Kematian Liaquat Ali Khan dan Ikatan Sejarah Indonesia-Pakistan

 

The Legendary Liaquat Ali Khan
1895-1951
https://www.dawn.com/news/1362909

Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah

Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar De Preangerbode No. 236, edisi 17 Oktober 1951. Surat kabar yang terbit di Bandung ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.

Zijn laatste woorden: "Broeders in de Islam"

Liaquat Ali Khan viel door moordenaarshand, Verlies voor de Moslemwereld

DADER DOOR WOEDENDE MENIGTE GELYNCHT

De premier van Pakistan, Liaquat Ali Khan is gisteren in Rawalpindi tijdens een massabijeenkomst van het Islamietische genootschap vermoord. De moordenaar is door de menigte gegrepen en gedood.

Minister Liaquat Ali Khan stond op het punt een vergadering toe te spreken van ruim 15.000 personen. Hij stond op en op datzelfde moment klonken twee schoten. De premier zakte ineen. Leiders van het Islamietische genootschap haastten zich naar hem toe en brachten de zwaargewonde premier in allerijl naar het ziekenhuis, waar onmiddellijk een longoperatie werd verricht en bloedtransfusie toegediend. Later is de premier echter aan de verwondingen overleden.

Intussen werd de moordenaar, die zich tussen het publiek bevond, door de omstanders gegrepen en in grote woede zodanig bewerkt dat hij eveneens overleed. Hij had de rokende revolver nog in de hand.

Het nieuws van de moordaanslag heeft grote smart teweeggebracht in het gehele land. Onmiddellijk werd de gouverneur-generaal gewaarschuwd die zich per eerste gelegenheid naar Rawalpindi begaf. De staat zal een periode van rouw aannemen van veertig dagen. Woensdag zullen alle winkels in het land gesloten zijn, evenals de openbare vermaaksgelegenheden.

Het stoffelijk overschot van de premier zal Woensdag in Karachi worden ter aarde besteld.

Centrum van complot

Rawalpindi was het centrum van het complot, dat onlangs tegen de regering is gesmeed door hoge legerofficieren. De regering ontdekte dit complot echter tijdig en wist de voornaamste leiders ervan te arresteren. De stad is een centrum van de Pakistanse strijdkrachten en herbergt onder meer een school voor officieren. De stad ligt in de westelijke Punjab aan de grens met de Noordwestelijke Grensprovincie.

Over de moord wordt nog nader vernomen dat de premier na op de bijeenkomst te zijn verwelkomd juist zijn toespraak had aangevangen met de woorden: „Broeders in de Islam”, toen de revolverschoten klonken en de premier ineenzonk.

De dader is Said Akbar, afkomstig van het district Hazarah. Over het motief is niets bekend.

Dinsdagnacht is de gouverneur-generaal, Khawaja Nazim-Ud-Din, naar Rawalpindi gevlogen. Het kabinet is Dinsdagavond in zitting bijeen gekomen. De vlaggen zullen drie dagen lang halfstok hangen; de gouvernementskantoren zullen Woensdag en Donderdag gesloten zijn.

Reacties in Djakarta

De ambassadeur van Pakistan in Indonesië, Dr. Omar Hayat Malik, verklaarde:

"Het vernemen van het droeve nieuws van de dood van premier Liaquat Ali Khan heeft ons zeer geschokt. De dood van deze grote staatsman is voor Pakistan een pijnlijk verlies. Wij hopen dat deze tragedie op generlei wijze de eenheid van de natie zal verstoren, noch nadelige invloed zal hebben op de vastbeslotenheid van het volk om vrij en onafhankelijk te leven."

Namens de Moslimgemeenschap in Indonesië verklaarde de heer Mohamad Natsir het volgende:

Het bericht van de dood van Liaquat Ali Khan door een lafhartige moord heeft ons, Indonesische Moslims, met ontzetting vervuld. Liaquat Ali Khans verscheiden is niet alleen een verlies voor Pakistan, maar een verlies voor de Moslimwereld en voor de vredelievende wereld in zijn geheel.

