Sketsa yang Menjaga Sebuah Kampung Tetap Hidup

 


Di atas selembar kertas gambar yang mulai menguning dimakan usia, tergambar sebuah rumah tua dalam goresan sederhana seorang pemuda remaja. Tidak ada teknik arsitektur yang rumit, tidak pula perspektif yang sempurna. Hanya garis-garis lurus yang digambar dengan "potlot", lengkap dengan tulisan kecil di bagian bawahnya:

"Rumah Mamah Isam di Empang Tahun 1985 s.d. 2000."

Nama pembuatnya pun ditulis sederhana: Isam.

Kini, pemuda yang dulu iseng menggambar rumah itu telah tumbuh dewasa. Namanya Hisyam Achmad Askar. Jika ia lahir pada tahun 1979, maka ketika sketsa itu dibuat usianya kira-kira baru menginjak 21 tahun. Usia ketika kenangan belum dianggap penting, tetapi justru paling jujur dalam merekam kehidupan.

Bagi saya, gambar itu bukan sekadar sketsa rumah tua. Bukan pula soal siapa yang menggambarnya, media apa yang digunakan, atau seberapa baik mutu gambarnya. Nilai terbesarnya justru terletak pada kemampuannya menyimpan waktu.

Ia adalah kenang-kenangan.

Kenangan tentang sebuah rumah panggung tua yang pernah berdiri di Kampung Arab Empang, Bogor.

Rumah itu adalah peninggalan seorang wulaiti bernama Syaikh Obed Bin Salim Selan, seorang perantau dari Hadramaut yang datang ke Nusantara pada penghujung abad ke-19. Di tanah Pasundan ia menikahi seorang perempuan pribumi, Nyai Raden Artamah, seorang menak Sunda dari Kampung Dermaga. Dari rumah tangga itulah berdiri sebuah rumah kayu yang kelak menjadi bagian dari sejarah kecil Empang.

Syaikh Obed Bin Salim Selan

Wulaiti merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang Arab kelahiran tanah Arab yang datang ke Nusantara. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka sering disebut sebagai Arab totok, yakni kelompok yang masih dianggap berasal langsung dari negeri asalnya. Istilah ini memiliki kemiripan makna dengan sebutan singke dalam komunitas Tionghoa, yang digunakan untuk menyebut pendatang kelahiran Tiongkok yang kemudian menetap di Indonesia.

Letaknya tidak jauh dari Alun-alun Empang. Pada masa lampau kawasan itu merupakan pusat pemerintahan bumiputera yang dipimpin seorang bupati atau regent. Namun masyarakat lebih akrab menyebutnya Demang. Dari beranda rumah itu, orang-orang dapat menyaksikan denyut kehidupan Empang yang terus bergerak dari zaman ke zaman.

Waktu berlalu.

Anak-anak Syaikh Obed satu per satu meninggalkan rumah itu. Rumah tua tersebut kemudian dihuni para cucu lelakinya. Sejak saat itulah fungsinya berubah secara tidak resmi. Ia bukan lagi sekadar rumah keluarga.

Ia menjadi markas.

Menjadi tempat berkumpul.

Menjadi rumah bagi banyak anak muda Empang.

Sulit menemukan pemuda Empang era 1980-an hingga 1990-an yang tidak mengenal rumah itu. Mereka hafal setiap sudut ruangannya; mengenal letak jendela, pintu belakang, tangga kayu, halaman, bahkan bunyi lantai papan yang berderit ketika diinjak pada malam hari. Banyak yang pernah menginap di sana. Banyak pula kenangan yang lahir dan tumbuh di rumah panggung itu, sebelum akhirnya diratakan dan tinggal menjadi bagian dari ingatan.

Rumah itu seakan hidup karena tawa.

Dan tawa itu hampir tak pernah berhenti.

Foto ilustrasi yang menyertai tulisan ini merupakan rekayasa visual dan tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi asli rumah pada masanya. Ilustrasi tersebut dibuat semata-mata untuk membantu pembaca membayangkan bentuk dan suasana rumah yang telah lama hilang dari lanskap Kampung Arab Empang.

