Al-Irsyad dan Raja Mesir

Farouk bin Ahmed Fuad bin Ismail bin Ibrahim bin Muhammad Ali bin Ibrahim Agha
King of Egypt and the Sudan
1936-1952

Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar — Soerabaiasch Handelsblad, Sabtu, 17 September 1938. Surat kabar yang terbit di Surabaya ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.

„AL IRSJAD” EN DE EGYPTISCHE KONING.

Bij het bekend worden van den mislukten aanslag op koning Faroek van Egypte, heeft het hoofdbestuur van de Arabische vereeniging „Al Irsjad" een telegram met gelukwenschen aan den koning gezonden.

Woensdagmorgen is een antwoord op genoemd telegram ontvangen, verzonden door den Groot-Kamerheer van den Egyptischen koning, luidende als volgt:

„Getroffen door de bewijzen van Uw medeleven heeft Zijne Majesteit mij opgedragen Zijn diepgevoelden dank daarvoor over te brengen.”

Al-Irsyad dan Raja Mesir

Setelah tersebarnya kabar mengenai gagalnya upaya pembunuhan terhadap Raja Farouk dari Mesir, Pengurus Besar Al-Irsyad mengirimkan sebuah telegram berisi ucapan selamat kepada sang raja.

Pada hari Rabu pagi, telah diterima balasan atas telegram tersebut yang dikirim oleh Kepala Rumah Tangga Istana (Grand Chamberlain) Raja Mesir, yang berbunyi:

"Tersentuh oleh bukti perhatian dan simpati Anda, Yang Mulia telah menugaskan saya untuk menyampaikan rasa terima kasih beliau yang sedalam-dalamnya."

Berita singkat ini memberikan gambaran tentang hubungan emosional dan intelektual yang erat antara Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Hindia Belanda dengan dunia Islam, khususnya Mesir. Ketika muncul kabar mengenai gagalnya percobaan pembunuhan terhadap Raja Farouk I, Pengurus Besar Al-Irsyad segera mengirimkan telegram sebagai ungkapan syukur sekaligus solidaritas.

Media kolonial kembali menyebut Al-Irsyad sebagai Arabische vereeniging (perkumpulan Arab). Penyebutan ini mencerminkan klasifikasi sosial yang digunakan pemerintah kolonial Belanda berdasarkan asal-usul etnis. Dalam kenyataannya, Al-Irsyad sejak berdiri pada tahun 1914 merupakan organisasi pendidikan dan dakwah Islam yang terbuka, dengan anggota, guru, dan peserta didik yang berasal dari berbagai latar belakang masyarakat di Hindia Belanda.

Balasan resmi dari Istana Mesir melalui Grand Chamberlain menunjukkan bahwa telegram tersebut benar-benar diterima dan memperoleh perhatian dari lingkungan kerajaan. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa Al-Irsyad telah dikenal sebagai salah satu organisasi Islam yang memiliki jaringan komunikasi internasional dengan pusat-pusat dunia Islam, khususnya Mesir, yang sejak lama menjadi tujuan studi para ulama dan pelajar Nusantara.

Hubungan semacam ini kelak semakin menguat setelah kemerdekaan Indonesia, ketika Mesir menjadi negara pertama yang memberikan pengakuan de jure terhadap Republik Indonesia pada tahun 1947. Jaringan intelektual yang telah terbangun sejak masa sebelum kemerdekaan menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan Indonesia–Mesir.

Sumber: Soerabaiasch Handelsblad, Sabtu, 17 September 1938.

Bogor, 21 Juli 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Posting Komentar untuk "Al-Irsyad dan Raja Mesir"