Liaquat Ali Khan behoorde tot de grote staatslieden van deze tijd, die vasthouden aan en een ongeschokt vertrouwen stellen in het beginsel dat elk geschil, hoe groot en ingewikkeld het ook moge zijn, langs vredelievende weg moet worden opgelost.

Wij hebben het volste vertrouwen dat in het Pakistanse volk voldoende krachten aanwezig zijn om de opengevallen plaats die Liaquat Ali Khan achterlaat te vervullen en in zijn geest verder te arbeiden.

Het bericht over de moordaanslag op de premier van Pakistan, Liaquat Ali Khan, werd door de Pakistanse ambassade aan premier Sukiman tijdens de kabinetszitting medegedeeld.

Na afloop van de kabinetszitting verklaarden de ministers zeer getroffen te zijn door het nieuws over de moordaanslag op de premier van Pakistan.

Premier Sukiman verklaarde slechts dat het nieuws hem zeer smartelijk heeft getroffen. Vice-premier Suwirjo zei eveneens geschokt te zijn en verklaarde dat de regering een officiële verklaring hierover zal geven.

De minister van buitenlandse zaken, mr. A. Subardjo, zei eveneens de gebeurtenis te betreuren. Hij zei dat de regering zo spoedig mogelijk een betuiging van medeleven aan de Pakistanse regering zal sturen.

Voorts verklaarde de minister van mening te zijn dat de dood van Ali Khan mogelijk een verzwakking van de positie van Azië ten gevolge zal hebben.

De minister van voorlichting, A. Mononutu, zei dat het nieuws ongetwijfeld een grote smart zal teweegbrengen onder de Indonesiërs, evenals in de gehele wereld, in het bijzonder Azië.

Kata-kata Terakhirnya: “Saudara-saudara dalam Islam”

Liaquat Ali Khan Gugur oleh Tangan Pembunuh, Kehilangan bagi Dunia Islam

PEMBUNUH DIHAKIMI MASSA YANG MURKA

Perdana Menteri Pakistan, Liaquat Ali Khan, kemarin dibunuh di Rawalpindi ketika menghadiri sebuah rapat akbar organisasi Islam. Sang pembunuh kemudian ditangkap dan dibunuh oleh massa.

Menteri sekaligus Perdana Menteri Liaquat Ali Khan hendak menyampaikan pidato di hadapan lebih dari 15.000 orang. Ia baru saja berdiri ketika tiba-tiba terdengar dua kali tembakan. Perdana Menteri roboh seketika. Para pemimpin organisasi Islam bergegas menghampirinya dan membawa beliau yang terluka parah ke rumah sakit. Di sana segera dilakukan operasi pada paru-parunya dan diberikan transfusi darah. Namun kemudian Perdana Menteri meninggal dunia akibat luka-lukanya.

Sementara itu, pelaku penembakan yang berada di tengah kerumunan berhasil ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam amarah yang meluap, massa menghajarnya hingga ia pun tewas. Ketika ditangkap, revolver yang baru saja digunakan masih berada di tangannya dan masih mengeluarkan asap.

Berita tentang pembunuhan ini menimbulkan duka mendalam di seluruh negeri. Gubernur Jenderal segera diberitahu dan secepatnya berangkat menuju Rawalpindi. Negara menetapkan masa berkabung selama empat puluh hari. Pada hari Rabu seluruh toko dan tempat hiburan umum di Pakistan akan ditutup. Jenazah Perdana Menteri akan dimakamkan di Karachi pada hari Rabu.

Pusat Konspirasi

Rawalpindi merupakan pusat konspirasi yang baru-baru ini dirancang oleh sejumlah perwira tinggi militer untuk menentang pemerintah. Akan tetapi, pemerintah berhasil mengungkap rencana tersebut tepat pada waktunya dan menangkap para pemimpin utamanya.