Dalam kenyataannya, rumah panggung peninggalan Syaikh Obed Selan itu memiliki karakter yang berbeda. Hampir seluruh tiang, kusen pintu, jendela, pagar, serta ornamen kayunya dicat berwarna hijau, sementara dindingnya berwarna putih yang berasal dari lapisan cat kapur alam, sebagaimana lazim dijumpai pada rumah-rumah tua keluarga Arab-Hadrami di masa itu. Perpaduan warna hijau dan putih tersebut menghadirkan kesan teduh, bersih, dan menjadi salah satu ciri yang masih tersimpan dalam ingatan banyak warga Empang yang pernah mengenalnya.

Meskipun demikian, nilai terpenting dari ilustrasi ini bukanlah ketepatan setiap detail arsitekturnya, melainkan upaya untuk menghidupkan kembali kenangan tentang sebuah rumah yang pernah menjadi bagian dari sejarah sosial Kampung Arab Empang dan meninggalkan jejak yang mendalam dalam ingatan generasi yang tumbuh di sekitarnya.

Salah satu penghuni terakhir yang tetap tinggal di dekat rumah tersebut adalah Ibu Nur. Namun tak seorang pun memanggilnya dengan nama itu. Seluruh warga Empang mengenalnya sebagai Ameh.

Dalam bahasa keluarga Arab-Indonesia, ameh berarti bibi atau tante.

Bagi anak-anak SD dan SMP Al-Irsyad, nama Ameh jauh lebih terkenal daripada nama resminya. Hampir semua mengenalnya. Hampir semua pernah singgah di warung kecil miliknya.

Warung sederhana itu menjual alat tulis, buku tulis, penggaris, permen, es lilin, dan berbagai jajanan anak sekolah. Tetapi yang membuatnya istimewa bukan barang dagangannya.

Melainkan pemiliknya.

Ameh memiliki kebiasaan unik. Semua anak yang datang dipanggilnya dengan satu sebutan yang sama: indo.

Laki-laki dipanggil indo.

Perempuan dipanggil indo.

Anak kecil dipanggil indo.

Anak besar pun tetap indo.

Tak ada pengecualian.

Dari warung itulah lahir banyak kisah yang masih dikenang hingga sekarang. Kisah anak-anak yang berebut agar mendapat minuman gratis. Kisah jajanan yang dimakan lebih banyak daripada yang dibayar. Kisah warung yang kadang ditinggal pulang oleh pemiliknya sementara para pembeli tetap datang silih berganti. Dan tentu saja berbagai kenakalan kecil yang hanya mungkin terjadi di sebuah kampung yang masih dipenuhi rasa percaya.

Hari ini rumah itu sudah tidak ada.

Tanahnya telah berganti fungsi. Setelah dibeli oleh pemilik Rumah Sakit UMMI, bangunan tua itu dibongkar hingga rata dengan tanah dan kemudian menjadi area parkir bagi tenaga medis. Tidak ada lagi lantai kayu yang berderit. Tidak ada lagi tangga yang dinaiki anak-anak kampung. Tidak ada lagi halaman belakang tempat remaja Empang menghabiskan sore.

Yang tersisa hanyalah cerita.

Dan sebuah sketsa sederhana.

Namun terkadang sejarah memang tidak selalu disimpan dalam arsip negara, dokumen resmi, atau bangunan megah yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Kadang-kadang sejarah bertahan dalam cara yang lebih sederhana: sebuah gambar pensil yang dibuat oleh seorang anak remaja yang belum menyadari bahwa kelak rumah yang digambarnya akan lenyap, sementara gambar itu justru menjadi saksi terakhir bahwa rumah tersebut pernah ada.

Sebuah rumah boleh hilang.

Kayunya boleh lapuk.

Tanahnya boleh berubah fungsi.

Tetapi selama masih ada orang yang mengingatnya, selama masih ada sketsa yang menyimpan bentuknya, rumah tua di Kampung Arab Empang itu sesungguhnya belum pernah benar-benar pergi.

Bogor, 2 Juni 2026

Abdullah Abubakar Batarfie

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Posting Komentar untuk "Sketsa yang Menjaga Sebuah Kampung Tetap Hidup"