Dari Kampung Bodjong Enjot hingga Kampung Susu Kebon Pedes: Jejak Panjang Susu Sapi di Buitenzorg

Di masa Hindia Belanda, menjual susu sapi bukanlah usaha yang dapat dilakukan secara sembarangan. Pemerintah kolonial menerapkan pengawasan yang cukup ketat terhadap produksi dan distribusi susu, terutama karena susu termasuk bahan pangan yang mudah tercemar dan berisiko menularkan penyakit apabila tidak ditangani dengan baik. Untuk itu, pemeriksaan kesehatan ternak dan kualitas susu dilakukan secara berkala oleh lembaga-lembaga yang berada di bawah pengawasan pemerintah.

Ketika berbicara tentang Bogor tempo dulu, ingatan orang biasanya melayang pada Kebun Raya, Istana Buitenzorg, atau udara pegunungan yang sejuk. Namun sedikit yang mengetahui bahwa di balik citra kota peristirahatan kaum Eropa itu, pernah tumbuh sebuah tradisi ekonomi yang menarik: usaha peternakan sapi perah dan konsumsi susu yang telah mengakar sejak masa Hindia Belanda.

Salah satu jejaknya muncul dalam sebuah iklan kecil yang terbit di surat kabar kolonial. Iklan itu menawarkan penjualan sebuah melkerij atau peternakan sapi perah di Tjilendek, Buitenzorg. Peternakan tersebut memiliki sekitar empat puluh ekor sapi, pelanggan yang sudah mapan, serta beberapa sapi bunting yang siap menambah populasi ternak. Bagi pembaca masa kini, iklan semacam itu mungkin tampak biasa. Namun sesungguhnya ia menjadi petunjuk bahwa pada awal abad ke-20, usaha susu sapi di Bogor telah berkembang sebagai sektor ekonomi yang cukup menjanjikan.

Melkerij (perusahaan peternakan sapi perah) yang terdiri dari 40 ekor ternak, ukuran besar dan sangat baik pelanggannya, untuk dijual, termasuk sapi-sapi bunting tua (siap beranak). Alamat: Heinkmann, 5250 Tjilendek, Buitenzorg 

Hal itu tidak mengherankan. Sejak abad ke-19, pemerintah kolonial dan para pengusaha swasta mendatangkan sapi-sapi perah unggul dari Belanda dan Inggris. Berbeda dengan sapi lokal yang lebih banyak dimanfaatkan sebagai hewan pekerja atau penghasil daging, sapi-sapi impor tersebut memang dipelihara khusus untuk menghasilkan susu. Dari kandang-kandang yang tersebar di pinggiran kota, susu segar setiap pagi diantar ke rumah-rumah penduduk, hotel, rumah sakit, sekolah, hingga kediaman para pejabat kolonial.

Lambat laun, kebiasaan meminum susu tidak lagi menjadi monopoli orang Eropa. Masyarakat pribumi, komunitas India, Arab, dan Tionghoa turut terlibat dalam perdagangan susu sekaligus menjadi konsumennya. Di Buitenzorg, susu bukan lagi barang asing, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat dijumpai dari pusat kota hingga kampung-kampung di pinggirannya.

Sebuah peta Kota Buitenzorg sekitar tahun 1900 yang tersimpan dalam koleksi digital Poestaha Depok memberikan gambaran menarik mengenai perkembangan usaha ini. Dalam peta tersebut tercantum nama-nama pengusaha susu sapi perah milik penduduk lokal. Di Kampung Bodjong Enjot, misalnya, tercatat seorang pribumi bernama Salihin sebagai pengusaha susu sapi perah. Sementara di kawasan Lawang Saketeng terdapat nama Tian Hoat, seorang pengusaha Tionghoa yang bergerak dalam usaha serupa.

Sumber ; poestaha depok

Sapi-sapi perah yang digunakan untuk memproduksi susu harus melalui inspeksi kesehatan oleh dokter hewan pemerintah (veearts) maupun petugas kesehatan hewan yang ditunjuk. Hewan yang menunjukkan gejala penyakit tertentu dapat dilarang untuk diperah atau bahkan harus dipisahkan dari kawanan. Begitu pula susu yang akan dipasarkan kepada masyarakat harus memenuhi standar kebersihan tertentu sebelum diizinkan beredar di pasaran.

Keberadaan nama-nama itu menunjukkan bahwa industri susu di Bogor tidak semata-mata dikuasai perusahaan Eropa. Justru sejak pergantian abad ke-20, berbagai kelompok masyarakat telah berpartisipasi aktif di dalamnya.