Kota ini merupakan salah satu pusat kekuatan militer Pakistan dan juga menjadi tempat berdirinya sekolah perwira. Rawalpindi terletak di Punjab Barat, dekat perbatasan Provinsi Perbatasan Barat Laut.

Mengenai peristiwa pembunuhan itu, diperoleh keterangan lebih lanjut bahwa setelah disambut dalam pertemuan tersebut, Perdana Menteri baru saja memulai pidatonya dengan kata-kata: “Saudara-saudara dalam Islam…” Pada saat itulah tembakan revolver terdengar dan Perdana Menteri roboh. Pelaku pembunuhan adalah Said Akbar, yang berasal dari Distrik Hazarah. Hingga saat itu motif pembunuhan belum diketahui.

Pada Selasa malam, Gubernur Jenderal Khawaja Nazimuddin terbang ke Rawalpindi. Kabinet juga mengadakan sidang darurat pada malam itu. Bendera akan dikibarkan setengah tiang selama tiga hari, sedangkan kantor-kantor pemerintah ditutup pada hari Rabu dan Kamis.

Reaksi di Jakarta

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Dr. Omar Hayat Malik, menyatakan: “Kabar duka mengenai wafatnya Perdana Menteri Liaquat Ali Khan telah sangat mengguncang kami. Kematian negarawan besar ini merupakan kehilangan yang menyakitkan bagi Pakistan. Kami berharap tragedi ini sama sekali tidak akan mengganggu persatuan bangsa maupun memengaruhi tekad rakyat Pakistan untuk tetap hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.”

Atas nama umat Islam di Indonesia, Mohammad Natsir menyatakan: “Berita kematian Liaquat Ali Khan akibat pembunuhan yang pengecut telah membuat kami, kaum Muslimin Indonesia, sangat terkejut dan berduka. Wafatnya Liaquat Ali Khan bukan hanya kehilangan bagi Pakistan, tetapi juga kehilangan bagi dunia Islam dan bagi dunia yang mencintai perdamaian secara keseluruhan.

Liaquat Ali Khan termasuk salah seorang negarawan besar pada zaman ini yang memegang teguh dan memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan bahwa setiap perselisihan, betapapun besar dan rumitnya, harus diselesaikan melalui jalan damai.

Kami memiliki keyakinan penuh bahwa bangsa Pakistan memiliki kekuatan yang cukup untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Liaquat Ali Khan dan melanjutkan perjuangannya sesuai dengan semangat yang telah beliau wariskan.”

Berita mengenai pembunuhan Perdana Menteri Pakistan tersebut disampaikan Kedutaan Besar Pakistan kepada Perdana Menteri Sukiman ketika sidang kabinet sedang berlangsung.

Setelah sidang kabinet berakhir, para menteri menyatakan sangat terpukul oleh kabar tersebut. Perdana Menteri Sukiman menyatakan bahwa berita itu sangat menyedihkan baginya.

Wakil Perdana Menteri Suwirjo juga menyatakan dirinya sangat terkejut dan mengatakan bahwa pemerintah akan mengeluarkan pernyataan resmi mengenai peristiwa tersebut.

Menteri Luar Negeri, Mr. Ahmad Subardjo, juga menyampaikan rasa dukanya dan mengatakan bahwa pemerintah Indonesia akan segera mengirimkan pernyataan belasungkawa kepada Pemerintah Pakistan. Ia juga berpendapat bahwa kematian Ali Khan kemungkinan akan melemahkan posisi Asia.

Menteri Penerangan, Arnold Mononutu, menyatakan bahwa berita tersebut pasti akan menimbulkan duka mendalam di kalangan rakyat Indonesia, sebagaimana juga di seluruh dunia, khususnya di Asia.

