pal di luar batas ibu kota Buitenzorg, tinggal seorang Arab bernama Mangoes (Manggusy), yang menjabat sebagai Kapitan Arab di Batavia.
Kami mempertanyakan apakah kepala pemerintahan setempat dan Residen Batavia mengetahui hal ini, dan apakah kepada orang Arab tersebut telah diberikan izin untuk tinggal di luar kawasan yang diperuntukkan baginya.
Berita singkat yang dimuat surat kabar Het Nieuws van den Dag pada 16 Juli 1902 ini sesungguhnya membuka jendela penting untuk memahami politik segregasi rasial yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda terhadap komunitas Arab di Jawa. Pada masa itu, orang-orang Arab, sebagaimana juga kelompok Tionghoa, digolongkan ke dalam kategori Vreemde Oosterlingen (Timur Asing). Pemerintah kolonial menerapkan sistem wijkenstelsel atau pemukiman berdasarkan etnis, yang mewajibkan mereka tinggal di kawasan-kawasan tertentu yang telah ditetapkan pemerintah.
Di Buitenzorg, kawasan yang diperuntukkan bagi komunitas Arab adalah Kampung Empang, sebuah perkampungan yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat Arab dan Islam di kota tersebut. Kebijakan ini bertujuan mempermudah pengawasan penduduk dan membatasi mobilitas sosial kelompok-kelompok yang dianggap memiliki jaringan internasional dan potensi pengaruh politik.
Surat kabar itu memberitakan bahwa seorang tokoh Arab terkemuka, Sjaich Oemar bin Joesoef Manggusy, diketahui tinggal di daerah Tajur, di luar batas kawasan yang diperuntukkan bagi komunitas Arab. Karena itulah, surat kabar tersebut mempertanyakan apakah pemerintah setempat dan Residen Batavia mengetahui keadaan itu dan apakah ada izin resmi yang diberikan.
Penting untuk dicatat bahwa berita tersebut tidak menyatakan bahwa Sjaich Oemar bin Joesoef Manggusy memperoleh perlakuan istimewa atau kedekatan tertentu dengan pemerintah kolonial. Sebaliknya, pemberitaan itu mencerminkan adanya pengawasan publik terhadap pelaksanaan wijkenstelsel dan mempertanyakan apakah aturan tersebut benar-benar diterapkan secara konsisten kepada semua orang.
Sjaich Oemar bin Joesoef Manggusy sendiri merupakan salah satu tokoh penting dalam komunitas Arab-Hadrami di Batavia. Ia pernah menjabat sebagai Kapitan Arab, yaitu pemimpin resmi komunitas Arab yang berfungsi sebagai penghubung administratif antara pemerintah dan masyarakat Arab. Selain dikenal sebagai saudagar terkemuka, ia juga termasuk dalam kalangan elite Arab-Hadrami yang memiliki pengaruh sosial di Batavia dan Buitenzorg.
Keberadaan namanya dalam berita ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh Arab-Hadrami pada awal abad ke-20 tidak hanya berkiprah di Batavia, tetapi juga telah memiliki hubungan sosial dan ekonomi dengan wilayah Buitenzorg dan sekitarnya. Pada saat yang sama, berita ini menjadi pengingat mengenai pembatasan-pembatasan yang diberlakukan pemerintah kolonial terhadap komunitas Arab melalui kebijakan segregasi permukiman.
Bila ditelusuri lebih jauh, keberadaan Sjaich Oemar bin Joesoef Manggusy di Tajur juga menunjukkan bahwa wilayah pinggiran Buitenzorg pada awal abad ke-20 telah mulai menarik minat kalangan elite Arab-Hadrami sebagai tempat bermukim dan mengembangkan perkebunan maupun kegiatan ekonomi lainnya, jauh sebelum sistem wijkenstelsel akhirnya dihapuskan oleh pemerintah kolonial.
Kini, lebih dari satu abad kemudian, berita kecil tersebut menjadi kesaksian berharga tentang sejarah Kampung Empang dan komunitas Arab di Buitenzorg: sebuah sejarah mengenai kehidupan masyarakat yang harus bergerak dan berkembang di tengah berbagai regulasi kolonial yang mengatur bahkan tempat mereka diperbolehkan untuk tinggal.
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.



Posting Komentar untuk "Jejak Manggusy di Buitenzorg dan Batas-Batas Kolonial"
Posting Komentar