Bahkan Kampung Bodjong Enjot pada masa itu dikenal sebagai salah satu sentra produksi susu di Buitenzorg. Kampung yang berada di wilayah Land Kedung Halang, tepat di sebelah barat Sungai Tjiheuleut itu memiliki kondisi lingkungan yang mendukung peternakan. Hamparan lahan terbuka, ketersediaan rumput, serta kedekatannya dengan pusat kota menjadikannya lokasi ideal untuk memelihara sapi perah. Dari kampung-kampung seperti inilah susu segar setiap hari mengalir menuju rumah-rumah pelanggan di pusat kota.

Namun bila ada satu tokoh yang paling menarik untuk dikenang dalam sejarah susu Bogor, nama itu adalah Muhammad Asik, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Tuan Asik.

Kisahnya terekam dalam sebuah foto lama yang pernah dipublikasikan oleh Bogor Heritage melalui unggahan Bapak Noegroho Moelyo. Foto itu memperlihatkan seorang pria India Muslim mengendarai sepeda sambil membawa wadah-wadah susu untuk dijajakan kepada pelanggan. Sekilas tampak sederhana. Namun gambar tersebut sesungguhnya merekam satu fragmen penting sejarah sosial Kota Bogor.

Saat foto itu diambil, kawasan Kedung Halang belum seperti sekarang. Talang air yang kini membentang kokoh di atas jalan raya belum menjadi penanda kawasan. Jalan besar yang melintas di sana masih merupakan bagian dari jalur bersejarah Postweg atau Jalan Raya Pos, urat nadi yang menghubungkan Batavia dan Buitenzorg. Kelak jalan tersebut dikenal sebagai Jalan Jakarta dan kini bernama Jalan KS Tubun.

Di sepanjang jalur itulah Tuan Asik mengayuh sepedanya.

Setiap pagi ia mengantar susu segar kepada pelanggan. Sebagian besar pembelinya adalah keluarga-keluarga Belanda, pegawai pemerintahan, dan orang-orang asing yang tinggal di Buitenzorg. Namun lambat laun pelanggan pribumi pun semakin banyak. Kehadiran Tuan Asik memperlihatkan bahwa budaya minum susu telah melampaui batas-batas etnis dan kelas sosial.

Usaha yang dirintisnya termasuk salah satu pelopor peternakan sapi perah rakyat di kawasan Kedung Halang, Cibuluh, hingga Kebon Pedes. Daerah-daerah yang kini dipenuhi permukiman dan lalu lintas kendaraan itu dahulu dikenal sebagai wilayah peternakan yang memasok kebutuhan susu Kota Bogor.

Masyarakat mengenalnya bukan hanya sebagai pedagang, melainkan sebagai sosok yang tekun dan dipercaya. Karena itu panggilan “Tuan Asik” melekat erat pada dirinya. Sebuah gelar kehormatan sederhana yang lahir dari penghargaan masyarakat kepada seorang pekerja keras.

Muhammad Asik bin Salam wafat di Bogor pada 25 September 1975. Namun jejak kehidupannya tidak berhenti di sana. Keluarganya menjadi bagian dari mozaik masyarakat Bogor yang beragam. Putrinya, Robiah, menikah dengan Ahmad, putra Tabib Ismail, seorang pedagang rempah-rempah keturunan India yang berdagang di kawasan Pecinan Bogor, kini Jalan Pedati. Sementara putrinya yang lain, Mariyah, menikah dengan Yusuf bin Abdul Kadir, pedagang batu pertama asal Pakistan yang menetap di Kampung Arab Empang.

Kisah keluarga ini memperlihatkan bagaimana jaringan perdagangan, migrasi, dan kehidupan sosial di Bogor mempertemukan berbagai komunitas dari Nusantara, India, Arab, Tionghoa, hingga Pakistan dalam satu ruang kota yang sama.

Hari ini, hampir tidak ada lagi kandang-kandang sapi perah yang dahulu amat banyak bertebaran di Kedung Halang, Cibuluh, atau Kebon Pedes. Kampung Bodjong Enjot yang pernah menjadi sentra produksi susu juga telah berubah mengikuti perkembangan kota. Namun jejaknya masih dapat ditemukan dalam arsip, peta lama, iklan surat kabar, dan foto-foto yang tersisa.

Akan tetapi, sejarah susu di Bogor ternyata belum benar-benar berakhir.