Pembunuhan Liaquat Ali Khan pada 16 Oktober 1951 merupakan salah satu peristiwa paling mengguncang dalam sejarah awal Pakistan. Perdana Menteri pertama Pakistan itu ditembak ketika hendak menyampaikan pidato di sebuah rapat umum di Rawalpindi dan wafat beberapa saat kemudian di rumah sakit akibat luka tembak yang dideritanya. Kata-kata terakhirnya, “Broeders in de Islam” (“Saudara-saudara dalam Islam”), kemudian dikenang sebagai kalimat perpisahan seorang negarawan yang sepanjang hidupnya memperjuangkan terbentuknya negara Pakistan dan persatuan umat Islam.

Berita duka tersebut segera menyebar ke seluruh dunia dan mendapat perhatian besar dari pers internasional, termasuk surat kabar De Preangerbode, No. 236, yang terbit pada Woensdag (Rabu), 17 October 1951. Surat kabar berbahasa Belanda yang diterbitkan di Bandung itu pada masanya memiliki jangkauan distribusi yang luas ke berbagai wilayah bekas Hindia Belanda dan menjadi salah satu media penting yang merekam dinamika politik internasional dari sudut pandang Indonesia.

Bagi Indonesia, wafatnya Liaquat Ali Khan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kehilangan seorang kepala pemerintahan sahabat. Hubungan Indonesia dan Pakistan pada awal 1950-an dibangun di atas pengalaman sejarah yang hampir serupa: sama-sama lahir dari perjuangan panjang melawan kolonialisme dan sama-sama berupaya meneguhkan identitasnya sebagai negara merdeka di tengah pergolakan dunia pascaperang.

M.Natsir

Karena itu, pernyataan belasungkawa yang disampaikan oleh Mohammad Natsir mempunyai bobot politik dan historis yang sangat penting. Sebagai pemimpin Partai Islam Masyumi dan salah seorang tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia, Natsir dikenal memiliki jaringan intelektual dan persahabatan yang luas dengan berbagai gerakan Islam di dunia, termasuk kalangan Muslim di anak benua India yang kemudian melahirkan negara Pakistan. Sejak sebelum kemerdekaan Pakistan, para pemimpin Islam Indonesia mengikuti dengan penuh perhatian perjuangan umat Islam di India di bawah kepemimpinan Muhammad Ali Jinnah dan Liga Muslim.

Ketika Natsir menyatakan bahwa wafatnya Liaquat Ali Khan adalah “kehilangan bagi Pakistan, bagi dunia Islam, dan bagi dunia yang mencintai perdamaian”, pernyataan itu bukanlah ungkapan diplomatik biasa. Pernyataan tersebut mencerminkan perasaan mendalam kaum Muslim Indonesia yang memandang Pakistan sebagai bagian dari kebangkitan dunia Islam modern dan sebagai sesama bangsa yang berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri.

Ucapan Natsir juga memperlihatkan kedekatan emosional dan ideologis antara gerakan Islam Indonesia dan Pakistan. Di mata banyak pemimpin Muslim Indonesia pada masa itu, Pakistan dipandang sebagai salah satu simbol keberhasilan perjuangan politik umat Islam di abad ke-20. Oleh sebab itu, gugurnya Liaquat Ali Khan dipersepsikan sebagai kehilangan besar bagi kepemimpinan Islam internasional dan sekaligus sebagai pukulan bagi solidaritas bangsa-bangsa Asia yang baru merdeka.

Reaksi duka yang datang dari pemerintah Indonesia, para menteri kabinet, serta para pemimpin Islam menunjukkan bahwa kematian Liaquat Ali Khan bukan hanya sebuah tragedi nasional Pakistan, melainkan sebuah peristiwa internasional yang mengguncang dunia Islam dan Asia. Pemberitaan De Preangerbode ini menjadi salah satu sumber penting yang merekam bagaimana masyarakat dan elite politik Indonesia memandang peristiwa tersebut serta memperlihatkan eratnya hubungan historis antara Indonesia dan Pakistan pada awal masa kemerdekaan kedua negara.

Bogor, 28 Juni 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.



Posting Komentar untuk "Kematian Liaquat Ali Khan dan Ikatan Sejarah Indonesia-Pakistan"