Di tengah pesatnya perkembangan kota, masih berdiri sebuah kawasan yang meneruskan tradisi panjang itu, yakni Kampung Mandiri Susu Sapi Perah (KAMPUSS) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kampung Susu Kebon Pedes. Kawasan ini memang lahir jauh setelah era kolonial berakhir. Sebagian besar peternak yang kini berusaha di sana mulai merintis usaha sapi perah pada dekade 1960-an. Namun sesungguhnya mereka tengah melanjutkan mata rantai sejarah yang telah dirintis oleh para peternak dan penjual susu di Buitenzorg sejak lebih dari satu abad silam.

Jika dahulu susu segar diantar menggunakan sepeda oleh Tuan Asik atau dipasarkan dari kandang-kandang sederhana di Bodjong Enjot dan Kedung Halang, kini susu murni lokal diproduksi dengan tata kelola yang lebih modern dan higienis. Kehadiran Kampung Susu Kebon Pedes menjadi bukti bahwa tradisi beternak sapi perah di Kota Bogor tidak pernah benar-benar putus. Di tengah kepungan permukiman dan bangunan perkotaan, kawasan ini tetap bertahan sebagai sentra produksi susu sekaligus ruang belajar bagi masyarakat tentang pentingnya peternakan rakyat.

Tidak berlebihan jika Kampung Susu Kebon Pedes kini menjadi salah satu kebanggaan Kota Bogor.

Potensi sejarah dan edukasi yang dimiliki kawasan tersebut pula yang menarik perhatian Jalan Pagi Sejarah (JAPAS) by Johnny Pinot. Dalam tur perdananya ke Kampung Mandiri Susu Sapi Perah (KAMPUSS), para peserta diajak menelusuri jejak panjang budaya susu di Bogor, mulai dari masa kolonial hingga masa kini. Mereka tidak hanya mendengar kisah tentang Salihin di Bodjong Enjot, Tian Hoat di Lawang Saketeng, atau Tuan Asik yang mengayuh sepeda membawa susu di sepanjang Jalan Raya Pos, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi itu masih hidup di tengah Kota Bogor abad ke-21.

Bagi Founder dan Leader JAPAS, kawasan ini bukan sekadar sentra peternakan. Ia adalah sebuah laboratorium sejarah hidup yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Sebuah ruang di mana sejarah tidak hanya dibaca melalui arsip dan foto lama, tetapi juga dapat disentuh, dicium aromanya, dan dirasakan keberlanjutannya. Karena itulah, ke depan Kampung Susu Kebon Pedes diharapkan dapat berkembang sebagai tujuan wisata edukasi sejarah yang unik, tempat masyarakat memahami perjalanan susu sapi di Bogor dari masa ke masa.

Pemandangan yang tersaji dalam tur tersebut seakan memperlihatkan kesinambungan sejarah yang indah. Sejumlah peserta dari berbagai kota di Jabodetabek menaiki angkot menyusuri jalan-jalan Kota Bogor, lalu pulang membawa botol-botol susu segar hasil produksi peternak lokal. Jika dahulu susu dibawa dalam kaleng-kaleng besar yang bergoyang di sisi sepeda Tuan Asik, kini susu itu hadir dalam kemasan botol yang sehat, higienis, dan siap dinikmati keluarga modern.

Waktu memang telah mengubah banyak hal. Jalan Raya Pos telah berganti nama. Kampung-kampung peternakan telah bertransformasi menjadi kawasan perkotaan. Generasi para penjual susu lama pun telah lama berpulang. Namun satu hal yang tetap bertahan adalah semangat para pelaku usaha susu yang selama lebih dari satu abad menjaga tradisi ini tetap hidup.

Dari Bodjong Enjot hingga Kebon Pedes, dari kandang-kandang sapi milik para peternak pribumi hingga Kampung Susu masa kini, sejarah susu di Bogor sesungguhnya adalah kisah tentang ketekunan, keberagaman, dan kemampuan sebuah kota untuk merawat warisan ekonominya. Sebuah kisah yang mengalir pelan seperti susu segar yang dahulu dibawa Tuan Asik di atas sepedanya, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Kota Bogor dalam satu jejak sejarah yang nyaris terlupakan.

Bogor, 21 Juni 2026

Abdullah Abubakar Batarfie 

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Posting Komentar untuk "Dari Kampung Bodjong Enjot hingga Kampung Susu Kebon Pedes: Jejak Panjang Susu Sapi di Buitenzorg"